Stand By Me (Lee Hyuk Jae – Jung Jae Ni)

BeFunky_tumblr_m6ess7Fjxi1qj83e4o1_500_large.jpg

“Ladies and gentlemen, the Captain has turned on the fasten seat belt sign…”

Pria itu tersenyum saat mendengar suara seorang pramugari yang meminta penumpang pesawat mereka untuk mengenakan seat belt karena mereka akan segera boarding. Ia duduk tepat di samping jendela di Business Class. Dari balik jendela pesawat itu, hanya bangunan San Francisco International Airport dan sebagian badan dari sebuah pesawat yang dapat terlihat.

Ia hanya memandangi semua itu dari balik kacamata hitamnya. Ia masih tersenyum, dan yang ia pikirkan saat ini hanya satu kata.

Pulang.

Kursi di sebelahnya kosong. Mungkin pemilik kursi itu belum naik ke pesawat yang ditumpanginya sekarang. Tapi pria itu sama sekali tidak tertarik dengan alasan mengapa kursi di samping pesawatnya kosong, atau siapa pemilik bangku itu.

Pikirannya sama sekali tidak tertuju pada puluhan jam dan berapa mil yang harus dilaluinya di dalam pesawat hanya untuk pulang. Bukan itu yang ia pikirkan. Untuk apa ia memikirkan hal-hal itu –hal yang sama sekali tidak penting, setidaknya bagi dirinya- kalau bayaran dari perjalanan panjang ini sangat indah?

Ia hanya bisa menggumam pelan.

“Jung Jae Ni… Aku pulang.”

***

Stand by me, look towards me even though I don’t know love yet

Stand by me, guard over me because I am still clumsy at love

Cinta?

Hal menjijikkan seperti itu hanya ada di dalam novel-novel koleksi kakak perempuannya yang sangat sensitif. Jenis bacaan yang tidak pernah dan tidak akan ia sentuh.

Ia, Lee Hyuk Jae, tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, hal menjijikkan seperti itu hanya ada di dalam dunia fiksi. Di dunia nyata, hal semacam itu tidak ada.

Baginya, di dunia nyata hanya ada kebencian.

Ia boleh saja menjadi anak bungsu dari 2 orang designer ternama di tanah kelahirannya, memiliki sebuah Rolls Royce dan Lamborghini dan benda-benda mewah lainnya, tinggal di sebuah rumah di kawasan perumahan yang elite, dikenal banyak orang. Tapi, tidak, ia tidak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Ia selalu sendiri.

Selalu kakak perempuannya. Selalu kakak perempuannya yang mereka puji, yang selalu mereka banggakan. Selalu kakak perempuannya yang dipamerkan ke semua kolega-kolega mereka di dunia fashion design karena kakak tercintanya itu mewarisi darah designer dari kedua orang tuanya. Itu masih ditambah dengan berbagai prestasinya yang lain.

Sedangkan ia?

Well, ia buruk dalam pelajaran Matematika, ia sangat buruk dalam pelajaran menggambar, dan ia sama sekali tidak tertarik pada dunia design. Berbagai usaha telah dilakukan oleh kedua orang tuanya untuk membuatnya tertarik menjadi seorang designer seperti mereka, mulai dari memaksanya duduk di samping mereka saat mereka sedang mendesain sampai memaksanya menghadiri acara-acara fashion show.

Tapi dunia fashion bukan dunianya. Sejak dulu selalu seperti itu.

Hyuk Jae tidak pernah bisa menyerap semua teori tentang dunia fashion yang selalu diulang-ulang oleh kedua orang tuanya dan kakaknya setiap hari di hadapannya, seperti kaset yang sudah rusak dan hanya bisa mengulang bagian yang sama. Ia tidak tertarik sedikitpun saat memperhatikan koleksi majalah-majalah fashion milik keluarganya yang selalu menumpuk di setiap sudut ruangan di rumah mereka, tak peduli walaupun itu adalah majalah Vogue, Elle, Cosmopolitan, dan majalah-majalah fashion lainnya yang selalu menjadi bacaan wajib keluarganya. Ia selalu tidur di setiap acara fashion show, dan sangat muak bila ia terpaksa harus menghadiri acara-acara yang berhubungan dengan fashion. Ia bersyukur dengan kenyataan bahwa ia terlahir sebagai laki-laki dan sama sekali tidak terlalu bermasalah bila ia hanya ingin mengenakan kaus atau kemeja saja dengan celana jeans dan sneakers usangnya yang selalu dicintainya. Entah bagaimana nasibnya bila ia terlahir sebagai seorang perempuan dan harus berdandan kemanapun mereka pergi, seperti yang dilakukan ibunya dan kakak perempuannya yang merupakan fashionista tingkat tinggi.

Yang ia cintai hanya dunia tari. Ia selalu bercita-cita menjadi penari. Atau setidaknya menjadi guru tari. Dan orang tuanya sangat melarangnya untuk masuk ke dalam dunia itu.

Karena orang tuanya tidak pernah mengerti dirinya.

Kelanjutannya sudah bisa ditebak. Kakaknya selalu mendapat perhatian lebih. Sudah terlalu sering ia mendengar bagaimana kedua orang tuanya berbicara dengan nada lembut dan sayang kepada kakaknya, namun berbicara dengan nada datar padanya. Kakaknya selalu mendapat pujian, dan ia hampir tidak pernah mendapatkan pujian.

Saat ia meraih juara pertama dalam kompetisi menari di sekolahnya, orang tuanya hanya meliriknya sekilas dan kembali sibuk dengan kertas-kertas mereka.

Perbandingan itu sangat menyakitkan. Semua orang mengakui itu.

Ia tidak tahu seperti apakah perasaan yang mereka sebut dengan ‘cinta’. Ia tidak tahu. Ia tidak ingin tahu. Mendengar kata itu saja ia merasa jijik.

Mungkin kalau ia pernah merasakan apa yang disebut dengan ‘cinta’, hanya Lee Donghae yang ia cintai. Ia bukan gay, demi Tuhan, ‘cinta’ yang ia maksud di sini adalah persahabatan. Hanya Lee Donghae yang mau mempunyai sahabat seperti dirinya, dan hanya orang itu yang mengerti dirinya. ‘Cinta’ itu tidak harus selalu diidentikkan dengan sepasang kekasih, bukan?

Ia tidak suka –sangat tidak suka- dengan orang-orang yang selalu
mengidentikkan cinta sebagai satu orang pria yang mencintai satu orang wanita, lalu mereka—

“Lee Hyuk Jae, maju ke depan dan selesaikan soal di papan tulis!”

Suara Kim seonsaengnim yang melengking dan selalu dibencinya. Sial, ia pasti hampir tertidur lagi di pelajaran pria tua itu. Harusnya Donghae masuk hari ini, karena sahabatnya itu pasti akan menendang kakinya atau menyikut tangannya bila ia hampir tertidur. Pria tua itu sama sekali tidak bisa menoleransi siapapun yang tidur di kelasnya.

Cara yang indah untuk mengawali harinya hari ini adalah 2 jam pelajaran Matematika, dengan guru tua yang paling galak dan menyebalkan, dan bangku di sampingnya yang kosong. Sangat indah untuk menambah waktu tidur, seandainya bagian guru tua dan menyebalkan itu dihilangkan.

Hyuk Jae bangkit dari kursinya dan maju dengan langkah gontai, lalu meraih spidol papan tulis yang ada di meja guru. Ia hanya memandangi soal Matematika yang terpampang di hadapannya dengan tatapan pasrah, lalu mendesah pelan. Ia sama sekali tidak memperhatikan penjelasan guru tua itu tentang materi ini. Ia tidak pernah memperhatikan deretan angka-angka dan simbol-simbol dan bagaimana mereka diselesaikan.

Ia bahkan tidak tahu nama materi ini. Trigonometri? Phytagoras?

Tak peduli apakah ia memerhatikan penjelasan guru tua itu atau tidak, ia tidak pernah bisa mengerti sedikitpun tentang Matematika.

Sekarang, bagaimana cara ia mengerjakan soal ini?

Hyuk Jae tahu bahwa saat ini guru tua itu sedang melipat tangannya di depan dada dan memelototinya dari balik kacamatanya yang sangat tebal, menunggunya untuk menjawab soal di papan terkutuk itu –ia sudah hafal sekali karena ia sudah terlalu sering terjebak dalam situasi seperti ini akibat perhatian guru tua itu kepadanya yang terlalu berlebihan. Hyuk Jae tidak tahu apa yang menyebabkan perhatian guru itu padanya. Entah karena nilai Matematikanya yang buruk atau karena guru itu adalah wali kelasnya. Ia baru saja membuka tutup spidol itu dan berniat untuk mengerjakan soal itu menurut apa yang diingat oleh otaknya ketika tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu kelas mereka.

Aku mencintaimu, siapapun yang mengetuk pintu kelas kami. Kau penyelamatku.

Kim seonsaengnim menggeram kesal –sepertinya ia tidak senang karena ia gagal menyaksikan murid tercintanya tidak dapat mengerjakan soal buatannya di papan tulis- dan berjalan menuju pintu. Ia membuka pintu kelas mereka, dan untuk beberapa saat Hyuk Jae yakin kalau ia sedang menatap seorang bidadari.

Oke, itu berlebihan. Tapi gadis itu benar-benar gadis tecantik yang pernah ia lihat.

Kim seonsaengnim bercakap-cakap sebentar dengan gadis itu –Hyuk Jae tidak bisa mendengar apapun yang mereka bicarakan karena suara mereka terlalu pelan dan ia berdiri terlalu jauh dari pintu- lalu mempersilahkan gadis itu masuk. Hyuk Jae berani bertaruh kalau guru tua itu juga menganggap bahwa gadis itu sangat cantik, karena Hyuk Jae bisa melihat sikap dan suara pria tua itu yang melembut.

Cih, guru tua ini sepertinya tidak pernah melihat gadis cantik.

Guru tua itu berdeham, lalu menatap Hyuk Jae dengan tatapan paling ramah yang pernah ditunjukkan oleh guru itu kepadanya. “Lee Hyuk Jae, kau boleh kembali ke tempat dudukmu. Hari ini kita kedatangan seorang murid baru, dan dia akan memperkenalkan diri.”

Hyuk Jae berani bersumpah kalau akhirnya ia mengerti bahwa ada hal-hal tertentu yang bisa membuat guru galak itu menjadi sebaik malaikat.

***

Cinta?

Ia, Jung Jae Ni, tidak mengerti lagi bagaimana cara ia menjelaskan bahwa hal menjijikkan seperti itu tidak pernah ada. Setidaknya, bagi dirinya hal seperti itu tidak pernah ada.

Ia boleh berpergian ke banyak tempat, mencicipi makanan paling enak yang bisa dibuat di bumi ini, hidup terlalu berkecukupan dan dikenal oleh hampir semua orang. Tapi, tidak, orang tuanya tidak pernah benar-benar mencintainya apa adanya.

Menjadi anak sulung dari seorang koki yang bekerja di hotel-hotel bintang lima dan seorang kritikus kuliner ternama tidak selamanya menyenangkan. Ia selalu dituntut untuk menjadi apa yang orang tuanya inginkan. Bagi orang tuanya, ia hanya sebuah boneka untuk dipamerkan pada kolega-kolega mereka di dunia kuliner. Sebagai anak sulung, beban yang harus dipikulnya rasanya terlalu berat.

Ia sama sekali tidak tertarik terhadap dunia kuliner, dan sama sekali tidak memiliki bakat dalam dunia itu. Ia tidak bisa memasak ramyun tanpa menuangkan terlalu banyak air di dalam panci, ia tidak bisa memecahkan telur tanpa ada sedikit dari cangkang telur itu yang ikut masuk bersama telur itu, bahkan ia tidak tahu seperti apa air yang mendidih. Ia selalu terpesona setiap kali melihat ayahnya memasak dengan kedua tangannya yang cekatan dan bagaimana ibunya yang selalu bisa menebak semua bahan yang dipakai ayahnya dengan takaran yang tepat, tapi ia tidak pernah tertarik untuk menjadi seperti salah satu di antara mereka. Lagipula, orang tuanya sudah tidak lagi mengharapkan ia untuk menjadi seperti mereka, karena orang tuanya selalu putus asa setiap melihatnya memasak.

Yang menjadi harapan mereka adalah adik laki-lakinya yang tercinta, yang bahkan bisa menciptakan resep-resep baru. Terlalu berbakat dalam bidang kuliner, sampai-sampai ia selalu ikut dengan ayah mereka dan menolongnya saat beliau bekerja di hotel pada akhir minggu. Bayangkan saja betapa bangganya kedua orang tua mereka saat memperkenalkan anak bungsu mereka di depan teman-teman mereka, dan bagaimana mereka semakin bangga saat si bungsu mulai dikenal luas oleh publik sejak memenangkan sebuah kompetisi memasak bagi anak-anak yang ditayangkan di televisi dan disebut-sebut sebagai ‘Masterchef Termuda’.

Jae Ni mencintai dunia bahasa. Ia suka mempelajari bahasa-bahasa, dan selalu bercita-cita menjadi penerjemah. Tapi sepertinya ia tidak bisa terlalu berharap banyak kalau orang tuanya akan mendukungnya sepenuh hati. Bahkan orang tuanya sama sekali tidak memberinya ucapan selamat dalam bentuk apapun saat ia memenangkan kompetisi debat dalam bahasa Inggris tingkat nasional.

Perbandingan itu memang menyakitkan.

Minggu lalu orang tuanya memutuskan untuk pindah lagi ke Prancis. Mereka akan membawa serta adiknya. Sebenarnya mereka juga mengajak Jae Ni, tapi Jae Ni berniat untuk tetap menyelesaikan pendidikannya di tanah kelahirannya. Orang tuanya menyarankannya untuk pindah ke sekolah yang lebih dekat dengan rumah mereka, sehingga Jae Ni tidak terlalu repot untuk berjalan jauh ke sekolahnya yang lama. Jae Ni sama sekali tidak mempermasalahkan saran orang tuanya itu dan hanya menyetujuinya. Ia sama sekali tidak mempunyai teman di sekolah lamanya, mengingat bagaimana ia dikenal sebagai ‘Ice Princess’ karena sikap dinginnya dan pengendalian diri yang sangat terlatih, serta tatapan membunuhnya dan sikap diamnya.

Bukannya ia tidak bisa bersosialisasi. Ia hanya tidak ingin berteman.

Karena ia tak yakin akan ada seseorang yang bisa ia percaya.

Jae Ni sama sekali tidak berniat menanggalkan julukan tersebut di sekolah barunya. Ia sangat berniat untuk mempertahankannya. Hanya dengan cara itu ia bisa terlihat kuat dan baik-baik saja.

“Nona Jung, saya akan mengantarkan Anda ke kelas Anda.”

Jae Ni mendongak saat mendengar staff tata usaha sekolah itu telah menyelesaikan segala urusan administrasinya dan dengan ramah menawarkan diri untuk mengantarkannya ke kelasnya. Mungkin seharusnya memang begitu, karena ia belum mengenal dengan baik sekolah ini. Selain itu ia masih mengenakan baju bebas karena seragam sekolahnya belum jadi. Kalau ia bersikeras untuk berjalan sendiri menuju kelas barunya, hanya ada dua kemungkinan. Ia akan tersesat atau ia akan dikira sebagai penyusup.

Tapi Jae Ni tidak pernah menerima pertolongan seumur hidupnya. Ia terbiasa melakukan segalanya sendiri –semua, kecuali memasak.

“Tidak perlu repot-repot, mmm…” Jae Ni melirik sekilas tanda pengenal di dada staff itu, “Yoon seonsaengnim. Anda hanya perlu menunjukkan kepada saya jalan apa yang harus saya tempuh.”

Jae Ni memaksakan seulas senyum sementara staff itu memandangnya dengan tatapan orang-ini-aneh-sekali. Staff itu akhirnya menyerah dan menunjukkan jalan-jalan apa saja yang harus ia tempuh, walaupun Jae Ni bisa mendengar dengan jelas dari nada bicara staff itu bahwa ia tidak yakin kalau Jae Ni bisa menemukan ruang kelasnya.

Staff itu terlalu merendahkan kemampuanku.

Jae Ni mengingat-ingat petunjuk staff itu dan berhasil menemukan kelasnya dalam waktu kurang dari 10 menit. Lumayan sekali untuk seseorang yang belum pernah masuk ke dalam gedung sekolah itu.

Jae Ni mengetuk pintu ruangan itu, lalu menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. Ia mulai panik –ia bisa panik dalam banyak hal- namun ia sudah lama mengerti bagaimana cara untuk mengendalikan kepanikannya.

Pintu terbuka dan ia hampir tidak dapat menahan desahan kecewanya karena mendapati guru yang menyapanya adalah seorang guru yang sangat tua, yang mungkin lebih pantas dipanggil ‘kakek’ daripada ‘guru’. Padahal Jae Ni sangat berharap kalau wali kelasnya yang baru adalah seorang guru yang belum terlalu tua tapi juga tidak terlalu muda, yang—

“Kau pasti Jung Jae Ni?”

“Ya, saya Jung Jae Ni.” Jae Ni membungkuk hormat pada guru itu. Jae Ni tahu guru itu sedang menatapnya dengan tatapan aneh, karena ia datang ke sekolah ini dengan menggunakan jeans dan kemeja putih.

“Saya adalah wali kelasmu. Tadi pagi saya diberitahu kalau kelasku akan kedatangan seorang murid baru. Saya mengajar Matematika. Senang bertemu denganmu, Nona Jung,” sapa pria itu ramah. “Masuklah, kau harus memperkenalkan dirimu kepada teman-temanmu dan kau bisa memulai pelajaranmu hari ini juga.”

Aish, itu tidak penting. Aku juga sudah mengerti.

Jae Ni masuk ke dalam kelas barunya itu, sedikit membungkuk untuk menyembunyikan wajahnya di balik rambut berombaknya yang panjang. Ah, kira-kira image seperti apa yyang harus ia tampilkan pada perkenalan nanti? Apakah dingin seperti biasa? Atau ramah? Atau…

Oh, ya ampun. Siapa orang yang berdiri di depan ruang kelas itu?

“Lee Hyuk Jae, kau boleh kembali ke tempat dudukmu. Hari ini kita kedatangan seorang murid baru, dan dia akan memperkenalkan diri.”

Lee Hyuk Jae. Itu nama lelaki itu? Dia sangat… tampan.

Jae Ni menggigit bibirnya sendiri. Apa sih yang dia pikirkan? Sadarlah Jung Jae Ni. Kendalikan dirimu.

“Kalian mungkin sudah mengenalnya. Jung Jae Ni, anak dari koki ternama Jung Jung Woo dan kritikus kuliner ternama Yoo In Na, kakak dari Masterchef Termuda di negara kita, Jung Jae Bum.”

Jae Ni tidak suka dengan cara gurunya memperkenalkan dirinya. Memangnya tidak ada cara lain untuk memperkenalkan dirinya? Mengapa semua anggota keluarganya harus disebut?

“Silahkan perkenalkan dirimu.”

Jae Ni setengah mati menahan diri untuk tidak menghembuskan nafas keras-keras. “Annyeonghaseyo, Jung Jae Ni imnida. Saya akan bergabung bersama kalian di kelas ini. Mohon bantuannya.”

“Jung Jae Ni-ssi, kau bisa duduk di sebelah Lee Hyuk Jae.”

Laki-laki yang tadi berdiri di depan kelas itu mengacungkan tangannya ke atas, lalu dengan nada tidak terima, ia mencoba mengingatkan gurunya. “Kim seonsaengnim, bangku di sebelah saya adalah bangku milik Donghae.”

“Biarlah, Donghae bisa pindah di sebelah Jae Mi.”

“Tapi, Seonsaengnim…”

“Jung Jae Ni-ssi, kau boleh duduk sekarang.”

Jae Ni yang sejak selesai memperkenalkan diri hanya diam pun mengangguk dan berjalan menuju kursi kosong di sebelah Hyuk Jae. Ia meletakkan tasnya dan menarik kursi itu dengan ragu-ragu, lalu segera mendudukkan dirinya sendiri di atas bangku itu.

“Indah sekali ya dunia. Anak dari Jung Jung Woo dan Yoon In Na duduk di sebelah anak dari designer ternama Lee Jang Wook dan Shin Chae Rin serta adik dari Lee So Ra. Dua orang dari keluarga terkenal duduk bersama. Ah, dunia itu memang indah ya?”

Jae Ni rasa ia bisa membunuh siapapun yang membisikkan kalimat itu.

“Abaikan saja. Sindiran seperti itu akan sangat sering kau dengar di sekolah ini,” bisik Hyuk Ja dengan acuh. Jae Ni menebak kalau pria itu pasti sudah terlalu sering mendengarkan sindiran serupa.

Kim seonsaengnim berbalik dan menghapus soal yang ia tulis di papan dan sepertinya berniat untuk menjelaskan materi baru. Tubuh gempal guru barunya yang tua itu menutupi hampir separuh papan tulis, dan Jae Ni mulai bertanya-tanya apa yang dirasakan laki-laki yang duduk di sebelahnya tentang memiliki guru dan wali kelas seperti itu.

“Jadi, kau Lee Hyuk Jae?” tanya Jae Ni pelan. Dia sering mendengar nama Hyuk Jae di beberapa acara di televisi, namun ia tidak pernah melihat wajah Hyuk Jae. Pertanyaan itu, selain untuk menunjukkan sedikit kesopanan juga diperuntukkan untuk memuaskan rasa ingin tahunya.

“Semua orang mengenalku begitu. Tidak, sih. Sebenarnya mereka lebih mengenalku sebagai anak dari sepasang designer ternama.” Hyuk Jae membalas pertanyaan Jae Ni sama pelannya dengan gadis itu tanpa melepaskan pandangannya dari papan, tidak inginmengambil resiko apapun. Guru tua itu sepertinya memiliki mata di belakang kepalanya, sampai-sampai ia bisa menegur siapapun yang sedang berbicara –bahkan berbisik saja ia tahu- walaupun ia sedang menghadap papan tulis dan menuliskan sesuatu yang tidak akan pernah dimengerti olehnya.

“Begitu pula yang yang terjadi padaku.”

Hyuk Jae mendengus acuh mendengar perkataan Jae Ni dan menelungkupkan wajahnya di atas meja, menyembunyikan wajahnya di antara lipatan tangannya.

“Aku mau tidur. Aku malas berbicara denganmu. Kau juga malas berbicara denganku, kan? Guru tua itu memberikan tempat duduk Donghae untukmu. Sial, harusnya Donghae masuk hari ini— Ah, sudahlah. Selamat memperhatikan guru tua itu.”

Jae Ni baru kali ini bertemu dengan seseorang yang berbicara sama sinisnya dengannya, sama acuhnya dengannya, sama dinginnya seperti dirinya. Jae Ni lebih dari yakin kalau laki-laki yang duduk di sampingnya pasti juga memiliki keluarga yang sama seperti dirinya.

Keluarga yang tenar. Keluarga yang tidak menyayangi mereka.

Ah, akhirnya Jae Ni menemukan seseorang yang sama dengannya.

Atau, lawan yang sepadan?

***

My feelings get better as I look at you
I find myself randomly singing
I want to buy a single rose
The side of myself is so new

Man, guru tua itu memberikan tempat dudukku untuk… Siapa nama gadis itu?”

“Jung Jae Ni. Hal seperti itu bukan yang pertama kali, Donghae-ya. Kau tahu wali kelas kita memang sangat aneh.”

Dua sahabat itu sedang duduk berhadapan di kantin sekolah mereka. Setelah 1 minggu menghilang dari sekolah karena demam tinggi, akhirnya laki-laki itu –Lee Dong Hae- muncul lagi di kelas mereka. Malang bagi Donghae, ia langsung dikejutkan oleh kenyataan kalau tempat duduknya sudah bukan lagi miliknya. Donghae menyalahkan penyakit demam yang dideritanya. Seandainya ia tidak nekad menembus hujan berangin malam itu tanpa payung –bahkan tanpa jaket-, mungkin ia tidak akan terserang flu dan demam tinggi. Seharusnya ia masih bisa melindung tempat duduknya yang berada tepat di samping sahabatnya. Seharusnya ia tidak lupa kalau ia memiliki seorang wali kelas tua yang sangat aneh.

“But still, it doesn’t make sense. Dude, I’ve only gone for one week and now I’ve lost my seat!”

“Walaupun kau berniat memprotes guru tua itu di depan ruang kepala sekolah, guru tua itu tetap tidak akan mengembalikan tempat dudukmu. That old man knows how to handle shits better than anyone else. Berhentilah memprotes, di sini bukan hanya kau yang dirugikan.”

“Tapi dia memindahkanku di sebelah Go Jae Mi!”

Sebenarnya Hyuk Jae sedikit kasihan dengan Donghae. Go Jae Mi adalah salah satu anak yang paling serius di kelas mereka, dan sudah pasti tidak akan menjadi teman yang baik bagi anak pemalas seperti Donghae.

“Minta saja Ki Bum untuk menukar tempat duduknya dengan tempat dudukmu. Tempat duduk Ki Bum itu tepat di belakangku, kalau kau belum lupa. Anak itu pasti dengan senang hati menggantikanmu duduk di sebelah Jae Mi.”

Donghae mendengus kesal. Ia pasti sama sekali tidak dapat menerima keputusan wali kelas mereka itu, dan tahu kalau mengganti tempat duduknya dengan Kim Ki Bum –yang jelas-jelas tergila-gila pada Go Jae Mi- merupakan hal yang sia-sia. Wali kelas mereka pasti tahu. Selain aneh, guru tua itu juga memiliki ingatan yang kuat.

“Omong-omong, di mana anak yang bernama Jae Ni itu?”

Hyuk Jae menatap Donghae sekilas, lalu kembali fokus pada ramyun-nya. Ia tidak ingin membalas pertanyaan Donghae. Memang apa pedulinya ia pada gadis itu?

Hyuk Jae tidak akan mau mengakui bahwa duduk 2 hari saja bersama gadis itu sudah membuatnya seperti orang gila. Gadis itu tidak berbicara padanya bila tidak ada yang benar-benar perlu dibicarakannya dengan Hyuk Jae. Seharusnya Hyuk Jae menyukai kenyataan itu, karena Hyuk Jae menghindari untuk berbicara dengan siapapun selain pada Donghae. Gadis itu hanya duduk diam dan menatap papan tulis dengan tatapan tak bersemangat sambil bertopang dagu, tapi Hyuk Jae merasakan sebuah desakan aneh untuk mengajak gadis itu berbicara. Apapun. Apapun untuk mengusir kebosanan yang jelas terpancar di wajah gadis itu, apapun untuk mendengar suara gadis itu.

Apapun untuk bisa menatap matanya. Mata hazel itu. Mata terindah yang pernah Hyuk Jae lihat.

Gadis itu selalu menatap lawan bicaranya.

Hyuk Jae selalu menyukai orang yang menatap lawan bicaranya saat sedang membicarakan sesuatu dengan seseorang. Salah satu alasan mengapa ia menyukai Donghae.

Tapi Hyuk Jae belum pernah merasakan semua dorongan itu pada seorang gadis selain gadis itu.

Jung Jae Ni.

Hyuk Jae juga belum pernah teringat pada seorang gadis setiap kali melewati kebun mawar milik ibunya di belakang rumah mereka yang selalu rapi dan terawat dan memenuhi udara di sekitarnya dengan wanginya yang khas.

7 hari duduk bersama gadis itu, dan ia menjadi aneh seperti ini. Tujuh hari.

“Ya, Lee Hyuk Jae. She’s
coming to our table.

I’ve forced her to do so. Dia seorang diri di tempat ini, dan aku sedikit kasihan melihatnya makan seorang diri di pojok kantin.”

“Whoa, Lee Hyuk Jae, your’re trying to seduce her?”

Watch your mouth, Dude. Dia sama sekali bukan tipeku. Dia sedikit terlalu tinggi dan galak untukku. Kalau kau tidak senang, lebih baik kau pergi saja dan menggoda adik-adik kelasmu.”

“Hampir semua adik kelas kita sudah kugoda. Mereka sama sekali tidak seru, masih terlalu polos. Aku ingin menggoda kakak kelas kita saja.”

Itulah satu-satunya kekurangan Lee Dong Hae, siswa kelas 11-3. He’s a Cassanova.

“Terserah kau sajalah.” Hyuk Jae mengalihkan tatapannya dari Donghae dan berusaha menahan senyumannya saat melihat gadis itu meletakkan jjajangmyeon pesanannya di atas meja tanpa berkomentar apapun.

“Pergilah, Lee Donghae. Goda saja kakak kelasmu.”

“Wow, aku diusir.” Gumam Donghae. “Arrasseo.
Later, Hyuk Jae-ya.”

***

Benar-benar menyedihkan. Satu-satunya orang yang bersedia mengajaknya makan bersama hanya teman sebangkunya, Lee Hyuk Jae. Bagus sekali untuk menambah kesalahpahaman di antara murid-murid di sekolah mereka.

Latar belakang keluarga mereka yang sama-sama tenar, ditambah mereka berada di kelas yang sama dan duduk sebangku sudah membuat mereka belum apa-apa sudah dinobatkan sebagai ‘Best Couple Of The Month’. Sekarang mereka makan bersama, dan yah…

Semua mata tertuju pada mereka. Jae Ni tidak suka menjadi pusat perhatian.

“Jangan pedulikan mereka, biarkan saja. Mereka terlalu peduli dengan kehidupan kita. Abaikan saja. Kalau kau butuh apapun, bilang saja kepadaku. Kita senasib, aku pasti mengerti perasaanmu.”

Begitu yang dikatakan Hyuk Jae kepadanya setiap ia mulai mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Mungkin Hyuk Jae tidak sadar dengan apa yang ia katakan, atau mungkin Hyuk Jae sudah terlalu sering menghibur dirinya seorang diri. Apapun yang membuat pria itu tahu bahwa ia sedang gugup, yang jelas kata-kata pria itu benar-benar membuatnya merasa sedikit lebih tenang.

“Menghabiskan makananmu seorang diri di saat semua orang memiliki teman untuk menghabiskan makanan mereka sangat tidak enak sekali. Duduk saja bersamaku. Lagipula, aku juga duduk sendiri, kok.”

Itu semua yang dikatakan Hyuk Jae 7 hari yang lalu, dan mengherankan sekali bagaimana ia langsung memercayai pria itu.

Now here she is. Mengangkat baki dengan semangkuk jjajangmyeon di atasnya, menuju meja di mana laki-laki itu sedang menunggunya.

She doesn’t like jjajangmyeon.

“Menyebalkan sekali. Pelayan itu mengatakan bahwa mereka sudah kehabisan stok ramyun dan hanya tinggal jjajangmyeon yang tersisa.”

“Memangnya kau tidak suka jjajangmyeon?” Hyuk Jae menautkan kedua alisnya dan bertanya kepada gadis itu setelah Donghae benar-benar tidak terlihat lagi dari sudut matanya.

Jae Ni mengangguk. “Rasa jjajangmyeon sangat aneh. Aku tidak suka.”

“Lalu kenapa kau masih membelinya?”

“Karena tidak ada makanan lain yang ada di sana. Hanya ini yang tersisa dan aku sudah sangat lapar. Kau tahu aku mengantre di barisan paling belakang—”

“Bodoh. Kenapa kau tidak bilang padaku? Kalau masih belum percaya diri, harusnya kau berdiri saja di sampingku. Kau pasti akan mendapatkan ramyun, bukan jjajangmyeon. Lagipula semua orang menggosipkan kita sebagai sepasang kekasih. Ikuti saja permainan mereka. Kau ini penakut sekali.”

Sebenarnya Jae Ni ingin menendang perut pria itu, tapi sebenarnya perkataan pria itu ada benarnya.

“Benar. Bagaimana kalau kita mengikuti permainan mereka? Kita pacaran saja.”

***

As my heart becomes closer to you
The world becomes more beautiful
If you feel my nervousness
Will you wait just a little bit?

Together make it love

Forever make it your smile

Filled with your bright smile

Together make it love

Forever make it your smile

Now hold my hands

Stand by me, look towards me eventhough I don’t know love yet

Stand by me, guard over me because I am still clumsy at love

 

Gugup.

Ada kata lain yang bisa menggantikan ‘gugup’? Kata yang sedikit lebih berani? Karena baginya, gugup terkesan pengecut sekali.

Tapi saat ini, hanya kata itu yang paling tepat untuk mendeskripsikan perasaannya.

Apapun yang mendorongnya untuk mengajak gadis itu ‘berkencan’, yang jelas Hyuk Jae yakin kalau memang ada yang tidak beres pada dirinya.

Dan penyebabnya adalah gadis itu.

Lee Hyuk Jae sama sekali tidak memikirkan dampak apapun saat mengatakan pada Jung Jae Ni bahwa semua orang sudah menganggap mereka sebagai sepasang kekasih dan bahwa gadis itu hanya perlu mengikuti ‘permainan’ yang diciptakan untuk mereka. Selama satu minggu terakhir, kalimat itu terus berputar di dalam kepalanya. Ia tidak pernah mengatakan kalimat itu pada Jae Ni, sampai kemarin mulutnya tak sengaja mengatakan semuanya.

To his suprise, she agreed with him.

Sesuai dengan rencana mereka, pagi ini Hyuk Jae akan menjemput Jae Ni dari rumahnya kemudian mereka akan berangkat bersama ke sekolah. Menurut apa yang Jae Ni katakan kepadanya kemarin, saat ia memutuskan untuk bermain maka ia akan memainkannya dengan maksimal untuk memenangkan permainan itu. Sama persis seperti dirinya. Sepertinya mereka berdua memang mewarisi sifat ambisius dari kedua orang tua mereka.

Sekarang ia sedang menunggu di dalam mobilnya yang diparkir tepat di depan pintu pagar rumah gadis itu. Ia baru menunggu selama sepuluh menit, namun jantungnya terus berdentum tak beraturan sampai-sampai penantian itu terasa seperti sudah berjam-jam lamanya.

Astaga, sejak kapan seorang Lee Hyuk Jae berdebar seperti ini hanya karena menunggu seorang gadis?

Hyuk Jae baru saja akan menelpon gadis itu –karena gadis itu belum juga keluar- ketika tiba-tiba pintu pagar gadis itu terbuka dan gadis itu muncul dengan rambut panjangnya yang terurai belum tersisir dan tas ranselnya yang ditenteng oleh tangan kanannya. Gadis itu tersenyum malu untuk sepersekian detik –Hyuk Jae berani bersumpah ia melihat gadis itu tersenyum-, lalu menggigit bibirnya dan menghilangkan senyum di wajahnya.

“Maaf membuatmu menunggu lama,”gadis itu berkata datar. “Aku telat bangun. Aku baru bangun saat pembantuku bilang kau sudah tiba, lalu aku baru bersiap—”

“Tak perlu dipermasalahkan. Masuklah, kau bisa menyisir rambut di mobil.”

Jae Ni hanya mengangguk lalu masuk ke dalam mobil. Sama sekali tidak terpikirkan oleh Hyuk Jae untuk membukakan turun dan pintu mobil bagi gadis itu. Apa ada hal-hal wajib yang harus dilakukan saat ‘berkencan’?

Hyuk Jae tidak tahu. Ia tidak pernah berkencan. Jadi, selama gadis itu tidak mempermasalahkannya, maka Hyuk Jae tidak akan melakukannya.

Sementara itu, debar jantungnya semakin menggila setelah gadis itu menutup pintu mobilnya. Hyuk Jae bisa mencium wangi sabun gadis itu –gadis itu pernah bilang padanya kalau ia tidak terlalu suka menggunakan parfum. Baunya seperti… Susu?

“Kau memakai sabun bayi?”

Jae Ni menoleh sekilas pasa Hyuk Jae sambil terus meyisir rambutnya. “Mm. Aku suka dengan sabun bayi. Sebenarnya tidak juga sih. Harusnya ini sabun adikku, tapi sabun mandiku sedang habis dan hanya sabun ini yang tersisa di rumah. Lagipula sabun bayi memang enak, kok.”

“Memangnya kau merasa bersih setelah mandi dengan sabun bayi?”

“Fungsi sabun kan untuk membersihkan. Aku sih bersih-bersih saja.”

Hyuk Jae berdecak. Dia baru tahu kalau gadis itu menyukai sabun bayi.

“Ya, Lee Hyuk Jae. Kau mau kita telat? Pelajaran pertama hari ini adalah Kim seonsaengnim –aku melompat bangun saat teringat hal ini- dan kau masih belum menjalankan mobilmu?”

Oh, ya ampun. Guru tua itu. Ia hampir lupa. Ia sama sekali belum menghidupkan mesin mobilnya!

***

“Lee Hyuk Jae, kalau saja kau telat menyalakan mesin mobilmu 1 menit saja, kita benar-benar akan mati hari ini.”

Mereka baru saja sampai dan sekarang mereka sedang berjalan berdampingan di koridor sekolah. Setelah sepanjang perjalanan ia mendengarkan gadis itu menceritakan semua rasa kesalnya pada Kim seonsaengnim, sepertinya sekarang gadis itu memilih untuk melampiaskan rasa leganya karena dia belum telat dengan memarahi Lee Hyuk Jae.

“Tapi kita sudah sampai. Hentikan omelanmu itu, gendang telingaku hampir pecah, kau tahu?”

“Tidak bisa. Tadi kau bilang kalau ada murid yang telat pada jam pelajarannya –terutama murid kelasnya- maka murid tersebut akan disuruh berdiri di luar kelas. Tidak, seumur hidup aku tidak pernah dihukum sememalukan itu.”

“Kalau begitu, sekali-kali kau harus mencoba.”

Shirheo! Kau saja!”

“Kau saja. Aku sudah pernah,” balas Hyuk Jae dengan santai.

“Kau… Aish.”

Jae Ni tidak tahu bagaimana cara membalas Hyuk Jae, jadi ia memilih untuk mempercepat langkahnya dan mendahului Hyuk Jae. Hyuk Jae hanya tersenyum saat melihat tingkah gadis itu, tidak berusaha untuk menyusulnya.

Lee Hyuk Jae tersenyum? Seorang Lee Hyuk Jae tersenyum? Dan penyebabnya adalah Jung Jae Ni?

Jung Jae Ni membuatnya tampak benar-benar tidak beres.

***

The more I get to know you, my heart quivers
All I can do is smile
Should I try to kiss you?
Will it get me a little closer to your heart?

Could this feeling be love?

I’m still shy

I haven’t even taken a single step towards you

So please wait for my love

Together make it love

Forever make it your smile

Filled with your bright smile

Together make it love

Forever make it your smile

I will slowly warm up to you, step by step

Stand by me, look at me

Somehow I want to be closer to you

Stand by me, guard over me

I want to seem a bit cooler to you

 

 

“Dude, you’re dating her?”

Hyuk Jae hanya menggedikkan bahunya saat mendengar pertanyaan Donghae. Pasti kabar kalau ia dan Jae Ni benar-benar berkencan setelah setiap pagi mereka berangkat sekolah bersama selama 3 bulan terakhir sudah disiarkan ke seluruh penjuru sekolah. Beberapa orang bahkan sudah mengaku pernah melihat mereka menghabiskan malam minggu bersama. Sahabatnya itu tak mungkin bertanya kalau ia sudah yakin tentang hubungan macam apa yang dimiliki oleh Hyuk Jae dan Jae Ni.

“Seriously, what are you thinking?”

“Mengikuti permainan mereka, tentu saja. Kau tahu kalau aku dan Jae Ni digosipkan ‘memiliki hubungan khusus’. Jadi aku dan dia memilih untuk benar-benar pacaran saja. Lagipula, sepertinya mereka sangat puas melihat aku dan Jae Ni berpacaran.”

Donghae hanya ber ‘oh’ ria saat mendengar jawaban sahabatnya. Benar, sejak kapan Lee Hyuk Jae berpikiran seperti itu? Ini bukan kali pertama seorang Lee Hyuk Jae digosipkan ‘memiliki hubungan khusus’. Dan setiap kali itu terjadi, Hyuk Jae akan meminta gadis yang bersangkutan untuk ‘menjauh’ darinya. Tapi kali ini?

Well, kalau kau bosan padanya kau bisa melemparkannya padaku. Setelah kupikir-pikir, gadis itu cantik juga.”

Hyuk Jae hanya menggeleng cepat. “Tidak, kali ini aku sudah memutuskan untuk mempertahankan gadis itu.”

Dan Donghae hanya dapat menatap sahabatnya dengan kedua mata yang membelalak.

***

Malam minggu ini, seperti malam-malam minggu sebelumnya, mereka akan pergi bersama.

Entah sudah berapa malam minggu yang ia lalui bersama Hyuk Jae. Sebelumnya, malam minggu baginya berarti adalah waktu baginya untuk membaca novel-novel berbahasa Inggris atau Prancis miliknya. Tapi sekarang, novel-novel itu tertumpuk dengan rapi di atas meja belajarnya. Tertumpuk rapi dalam artian yang sebenarnya.

Ia selalu menyukai saat-saat bersama Hyuk Jae. Ia bisa tersenyum –senyum yang sebenarnya- tanpa memikirkan pendapat orang lain tentang dirinya. Ia bisa tertawa. Ia bisa merasakan seperti apa rasanya yang mereka sebut dengan ‘kebebasan’.

Bersama Hyuk Jae, ia merasa bebas.

Entah sudah berapa kali ia menggumamkan nama laki-laki itu sementara ia memilih terusan apa yang ingin ia kenakan untuk malam minggu hari ini. Sebenarnya Jae Ni tidak terlalu suka mengenakan terusan, tapi malam ini ia merasa kalau tak ada salahnya bila sekali-kali ia mengenakan terusan di depan laki-laki itu dan tampak sedikit girly. Jae Ni merasa ia bisa mendengar kata-kata adiknya tentang dirinya –adiknya yang hanya berselisih satu tahun dengannya. Terusan sama sekali tidak cocok untuk orang seperti kakak.

Masa bodoh. Kali ini yang akan melihatnya mengenakan baju seperti ini adalah Lee Hyuk Jae.

Jae Ni melirik jam dinding di kamarnya. 18:30. Yang perlu ia lakukan sekarang adalah mandi dan bersiap-siap sebelum jam 7.

***

“Amerika, Lee Hyuk Jae. Tahun depan. Dan itu sudah keputusan final. Kau datang kemari atau jangan pernah bermimipi untuk bisa masuk ke jurusan tari seperti yang kau inginkan.”

Hyuk Jae memandangi kursi di sampingnya. Kursi yang biasa diduduki gadis itu.

Ayah dan ibunya serta kakaknya yang sudah pindah ke Amerika sejak 3 tahun lalu akhirnya memutuskan kalau ia juga harus pindah ke Amerika. Ayahnya berkeras bahwa Lee Hyuk Jae harus menamatkan pendidikannya di Amerika, lalu masuk jurusan tari di sana. Tentu saja dengan syarat kalau ia akan menghadiri acara-acara fashion bersama keluarganya di sana.

Seharusnya ia bahagia… Karena akhirnya orang tuanya berbaik hati untuk memberikannya sedikit kesempatan untuk meraih mimpinya. Tapi, mengapa ia sekarang tidak bahagia?

Bagaimana ia bisa meninggalkan gadis itu?

Sejak bersama gadis itu, ia mulai berpikir apakah hidupnya akan tetap sama bila mereka terpaksa berpisah. Dan seolah menjawab pertanyaan itu, tadi sore ayahnya menelponnya dan langsung mengatakan keputusannya kepada Hyuk Jae. Tak ada penolakan.

Sekarang, Hyuk Jae bimbang.

Gadis itu seharusnya turun sebentar lagi. Sebenarnya ia bisa membuat gadis itu langsung turun dalam waktu kurang dari 1 menit hanya dengan menekan klakson mobil. Tapi, tidak, Hyuk Jae rasa ia masih butuh waktu untuk mengendalikan dirinya. Mereka masih punya waktu satu tahun lagi, kalau ayahnya tidak mempercepat jadwal keberangkatannya. Ia tidak yakin kapan waktu yang tepat baginya untuk mengatakannya pada gadis itu.

Mengapa rasanya sulit sekali? Padahal ia hanya perlu mengatakannya dan beres urusan. Lagipula, memang gadis itu akan benar-benar mempermasalahkan kepergiannya? Benar, mereka hanya ‘bermain’. Pasti bagi gadis itu tidak akan mempermasalahkannya. Ya, pasti begitu….

Tapi bagaimana kalau semuanya di luar dugaannya? Bagaimana kalau… Gadis itu sama seriusnya seperti dirinya?

Entahlah.

Saat Hyuk Jae tersadar dari lamunannya, gadis itu sudah duduk manis di sampingnya. Gadis itu menatap Hyuk Jae dengan kedua mata hazel-nya yang selalu Hyuk Jae sukai, berusaha bertanya ‘Ada yang salah dengan penampilanku malam ini’?

“Kau… Apa yang membuatmu memakai baju seperti itu?”

Ada sedikit kekecewaan di mata gadis itu saat mendengar pertanyaan Hyuk Jae, tapi ia tetap menjawab, “Tidak apa. Hanya ingin saja.”

“Kau cantik sekali.”

Hyuk Jae belum pernah memuji siapapun seumur hidupnya –kecuali saat ia memuji Donghae karena sahabatnya itu berhasil membuat Kim seonsaengnim malu setengah mati- dan ia sama sekali tidak tahu seperti apa pujian yang bisa membuat seorang gadis tersenyum. Percayalah, Hyuk Jae hampir ikut tersenyum saat ia melihat gadis itu tersenyum.

Pipi gadis itu memerah. Tidak, sekarang bukan waktu yang tepat untuk memberitahukan hal semacam kepergiannya. Hyuk Jae tertawa kecil untuk menenangkan kegugupannya sendiri lalu meletakkan kedua tangannya di atas kemudi Lamborghini-nya. “Geurae… Kkaja!”

***

Dear : Jung Jae Ni

Ada terlalu banyak yang ingin dan harus kukatakan padamu, sebelum aku sendiri kehilangan kewarasanku karena terus memikirkan semua yang ingin kukatakan padamu.

Tapi setiap kali aku yakin kalau aku akan mengatakannya, kau menatapku dengan kedua matamu dan aku kehilangan semua keberanianku.

Aigoo… Apa yang kutulis? Aku tidak sedang berpuisi, sungguh. Percayalah padaku, aku buruk dalam bidang bahasa. Itu kalimat-kalimat yang ada di balik cover novel roman picisan milik kakakku.

Tapi aku menulis surat ini karena ada yang ingin kuberitahukan kepadamu. Sebenarnya aku bisa saja mengatakannya langsung di depanmu, tapi aku rasa aku tidak akan sanggup melakukannya. Aku tidak akan berbasa-basi, karena aku bukan orang yang pandai berbasa-basi. Jadi, aku akan mengatakan –mungkin lebih tepat kalau ‘menuliskan’- langsung isi dari surat ini yang sebenarnya.

Aku… Harus pergi. Aku tidak yakin kapan aku akan kembali. Maukah kau menungguku? Aku janji aku akan pulang segera setelah aku menyelesaikan semuanya…

Lalu saat itu, aku akan mengatakan semua yang ingin kukatakan kepadamu.

Tidak masalah kalau kau tidak ingin menungguku. Mungkin sebelum aku kembali, akan ada seseorang yang lebih baik dariku yang akan datang untukmu. Kalau ‘seseorang’ itu datang, jangan pedulikan aku lagi. Berbahagialah bersama orang itu. Tidak masalah. Aku juga tidak yakin apakah kau benar-benar mau menungguku atau tidak.

Tapi kau harus tau, Jae Ni-ya, aku serius. Mungkin menurutmu aku sama sekali bukan orang yang serius. Itu benar, aku suka sekali bermain dan tidak terlalu serius. Itu kenyataan. Tapi kali ini, aku benar-benar serius.

Aku mulai merasa geli sendiri dengan apa yang kutulis. Aku belum pernah menulis surat semacam ini untuk seseorang.

Sampai jumpa,

Lee Hyuk Jae.

***

“Ya, Jung Jae Ni. Lee Donghae memanggilmu.”

Jae Ni mengangkat wajahnya dari surat yang ada di tangannya. Dari Lee Hyuk Jae, 7 tahun lalu, sebelum pria itu benar-benar pergi dari negara ini. Surat yang entah sudah keberapa kali ia baca ulang –ia sendiri tidak ingat lagi. Surat itu selalu ia baca setiap kali ia merindukan pria itu.

Merindukan. Adakah kata yang lebih berkelas untuk menggantikan kata itu? Ia bukan penggemar novel roman picisan –ia mencintai novel tentang pembunuh berantai atau cerita-cerita klasik- jadi ia tidak terlalu menyukai kata-kata semacam itu.

“Apa lagi? Aku salah menerjemahkan lagi?”

Molla, tadi aku sedang berdiri di depan mesin fotocopy untuk meng-copy berkas apapun yang disuruh oleh si ikan, lalu tiba-tiba dia mendatangiku dan memerintahkanku untuk menyuruhmu pergi ke ruangannya.”

“Ikan aneh,” sungut Jae Ni. “Arrasseo. Gomawo, Ji Hyun-a.”

Ji Hyun hanya mengangguk lalu kembali fokus dengan komputernya, sementara Jae Ni mulai menebak-nebak tujuan si ikan memanggilnya.

7 tahun itu waktu yang lama sekali, tapi rasanya sama singkatnya dengan 7 hari. Rasanya baru kemarin Jae Ni hampir mati terkejut setelah tahu bahwa pemilik penerbitan tempat ia bekerja sebagai penerjemah sekarang adalah Lee Donghae. Ikan playboy itu. Well, semua orang memanggilnya ikan, dan don juan itu sama sekali tidak keberatan. Dan ikan itu, dengan sisi evil-nya yang entah darimana ia dapatkan, selalu menjahilinya. Tak peduli walaupun sekarang umur mereka sudah berkepala 2. Benar-benar ikan yang kekanak-kanakan. Jae Ni sedikit kasihan dengan siapapun yang akan menikah dengan ikan itu.

Jae Ni menatap kesal pintu ruangan Lee Donghae, lalu ia membuka pintu itu dengan kasar tanpa menghilangkan muka masamnya. Awas saja kalau ikan itu berani macam-macam lagi dengannya, ia benar-benar akan membakar ikan itu di tempat.

“Apa lagi sekarang?”

Donghae yang duduk di balik mejanya hanya menyeringai –seringaian yang jahat- lalu dengan santai berkata, “Tentu saja karena ada hal yang harus kau kerjakan.”

“Dan apakah itu?”

“Tugas yang menyenangkan, kau pasti akan berterima kasih kepadaku setelahnya.”

“Dan apakah itu?” Jae Ni mengulang pertanyaannya dengan penekanan pada setiap suku katanya. Lee Donghae terlalu pandai berbasa-basi, tapi Jae Ni sama sekali tidak menyukai orang yang suka berbasa-basi. Kepandaian pria itu tidak berguna untuknya.

“Angkat bokongmu dari kursimu dan jemput salah seorang calon klien kita.”

Jae Ni tidak pernah suka dengan bahasa pria itu, tapi saat ini hal itu tidak penting. “Calon klien? Kenapa kita harus menjemput klien?”

“Tentu saja karena orangnya minta dijemput. Lagipula dia salah satu klien kita yang paling setia, kalau kau mau tahu.”

“Selama aku bekerja di sini, ini tugas paling aneh. Siapa yang kau maksud dengan calon klien di sini? Pengarang, distributor, atau apa?”

“Jemput saja. Kau ini bertanya terus. Ada banyak hal yang harus kubicarakan dengannya. Tenanglah, kau mengenal orang itu.”

Jae Ni ingin sekali meninju pria itu tepat di muka. Ia sedang malas menyetir karena entah mengapa lalu lintas hari ini sangat padat, tapi isi otaknya sudah sama padatnya dengan lalu lintas hari itu. Donghae dengan keputusan sepihak menyodorkan buku yang tebalnya, mungkin, lebih tebal dari buku Harry Potter untuk ia terjemahkan. Atasan tak berperasaan. Ikan tengik. Diktaktor.

Arrasseo. Di mana aku harus menjemputnya?”

***

Bandar Udara Internasional Incheon! Tidak bisakah atasannya itu mengeluarkan sedikit uang dari kantongnya untuk membiayain taksi atau supir? Jae Ni masih bisa menoleransi bila ia harus menyetir ke apartemen paling mewah di Gangnam sekalipun untuk menjemput klien yang menurut atasannya sangat penting itu. Tapi ini? Bandara!

Jae Ni berdiri di pintu kedatangan, menunggu siapapun yang harus dijemputnya—

Astaga. Ia lupa menanyakan nama klien itu pada Donghae! Bagaimana ia bisa tahu siapa yang akan ia jemput? Dasar bodoh! Donghae hanya mengatakan padanya kalau dia juga mengenal klien itu. Tapi, siapa?

Jae Ni langsung merogoh sakunya dan mencari-cari ponselnya dengan tergesa-gesa, lalu ia baru ingat kalau ia tidak meninggalkan ponselnya di meja kerjanya.

Sial. Ini yang namanya karma. Karma karena sejak pagi ia sangat sinis pada ikan itu.

Apa yang harus ia lakukan sekarang? Saking bingungnya, ia sama sekali tidak ingat lagi apakah bandara menyediakan fasilitas telepon umum atau tidak. Yang ia tahu sekarang, ia harus meminjam ponsel atau apapun untuk menghubungi atasannya itu, lalu—

“Agashi, gwaenchanha?”

Jae Ni yakin tadi ia hampir kehilangan keseimbangannya akibat menginjak tali sepatunya sendiri. Jae Ni yakin kalau tadi ia hampir saja mencium lantai. Tapi sepasang tangan menangkap pinggangnya, dan membatalkan ciumannya dengan lantai bandara itu.

Wangi yang familiar. Wangi cologne yang sama dengan yang selalu Hyuk Jae kenakan.

Aish, sadar Jung Jae Ni.

Jae Ni membetulkan posisi beridirinya, lalu menghadap siapapun yang menolongnya. Jae Ni membungkukkan badannya sambil mengucapkan terima kasih, lalu bermaksud melanjutkan perjuangannya untuk mencari alat komunikasi saat suara itu menghentikan langkahnya.

“Jung Jae Ni. Aku merindukanmu.”

Jae Ni tidak memercayai telinganya. Suara siapapun bisa menjadi suara pria itu di telinganya saat ia merindukan pria itu. Jae Ni berbalik menghadap sumber suara itu, lalu ia yakin kalau seluruh badannya benar-benar membeku di tempat.

Pria itu menurunkan kacamata hitamnya, lalu tersenyum. “Apa kabar? Aku merindukanmu.”

Jae Ni tidak bereaksi. Ia masih membeku. Suara itu nyata, dan pemilik suara itu –suara yang selalu disukainya- benar-benar berdiri di hadapannya.

“Aku tahu mungkin ini terlambat sekali… Tapi biarkan aku mengatakannya.”

Jae Ni tidak bisa menarik napasnya dengan baik. Hanya sedikit sekali oksigen yang bisa masuk ke dalam paru-parunya.

“Jung Jae Ni… Saranghae.”

Hal berikutnya yang Jae Ni ketahui, ia langsung memeluk pria itu. Melampiaskan kerinduannya.

Dan pria itu menciumnya.

I didn’t know at first
How to begin to love
I still don’t know my heart, but I love you

Together make it love

Forever make it your smile

Filled with your bright smile

Together make it love

Forever make it your smile

Now hold my hands

Stand by me, look towards me

I don’t know love yet

Stand by me, guard over me

Because I am still clumsy at love

 

***

THE END

N/B : Bagian-bagian terakhirnya udah gasempet edit lagi, karena rencana author buat nyelesaiin ini sebagus mungkin hancur berantakan… Ceritanya mungkin agak ga nyambung sama lagunya (soalnya author putus asa mikirin cerita yang bagus apaan) dan author tahu banget ini udah lewat banget dari deadline… Oh well.

Jung Jae Niiii lo suka gak?

8 thoughts on “Stand By Me (Lee Hyuk Jae – Jung Jae Ni)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s