Midnight Chapter 2 (Cho Kyuhyun – Park Jihyun)

2. Lost, never found.

Aku akan mendakit tebing itu lagi,

tebing dimana kita menemukan satu sama lain,

kamu dan aku,

aku dan kamu.

Akan aku terbangkan pesawat kertas ini,

Pesawat penuh kata-kata cinta yang tak terucap,

Surat-surat cinta yang tak pernah kau terima,

Kalimat-kalimat rindu dari diriku untukmu.

 

Setelah jeep tersebut menghilang dari pandangan, jihyun merasa lega. Ia tidak perlu menahan nafas seperti yang ia lakukan tadi selama jeep itu menjauh. Melihat kyuhyun pergi dengan mata kepala sendiri ternyata jauh lebih menyakitkan daripada mendengar kabar tentang ini dari orang lain. Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Sebuah lubang hitam telah terbentuk di tempat dimana hatinya dulu berada. Oh tidak, ia tidak merasakan sakit, maupun pedih.

Kosong, itulah yang ia rasakan.

Mungkin inilah rasanya kehilangan, pikirnya.

Mungkin inilah rasanya melepaskan seseorang yang sangat engkau sayangi, tidak mengetahui apakah suatu hari ia akan kembali, mengetuk pintu rumahmu dan memelukmu lagi seperti dulu.

Mungkin, mungkin, mungkin.

Kata itu terus-menerus berputar di kepalanya, memenuhi pikirannya dengan hal-hal buruk. Ia merasa kacau, sedih, bingung, menyesal. Tanpa suara, ia buru-buru meninggalkan tempat itu, sedikit berharap semua prasangka buruknya akan tertinggal disana.

Sesampainya di depan rumah, ia mengetuk pintu rumahnya sekuat tenaga. Ternyata dengan cerobohnya ia lupa membawa kunci rumahnya, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan. Ia tidak tahu ada apa dengannya hari ini. Eomma yang membuka pintu kaget melihat penampilan anak perempuannya yang berantakan. Jihyun terlihat kecapekan dan pucat.

“jihyun-ah, kamu pucat sekali! Eomma buatkan makan malam ya, kamu harus makan sesuatu!” kicau eomma.

“eomma, aku hanya perlu istirahat.” Jawab jihyun pendek dan segera naik ke atas. Ia sedang tidak ingin berdebat dengan eommanya.

Dengan terseok-seok ia berjalan menuju kamarnya. Ia membuka pintu dengan pelan dan sedikit terkejut melihat ruangannya yang sudah rapi. Sejauh yang bisa dia ingat, ia meninggalkan kamarnya dalam kondisi yang sangatlah berantakan ketika ia pergi menghantarkan kyuhyun. Tidak mempunyai tenaga untuk berterima kasih kepada eommanya yang sekarang sedang duduk di ruang makan, khawatir akan anaknya. Ia hanya bisa menggumamkan sesuatu yang tidak jelas dan menjatuhkan diri ke atas ranjang.

Jihyun’s POV

Aku mungkin adalah orang paling menyedihkan saat ini. Dengan wajah pucat pasi serta rambut berantakan, orang-orang akan mengernyit bila melihatku. Tetapi kyuhyun tidak akan mengernyit, dia bahkan tidak akan berkomentar apa-apa tentang penampilanku dan akan lebih mengkhawatirkan kesehatanku. Betapa aku ingin sekali menyusulnya dan menjemputnya pulang. Tetapi disinilah aku, berbaring di atas ranjangku yang rapi. Sepertinya eommalah yang membereskan segala kekacauan yang kubuat tadi pagi. Ah, aku tidak tahu. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin malam ini cepat berlalu.

“Oppa, baik-baiklah disana.” bisikku sebelum aku jatuh terlelap.

Author’s POV

“jihyun-ah..”

“…”

“jihyun-ah!”

“ne” gumam jihyun dari dalam selimutnya. Ia menunggu, tetapi tidak ada balasan dari eomma. Ia sadar bahwa eommanya tidak akan berkata apa-apa sebelum ia keluar dari persembunyiannya. Dengan terpaksa ia menyingkap selimutnya, menyipitkan mata karena sinar matahari pagi yang masuk ke matanya. Eomma duduk di pinggir ranjang, memegang sesuatu di tangannya. Ia menatap eomma dengan pandangan tidak-bisakah-kau-lihat-bahwa-anakmu-sedang-tidur-dan-hari-ini-adalah-akhir-pekan selama beberapa saat, lalu mengalihkan pandangannya pada jam beker yang sedang duduk manis diatas meja. Jam 8 pagi.

“dia menulis surat untukmu,” kata eommasebelum jihyun bisa berkata-kata. “aku tidak membukanya, jadi aku tidak tahu apa yang dia tulis. Tidak ada alamat yang tercantum disini, jadi sepertinya kamu hanya akan menerima surat, bukan memberi.” lanjutnya sambil beranjak keluar kamar. Ia berkata bahwa sarapan sudah siap sebelum akhirnya menutup pintu.

Jihyun terbengong. Setiap kali beliau masuk ke kamarnya, selalu saja ia berhasil menemukan sesuatu yang bisa ia ceramahi. Tapi kali ini, ia hanya menaruh surat kyuhyun di pangkuan jihyun, tersenyum simpul, dan melangkah keluar. Jihyun memutuskan untuk tidak memusingkan hal itu sekarang dan kembali fokus pada surat kecil

“Dia bersungguh-sungguh,” batin jihyun. Dibukanya segel surat tersebut. Terlihat tulisan tangan kyuhyun yang kecil dan berantakan. Jihyun menarik nafas, mempersiapkan diri selama beberapa saat, lalu mulai membaca. Ia tidak tahu apa yang akan dia hadapi.

Hai, jihyun.

Bagaimana kabarmu? Aku merindukanmu.

Aku merasa begitu kesepian tanpa kehadiranmu, aku merasa kosong.

Orang lain juga ada yang terpaksa meninggalkan kekasihnya,

jadi bisa dibilang kita berbagi penderitaan yang sama.

aku telah memilih jalan ini, dan aku tidak pernah menyesali pilihanku. Aku akan berjuang terus, aku tidak akan hilang harapan. Dan ketika aku sudah menemukanmu lagi di ujung jalan, aku akan berhenti.

Ternyata, aku dipilih untuk menjadi angkatan udara. Jadi sekarang kami sedang mempersiapkan semuanya, termasuk pesawat kami. Kita baru akan terbang di akhir bulan ini, tanggal 30 september. Kamu harus mencari tempat perlindungan yang aman, akan sia-sia saja bila aku kembali dan ternyata kamu telah tiada.

Maafkan aku yang tidak bisa menulis surat-surat romantis seperti yang kau dambakan akan suatu hari menerimanya dariku, tetapi kalimat-kalimat sederhana ini terucap dari hatiku yang paling dalam, hati kecilku yang belum tersentuh oleh kebohongan.

Sayang sekali surat ini harus berhenti sampai sini. Ingat, aku menyayangimu park jihyun.

Aku akan kembali.

Aku pasti kembali.

 

Jihyun’s POV

Tidak, ini bukanlah surat paling romantis di seluruh dunia, tetapi aku bisa merasakan ketulusan yang terpancar dari kalimat-kalimat itu. Aku jadi ingat, abeoji dulu juga sering mengirim surat ke eomma ketika mereka belum menikah. Ia melakukannya tiap hari, setiap hari selama 4 tahun sampai ketika ia berlutut pada satu kaki, mengeluarkan kotak kecil dari kantung celana panjangnya, dan mengucapkan kata-kata ajaib itu. Eomma berkata bahwa ia menangis bahagia ketika dilamar oleh abeoji. Lucu rasanya melihat eomma yang biasanya begitu tegas dan bijaksana bertingkah seperti seseorang yang baru jatuh cinta tiap kali ia menceritakan abeoji. Mereka berdua pasti sangat bahagia.

Aku melipat kembali surat itu dengan hati-hati dan menaruhnya di sebuah laci kecil yang tidak pernah terpakai selama ini. aku merasa tenang sekarang, setelah menerima surat darinya. Tanpa suara, aku melangkahkan kaki ke arah pintu kamar, membukanya dengan pelan, dan keluar dari kamarku untuk pertama kalinya dalam 4 hari. Aku memakan sarapanku dalam diam, terlepas dari eomma yang memandangiku seolah-olah aku mau keluar kamar adalah suatu keajaiban.

Meninggalkan sarapanku tak habis termakan, aku berjalan menuju garasi tempat sepedaku berada. Disanalah dia, sepeda yang berwarna putih dari ujung stang sampai ban roda. Kunaiki dan kuputuskan untuk pergi ke tebing, tempat favorit kyuhyun.

Ketika sampai di jalanan, orang-orang mulai memperhatikanku yang masih memakai baju tidur. Aku memang sengaja tidak mengganti bajuku, atau lebih tepatnya tidak peduli untuk mengganti bajuku. Aku menggoes terus sampai sebuah pohon pinus tua yang berdiri kokoh di pinggir jalan terlihat. Pohon tua itu sudah ada sejak eomma baru mengenal abeoji, dan masih bertumbuh sampai sekarang. Tepat disebelah sang pinus tua, sebuah tebing yang diselimuti padang rumput pun tampak. Ku sandarkan sepeda di sebuah batu besar bersamaan dengan sepatuku, lalu kunaiki tebing ini. aku berniat untuk tetap berada disini sampai malam. Tetapi setelah beberapa jam, aku menyerah dan beranjak kembali ke kaki tebing.

“aku akan berada dirumah saja.”

Author’s POV

Surat-surat itu terus berdatangan. Sesuai dengan perkataan kyuhyun, ia mengirimkan jihyun surat setiap hari. Setiap hari jihyun akan disambut dengan secarik surat di atas meja belajarnya, bersebelahan dengan susu hangat dan biskuit gandum dari eomma.

Walaupun sederhana, dan mungkin bagi orang lain tidak seberapa, surat-surat itulah yang membuat jihyun tetap bersemangat setiap hari. Surat-surat itulah yang mencegahnya meneteskan air mata. Surat-surat itulah yang membuatnya merasa dekat dengan kyuhyun.

Tetapi, tidak ada surat yang datang pagi itu. Hanya susu hangat, dan biskuit gandum. ‘mungkin eomma lupa mengambilnya di kotak surat,’ pikir jihyun menenangkan diri. Ia melompat dari tempat tidur dan berlari keluar. Dengan jantung yang masih berdegup-degup, ia buka tutup kotak pos.

Jihyun’s POV

Kosong.

Kosong? Oh tidak, mengapa kosong?

Baru saja pertanyaan itu menghantam tulang tengkorakku seperti martil, sebuah pesawat tempur melesat diatas kepalaku dan menjatuhkan bom di jalanan. Orang-orang terlempar dan terbakar hidup-hidup di depan mataku. Sungguh pemandangan yang mengerikan! Aku langsung berbalik dan berlari secepat mungkin. Tidak pernah aku berlari secepat ini! kubiarkan kakiku membawaku kemanapun mereka pergi. Apa yang kulihat di jalanan sungguh tiba tergambarkan. Begitu banyak orang-orang yang dibunuh! Peluru-peluru dan bom mendesing dari segala arah! Kota kecilku yang tercinta telah berubah menjadi lautan api! Aku menangis tersedu-sedu sambil menghindari para tentara musuh. Mereka menembaki orang-orang tidak bersalah dengan brutalnya, begitu banyak darah.

Tebing!

Aku berlari ke tebing secepat mungkin. Ketika sampai disana tangisanku bertambah keras. Oh pohon pinus tuaku tersayang! Siapa yang melakukan ini padamu? Sebatang pohon pinus yang tadinya berdiri dengan begitu kokohnya, sekarang hanyalah sebuah korek api besar yang hangus terbakar, menciut dan mati.

Dadaku seperti terbakar. Sesak sekali! Aku ngos-ngosan, berusaha menstabilkan nafas. Aku mendongak keatas, dan melihat sebuah pesawat tempur–lebih besar daripada milik musuh–meluncur bebas dari langit. Ia jatuh tepat di jurang di depanku. Badanku terhempas ke belakang, dan kepalaku menghantam sesuatu yang keras.

Flashback finish.

Aku termenung selama beberapa saat memikirkan kejadian itu.

Aku, park jihyun, adalah salah satu dari beberapa orang yang selamat dari perang antara korea utara dan selatan.

Aku, park jihyun, baru berumur 18 tahun ketika aku kehilangan kedua orang tuaku. Mereka tewas dalam perang, dibunuh oleh tentara-tentara musuh yang menyerbu rumah lamaku.

Aku, park jihyun, berada dalam koma selama 3 bulan. Aku berjarak hanya 20 meter dari sebuah pesawat tempur yang meledak. Aku terlempar ke belakang, dan kepalaku mengenai batu. Aku mengalami patah tulang pinggang dan tulang belikatku hancur. Dokter berkata bahwa adalah orang yang terberkati karena masih hidup. Dia juga berkata bahwa aku mengalami gegar otak dan setengah dari ingatanku terhapus.

Tetapi tidak,

Aku ingat semuanya.

Kota kecilku.

Rumahku.

Eomma, abeoji.

Bahkan sang Pinus Tua, yang sekarang sudah tergantikan oleh sebuah pohon pinus yang baru. Kecil, hijau, dan berjuang untuk hidup.

ada satu hal yang tidak bisa aku ingat, tidak peduli betapa kerasnya aku mencoba.

Seorang pria.

Ia berambut coklat, dan ia memiliki warna mata unik.

Aku tidak ingat sisanya. Aku hanya ingat bahwa dia menjanjikanku sesuatu, sesuatu yang membuatku berlari ke tebing itu dulu.

Aku sudah berkonsultasi tentang hal ini dengan dokter. Beliau berkata bahwa aku hanya perlu melupakannya, dan sisa-sisa ingatanku tentang dia akan hilang secara perlahan-lahan.

Maka disinilah aku, 8 tahun kemudian, tanggal 25 september, di ujung tebing tak bernama ini, memegang sebuah pesawat kertas berisi kata-kata cinta yang aku tidak yakin akan pernah kukatakan ke pria lain selain yonghwa, suamiku. Kuangkat tanganku, dan dalam satu gerakan kuterbangkan pesawat kertas itu, membawa pergi segala sisa-sisa kenanganku disini.

“Selamat tinggal,” Bisikku sambil memerhatikan pesawat itu terbang menjauh. “terima kasih untuk semuanya.”

Ketika aku mendaki turun, kulihat seseorang sedang bersusah payah berjalan menaiki tebing. Kuputuskan untuk menjadi orang yang baik, lalu berkata, “jogiyo, bisa kubantu?”

Ia mendongakkan kepalanya dan melepas topi. Ia juga sedang memegang pesawat kertas.

Rambut itu. rambutnya berwarna coklat.

Dan matanya. Matanya berwarna unik. Matanya berwarna emas madu.

Kita sama-sama terpaku pada satu sama lain selama beberapa saat. Tanpa peringatan tiba-tiba ia mulai menangis, menangis bahagia lebih tepatnya, dan memelukku dengan erat. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan kedua tanganku yang bebas, jadi aku hanya memeluknya dengan tangan kanan dan menepuk punggungnya dengan tangan lain. semoga pria ini cepat-cepat menenangkan diri, aku tidak mau telat di hari ulang tahun pernikahanku sendiri.

“ji..jihyun-ah..” isaknya. “aku pulang, jihyun-ah. Aku pulang.”

“maaf tuan, sepertinya engkau salah mengenali orang.” Dengan canggung aku melepaskan pelukannya. Aku menatapnya bingung, apa jangan-jangan..?

“Park Jihyun, Ini aku!” katanya, masih sedikit terisak. “Tidakkah kamu mengingatku? Aku Cho Kyuhyun!”

Aku berusaha mengingat-ngingat. Tidak, tidak ada Cho Kyuhyun dalam hidupku. Setelah aku yakin pada diri sendiri, saatnya untuk meyakinkan pria malang ini yang masih terisak-isak.

“aku benar-benar minta maaf, tuan Cho, aku tidak mengenalmu.”

Aku berani bersumpah aku bisa mendengar suara hatinya yang hancur. Ajaibnya ia berhenti menangis, menatapku dengan matanya yang merah, menghela nafas, dan berkata, “baiklah, jihyun. Aku tidak akan memaksamu untuk mengingatku kembali, melihatmu masih hidup saja sudah lebih dari cukup. Aku yakin kamu pasti sudah bahagia sekarang. Jadi, sebaiknya kita mengucapkan selamat tinggal disini, tempat dimana kita pertama kali menyapa satu sama lain.”

Ia mundur satu langkah dariku dan mengulurkan tangannya yang gemetar menahan kesedihan. Ia kelihatan begitu sedih dan hancur sehingga aku ingin memeluknya lagi, menenangkannya.

“selamat tinggal, Park Jihyun.”

“selamat tinggal, Cho Kyuhyun.”

The End

2 thoughts on “Midnight Chapter 2 (Cho Kyuhyun – Park Jihyun)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s