Midnight Chapter 1 (Cho Kyuhyun – Park Jihyun)

Ji hyun’s POV

Tebing luas yang diselimuti padang rumput itu sangat sunyi, seolah-olah ia juga ikut tertidur dalam malam berbulan purnama. Kurasakan lembutnya belaian rumput di telapak kakiku yang telanjang, sudah kutinggalkan sepatuku jauh di belakang sana.

Angin berhembus dengan pelan, mengingatkanku kepada apa yang terjadi disini. Tanpa kusadari, setitik air mata sudah mulai menuruni pipiku. Dengan satu gerakan cepat kuhapus air mata itu. Tidak, tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi penyesalan.

Kupegang erat-erat pesawat kertas penuh kenangan manis-pahit ini. Jangan sampai angin membawanya ke arah yang salah. Tebing ini sulit untuk didaki, tak jarang aku kehilangan pijakan. Dan tidak banyak orang yang berhasil mencapai atas. Kebanyakan dari mereka hanya berhenti di tengah jalan, berbalik, dan turun menuruni tebing ini, meninggalkan pesawat kertas mereka disana. Tergeletak penuh kata-kata cinta, kata-kata rindu, dan kata-kata penyesalan yang tak terucap. Aku harus kesana, aku harus berada di puncak, dan menerbangkan pesawat kertas ini untuk terakhir kalinya.

Hanya dengan begitu aku bisa mengucapkan selamat tinggal kepadanya.

Flashback start.

KRING!! KRING!!

Bekerku berbunyi untuk sekian kalinya. Dengan kesal aku mematikan deringan jam yang bertengger di meja sebelah ranjangku dan mengecek kalender, hal penting apa yang membuat jam bekerku berkicau di hari minggu.

“oh! Astaga!” pekikku setelah melihat kalender yang pada tanggal 3 september atau bisa dibilang hari ini sudah ditulis-tulis oleh spidol merah.

‘Aku ada janji dengan Kyuhyun!’ Batinku sambil melesat ke kamar mandi. Aku mandi secepat yang aku bisa. ‘Dia pasti sudah menunggu! betapa cerobohnya aku’

Tidak ada waktu untuk memilih baju, aku menyambar gaun apapun yang berada dalam jangkauanku dan memakainya. Setelah menyisir rambutku, aku pun bergegas turun, menuju sepeda yang bersandar dengan manisnya di dinding taman.

“Park Jihyun! Kamu belum sarapan!” kudengar eomma yang berteriak dari dapur menyuruhku untuk makan.

“Eomma aku sudah telat! Kyuhyun oppa sudah menunggu!” balasku.

Tanpa menunggu jawaban dari eomma yang pasti akan memarahiku ketika aku pulang nanti, aku pun menaiki sepedaku, dan bergerak menuju tempat yang biasa. Dia pasti khawatir.

Kyuhyun’s POV

Kulirik jam tanganku dengan gelisah. Mengapa dia belum datang? Tidak biasanya dia begini. Apakah ada sesuatu yang terjadi padanya di jalan? Aku tidak bisa memastikan.

Sudah setengah jam. Tidak ada tanda-tanda dia akan datang. Padahal seharusnya kita bertemu disini untuk membicarakan hal itu. Tetapi sepertinya dia lupa lagi. Mungkin aku harus pulang sekarang..

Author’s POV

Tepat ketika kyuhyun melangkahkan kakinya ke trotoar dan meninggalkan tebing landai tempat dimana ia dan jihyun sering datang, seseorang, atau lebih tepatnya seseorang yang mengendarai sepeda berteriak kepadanya dari jauh. Oh betapa ia kenal suara itu. Suara yang lantang, tetapi jelas dan bening. Suara jihyun.

“Ya!! Jihyun-ah! Aku sudah menunggu lebih dari setengah jam! Kamu pasti ketiduran lagi!” oceh kyuhyun ketika jihyun mengerem tepat di depannya, masih diatas sepeda.

“ahaha…hahaha..mianhae oppa..” cicit jihyun. Ia paling tidak suka bila kyuhyun marah.

Kyuhyun, yang sebenarnya ingin sekali menceramahi jihyun lebih lanjut, tidak tega melihat wajah jihyun yang memelas. Ia terlalu sayang pada anak nakal satu ini. ia hanya bisa menghela nafas mengusir segala kemarahan yang ada dalam dirinya, dan mengacak-acak rambut jihyun yang sudah berantakan.

“OPPA!” pekik jihyun sambil menepis tangan kyuhyun, dengan segera memasang wajah cemberut. Kyuhyun hanya bisa berdecak sambil tertawa kecil. Mengapa ia bisa jatuh cinta pada seseorang yang tingkah lakunya masih seperti anak kecil ini?

“Jadi, apa yang mau oppa katakan? Oppa bilang akan memberitahuku sesuatu yang penting,” kata jihyun serius kali ini.

Kyuhyun mendekat dan memegang kedua tangan jihyun. Ia merasa sangat sedih memberitahukannya berita ini.

“jihyun-ah, sebelum aku memberitahumu, aku akan menanyakanmu sesuatu,” Kyuhyun berdeham. Ia menghindari tatapan mata jihyun selama beberapa saat sebelum berkata-kata lagi. “Apakah…apakah kamu orang yang sabar, jihyun-ah? Orang yang mampu mempertahankan kepercayaannya pada seseorang, atau sesuatu? Bahkan ketika mereka akan pergi dalam waktu yang lama, dan tidak pasti…kembali?” tanya kyuhyun sambil memandang jihyun lurus-lurus. Ia tidak akan mengambil resiko.

Seketika, raut wajah jihyun yang tadinya serius dan dewasa berubah khawatir. Mengapa tiba-tiba kyuhyun bertingkah seperti ini? apa jangan-jangan…

Tidak. Ia tidak akan berpikir sejauh itu. Ia masih mempercayai kyuhyun, dan ia tahu kyuhyun bukanlah orang seperti itu. Kyuhyun sudah membuktikannya.

“oppa, ada apa? Mengapa kamu tiba-tiba membicarakan tentang perpisahan? Kita tidak akan berpisah kan? Atau setidaknya berpisah dalam waktu lama?” jihyun menghujani kyuhyun dengan pertanyaan bertubi-tubi. Ia butuh penjelasan.

“jihyun-ah…” kata kyuhyun. “aku akan pergi. Pergi dalam waktu yang lama. Aku..aku dipanggil untuk mengabdi negara.”

jihyun’s POV

tidak. Ini tidak mungkin.

Akhirnya, kalimat itu, kalimat yang membuatku tetap terjaga di malam hari memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi, terucap juga olehnya.

“ka-kapan?” aku berusaha keras untuk bersuara.

“minggu depan.” Lontar kyuhyun sambil menghela nafas.

Anehnya, aku tidak merasakan perih yang biasanya aku rasakan bila sesuatu yang buruk terjadi. Aku merasa bahwa aku harus bersiap-siap, entah untuk apa. Kyuhyun yang sepertinya sudah mengharapkan aku akan menangis tersedu-sedu dan memeluknya, sedikit kecewa melihat reaksiku yang biasa-biasa saja. Aku hanya tersenyum sambil mengecup pipinya.

“Cho kyuhyun, aku menyayangimu. Pergilah, aku akan baik-baik saja.”

“maafkan aku jihyun.” Katanya. Penyesalan bisa jelas kudengar dari suaranya.

Tidak akan membiarkan suasana ini menggantung lama-lama, kuputuskan untuk mencerahkan suasana, tidak akan kubiarkan kabar ini merusak hari minggu kita.

“sudahlah oppa. Ayo, kita ke taman! jangan bersedih lagi!” kucoba untuk mengatakan kalimat itu dengan nada ceria. Aku tahu kyuhyun terlalu pintar untuk percaya begitu saja, tapi sepertinya ia juga tidak ingin merusak hari ini, jadi dia menjawab dengan nada yang sama cerianya.

“oke! Mau kubelikan permen kapas?”

author’s POV

hari itu pun tiba. Tanggal 10 september. Hari minggu yang kelabu. Jihyun mengantarkan kyuhyun ketempat dimana ia akan dijemput oleh militer. Dilihatnya beberapa ibu yang sedang menangis histeris merelakan putranya pergi. Ia berharap ia juga bisa seperti itu, memohon-mohon kyuhyun untuk tidak pergi. Tetapi jihyun tahu bahwa korea sedang dalam kondisi krisis. Korea bagian utara mengancam memisahkan diri, dan korea selatan akan berusaha semampunya untuk mempersatukan mereka lagi. Negara membutuhkan kyuhyun.

Setelah jihyun membantu kyuhyun memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil jeep, berhati-hati untuk tidak menaruhnya sembarangan, kyuhyun menarik jihyun ke samping dan memberikannya sebuah pesawat kertas.

“aku akan mengirimkan surat kepadamu setiap hari selama perang nanti. Aku akan mengirimkannya sampai aku kembali. Dan bila aku tidak kembali-“

kalimat kyuhyun segera terpotong ketika jihyun mendaratkan ciuman di bibirnya. Segera saja segala emosi yang sudah ditahan oleh kyuhyun tumpah keluar bersamaan dengan air matanya. Jihyun melepaskan ciuman mereka dan mengusap air mata dari pipi kyuhyun. Ia tidak ingin melihatnya menangis.

“oppa, jaga dirimu.”

Hanya itulah yang jihyun katakan. Kyuhyun menciumnya sekali lagi dan segera naik ke jeep yang sudah menunggu dari tadi. Ia tidak peduli dengan tatapan orang-orang sekarang sudah terarah kepadanya.

Ketika jeep mulai menjauh dari tempat penjemputan, kyuhyun berjanji pada diri sendiri. Ia akan menepati janji tersebut, ia harus menepati janji tersebut. Demi dirinya, demi jihyun.

“aku akan pulang.”

Image

3 thoughts on “Midnight Chapter 1 (Cho Kyuhyun – Park Jihyun)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s