Beautiful (Kris – Song Jina)

I will embrace all of you
All of you, all of you
I will embrace you
All of you, you’re my girl

 

“Nae mam gajangjarikkaji

Haengbogui mulgyeori kkeuteobsi angyeo

Geudae miso maju hamyeon

Haneobsi gamgyeokhae nollaun chukbokhae

Jonjaemaneuroneun boyeojugin bujokhae

Dalkomhan yeolmang sujubeun sumgyeol

Seororeul hyanghadeon misehan umjigimedo…”

Apa lirik selanjutnya? batin Song Jina dalam hati. Alunan nada yang semula mengalun keluar dari piano yang sedang ia mainkan terhenti. Ia lalu meletakkan kedua sikutnya diatas piano itu sambil mengacak-acak rambutnya. Bagaimana ia bisa lupa lirik terakhir dari bait ini?

“Neon areumdawo”

“Tapi aku tidak cantik – “

Setelah tersadar bahwa kalimat itulah lirik yang sedari tadi ia lupa, Jina merasa terlalu tolol untuk melanjutkan kalimatnya. Ia menepuk jidatnya dan menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang tengah menyelesaikan bait itu untuknya. Seingatnya tadi ia hanya sendiri di ruang musik ini…

*** 

Wu Yifan sedang menyusuri koridor lantai satu sekolah itu bersama teman-teman dari tim basketnya. Mereka semua sedang mau pulang sehabis latihan basket bersama. Dengan tidak sengaja mereka mendengar dentingan lembut piano menguar keluar dari tembok ruang musik yang terletak di ujung koridor.

“Hei, Wufan, tell you what,” seorang dari temannya berkata, “aku menantangmu untuk masuk ke dalam ruang musik itu dan berkata pada siapapun yang sedang bernyanyi bahwa ia cantik.”

“Apa yang akan aku dapatkan kalau ia benar-benar percaya bahwa aku pikir dia cantik?”

Temannya memutar-mutar kunci mobilnya dengan jari telunjuk. “BMWku untuk seminggu, bagaimana? Ayolah bro, jangan jadi pecundang.”

Namun tiba-tiba alunan piano beserta nyanyian itu berhenti, digantikan dengan erangan putus asa. Sebenarnya Wufan sangat malas untuk melakukan tantangan aneh semacam ini, tapi demi menjaga citra macho dihadapan teman-temannya, perlahan Wufan memutar kenop pintu ruang musik itu…

Ia masuk ke dalam ruang musik itu dan mengambil beberapa langkah mendekati gadis yang sedang terduduk di depan sebuah piano. Tanpa basa-basi, ia langsung berkata,

“Neon areumdawo.” Kalimat itu keluar dari lidahnya dengan nada yang datar.

“Tapi aku tidak cantik – “ gadis itu membantah. Belum sempat Wufan berkata apa-apa, gadis itu menepok jidatnya lalu membalikkan badan.

“Itu! Itu adalah lirik yang aku lupa,” katanya berseri-seri, seperti anak kecil yang berhasil menyatukan keping terkahir sebuah puzzle. Lalu raut mukanya berubah menjadi bingung, dengan kedua alisnya terangkat, “Tidak banyak orang tahu lagu ini. Kamu tahu dari mana?”

“Eh, tapi aku tidak tahu lagu itu sama sekali,” Wufan yang lebih bingung menjawab. “Apakah ‘neon areumdawo’ itu adalah lirik dari lagu yang tadi kau nyanyikan?”

“Eh, iya…”

Lelaki itu pun tertawa terbahak-bahak. “Aku tidak pernah menyangka. Aku hanya dengan spontan mengatakan  kalimat itu ketika melihatmu,” ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan, “karena di mataku kamu sangat cantik. Jadi jangan bilang dirimu tidak cantik.”

Jina dapat merasakan pipinya memerah dan sekujur tubuhnya menjadi panas oleh rasa malu. Baru sekali ini dalam delapan belas tahun hidupnya, ada seseorang yang berkata bahwa ia cantik. Ia mulai salah tingkah, seluruh sistem di dalam tubuhnya sedang tidak bekerja dengan baik sekarang.

Wufan pun geli sendiri dengan gadis yang sedang salah tingkah di hadapannya. “Hei, kalau dilihat-lihat, kamu sebenarnya lumayan – “

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, teman-temannya tahu-tahu sudah menerobos masuk ke dalam ruang musik itu sambil berteriak heboh. Wufan memang sudah biasa dielu-elukan seperti itu, tapi entah kenapa, kali ini ia merasa tidak nyaman. Seperti ia telah melakukan suatu hal yang sangat salah.

“Everybody hail Wufan!”

“Yo, ternyata tidak salah. Kau memang playboy sejati!”

“Congrats bro, ini gadis keenam yang sudah bersedia kau permainkan!”

Semua teman-temannya menyelamatinya dengan menghi-fivenya bergantian. Wufan membalas tos mereka dengan setengah hati, matanya masih tertuju pada gadis yang tadi ia bilang cantik.

Tidak, tapi gadis yang ini memang cantik…

***

 

Jina tidak dapat mempercayai apa yang sedang didengarnya. Benarkah kata-kata yang keluar dari mulut lelaki tadi hanyalah omong kosong belaka? Ia sungguh ingin mempercayainya tapi memang kenyataan mengatakan sebaliknya.

Ia menatap lelaki itu sekali lagi, dan ternyata ia pun sedang memandanginya – dengan sekelebat perasaan bersalah yang terpancar dalam matanya. Jina menutup matanya dan menghembuskan nafas perlahan. Inilah mengapa ia tidak pernah sepenuhnya percaya kepada seseorang. Karena terkadang apa yang mereka katakan terlalu manis untuk dapat dipercaya.

Jina bangkit dari bangku piano yang sedang didudukinya dan berjalan keluar dari ruang musik itu, meninggalkan piano yang masih terbuka dan seorang lelaki yang tidak ia kenal yang sedang memintanya untuk tetap tinggal. Ia bahkan tidak menoleh ke belakang.

 

Namanya Song Jina. Dulu, ia adalah seorang gadis kecil yang ceria, ekstrovert, dan mampu membuat semua orang yang berada di dekatnya merasa nyaman. Sekarang, ia adalah seorang gadis yang cenderung dingin, introvert, dan sangat rapuh walaupun ia tidak pernah menunjukkannya kepada siapapun. Hanya butuh satu peristiwa traumatik untuk mengubah kepribadiannya 180 derajat.

 

Flashback

“Jina, jaga dirimu baik-baik ya. Berjanjilah bahwa kamu akan menjadi gadis yang mandiri dan tegar, dan kamu akan tetap hidup dengan bahagia”

“Percayalah, Jina, meskipun nanti kami sudah tiada, kami akan selalu mendampingimu dalam setiap langkah hidupmu  dan tak pernah henti mencurahkan kasih kami kepadamu”

“Memangnya Umma dan Appa mau kemana?”

Yang dipanggil Appa hanya tersenyum sambil menjawab, “Umma dan Appa akan berusaha untuk pulang. Kami janji.”

“UMMA! APPA!”

Lalu kedua sosok itupun lenyap dari pandangan Jina, digantikan dengan kobaran api yang tengah melalap rumah mereka.

“Hei gadis kecil, kamu sungguh beruntung. Orangtuamu berhasil menyelamatkanmu tetapi mereka tidak berhasil menyelamatkan diri mereka sendiri.”

Flashback end

***

Wufan mengucek-ngucek matanya, meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia sedang melihat orang yang benar. Sejak kejadian kemarin ia sudah bertekad pada dirinya sendiri untuk meminta maaf kepada gadis yang sudah menjadi bahan taruhannya kemarin.

Dengan kepercayaan diri yang sepertinya akan runtuh kapan saja, Wufan melangkah mendekati gadis itu dan menepuk pundaknya dari belakang.

Gadis itu sontak kaget dan segera menoleh kebelakang. Air mukanya berubah masam ketika mengetahui siapa yang menepuk pundaknya. Ia memalingkan wajahnya kembali ke depan dan terus berjalan.

“Hey, tunggu!” Wufan berteriak sambil mengejar gadis itu. Ketika ia dapat meraihnya, ia memutar badan gadis itu hingga sekarang mereka bertatapan, dengan pundak gadis itu dicengkramnya erat. Ia menarik nafas dan menatap mata gadis itu dalam-dalam.

“Maaf atas kemarin, oke? Aku benar-benar menyesal. Itu tidak akan terjadi lagi – padamu, atau pada gadis manapun. Kau yang terakhir. Aku janji.”

Jina menghela nafas berat. Ia paling benci kata itu, janji. Dan ia lebih benci lagi pada orang-orang yang tidak dapat menepatinya.

“Kau sudah kumaafkan. Sekarang permisi, aku harus segera ke kelas berikutnya,” Jina berkata sekenanya, hanya supaya lelaki itu bisa segera hilang dari pandangannya.

“Tunggu dulu,” Wufan menahan tangannya. “Namamu apa?”

“Jina. Song Jina,” gadis itu menjawab pendek.

Wufan yang senang karena sekarang sudah mengetahui nama gadis itu, memperkenalkan dirinya juga. “Wufan,” katanya ceria. “Wu – “

“Wu Yifan, ya, aku tahu. Kau kan kapten tim basket sekolah. Kau kira aku tinggal di dalam gua?”

Dengan itu Jina meninggalkan Wufan di tengah koridor tersebut, yang sedang melongo tak percaya dengan tangannya yang terjulur namun tidak terjabat.

Mulut Wufan menganga lebar. Itu pertama kalinya seseorang bersikap sebegitu tak acuhnya padanya. Seumur hidupnya, ialah yang sering bersikap tak acuh, sementara beribu-ribu orang rela berbuat apapun untuk mendapat perhatiannya. Namun sekarang ialah yang tidak mendapatkan perhatian.

Ada sesuatu dari dalam diri gadis itu yang membuatnya tertarik. Ia menjadi semakin penasaran dengan gadis ini. Apalagi dengan sorot matanya yang sulit dijelaskan.

 

There are eyes that won’t let me go
Slightly filled with tears, they are beautiful, your eyes

In those eyes are sadness as well
I want to know what that is
I will embrace everything of you

***

Jina berlari menuju tempat pelarian abadinya – ruang musik. Hanya disanalah ia bisa menjadi dirinya sendiri dan mengaktualisasikan satu-satunya hal yang ia bisa – bernyanyi. Hanya disanalah ia bisa mendapatkan ketenangan.

Dan ketenangan singkat itu pun seketika sirna ketika seseorang menerobos masuk ke dalam ruangan itu tanpa permisi.

“Bisakah kamu berhenti mengikutiku?” komplain Jina sambil memegang pelipisnya yang mulai nyut-nyutan. Sudah terlalu sering ia berhadapan dengan Wufan hari ini.”

“Sebelum kau salah paham, aku ke sini bukan untuk bertemu denganmu, boro-boro untuk mencarimu,” bantah Wufan yang sebenarnya adalah suatu kebohongan besar.

“Kumohon, keluar sekarang juga,” perintah Jina. Jari telunjuknya menunjuk ke arah pintu yang masih terbuka, mengisyaratkan Wufan untuk segera keluar.

“Bagaimana kalau aku bilang aku tidak mau?” kata Wufan sambil tersenyum jahil.

Jina menghembuskan nafas sekali lagi, benar-benar lelah dengan sifat kekanak-kanakan lelaki dihadapannya ini. “Jaebal,” mohonnya lagi. “Keluarlah. Aku sedang ingin sendirian.”

Wufan, bukannya keluar, malah memilih untuk tetap tinggal. “Apakah aku menyebalkan?” tanyanya kemudian.

“Melebihi batas menyebalkan, sebenarnya,” jawab Jina.

Wufan pun duduk di sofa yang berada di seberang bangku piano. Ia memandangi Jina, yang mukanya sekarang terlihat pucat dan lelah. Ia pasti kurang tidur, pikirnya. Apa yang begitu meresahkannya?

“Kau tahu,” Wufan akhirnya berbicara setelah beberapa menit penuh kecanggungan, “kau bisa menceritakan apa yang sedang membebanimu sekarang kepadaku. Aku tahu kita belum kenal begitu baik dan sebagainya, tapi aku adalah pendengar yang baik. Jadi ceritakan saja semuanya.”

 

I know that it’s awkward
Come closer to me
Whisper it in my ear
I will listen to your story

It’s beautiful
Give me all of your scars
You’re beautiful
It’ll all be alright when you’re in my arms

 

Dengan begitulah, Jina menumpahruahkan semuanya, semua memori masa lalu yang kelam yang selalu tertambat di dalam hatinya, menusuk-nusuk jiwanya diam-diam. Juga tentang mimpinya yang ia simpan untuk dirinya sendiri, karena tidak ada orang yang mau mendukungnya untuk mencapainya. Mimpinya yang telah lama ia lupakan karena terlalu mustahil untuk digapai.

Wufan hanya terdiam, mencoba menenangkan Jina dengan merangkulnya dalam pelukannya dan mengelus rambutnya dengan penuh sayang. Tidak diperlukan kata-kata. Kesunyian ini sudah cukup untuk membuat Jina tenang.

“Jadi kamu ingin menjadi penyanyi?”

Jina mengangguk pelan. “Di seluruh jagad raya ini, hanya kamu yang tahu.”

“Dan apakah kau tahu bahwa ayahku adalah pemilik sebuah entertainment ternama?”

***

 

Jina berjinjit untuk melihat papan pengumuman, berhimpitan dengan puluhan orang lain yang juga sedang berdesak-desakan untuk melihat papan yang sama. Hari ini adalah hari pengumuman siapa yang lolos audisi untuk menjadi trainee di entertainment tersebut.

Ya, tiga bulan yang lalu, Wufan yang tidak waras itu memaksanya untuk mengikuti audisi ini. Ia menemaninya berlatih setiap hari, memberinya masukan-masukan, bahkan memilihkan lagu yang harus ia nyanyikan untuk audisinya. Sekarang lelaki itu pun sedang berjinjit di sampingnya, membantunya mencari satu nama itu: Song Jina.

“Ya, Song Jina, kau masuk! Kau diterima!” Wufan berteriak gembira sambil meloncat-loncat.

Setelah menemukan namanya, Jina pun menyeruak keluar dari kerumunan sesak orang itu dan menghampiri Wufan dengan senyum lebar di wajahnya. Wufan segera menghampirinya, memeluknya dan memutarnya diatas udara.

 

It’s beautiful
I want to hug you, come to me
It’s beautiful
Your existence alone is beautiful girl

***

24 Januari 2013

Ini hari debutnya, pikir Wufan. Aku harus datang.

Wufan berusaha bangun dari tempat tidurnya, tetapi ia tidak dapat menemukan kekuatan untuk membuat dirinya bangkit dari tempat tidurnya.

Deg

Kenapa ini? Seluruh tubuhnya terasa kaku, ia tidak dapat bergerak sedikitpun. Rasa takut memenuhi dirinya.

“Wufan, ayo kita pergi ke rumah sakit,” kata ibunya. “Kondisimu sedang tidak terlalu baik, kau tahu itu. Dan ini sudah waktunya untuk check-up dengan dokter.”

“Tapi aku benar-benar harus pergi, eomma, Jina pasti sedang menungguku – “

Ibunya menatapnya dengan tatapan menusuk, menandakan bahwa percakapan mereka telah selesai.

 

“Kenapa kau sangat tidak peduli dengan kesehatanmu? Kamu tidak sebodoh itu bukan?”

Wufan mengangguk pelan, membenarkan apa yang baru saja dikatakan oleh dokternya. Ia memang tidak terlalu memperhatikan kesehatannya belakangan ini.

“Kamu tahu kan, leukemia itu tidak ada obatnya.”

Wufan mengangguk pelan lagi, menyadari bahwa berdebat dengan dokternya hanya akan memperburuk keadaan.

Dokter itu menghela nafas berat. “Wufan, ini kesempatan terakhirmu. Jangan kau sia-siakan. Waktumu tidak banyak.”

***

 

“Apa? Kenapa? Aku segera kesana,” Jina mengakhiri pembicaraannya di telpon dengan ibu Wufan, menyambar tas dan kunci mobilnya.

“Aku pergi dulu. Ini urusan penting,” katanya kepada managernya. Ia membalikkan badannya lalu memohon dengan tatapan memelas, “Jaebal, sekali ini saja.”

Managernya menggelengkan kepala lalu berkata, “Oke, kau boleh pergi.”

 

“Jina… Ini hari ulang tahunmu, ini hari debutmu, tapi sekarang kamu sedang berada di rumah sakit ini untuk menemaniku – “

“Berhentilah. Jangan bicara lagi.”

“Aku sudah membuat reservasi di sebuah restoran dan membeli dua tiket bioskop,” kata Wufan sambil menunjuk dua tiket bioskop yang tergeletak di atas meja yang berada di sebelahnya, “aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau hari ini akan menjadi hari terindah dalam hidupmu.”

“Kumohon, berhentilah. Ini saja sudah cukup,” pinta Jina. “Kau tidak perlu memberiku hadiah apa-apa lagi. Bertemu denganmu adalah hadiah paling indah yang pernah aku dapatkan seumur hidupku.”

Wufan menghapus sebulir air mata yang turun dari mata Jina. “Uljimayo, Jina-ah,” katanya sambil mengusap pipi Jina pelan.

“Izinkan…. Izinkan aku untuk menyanyikan satu lagu terakhir untukmu. Lagu yang mempertemukan kita berdua secara tidak sengaja.”

 

“To the edge of my heart
Waves of happiness endlessly come
When I see your smile
I am endlessly moved, amazingly blessed
Your existence alone is not enough to show me
Your sweet passion, your shy breaths
The small movements toward each other”
“You’re beautiful,
Song Jina.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4 thoughts on “Beautiful (Kris – Song Jina)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s