Honesty (Kim Jae Joong – Kim Jae Rin)

m6_large

Seoul, 26 February 2012

 

            Pukul 06.00 tidak banyak orang sudah bangun sepagi itu dihari libur, tapi ini adalah hal biasa untuk Kim Jae Rin, baginya bangun pagi dihari Minggu demi document-document yang menumpuk di meja kerjanya adalah hal biasa. Sejak 2 tahun lalu, ia selalu menghabiskan waktu dengan menyibukkan diri, alasannya hanya satu. Melupakan.

Surat dari majalah-majalah yang menawarkan untuk bekerja sama dengan perusahaan miliknya tertumpuk rapi di mejanya, semua orang tahu ia adalah pemilik agency model ternama di Korea Selatan, usaha yang sudah dibangunnya sejak 2 tahun lalu, satu-persatu surat itu dibacanya, namun satu surat beramplop merah membuat jantungnya berdegup sangat cepat.

Annyeong Jae Rin-ah,

 

Apa kau masih ingat padaku?  Bagaimana kabarmu?

 

Begitulah pembuka surat yang membuat nafas Kim Jae Rin tercekat,  mengapa setelah 2 tahun ia kembali melihat tulisan itu, kenapa setelah 2 tahun ia kembali menanyakan kabarnya, Jae Rin mentap surat itu lama, tatapannya kosong. Kenangan-kenangan bersamanya berputar bagai film di kepalanya hingga membuat air mata yang telah dibendungnya 2 tahun terakhir tumpah bersamaan dengan berputarnya kenangan mereka.

***

 

-Flashback-

Annyeonghaseo, jeo neun Kim Jae Rin imnida.”

Perempuan yang memperkenalkan diri sebagai Jae Rin berjalan menuju tempat duduk yang ditunjuk oleh gurunya.

Sial.

Tempat duduk yang ditunjuk gurunya berada di tengah kelas, Jae Rin benci berada diantara banyak orang, ia lebih memilih berada di tempat yang tidak terlihat, ia tidak pernah nyaman menjadi pusat perhatian.

Tidak, ia tidak aneh apalagi jelek, kebalikannya ia sangat cantik dengan senyum yang dapat memikat hati setiap laki-laki yang melihatnya. Tidak, ia juga bukannya tidak suka bergaul, dulu ia punya banyak teman dan terkenal ramah. Namun seiring berjalannya waktu wajah cantik itu tidak lagi dihiasi dengan senyum khasnya itu, senyumnya kini menjadi senyuman murung. Sejak kejadian itu, Jae Rin menolak untuk menjadi Jae Rin yang disukai semua orang.

Mengapa? Hanya Jae Rin yang tahu, ia menolak berbagi ceritanya dengan siapapun karena pada kenyataannya ia memang tidak punya siapapun untuk berbagi ceritanya.

“Baik, buka buku kalian halaman 53.”

Suara guru yang menurutnya termasuk keras itu tidak membuat laki-laki disebelahnya terbangun dari tidur lelapnya.

“Orang ini tidak tuli kan? Bagaimana bisa ia tidak terbangun mendengar suara guru ini” 

Bukannya Jae Rin keberatan dengan sifat laki-laki disebelahnya ini, ia justru bersyukur karena laki-laki ini tidak repot-repot berkenalan dengannya, tapi ada sesuatu didalam diri laki-laki ini yang membuat Jae Rin tertarik, detik selanjutnya ia tengah asik dengan lamunannya sambil menatap wajah lelaki di sebelahnya itu.

“Apa?”

Satu kata, cukup untuk membuyarkan lamunan Jae Rin, laki-laki itu tiba-tiba saja terbangun dan menatap Jae Rin dengan tatapannya yang dingin, Jae Rin tahu tatapan itu, itu adalah tatapan yang ia perlihatkan pada semua orang sejak kejadian setahun lalu.

“Ah- Tidak.”

Jae Rin akhirnya menemukan suaranya yang sedari tadi tercekat karena mata orang yang menjadi lawan bicaranya sekarang. Orang itu masih menatap Jae Rin dengan tatapan yang sama, siapa sangka detik berikutnya tatapan itu berubah menjadi tatapan ramah yang sangat menangkan.

“Baiklah, Jeo neun Kim Jae Joong imnida.”

A-annyeonghaseo Kim Jae Joong-ssi. Jeo neun Jae Rin imnida

“Ya, aku sudah mendengar mu tadi.”

***

KRINGGGGGG

Bel istirahat terdengar di setiap sudut sekolah, suara yang sangat dinanti-nantikan semua murid, semua murid berhamburan ke kantin, ke lapangan kemanapun kecuali perpustakaan, tapi tidak untuk Kim Jae Joong, ia lebih memilih menghabiskan waktunya di perpustakaan yang tenang dibandingkan dengan kantin yang ribut dan penuh dengan siswi yang mencari perhatiannya.

Ya, Jae Joong, siapa yang tidak mengenal namanya? Siswa yang sangat berprestasi dengan tatapan dingin yang terkesan misterius itu jelas saja mempunyai banyak sekali penggemar, meski begitu tidak satu pun menarik perhatiannya.

“Ma-maaf.”

“Kau kira itu cukup? Kau sudah menabrakku ka nad hanya bilang maaf?”

Suara itu terdengar di sepanjang lorong sepi dekat perpustakaan, awalnya ia tidak mau ambil pusing dengan suara itu, mungkin hanya kesalah pahaman kecil namun ketika ia mendengar suara teriakan seorang perempuan rasa acuhnya kalah dengan rasa penasarannya, ia menghampiri asal suara itu.

Gila.

Ya, dia pasti sudah gila karena begitu ia menemukan asal suara itu dan melihat perempuan yang tadi duduk disebelahnya berada di tengah-tengah kerumunan 5 murid yang salah satunya tengah menjambak rambut perempuan yang ia kenali sebagai Kim Jae Rin itu ia segera berlari kearahnya dan menarik Jae Rin kearahnya.

“Jae- Jae Joong.”

“I-i-itu tadi ka-kami hanya mau mem—“

“Pergi.”

Lima murid tadi tidak bisa lagi berkata apa-apa ketika melihat Jae Joong datang dengan tatapannya yang bisa membunuh siapa saja dalam hitungan detik dan menarik Jae Rin, mereka lebih terkejut lagi mendengar perkataan Jae Joong yang lantas membuat mereka bungkam dan pergi meninggalkan Jae Joong dan Jae Rin.

Tidak satupun dari mereka membuat suara, mereka berdua sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Mengapa Jae Joong disana? Mengapa aku mau berurusan dengan Jae Rin yang bahkan baruku kenal tadi pagi? Ada sesuatu dalam dia yang membuatku penasaran.

“Dengar, tidak usah kau pikirkan mereka. Mereka bukan siapa-siapa.”

“Terima ka-“

Belum sempat Jae Rin mengucapkan terima kasih, Jae Joong sudah berdiri dari tempatnya dan berjalan meninggalkan Jae Rin sendiri.

“Terima kasih.”

***

Sejak kejadian itu, gossip tentang Jae Rin dan Jae Joong terdengar dimana-mana, jelas saja 5 gadis itu telah menyebarkan gossip bahwa Jae Joong dan Jae Rin berpacaran. Sejak kejadian itu juga baik Jae Rin maupun Jae Joong sama sekali tidak berbicara sepatah kata pun meskipun mereka duduk bersebelahan selama lebih dari 6 jam.

Entah apa yang terjadi pada Jae Joong, laki-laki dengan tatapan mata sangat dingin ini merasa kesal dengan sikap Jae Rin yang jelas-jelas tidak menganggapnya ada. Ia merasa Jae Rin menganggap di dunia ini tidak ada Kim Jae Joong. Sementara Jae Rin sedang membulatkan tekadnya, tidak ada siapapun di dunia ini untuknya, semua yang ia sayangi akan pergi meninggalkannya dan ia tidak mau lagi berurusan dengan rasa sakit.

Ya, Kim Jae Joong telah berubah, ia bukan lagi laki-laki misterius dengan tatapan dingin, ia tidak lagi misterius, hatinya sudah terlanjur terbuka untuk gadis ini. Hatinya telah berkata jujur bahwa gadis ini menarik dan ia menyukai gadis ini, gadis yang tidak menganggapnya ada. Namun hati kecilnya masih tidak mengakui hal ini, alasan itu lagi.

“Maaf, Jae Rin.”

“Ada apa?”

“Mengapa kau membenciku?”

Mata Jae Rin terbelak mendengar pertanyaan spontan yang keluar dari mulut Jae Joong itu, ia tidak menyangka ada orang yang bisa bertanya  seperti itu pada orang lain, selama ini, tidak ada orang yang mau repot-repot menanyakan sifat Jae Rin biasanya mereka lebih memilih untuk mundur dan menjauhi Jae Rin.

“Tidak, aku tidak membencimu.”

“Lalu?”

“Kau tidak perlu tahu, aku punya alasan sendiri.”

“Mengapa kau mendorong semua orang yang peduli pada mu?”

Kata-kata Jae Joong terdengar menyakitkan di telinganya, ia kesal. Tidak, kata kesal tidak tepat untuk mendeskripsikan perasaannya, ia malu. Ya kata itu lebih tepat, ia menyadari sifatnya tidak pantas namun ia hanya takut hal yang sama terulang.

“Kau bisa menceritakan apapun padaku, aku tahu kita bukan teman dekat, tapi mungkin kita bisa menjadi teman.”

Mendengar perkataan Jae Joong, Jae Rin terdiam sebentar, memikirkan apa yang harus ia katakan sekarang, dalam hati ia berdoa semoga keputusan yang ia ambil sudah benar.

“Ya, tidak ada salahnya menjadi teman.”

***

“Jauhi Jae Joong!”

Ini bukan pertama kalinya ia menjadi bahan bulan-bulanan ‘penggemar’ Jae Joong di sekolah, penggemar Jae Joong memang bisa dianggap fanatic karena Jae Rin adalah korbannya. Beberapa bulan terakhir ini hubungannya dengan Jae Joong memang sangat membaik, mereka berteman baik bahkan bisa disebut sahabat, tidak jarang ada yang mengira mereka berpacaran.

“Aku tidak—“

“BOHONG!”

Kali ini mereka sudah melewati batas kesabarannya, kali ini ia tidak akan tinggal diam. Kali ini dia membalas. Menit berikutnya mereka saling menjambak rambut, memukul dan hal-hal lainnya, sampai tiba-tiba seorang guru datang dan tepat saat itu juga orang yang merupakan penggemar Jae Joong melepaskan rambut Jae ka nad berpura-pura kesakitan di lantai dengan tangan Jae Rin memegang rambutnya.

“Kau, Kim Jae Rin. Ke ruangan saya.”

“Bukan saya yang memulai.”

“Tapi jelas-jelas anak itu kesakitan! Kau dikenai hukuman, 1 minggu skors! Kau sama saja seperti orangtua mu!”

Jae Rin keluar dari ruangan guru itu tanpa mengucapkan satu kata pun, bukan skors yang membuatnya sedih, tapi kenyataan bahwa ia dianggap sama seperti orangtuanya lah yang membuatnya terpuruk. Tidak, ia berbeda dengan mereka, dia bukan mereka. Dia berlari menyusuri lorong sekolah dan berakhir di belakang perpustakaan. Ia menangis sejadi-jadinya disana, tidak ka nada orang yang dengar, pikirnya.

Salah.

Jae Joong yang menjadikan perpustakaan untuk menjauh dari keramaian sekolah terusik dengan suara tangisan yang tidak jauh dari tempat duduknya. Tunggu, Ia mengenal suara ini. Suara yang terngiang di telinganya selama beberapa bulan belakangan ini. Ia menghampiri asal suara itu dan benar saja. Gadis itu lagi.

“Kau… kenapa kau disini?”

“Harusnya aku yang tanya, kenapa kau menangis disini?”

Dengan satu pertanyaan tangis gadis itu kembali pecah dan kini tanpa ia dapat bendung lagi ia menceritakan semuanya pada Jae Joong, ia tidak sanggup lagi menahan semuanya sendiri, ia tidak peduli lagi siapa dia bagi laki-laki di depannya ini, yang ia tahu laki-laki ini selalu membuatnya nyaman.

“Orangtuaku memang meninggalkanku, mereka dihukum, mereka dipaksa meninggalkanku atas perbuatan mereka. Mereka pembunuh. Tapi aku bukan mereka, aku tidak berniat membunuh perempuan tadi, dan dia tidak meninggal.”

Kata-katanya mengalir begitu lancar, tangisnya juga tidak mereda. Sementara itu Jae Joong masih berusaha mencerna cerita gadis yang mengubah hatinya itu, tanpa berpikir lebih jauh lagi ia menangkup kedua pipi gadis yang masih berusaha menghentikan tangisnya dan ia pun mengecup bibir gadis itu dengan sangat perlahan seakan-akan gadis itu bisa lenyap kapan saja.

“Aku percaya dan terima kasih. Terimakasih, kau sudah menceritakannya padaku.”

***

Setelah kejadian di perpustakaan itu mereka banyak menghabiskan waktu bersama, ya mereka memang sudah berani jujur dengan perasaan mereka meskipun tidak secara terang-terangan mengakuinya.

“Jae Rin-ah, temani aku jalan-jalan di taman ya? Aku butuh inspirasi untuk lagu baruku.”

Ya, mereka mempunyai hobi yang sama, bernyanyi kadang mereka akan menghabiskan waktu untuk membuat lagu bersama.

“Ya, baiklah. Tapi kau harus membuatkanku lagu”

“Aku tidak bisa berjanji Jae Rin-ah. Mungkin aku tidak akan punya waktu.”

“Kau selalu punya waktu, Kim Jae Joong.”

“Taman ini indah ya, Jae Rin. Bayangkan jika bisa terus disini.”

“Kau lucu, Jae Joong. Kau bisa mengunjungi taman ini kapan saja, kau tahu?”

“Iya, kuharap juga begitu.”

***

Seminggu setelah jalan-jalan itu, Jae Joong tidak lagi terlihat di sekolah, sudah sekitar 1 bulan lebih Jae Joong tidak masuk, tidak perlu ditanya, jelas saja Jae Rin gelisah, ia sudah menghubungi ponsel Jae Joong tapi tak sekali pun telponnya diangkat, pesan singkat yang dikirimkan ke ponsel Jae Joong juga tak satupun terbalaskan.

Barulah setelah bulan ke 3 Jae Joong tidak masuk, ia mendapat telepon dari keluarga Jae Joong. Telepon itu hanya berlangsung 5 menit namun mampu membuat Jae Rin sangat terpukul.

Dalam 5 menit ia mengetahui Jae Joong menderita myocarditis.

Dalam 5 menit ia memahami perasaan Jae Joong.

Dalam 5 menit ia tahu Jae Joong sudah tidak ada.

Dalam 5 menit ia tahu selama 3 bulan Jae Joong mencoba bertahan.

Dalam 5 menit ia tahu Jae Joong lebih menderita darinya.

Dalam 5 menit semua tentang Jae Joong menyeruak keluar dari dirinya.

Dan detik itu juga ia menangis tanpa henti.

 

***

Seoul, 26 February 2012

Annyeong Jae Rin-ah,

 

Apa kau masih ingat padaku?  Bagaimana kabarmu?

Aku tahu kau pasti kaget, karena jika kau menerima surat ini berarti aku telah meninggalkan mu.

 

Kau ingat saat kau bilang bisa terus mengunjungi taman? Aku benar-benar berharap bisa terus mengunjungi taman itu. Bersama mu.

Karena tanpa kau tahu, kau selalu memberiku keuatan.

 

Jadi sekarang, saat kereta ini sudah menjemput ku dan tidak tahu akan kemana.

Kita sudah belajar banyak hal, iya kan?

Dan yang baru ku pelajari adalah aku sudah terlambat untuk menyatakan perasaanku untuk mu.

 

Tapi kau tidak akan terlupakan di hatiku, benar kan?

Kau akan selalu ada setiap kali aku tersenyum, benar kan?

Jika kebahagiaanku bisa membawa kebahagiaan bagimu,

Aku akan sangat bersyukur.

 

Jadi, lain kali jika kau merindukan ku, datanglah ke taman. Aku akan selalu disana, jika kau sudah bisa tersenyum lagi, kunjungi lah aku.

 

Yang terakhir, maaf aku tidak sempat menyelesaikan lagu mu, maaf aku tidak bisa jujur lebih cepat padamu.

 

Aku sangat menyayangimu,

 

KIM JAE JOONG

Saat itu juga tangis Jae Rin tumpah.

Tidak, ia tidak akan melupakan Jae Joong.

Tidak meskipun sudah 1000 tahun.

Ia bersyukur sempat mengenalnya.

Untuk Jae Joong:

Terimakasih sudah  jujur.

Terimakasih karena kau mendekat saat yang lain menjauh.

Terimakasih.

c71b7e94ecd26d4803d89e4f8857e290_large

A/N :

Hehehehe, selesai😀

Jae Rin dan Jae Joong, mian ya gw bikin kalian jadi mellow dan cukup aneh disini gw tau aslinya engga gini.

but please, enjoy🙂

anyways, the song was Honesty by SHINee🙂 I’m an ultimate Shawol, the song proves it! HAHA

#BTX

xoxo,

GoJaeMi:)

5 thoughts on “Honesty (Kim Jae Joong – Kim Jae Rin)

  1. keren keren…

    annyeong rani imnida…
    aku suka ff ini… bahasanya keren, penyampaianya mulus… meski oneshoot tapi ga kecepetan…

    daebakkk,……..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s