Catch Me (If You Wanna) (Kim Kibum – Go Jaemi)

You’ve never opened your heart to me
Not even once
I feel like I’m looking at a wall
You know that?
Oh, you’re next to me but I’m even lonelier 
Tonight tonight tonight
I waited for you but this just isn’t it 
So now I’m leaving you

This fool can’t even tell me not to go
Why did I only look at this fool, at pitiful you?

Baby catch me, catch me, catch me girl tonight
Before I leave (I’m serious I’m serious)
If only you held onto me, stopped me, cried, hit me
If only you told me the reason (I’m serious I’m serious)

***

Sejak awal, Kim Ki Bum selalu bertanya-tanya.

Apakah Go Jae Mi benar-benar tersenyum kepadanya? Apakah Go Jae Mi benar-benar menatapnya? Apakah Go Jae Mi jujur padanya? Apakah Go Jae Mi bahagia bersamanya?

Apakah Go Jae Mi mencintainya?

Sejak awal, Ki Bum tak yakin.

Ki Bum masih ingat bagaimana pertemuannya dengan gadis itu di tahun pertamanya menjadi murid SMA.

Awalnya ia tidak mengenal Go Jae Mi walaupun mereka berada dalam kelas yang sama. Jae Mi menghadiri kursus matematika yang sama dengannya, tapi gadis itu hampir tidak pernah bertanya pada guru pembimbing mereka. Ki Bum mengakui bahwa gadis itu sebenarnya tidak memerlukan guru pembimbing lagi, karena otak gadis itu sepertinya memang tercipta untuk angka. Gadis itu tidak pernah mendapatkan nilai kurang dari 9 dalam Matematika di kelas mereka. Meskipun Ki Bum terlalu sering memperhatikan gadis itu hingga Ki Bum sendiri yakin ia bisa menjelaskan semua hal yang berhubungan dengan gadis itu, Ki Bum tidak pernah berani menegur gadis itu. Ah, jangankan menegur. Saat matanya tak sengaja bertemu dengan mata gadis itu, Ki Bum akan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kemana pun, asalkan ia tidak tertangkap basah sedang memperhatikan gadis itu.

Ia tidak memiliki cukup keberanian. Sejak dulu ia adalah seseorang yang sangat pemalu.

Tapi tentu saja bukan sisi pemalunya yang ia tunjukkan di depan semua orang. Ki Bum selalu memilih untuk menyembunyikan sifat aslinya dengan ekspresi dingin dan pengendalian emosi yang hebat yang sudah ia latih sejak dulu untuk melindung dirinya sendiri yang selalu diejek teman-temannya.

Di mata teman-teman sekolah dasarnya dulu, Ki Bum hanyalah seorang anak pemalu yang berparas terlalu cantik untuk seorang anak laki-laki. Dan, Ki Bum selalu kehilangan kepercayaan dirinya setiap ia mendengar ejekan teman-temannya. Jadi Ki Bum menyambut gembira saat ia harus pindah dari sekolah lamanya di Seoul ke sebuah sekolah di Busan karena tugas ayahnya, dan mengubah dirinya di sana sebelum akhirnya kembali lagi ke Seoul saat SMA.

Dan bertemu gadis itu.

Sementara gadis itu terlalu gemilang dalam Matematika, Ki Bum selalu buruk dalam pelajaran itu. Ia memanfaatkan kenyataan bahwa ia menghadiri kursus yang sama dengan gadis itu dan kemampuan matematikanya yang buruk untuk mendekati gadis itu. Pertama, ia mengikuti gadis itu keluar dari kelas, sengaja berjalan disamping gadis itu walaupun gadis itu membentaknya untuk jangan mengikutinya. Sesampainya mereka di tempat kursus itu, Ki Bum akan dengan sengaja duduk di samping gadis itu. Setelah itu, ia akan menanyakan setiap soal yang diberikan guru mereka kepada gadis itu, memaksa gadis itu dengan nada paling lembut –dan berbahaya- untuk menjelaskannya sampai ia mengerti.

Hal itu terjadi 3 kali seminggu dan membuatnya dekat dengan gadis itu. Gadis itu tidak lagi mengusirnya, dan mereka pun mulai bersahabat.

Pada hari kelulusan mereka dari SMA, Ki Bum menurunkan harga dirinya hingga titik terendah dan menyatakan perasaannya kepada gadis itu. Ki Bum tidak terlalu berharap gadis itu akan menerimanya –afterall, Ki Bum tetaplah seorang pemalu yang kadang-kadang bisa kehilangan seluruh rasa percaya dirinya-, namun secara mengejutkan, gadis itu menerimanya.

Awal yang indah untuk sebuah kisah yang… miris.

Mereka sama-sama memilih untuk melanjutkan kuliah di jurusan bisnis dan di kampus yang sama. Mereka berangkat bersama, belajar bersama, lalu pergi bersama setiap malam minggu.

Mereka dekat sekali, bukan? Lalu, apa yang membuat Ki Bum ragu kalau gadis itu benar-benar mencintainya?

Sederhana saja. Ki Bum selalu melihat gadis itu memaksakan sebuah senyum setiap melihatnya. Gadis itu tidak pernah benar-benar menatap matanya. Gadis itu boleh terlihat bahagia saat bersamanya, tapi… Tidak, Ki Bum tahu gadis itu tidak benar-benar bahagia saat bersamanya.

Gadis itu tidak benar-benar mencintainya.

Lalu, mengapa gadis itu menerimanya?

Malam ini, mereka sedang duduk berhadapan untuk makan malam di sebuah restoran yang menyajikan masakan-masakan ala Barat yang biasa mereka datangi dan menjadi favorit mereka. Ki Bum hanya diam menatap gadis itu selama mereka menunggu pesanan, sama sekali tidak mengajak gadis itu berbicara selain menanyakan apa yang ingin di santap gadis itu malam ini. Dengan begini, ia akan bisa melihat seberapa tidak nyamannya gadis itu saat bersamanya.

Aha, ia benar, bukan? Sekarang gadis itu mulai mengigit bibirnya –kebiasaan yang selalu ia lakukan setiap ia gugup atau resah atau bila gadis itu merasa tidak nyaman dengan sesuatu- dan mulai mengutak-atik iPhone-nya. Ki Bum berani bertaruh kalau gadis itu tidak benar-benar memperhatikan apa yang muncul di layar iPhone-nya itu.

Ki Bum sudah terlalu lama mengenal gadis itu, dan sampai malam ini mereka sudah satu tahun menyandang status sebagai sepasang kekasih.

“Kau tidak merasa nyaman.”

Itu bukan pertanyaan. Itu pernyataan.

“A-apa? Tentu saja aku merasa nyaman bersamamu.”

Ki Bum mendengus saat mendengar jawaban gadis itu. Bohong, bohong, bohong.

“Ada apa?”

“Apa?” Jae Mi mengerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan Ki Bum. “Dengar, Ki Bum-a. Aku tidak mengerti apapun yang sedang kau tanyakan padaku, tapi yang jelas aku merasa nyaman saat bersamamu. Sungguh.”

Benarkah, Jae Mi sayang? Terlalu banyak beban dan keterpaksaan di matamu.

“Jelaskan padaku, Go Jae Mi. Jawab dengan jujur. Apa yang membuatmu merasa tidak nyaman? Jangan mencoba menyangkal lagi dengan mengatakan kalau kau baik-baik saja.”

“Ya ampun, aku baik-baik saja,” sanggah Jae mi. “Omong-omong, bisakah kau menjelaskan lagi padaku apa saja yang tadi Kim seonsaengnim jelaskan? Aku tidak terlalu mengerti…”

Benar, selalu seperti ini. Selalu mengalihkan topik. Selalu menghindar.

Demi Tuhan, Ki Bum benar-benar lelah dengan semua ini.

***

Oh, I don’t know your heart
Am I deep inside or not
That’s what I’m curious about
Before I get too tired, tell me, tell me, answer me

Time will tie you

Right now in that spot

Don’t let me go, you’ll regret it

Stop being so foolish

This fool can’t even tell me not to go

Why did I only look at this fool, pitiful you?

For a while, I felt like I was filled with you

I remember those happy memories

Don’t forget that there isn’t anyone

That will wait for you like I have, no!

 

***

“Go Jae Mi, aku ingin mengakhiri semua ini.”

Tidak, ia tidak ingin mengakhiri semua ini. Tapi ia ingin tahu, apakah gadis itu akan lebih bahagia apabila ia tidak berada di sampingnya? Ah, bukan itu alasan sebenarnya kalau ia ingi jujur. Ia ingin tahu, apakah gadis bodoh itu benar-benar akan membiarkannya pergi? Apakah gadis itu akan memintanya untuk tetap bersamanya?

Jadi, ia memutuskan untuk mengatakan hal itu hari ini, tepat seminggu setelah makan malam mereka sebelumnya.

“Mengakhiri apa?”

Ki Bum melihat sekilas sorot ketakutan di mata gadis itu, dan mendadak ia sedikit menyesal telah memutuskan untuk menguji gadis itu.

Menguji? Rasanya Ki Bum ingin tertawa dengan istilah yang ia gunakan itu.

“Hubungan kita, tentu saja.”

Gadis itu mengigit bibirnya lagi saat mendengar apa yang Ki Bum katakan, ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang memikirkan apa yang Ki Bum katakan.

Tidak, Jae Mi-ku yang bodoh. Jangan biarkan aku pergi.

“Uhm.. Aku…”

Hentikan aku. Jangan biarkan aku meninggalkanmu.

“Aku… Aku tahu mungkin kau merasa tidak nyaman dengan sikapku saat bersamamu, tapi…”

Bagus, jelaskan semuanya dan aku tidak akan pergi.

“Tapi kalu kau ingin mengakhiri hubungan kita, aku tidak akan keberatan.”

Hanya begitu jawabanmu? Jae Mi-ku yang bodoh… Aku masih sangat mencintaimu. Dan, walaupun kau membiarkanku pergi, aku akan tetap menunggumu.

***

Yeah
I want you to beg for me so I’ll wait for you
Tell me, “Don’t ever leave me”
You’re too slow but I’m only looking at you
Until you make up your mind, why?

I want you to beg for me so I’ll wait for you
Tell me, “Don’t ever leave me”
Fool, why did I love you?
I only have you, why?

This fool can’t even tell me not to go

Why did I only look at this fool, at pitiful you?

Baby catch me,catch me, catch me girl tonight

Before I leave (I’m serious, I’m serious)

If only you held onto me, stopped me, cried, hit me

If only you told me the reasons (I’m serious, I’m serious)

Catch me if you wanna

Catch me if you wanna

Catch me if you wanna

***

Sejak malam itu, mereka tidak pernah berhubungan lagi.

Mereka akan menghindar bila mereka berpapasan di koridor kampus mereka, duduk sejauh mungkin dari satu sama lain, mencoba mengabaikan kenyataan kalau mereka masih ada di dalam dunia satu sama lain. Gadis itu bekerja lebih keras dari seharusnya dan lulus dalam waktu tiga tahun, lalu Ki Bum tidak pernah melihat gadis itu lagi di kampus mereka.

Jauh dalam hatinya, ia masih menunggu gadis itu.

Sekarang, siapa yang bodoh sebenarnya?

Ki Bum memandangi kalender di meja kerjanya untuk yang kedelapan kalinya dalam hari ini, lalu mendesah pelan. If he still with her, today will be their 8th anniversary. It’s been 7 years since they were seperated, for God’s sake.

He just misses her so much.

Ki Bum menutup buku agenda di meja kerjanya, lalu meraih mantelnya yang tergantung di sudut ruangan. Awal musim semi, namun Ki Bum tetap marasa kedinginan. Walaupun bunga-bunga di taman kota sudah bermekaran dan orang-orang mulai menyimpan mantel mereka yang tebal, Ki Bum tetap merasa bahwa hari ini sangat dingin.

Sedingin hatinya.

Ki Bum keluar dari ruangannya dan mengendarai mobilnya keluar dari perusahaan tempat ia bekerja, lalu tanpa sadar ia menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran. Restoran yang sangat dikenalnya.

Well, Kim Ki Bum, kau adalah orang paling menyedihkan di dunia hari ini.

Ki Bum mendorong pintu kaca restoran itu dan sama sekali tidak terkejut mendapati semua kursi di restorang itu terisi penuh. Restoran itu memang salah satu restoran yang terkenal dengan kekonsistenannya dalam mempertahankan citra rasa masakan mereka, dan memiliki banyak sekali pelanggan setia.

Wangi masakan dari restoran itu benar-benar membuatnya lapar. Oh, ya, ia belum makan dari tadi siang karena ada meeting penting yang harus dihadirinya.

Baiklah, ia akan mendatangi tempat duduk favoritnya –sejak ia masih bersama gadis itu- dan bila bangku itu sudah terisi oleh orang lain, ia akan pergi dari restoran itu.

Ki Bum berjalan menuju kursi di sudut ruangan –kursi favoritnya- dan kecewa saat mendapati ada seseorang yang sudah menduduki bangku itu—

Tunggu, ia kenal dengan punggung itu. Dan rambut kecoklatan yang panjang dan berombak itu…

Astaga, apa ia sedang berhalusinasi? Mungkin, ya, mengingat hari ini he just misses her too damn much.

Setelah berdebat dengan dirinya sendiri, Ki Bum memutuskan untuk mendekati kursi tersebut, dan hampir melompat bahagia saat sadar bahwa ia tidak sedang berhalusinasi.

Yah, seperti ini rasa bahagia yang akan kau rasakan saat kau benar-benar bertemu lagi dengan orang yang kau pikir hampir tak akan pernah kau temui lagi.

Namun Ki Bum mulai merasa ragu saat memutuskan akankah ia menyapa gadis itu? Apakah punggung itu benar-benar milik gadis itu? Apakah rambut yang tergerai dengan indah itu benar-benar milik gadis itu? Apakah yang ia lihat benar-benar gadis itu? Apa yang akan ia rasakan bila yang ia lihat bukan gadis itu?

Ia sedang tidak ingin mengecewakan dirinya sendiri.

Ki Bum memutuskan untuk berbalik dan keluar dari restoran itu saat suara yang sangat dirindukannya menahannya untuk tetap tinggal…

“Kim Ki Bum? Is that you?”

Ah, suara lembut dan tegas yang selalu disukainya…

***

Tenang, Kim Ki Bum. Jangan kehilangan kendali dirimu.

Sekarang mereka duduk berhadapan, seperti 7 tahun yang lalu, dan suasana canggung di antara mereka sangat terasa.

Sebenarnya Ki Bum tidak dapat menahan dirinya untuk menarik gadis itu ke dalam pelukannya, tapi Ki Bum cukup mengerti untuk menyingkirkan keinginan aneh itu. Ia tidak berada dalam situasi di mana ia memiliki alasan yang bagus untuk memeluk gadis itu.

“7 tahun, Kim Ki Bum. Sudah lama sekali kita tidak duduk berhadapan lagi seperti ini.”

Karena kau membiarkan aku pergi, bodoh.

Ki Bum hanya diam, dan Jae Mi melanjutkan apa yang ingin ia katakan. “7 tahun lalu, aku masih ragu saat menerimamu. Maksudku… aku takut mungkin aku tidak cukup baik untukmu, atau… Kim Ki Bum, kau tahu aku tidak pandai menjelaskan perasaanku sendiri, kuharap kau mengerti maksudku.”

Tidak cukup baik untukku? Jae Mi-ya, kau bahkan terlalu baik untukku.

Ki Bum memutuskan untuk tidak memotong apa yang ingin dikatakan gadis itu. “Aku selalu gugup saat bersamamu. Seumur hidupku aku belum pernah berpacaran, aku terlalu memikirkan apa yang harus dan tidak boleh kulakukan, apa yang mungkin kau harapkan dariku… Aku selalu memikirkan hal itu. Telalu memikirkan hal itu.”

“Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat kau ingin kita mengakhiri hubungan kita… Aku ingin mencegahmu, tapi aku terlalu takut untuk itu. Seandainya waktu bisa diputar lagi, Kim Ki Bum, kurasa sekarang aku sudah lebih berani untuk mencegahmu, kalau itu memang masih bisa terjadi… Agar kau tetap bersamaku.”

“Yah, tapi kau tahu waktu terus berlari. Aku merindukanmu setiap saat, tapi aku tidak pernah berani menampakkan diri di hadapanmu lagi. Kupikir, kau tidak ingin melihatku lagi. Jadi aku mengalihkan semua perhatianku pada pelajaran dan menyelesaikan kuliahku dengan cepat, lalu aku mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan dan ditugaskan di Amerika.”

“Minggu lalu akhirnya aku ditugaskan di kantor perusahaan kami di Korea, lalu sore ini, setelah menyelesaikan semua yang harus kukerjakan, aku duduk lagi di tempat ini. Kupikir ini bisa mengobati sedikit rasa rinduku, tapi ternyata rasa rindu itu semakin menjadi-jadi.”

“Saat aku melihat bayanganmu di atas kaca meja, kupikir kau hanya halusinasi. Lalu bayangan itu berbalik dan menghilang dari kaca meja ini, jadi aku berusaha mencegahnya pergi. Ternyata aku tidak berhalusinasi.”

Ya ampun, aku lupa kalau meja ini dilapisi kaca.

Jae Mi menghembuskan nafas berat, lalu tersenyum kecil setelah menyelesaikan penjelasannya. Penjelasan yang sangat panjang, namun berhasil membuat Ki Bum berhenti memikirkan apapun selain pengakuan gadis itu.

“Aku senang bisa melihatmu lagi, Kim Ki Bum. Aku… Kau… Bisa kita makan malam bersama lagi malam ini? Hari ini saja. Tapi aku tidak akan memaksamu kalau kau keberatan.”

“Kau tahu, Go Jae Mi, aku membencimu,” tukas Ki Bum. “Karena kau membiarkan aku pergi. Kau bahkan tidak berusaha mencegahku. Kau tahu aku sangat mencintaimu, tapi kenapa kau masih ragu? Astaga, Go Jae Mi! Kau tidak perlu berusaha menjadi orang lain saat bersamaku, aku tidak pernah mengharapkan seseorang yang sempurna untuk menjadi pacarku.”

Jae Mi mengigit bibirnya lagi. “Mianhae.”

“Jangan mengigit bibirmu seperti itu, atau aku akan menciummu sekarang.”

“Ki Bum-a…”

“Bisa kita mengulang semuanya?”

“Mengulang apa?” Ah, Jae Mi tahu apa yang Ki Bum maksud, tapi Jae Mi sangat suka saat melihat pipi Ki Bum memerah setiap ia terpaksa mengatakan suatu hal yang menurutnya sangat menjijikkan. Selain itu, Jae Mi menikmati bagaimana pipinya memanas saat Ki Bum mengatakan sesuatu yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat lagi, tak peduli meskipun jantungnya sudah hampir melompat keluar hanya dengan bersama pria itu.

“Memang apa lagi yang bisa kita ulang?”

Jae Mi tertawa kecil saat mendengarr usaha Ki Bum untuk mengelak mengatakan apa yang ia maksud.

Tak ada yang perlu diperjelas. Lagipula, Jae Mi sudah tahu.

Jae Mi hanya tersenyum. Ah, pria itu bukan pria bodoh. Pria itu pasti tahu jawabannya.

Akhir yang manis untuk sebuah penantian.

***

THE END

I GOT CATCH ME!

Ga sempet edit… Uren-a, hope u like this one~

7 thoughts on “Catch Me (If You Wanna) (Kim Kibum – Go Jaemi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s