Colors, Melody, and Harmony (Cho Kyuhyun – Cho Jiyoung)

“Eothokke ini tidak mungkin selesai malam ini……”

Cho Jiyoung terpekur di depan laptopnya, menatap layarnya dengan tatapan kosong. Kliping tentang sejarah Revolusi Prancis harus ia kumpulkan besok dan nyatanya sekarang belum ada satupun huruf yang sudah ia ketik. Ia tertunduk lemas.

Sudah jam 1 pagi. Matanya sudah memerah dan sangat susah untuk ditopang. Kantung matanya mulai menonjol dan menghitam. Setelah memasrahkan tugasnya kepada Yang Maha Esa, ia pun akhirnya tertidur di atas laptopnya.

“Cho Jiyoung, kamu tahu ini tanggal berapa?”

“Maaf, Park Songsaengnim. Maaf,” Jiyoung memohon maaf dan membungkukkan badannya.

“Sudah berapa kali kau selalu telat mengumpulkan tugas?” dosen itu menembak pertanyaan dingin itu pada Jiyoung.

“Ini tidak akan terulang lagi, songsaengnim,” Jiyoung pun membungkuk lebih rendah lagi.

“Kau selalu bilang ini yang terakhir,” cibir dosen itu pendek, lalu pergi meninggalkan Jiyoung sendiri di dalam ruangan itu.

“Aish, dia memang orang botak kurang kerjaan yang gila,” rutuk Jiyoung dalam hati sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.

Setelah semua mata kuliahnya untuk hari itu selesai, Jiyoung menghela nafas lega. Akhirnya, ia bisa bernafas sedikit dari semua deadline yang sedang mengejarnya belakangan ini. Ia menyambar kunci mobilnya dan menancapkan gas.

Memang banyak sungai-sungai lain yang lebih indah, tapi untuk saat ini Jiyoung sudah puas dengan apa yang Sungai Han sajikan. Jiyoung menghirup udara dalam-dalam, menghembuskannya keluar lalu meneguk isi botol yoghurt blueberrynya.

Ketika sedang berjalan-jalan di sepanjang pinggir Sungai Han, tiba-tiba sesuatu terjadi.

PLETAK

Ya, hak sepatunya patah sebelah. Jiyoung pun melepas kedua high heelsnya, lebih memilih berjalan tanpa alas kaki daripada dengan alas kaki namun pincang-pincang.

‘Bisa lebih sial apa hari ini?’ Jiyoung mendengus, mengutuki kehidupan.

Ketika itu saja, tiba-tiba suara petikan gitar menyapa lembut telinganya. Suara petikan gitar itu pun diikuti oleh sebuah suara yang tidak kalah lembutnya.

ima doko ka de dare ka ga
tsurai kimochi de
hitori kiri
nemurenu yoru wo
sugoshite ru no nara

‘Aku tahu lagu ini,’ seru Jiyoung girang dalam hati. Dengan mengikuti naluri pendengarannya, ia pun membalikkan badan dan mengikuti arah suara itu.

 

sono kokoro ni
hikari sasu made
yorisotte inoru kara
like a melody and harmony in love

Kemudian berhadapanlah ia dengan pria pemilik suara itu. Semakin merdu ia bernyanyi, dan semakin dekat pula Jiyoung melangkahkan kakinya kepada pria itu.

nani ka no tame ni
bokura wa koko de
chiisana koto shika dekinai keredo

Kini sudah banyak orang mengerumuni bangku taman dimana pria itu duduk. Topi yang pria itu letakkan di sampingnya sekarang sudah penuh dengan berbagai macam uang.

 

ichi byou dake demo sekai juu no namida
tomate egao ni natte kureru no nara

Pria itu sesekali melemparkan senyuman mautnya sambil terus memetik gitar, tanpa menyadari bahwa beberapa gadis sudah mendapat serangan jantung mendadak. Dan mendadak juga, Jiyoung mendapat suatu dorongan kuat dari dalam dirinya untuk menghampiri pria itu dan ikut bernyanyi bersamanya.

aishi tsuzukeru yo
aruki tsuzukeru yo
afureru omoi ga
todoku to shinjite

Pria itu refleks mendongak ketika sebuah suara asing tiba-tiba ikut bernyanyi bersamanya. Untuk sejenak ia kaget, namun akhirnya menyambut ramah kehadiran suara asing itu dengan sebuah senyuman.

umareru mae kara
bokura wa deatte
yume wo sagashite ta
sonna ki ga suru yo

Tanpa perlu banyak usaha, ternyata suara mereka dapat menyatu dengan harmonisasi yang sempurna. Kedua belah pihak sama kagetnya.

kirameku oto ni
tsutsumare ru toki
kanashiisubete
wasurete irareta

Jiyoung menyanyikan baris-baris pertama dari bait kedua lagu itu.

 

melody and harmony
itsumo soba nii te
boku ni yuuki to kibou wo kureta ne

Pria itu lalu membalasnya dengan menyanyikan baris-baris berikutnya dari bait kedua lagu itu.

 

kimi ni arigatou
zutto arigatou
kagayaku omoi wa
kimi no okuri mono

Bisa terlihat dengan jelas dari mata kedua orang yang sedang bernyanyi itu bahwa mereka sangat menikmati momen tersebut. Penonton pun sepertinya lebih terhibur dengan versi duet lagu itu, yang ditunjukkan dengan tepukan tangan mereka mengikuti ritme lagu tersebut.

 

sasae aeru koto
mitsume aeru koto
hitori janai koto
oshiete kureta yo

Kini mereka menyanyi dengan lepas, sembari tertawa dan berputar-putar. Jiyoung merasa seperti semua beban telah diangkat dari atas pundaknya – ia tidak pernah merasa sebebas ini sebelumnya.

 

kasane au ai wo
melody ni nosete
tsutaete yukitai
itsumo itsumade mo

lalalalalalalala lalalalalalalalalalalalalalalalakimi no okuri mono
lalalalalalalala lalalalalalalala lalalalalalalala
itsumo itsumade mo

Petikan terakhir terdengar – pertunjukkan tersebut ditutup dengan kedua penyanyi itu membungkukkan badan dengan senyum sumringah di kedua bibir mereka.

Pria yang mengenalkan diri sebagai Cho Kyuhyun itu sedang berjalan kearah Jiyoung dengan dua botol soda di tangannya.

“Ini, untukmu,” Kyuhyun menjulurkan satu botol soda kepada Jiyoung.

“Ehh, terimakasih,” Jiyoung akhirnya menerimanya walaupun agak sungkan.

“Orang macam apa yang berani menyanyi tiba-tiba di tengah pertunjukkan seseorang? Apakah kau tidak tahu yang namanya sopan santun?” Kyuhyun tiba-tiba menghardiknya dengan pertanyaan yang mengejutkan itu.

Pundak Jiyoung seketika turun, dan sekujur tubuhnya menjadi lemas. Ia tidak tahu lagi apa yang harus ia perbuat. Seharian ini, ia piker akhirnya ia telah menemukan sesuatu yang bisa membuatnya tersenyum. Dan hal itu hilang pergi seketika.

Melihat reaksi Jiyoung, Kyuhyun yang tadinya hanya bercanda langsung merasa bersalah. “Hey, maaf. Aku hanya bercanda, kau tahu. Tidak usah begitu serius,” katanya yang ditimpali dengan tawanya sendiri. “Aku malah harusnya berterimakasih.”

Jiyoung menghembuskan nafas lega. “Demi apapun, aku begitu takut kau marah denganku. Aku sedang tidak tidak apa-apa. Hari ini bukan hari terbaikku,” katanya sambil menunjuk kearah sepatunya yang tidak berhak sebelah sebagai bukti. Kyuhyun menangguk pelan, sok-sok pengertian.

“Kamu tahu arti lagu itu, bukan?” Jiyoung menoleh ke arah Kyuhyun.

Right now, somewhere, someone is in pain, all alone; passing through a sleepless night,” Jiyoung memulai.

Even just for one second, we still want to stop all the tears in this world and turn them all into smiles,” Kyuhyun melanjutkan. “Don’t underestimate me, idiot,” katanya sembari tertawa.

“Oke, oke,” Jiyoung berkata sambil mengangkat kedua tangannya di udara. “Tapi aku ingin bertanya. Kapan kau mulai bermusik?”

My music is my life – for you, for you to smile,” Kyuhyun menjawab pertanyaan Jiyoung dengan sebuah senyum maut tersungging di bibirnya.

“Hey, apa-apaan itu! Itu kan hanya salah satu arti dari lirik lagu barusan, bukan?” protes Jiyoung sambil berdecak kagum dengan sinis.

The love that was piled up is riding on the melody; I want to convey it to you, forever and ever,” kali ini air muka Kyuhyun berubah serius.

“Itu hanya salah satu lirik lagu tadi juga kan?”

“Tapi kali ini aku benar-benar jujur.”

3 thoughts on “Colors, Melody, and Harmony (Cho Kyuhyun – Cho Jiyoung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s