The Empty Space for You (Park Ji Hyun – Cho Kyu Hyun)

tumblr_mj70ssuCQN1rdkokjo1_500

PROLOGUE

 

Suara tembakan ditengah-tengah sunyinya malam, suara teriakan, suara dentuman senjata, suara derap kaki orang-orang yang berusaha menyelamatkan diri dari peluru, dan suara tangisan seorang anak perempuan yang ketakutan, semuanya terdengar sangat jelas. Semua potongan-potongan gambar buram yang mulai menyatukan diri dengan suara-suara mengerikan itu menjadi satu dikepalanya, ia yakin ini nyata, karena ia disana. Ia adalah anak perempuan kecil menangis malam itu.

 

Park Ji Hyun terbangun dari tidurnya, Nafasnya beradu dengan tidak teratur, jantungnya berdegup sangat cepat, keringatnya bercucuran.

 

Mimpi.

 

Mimpi yang sama yang selalu menghantuinya sejak malam penyerangan di rumahnya beberapa tahun lalu, mimpi yang selalu menyelinap ke dalam tidurnya setiap malam tanpa bisa ia cegah. Meski sudah 10 tahun, ia masih mengingat kejadian itu dengan sangat jelas, Ji Hyun tidak pernah melupakan kejadian itu. Bagaimana mungkin ia melupakan kejadian yang telah merenggut nyawa kedua orangtuanya dan menghancurkan hidupnya?

 

Jujur saja, tidak akan ada orang yang percaya kalau Park Ji Hyun, seorang penyanyi terkenal dengan beribu-ribu penggemar ini memiliki masa kecil yang suram. Ia menutupi semua dengan sangat baik. Tidak ada yang tahu tentang masa kecilnya kecuali dia, si pembunuh bermata kelabu itu dan Park Yoo Chun, orang yang membawanya ke Korea dan mengasuhnya sejak kejadian itu.

 

Benar, Ji Hyun memang tidak tahu siapa pembunuh itu, tapi ia sempat melihat mata kelabu orang itu, mata paling menyeramkan yang pernah ia lihat, mata yang bisa membunuh siapa saja yang melihatnya, mata yang paling Ji Hyun benci.

***

“Ji Hyun, apa kau masih memimpikan hal itu?”

Suara itu.

Suara orang yang paling ia hormati, suara orang yang menyelamatkannya. Park Yoo Chun.

“Ya, tapi tidak apa-apa. Aku baik”

“Kau jelas tidak terlihat baik. Kau tahu, sebaiknya kau ambil saja cuti untuk beberapa bulan.”

“Tidak. Aku tidak bisa mengecewakan penggemarku.”

Penggemar, itulah alasan yang selalu diberikan Ji Hyun sebagai alasan untuk tidak mengambil cuti. Ia tidak pernah meliburkan diri dari kesibukannya. Ia bukan seorang workaholic, dan ia juga tidak kekurangan uang. Baginya kesibukan adalah satu-satunya cara untuk melupakan kesedihannya, untuk sejenak melupakan bahwa masa kecilnya begitu buruk dan bahwa mungkin diluar sana orang itu masih memburunya.

“Aku akan pergi sekarang. Sampai jumpa, paman.”

Hari ini tidak akan menjadi hari yang mudah. Meskipun ia bersyukur atas jadwalnya yang sangat padat, tetapi ia tetap saja merasa lelah dan jenuh dengan kesehariannya ini. Pemotretan, talk show, konser dan jumpa fans adalah kegiatan sehari-harinya. Ia ingin kesibukan baru. Ia ingin keluar dari dunianya yang kelam, jujur saja. Dia ingin sekali pergi ke tempat dimana ia bisa menyendiri dan melupakan semua kejenuhannya, semua masa kecilnya. Ia tidak ingin menjadi Ji Hyun yang harus menyibukkan diri hanya untuk lari dari kenyataan pahit bahwa ia tidak bisa melupakan masa kecilnya.

Ia ingin bebas.

***

 Menjadi anak seorang yang kaya raya bukanlah persoalan mudah. Banyak orang pasti mengidam-idamkan hal ini, tapi tidak untuk lelaki muda ini. Semua orang boleh mengatakan ia manusia paling beruntung di muka bumi, dengan harta berlimpah, berwajah sangat tampan dan mempunyai pekerjaan sebagai agent yang membuatnya terlihat sesempurna actor di film-film detective. Namun tetap saja menurut Cho Kyu Hyun ini semua adalah sandiwara. Pekerjaan detective tidak lantas membuatnya menjadi orang yang memperjuangkan keadilan, kebalikannya ia justru setengah mati menutup-nutupi kesalahan orang yang jelas-jelas bersalah.

 

Seumur hidupnya, Kyu Hyun telah dipersiapkan untuk ini. Untuk menutupi kesalahan orang ini, orang yang sangat ia benci karena menjadikannya boneka namun juga sangat ia hormati. 20 tahun bukanlah waktu yang singkat, dan selama itu juga ia dilatih untuk menjadi agent yang handal dengan 1 misi besar. Membunuh gadis itu.

 

“Kyu Hyun, apa kau sedang sibuk? Bisakah kau membantu ku?”

 

“Ada apa ayah? Apakah kau terjerat kasus lagi?”

 

“Ya, haha. Rupanya kau sudah sangat mengenal ku.”

 

Ayahnya, siapa lagi kalau bukan dia. Laki-laki yang mempersiapkannya selama 20 tahun Kyu Hyun tidak pernah bisa berkata ‘tidak’ padanya. Rasanya otaknya telah diatur untuk selalu mengatakan ‘ya’ pada permintaan-permintaan seperti ini. Tapi tidak untuk sekali ini, kali ini ia memilih untuk pergi. Pergi berlibur meninggalkan kehidupannya meski hanya sementara.

 

“Maaf, aku tidak bisa membantumu sekarang.”

 

***

 

“Baiklah, pemotretan sudah selesai. Terima kasih atas kerja kerasnya.”

 

Suara photographer sangat melegakan semua orang dalam ruangan itu, termasuk Ji Hyun. Pemotretan telah dilakukan sejak pagi dan baru pada pukul 21.00 photographer handal ini memutuskan untuk mengakhirinya, jelas saja semua crew dan model yang berada disana bernafas lega.

 

“Ji Hyun, aku ingin bicara denganmu.”

 

“Ada apa?”

 

“Kau tahu, kau tidak memiliki jadwal apapun selama 3 bulan kedepan.”

 

Ia tidak percaya apa yang baru saja dikatakan oleh managernya. Ia sangat yakin terakhir kali ia membuka agenda itu jadwalnya sangat padat, setidaknya sampai 5 bulan kedepan jadwalnya sudah tetap dan tidak ada satupun hari libur. Bagaimana mungkin jadwalnya yang begitu padat bisa berubah kosong dalam waktu beberapa jam?

 

“Apa kau tidak salah?”

 

“Tidak, pamanmu memintaku untuk mengosongkan jadwalmu dan memberikan tiket ini kepadamu.”

 

Tentu saja, hanya orang itu yang bisa merubah semuanya dalam waktu beberapa jam saja, bukannya ia tidak ingin berlibur ia sangat ingin namun disaat yang bersamaan ia takut waktunya akan habis karena mimpi-mimpinya.

 

“Tidak perlu, katakan saja aku tidak butuh libur.”

 

“Tapi menurutku kau butuh, jadi terima saja tiket ini dan sampai jumpa 3 bulan lagi.”

 

Tidak ada gunanya lagi berusaha menolak. Ji Hyun hanya bisa berharap waktu 3 bulan cukup untuk menyendiri dan melupakan—

 

Tidak mungkin.

 

Hanya 2 kata itu yang bisa ia pikirkan setelah membaca tujuannya, pamannya pasti sudah gila memberikan tiket ini kepadanya, liburan 3 bulan penuh di kota yang paling ia benci, kota masa kelahirannya, kota yang menjadi saksi bisu kejadian malam itu.

***

Luxembourg.

Ia sudah kembali ke kota kelahirannya, kota ini sama sekali belum berubah sejak terakhir kali ia melihatnya, kota ini masih sangat indah dengan gedung-gedung yang berdiri kokoh dengan kesan anggun. Ia telah menaruh barang-barangnya di hotel dan memutuskan untuk berjalan-jalan. Rupanya ia belum melupakan jalan-jalan di kota kecil ini, kakinya seperti tahu kemana harus melangkah meskipun tatapannya kosong.

 

“Maaf.”

 

Suara itu terdengar ketika ia merasakan sesuatu. Bukan, tapi seseorang menabraknya.

 

“Tidak apa-ap—“

 

Seketika itu juga ia tidak bisa berbicara, didepannya kini berdiri seorang pemuda tampan, sedikit lebih tinggi darinya, ia yakin belum pernah bertemu pemuda ini sebelumnya, tapi ada sesuatu dari pemuda ini yang terlihat sangat familiar.

 

“Kau baik-baik saja bukan?”

 

“Ya, tidak apa-apa.”

 

Dan saat itu, saat pemuda itu memperlihatkan senyuman yang sangat menenangkan tapi lagi-lagi ada sesuatu yang mengganjal dari wajah pemuda itu. Ada sesuatu yang membuat matanya terkesan menyeramkan.

 

“Baguslah, sebelumnya namaku Cho Kyu Hyun. Senang bertemu dengan mu nona…”

 

“Ji Hyun, Park Ji Hyun.”

 

“Rupanya kau orang Korea juga, sepertinya kita bisa menjadi teman?”

 

“Mmm, y-ya kurasa bisa.”

***

Tidak, ia tidak percaya. Ia memang sudah melihat foto gadis ini berkali-kali tapi ketika bertemu dengannya secara langsung otaknya terasa berhenti bekerja. Cho Kyu Hyun telah bertemu dengan gadis yang menjadi alasan dibalik pekerjaannya, gadis yang dijadikan target oleh ayahnya. Gadis yang ditabraknya tanpa sengaja.

 

“Ah bagaimana ini.”

 

Kyu Hyun mengacak rambutnya. Ia bingung, bagaimana tidak? Ia harus membunuh gadis yang membuat jantungnya berdegub dengan sangat cepat dalam pertemuan pertama mereka.

 

“Baiklah, aku akan mendekati gadis ini, semua akan berjalan sesuai rencana. Aku tidak akan mengecewakan ayah.”

 

***

Selama 4 hari semua berjalan dengan sangat lancar, kecuali mimpi itu. Mimpi yang menghantuinya itu sama sekali tidak mau pergi dan terus-terusan menghantuinya. Hari ini ia memutuskan untuk pergi ke taman dekat rumahnya dulu, taman itu adalah taman favoritenya sejak kecil.

 

“Lama sekali rasanya aku tidak kesini.”

 

Indah.

 

Hanya kata itu yang bisa ia ucapkan. Taman itu sama sekali tidak berubah. Perosotan, ayunan, rumah pohon semuanya masih sama seperti ingatan Ji Hyun. Ia pun duduk di bawah pohon oak sambil mengingat kenangan indah yang ia miliki tentang masa kecilnya. Meskipun hanya sedikit.

 

“Wah, aku tidak menyangka akan bertemu lagi.”

 

Kalimat itu menyadarkan Ji Hyun dari angan-angannya. Laki-laki ini sekarang tengah berdiri tepat di depannya, Ji Hyun berusaha mengingatnya. Cho Kyu Hyun! Ya itu dia nama laki-laki ini. Ia adalah laki-laki yang menabraknya 4 hari lalu, ia juga adalah laki-laki yang terlihat sangat familiar bagi  Ji Hyun.

 

“Oh? Kyu Hyun-ssi?”

 

“Wah, rupanya kau masih mengingatku. Bagaimana kalau kita minum kopi bersama? Aku tahu kedai kopi yang enak didekat sini.”

 

“Ti-tidak perlu.”

 

“Kau tidak perlu sungkan, anggap saja ini balas budiku karena telah menabrakmu. Okay?”

 

“Baiklah.”

 

Kyu Hyun sama sekali tidak merencanakan pertemuan ini. Dewi fortuna sepertinya sedang berpihak padanya. Ia kembali menemukan gadis ini, sekarang ia hanya perlu berdoa agar rencana yang telah disusunnya bisa berjalan lancar. Meskipun ia ragu karena hanya dengan melihat gadis ini saja ia merasa jantungnya berdegub kencang tak karuan.

 

Tidak satu pun dari mereka memulai pembicaraan. Selama perjalanan menuju kedai kopi hanya suara angin dan derap langkah kaki mereka yang membuat suara, masing-masing dari mereka hanya diam entah memikirkan apa.

 

“Kopi hitam, tolong jangan tambahkan gula.”

 

Coffee latte.”

 

Kyu Hyun tak habis pikir bagaimana perempuan didepannya ini mampu menyesap kopi yang dipesannya. Kopi hitam tanpa gula, Kyu Hyun yakin penggila kopi sekalipun tidak akan mau meminumnya, rasanya pasti sangat pahit. Perempuan ini membuatnya semakin tertarik untuk mengenalnya.

 

“Kau pasti sudah gila.”

 

“Kenapa?”

 

“Kopi mu itu pasti sangat pahit, kau tahu biasanya perempuan akan memesan Cappuccino atau Mocha  yang tergolong manis.”

 

“Aku tidak suka manis. Mungkin aku memang aneh?”

 

Jawaban Ji Hyun disambut tawa renyah yang tanpa sadar keluar dari mulut Kyu Hyun, mungkin memang ini yang ia butuhkan. Teman aneh di dunia yang memang adalah panggung sandiwara untuknya. Perempuan ini akan mengubah hidupnya. Kyu Hyun yakin sekali.

 

“Aku memang butuh orang-orang aneh.”

***

Hari-hari di Luxembourg sama sekali tidak membosankan bagi kedua orang ini. Mereka hampir selalu menghabiskan waktu bersama. Untuk belanja, bermain, menonton. Mereka berdua merasa cocok. Dua bulan telah mereka habiskan bersama. Ya hubungan mereka memang bisa dibilang sudah lebih dari teman.

 

Dua bulan terakhir merupakan hari-hari terindah dalam hidup Ji Hyun, sangat indah. Sampai ia membaca pesan singkat yang masuk ke ponselnya hari ini.

 

Ji Hyun-ah,

Maafkan aku. Aku harus pulang ke Korea hari ini.

Ada urusan yang sangat mendadak.

Tapi, saat aku kembali, aku akan memberikan sesuatu yang sudah kusiapkan untukmu.

-Kyu Hyun.

 

Ji Hyun terduduk lemas dan membalas pesan itu dengan satu kata singkat. Baiklah. Ia sedih, bagaimana tidak? hari ini adalah tepat 2 bulan mereka bertemu dan Ji Hyun telah menyiapkan sebuah perayaan kecil untuk merayakannya.

***

“Kyu Hyun, dimana kau?”

“Aku sedang berlibur. Ada apa?”

“Kyu Hyun, aku tahu kau ada di Luxembourg. Kau sudah bertemu dengan Ji Hyun kan?”

“Apa? Bagaimana ayah—“

“Aku sudah melacaknya, kau harus segera menyelesaikan tugasmu itu. Tidak boleh gagal, jika kau gagal maka kau akan tahu akibatnya. Kyu Hyun, kau tahu aku tidak pernah main-main dengan ucapanku.”

 

Percakapan singkat itu sukses membuatnya panic. Ia sudah terlatih untuk selalu tenang tapi kali ini ia tidak bisa tenang. Ia tidak mungkin membunuh orang yang ia sayangi. Ayahnya mungkin adalah orang terkejam di dunia, ia tahu itu. Dan karena itu juga ia memutuskan untuk kembali ke Seoul dan menyelesaikan masalah dengan ayahnya, bagaimanapun caranya ia harus memastikan Ji Hyun, perempuan yang ia sayangi tetap aman. Dan hidup.

 ***

 

“Untuk apa kau kesini?”

 

Biasanya orangtua akan  menyambut anaknya yang baru pulang dari luar negeri tapi tidak bagi Kyu Hyun, itu lah yang ia dapatkan untuk pulang. Kalimat itu adalah kalimat pertama yang dilontarkan ayahnya ketika Kyu Hyun memasuki rumahnya di Seoul.

 

“Aku perlu bicara.”

 

“Jika kau ingin bicara tentang keluarga Park, sudah kukatakan dulu. Jika ia tetap hidup bisnis keluarga kita akan terancam bangkrut karena persaingan yang ketat. Dia harus mati.”

 

“Ayah, aku—“

 

“Aku tahu kau menyukainya, aku sudah tau semua. Satu kali lagi kukatakan padamu. Jika kau berani melindungi gadis itu, anak buahku tidak akan segan-segan menyingkirkanmu dan gadis itu.”

 

Kyu Hyun tidak sanggup berkata-kata lagi. Ia tidak menyangka ayahnya tega mengatakan hal seperti itu padanya. Ia tidak menyangka sama sekali ayahnya tega membunuhnya. Tidak, ayahnya tidak perlu mengatakan kata ‘membunuh’ Kyu Hyun tahu persis arti kata ‘menyingkirkan’ karena ia sudah sering melakukannya.

 

“Ayah, tolong. Tolong jangan sakiti dia.”

 

“Apa? Kau tahu persis mengapa kau dilatih selama ini! Kau tahu persis apa yang harus kau lakukan dan apa yang ku ingin Kyu Hyun!”

 

“Selama ini aku selalu mengikuti perkataanmu. Tolong turuti mauku sekali ini saja.”

 

“CHO KYU HYUN! Aku bisa memberimu apa saja tapi bukan ini! Tapi kau tahu apa? Kau boleh menggantikan gadis itu.”

***

Selama satu bulan Ji Hyun terus-terusan berusaha menghubungi Kyu Hyun. Telepon, pesan singkat, e-mail semua sudah ia coba dan tak satupun mendapat balasan.

 

“Paman, ada apa?”

 

“Ka-kau baik-baik saja?”

 

“Ya. Ada apa?”

 

“Tidak. Kau harus hati-hati Ji Hyun-ah. Begini, aku sudah membelikanmu tiket kembali ke Korea besok”

 

“Memang ada apa paman?”

 

“Besok saja.”

 

Yoo Chun tidak mungkin memberi tahu Ji Hyun kalau laki-laki yang ia sukai adalah anak pembunuh orangtuanya yang mungkin juga akan menjadi pembunuh Ji Hyun. Dia bisa gila jika tahu Kyu Hyun adalah anak dari keluarga Cho yang membunuh kedua orangtua Ji Hyun. Tentu saja Yoo Chun tahu semuanya, ia terus melacak dan menjaga Ji Hyun dimanapun ia berada. Ia juga sempat bertemu dengan Kyu Hyun beberapa hari lalu dan Yoo Chun yakin Kyu Hyun tidak akan mebiarkan Ji Hyun terluka. Ia harus percaya pada perkataan Kyu Hyun.

***

 

“Paman?”

 

“Ji Hyun-ah? Bagaimana liburanmu?”

 

“2 bulan pertama sangat menyenangkan.”

 

“Bagaimana bulan terakhir?”

 

“Tidak menyenangkan.”

 

“Apa ini karena Kyu Hyun?”

 

Tidak mungkin. Ia yakin ia tidak pernah memberi tahu pamannya sedikitpun tentang Kyu Hyun. Bagaimana ia tahu? Apa pamannya mengenal Kyu Hyun? Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepala Ji Hyun tanpa mau berhenti.

 

“Ji Hyun-ah, aku ingin memberikanmu sesuatu tapi berjanjilah untuk membukanya 5 bulan lagi. Untuk sekarang aku ingin kau berusaha untuk melupakan Kyu Hyun.”

 

“Apa? Paman! Aku tidak akan bisa melupakannya! Lagi pula ia berjanji untuk kembali!”

 

“Cobalah.”

 

Pamannya memberikan sebuah kotak berwarna biru tua dengan sebuah pita. Diatas kotak itu tertulis tulisan “Untuk: Park Ji Hyun. Bukalah saat ulang tahunmu nanti” Ia tidak yakin tulisan siapa itu, namun ia akan bersabar menunggu ulang tahunnya.

***

 

Seoul, Mei 2001

 

Tepat 5 bulan setelah pamannya memberikan kotak berwarna biru itu padanya, Hari ini adalah hari ulang tahunnya. 5 bulan terakhir benar-benar berat bagi Ji Hyun. Ia berusaha melupakan Kyu Hyun tapi gagal. Semua usahanya malah membuatnya makin penasaran. Mengapa ia harus melupakan Kyu Hyun? Mengapa selama 6 bulan ini ia tidak bisa dihubungi? Mengapa selama 6 bulan Kyu Hyun tidak pernah menghubunginya? Apa ia sudah menemukan perempuan lain?  Bukankah ia sudah berjanji untuk kembali? Ada apa sebenarnya?

 

“Ji Hyun, apa kau sudah membuka kotak itu? Kalau belum, cepat bukalah.”

 

“Baik paman.”

 

Kemudian Ji Hyun membuka kotak itu dengan sangat hati-hati, didalamnya terdapat sebuah DVD dan sebuah surat. Rasa penasaran makin mencuat dalam dirinya. Meskipun sebagian kecil dari dirinya merasa takut dan berpikir kalau ini ada hubungannya dengan Kyu Hyun.

 

Annyeong Park Ji Hyun.

 

Ji Hyun, maaf aku menghilang selama ini.

Kau tahu? Aku harap yang kurasakan selama ini bukan cinta.

Karena perpisahan terasa sangat menyakitkan untukku.

 

Beberapa bulan terakhirku bersamamu, aku selalu mencoba tertawa agar kau tidak tahu semuanya. Aku tidak suka kau terluka dan aku benci perpisahan.

 

Tapi sekarang aku akan jujur, Ji Hyun aku sudah tahu siapa kau sejak pertama kita bertemu. Kau ingat saat kau bercerita tentang orang bermata abu-abu itu? Ya dia adalah ayahku. Ayahkulah yang membunuh orangtua mu. Aku minta maaf, dan karena itu juga lah aku pergi.

 

Aku akan sangat senang jika ini bukan kau. Karena kau adalah yang paling berharga di dunia ini. Karena itu aku menjauhi mu, membuatmu menangis dan menjatuhkanmu. Hanya ini yang bisa kulakukan untukmu.

 

Ji Hyun, tolong jangan menungguku lagi. Rasa sakit yang ku rasakan tidak sebanding dengan mu karena aku rela menderita untukmu. Saranghae, hanya ini yang bisa kulakukan untukmu.

 

Ji Hyun, aku tahu ini ulangtahun mu. Maaf jika aku menjadikannya yang terburuk. DVD itu adalah hadiah yang kujanjikan untukmu. Tontonlah.

 

Yours truly,

 

Cho Kyu Hyun

 

Setelah membaca surat itu, Ji Hyun menangis sejadi-jadinya. Tidak, ia tidak rela Kyu Hyun meninggalkannya. Ia rela sakit asalkan Kyu Hyun ada disisinya, ia tidak peduli siapa ayah Kyu Hyun. Latar belakang Kyu Hyun tidak pernah menjadi masalah baginya. Ia hanya butuh Kyu Hyun.

 

Kemudian saat sudah yakin tangisnya berkurang ia memasukan DVD itu kedalam DVD Player yang ada dikamarnya. Wajah yang sangat ia rindukan mengisi penuh layar TV. Air matanya kembali tumpah, ia sangat merindukan orang itu. Dan gambar diam itupun mulai bergerak.  

Ji Hyun-ah!

Senyum hangat yang selalu ia rindukan kembali ia lihat. Air matanya mengalir lebih deras dari sebelumnya.

 

Maaf aku harus pergi hari ini. Aku tahu seharusnya aku merayakan 2 bulan sejak kita bertemu. Aku memang payah.

 

Tawa renyah yang ia rindukan itu kembali terdengar dari stereo TV.

Ji Hyun-ah, maafkan aku ya? Bagaimana jika aku menyanyikan sebuah lagu agar kau memaafkan ku?

 

There’s no one like you, even if I look around it’s just like that

Where else to look for? A person good like you, a person good like you, a heart good like you, a gift good like you

How lucky, the person who will try hard to protect you is just me

Where else to look for? A guy happy like me, a guy happy like me, a guy who laughs with the greatest happiness like me

 

Your two warm hands get cold when I’m cold, your heart which used to be strong gets sensitive when I’m hurt

To silently take my hands, to silentlyhold me, I only wish for those small comforts

You don’t know this heart of mine, which always wants to do more for you

 

My heart, say it out loud, my free soul

The days left are even more than the time when I came love you with a heart which always felt like the first time

 

*There’s no one like you, even if I look around it’s just like that

Where else to look for? A person good like you, a person good like you, a heart good like you, a gift good like you

How lucky, the person who will try hard to protect you is just me

Where else to look for? A guy happy like me, a guy happy like me, a guy who laughs with the greatest happiness like me

 

When my greedy heart gradually looks to other directions, when my greeds grow more than my mind can handle

To understand, to tell me clearly after all those excuses “I’m here”, only that one thing

I’m always thankful. Will I ever act that well just like you

 

My heart, say it out loud, my free soul

The days left are even more than the time when I came love you with a heart which always felt like the first time

 

*There’s no one like you, even if I look around it’s just like that

Where else to look for? A person good like you, a person good like you, a heart good like you, a gift good like you

How lucky, the person who will try hard to protect you is just me

Where else to look for? A guy happy like me, a guy happy like me, a guy who laughs with the greatest happiness like me

 

You know what, little much little even though I’m shy, you don’t know it but you’re burning like the sun, please understand my heart

Even though those girls appearing on TV shows are sparkling, I always look at you (I’m crazy crazy Baby)

Hearing you tell me “I love you”, I have everything in this world You & I, You’re so fine, Is there even anyone like you?

I love you Oh, please know it, that to me there’s only you, that I foolishly see you as my everything

 

We came on the same road, we are just like each other, how surprising, how thankful, it’s just love

 

*There’s no one like you, even if I look around it’s just like that

Where else to look for? A person good like you, a person good like you, a heart good like you, a gift good like you

How lucky, the person who will try hard to protect you is just me

Where else to look for? A guy happy like me, a guy happy like me, a guy who laughs with the greatest happiness like me

There’s no one like you

Suara ku tidak buruk bukan?

Baiklah, sudah dulu. Sampai jumpa Ji Hyun-ah!

Saranghae.

 

Kenapa? Kenapa kau harus meninggalkan ku Kyu Hyun? Apa salahku? Aku akan terus mencarimu dan menunggumu. Aku tidak akan melupakanmu meskipun kau memintaku.

 

Ji Hyun berjanji sambil terus menangis.

 

EPILOUGE

 

December, 2000.

 

“Jadi, bagaimana keputusanmu Kyu Hyun?”

 

“Aku akan menggantikannya.”

 

“Keputusan yang salah.”

 

“Tidak, aku sangat mencintainya.”

 

“Persetan dengan cinta! Kim Ki Bum! Bawa Kyu Hyun ke ruang itu, singkirkan dia! Anak tidak tahu terimakasih!”

 

Saat itu juga, Kyu Hyun tahu. Ia tidak akan punya kesempatan untuk bertemu lagi dengan Ji Hyun. Karena itu ia meminta satu kali kesempatan untuk pergi ke rumah paman Ji Hyun di Seoul sehari sebelum hari kepulangan Ji Hyun. Ia bertemu Park Yoo Chun dan memintanya memberikan kotak berwarna biru itu kepada Ji Hyun. Ia tidak menceritakan apa yang akan terjadi padanya, ia hanya meminta Yoo Chun untuk menyampaikan pada Ji Hyun untuk melupakan Kyu Hyun dan membuka kotak itu dihari ulang tahunnya.

 

Selamat tinggal Ji Hyun. –Kyu Hyun

images

tumblr_mj70067Scc1rzk7vro2_250

Ji Hyun-ah :p, sorry ya aneh :”

Plot nya kecepetan juga sorry.

Enjoy~

🙂

-GoJaeMi-

#JiMi

10 thoughts on “The Empty Space for You (Park Ji Hyun – Cho Kyu Hyun)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s