1000 Years, Always By Your Side (Kim Kibum – Go Jaemi)

“Mengapa aku punya banyak sekali buku?”

Keluhan spontan itu keluar dari bibir Go Jaemi. Ia akan pindah dari rumah lamanya ke sebuah apartemen baru, dan ia sedang membereskan barang-barangnya untuk dipindahkan. Baru sekarang ia sadar bahwa koleksi bukunya ternyata bisa dibilang lumayan banyak.

Sebuah buku kecil yang terlihat sudah usang jatuh dari rak yang sedang dibereskannya. Kibum mengambil buku itu dan membaca judulnya:

Moshimo zen nen kakatta to shite zutto boku no soba ni ite

Tidak perlu lama untuknya menyadari dari siapa buku itu dan bagaimana buku itu ada di dalam genggamannya sekarang. Ia ingat semuanya, segalanya, seperti lelaki itu baru saja kemarin beranjak pergi dari kehidupannya. Semua memori tentang lelaki itu, kembali menguar keluar diiringi derai air mata.

Seumur hidupnya, hanya lelaki itu yang pernah ia cintai.

Kim Kibum…..

***

 

Piece of the puzzle of memories that you’re here

And connecting memories were also softly next to me

Never seen anyone

I was hiding in the back of an eye

 

Go Jaemi memasuki bus pelajar penuh sesak itu dengan susah payah. Ia berpegangan erat pada pegangan yang ada di langit-langit bus tersebut, berusaha menopang tubuh mungilnya yang terhimpit mahasiswa-mahasiswa lain disampingnya.

Sebuah tepukan pelan mendarat di pundak Jaemi. Sejurus kemudian, terdengar suara,

“Hey, tasmu terbuka.”

“Oh, terima kasih,” balas Jaemi sambil meresleting tasnya. Ia pun membalikkan badan untuk mencari tahu asal suara itu.

Matanya menyipit penuh rasa penasaran ketika melihat siapa yang menepuk pundaknya barusan.

“Ehh… apakah kita saling kenal? Wajahmu terlihat sangat familier,” tanyanya kepada lelaki itu.

“Apakah kau…. Go Jaemi?” mata lelaki itu membelalak, kaget, tetapi ia tidak dapat menyembunyikan kegembiraan yang terpancar dari wajahnya.

“Dan apakah kau…. Kim Kibum?” tebak Jaemi.

Lalu mereka berdua pun tertawa keras sekali di dalam bus, sampai beberapa orang menoleh ke arah mereka. Jaemi pun menutup wajah karena malu, sampai akhirnya tawa mereka mereda.

“Kurang elit ya, kita dipertemukan lagi di sebuah bus pelajar,” Kibum terkikik.

“Padahal kalau kau ingat-ingat, kita pertama kali bertemu di sebuah gedung yang lumayan mewah,” Jaemi tersenyum, mengingat-ngingat.

Pandangan keduanya menerawang, menyusun lagi kepingan-kepingan puzzle dari masa lalu mereka.

***

I carry your name
I’d like to run a long journey
Back to the memory before our meeting

“Sooyoung!”

Seorang perempuan tinggi semampai dengan rambut cokelat tua menoleh ke belakang, merasa namanya dipanggil seseorang.

“Kim Sooyoung, benar, kan?”

Kedua mata hitam perempuan itu membesar. Seketika sebuah senyum sumringah menghiasi wajahnya yang bak porselen ketika ia tahu siapa yang memanggilnya tadi.

“Go Eunji? Benarkah itu kamu? Aku tidak menyangka kita akan bertemu di pernikahan Seungyun seperti ini,” perempuan itu terbahak. Kedua sahabat lama itu pun berpelukan, saling melepas rindu yang terpendam selama belasan tahun lamanya.

“Rasanya baru kemarin kita lulus SMA, dan lihat, sekarang kita sudah punya anak,” Eunji tertawa, mengacungkan jarinya pada anak laki-laki yang sedaritadi memegang tangan Sooyoung erat.

“Ibu, itu siapa?” anak laki-laki itu menarik-narik ujung gaun ibunya. Fitur wajahnya dan ibunya seperti difotokopi – mereka sangat mirip satu sama lain.

“Kibum, ini Bibi Eunji,” kata Sooyoung memperkenalkan anaknya yang masih balita kepada teman lamanya.

“Rasanya aneh ya dipanggil bibi,” Eunji tertawa. “Nah, Jaemi, ini Bibi Sooyoung. Ayo, salaman.”

“Halo bibi, halo Kibum,” anak perempuan itu menyapa Sooyoung dan anaknya dengan senyum yang dihiasi dengan gigi ompongnya. Mata coklatnya bersinar cerah seiring dengan mengembangnya senyum itu di wajahnya, menunjukkan lesung pipitnya yang menggemaskan. “Go Jaemi. Let’s be good friends!” katanya sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Kibum.

“K-kibum..” Kibum mengeluarkan tangannya untuk menjabat tangan mungil Jaemi.

Anak perempuan itu membalas jabatan tangannya, tersenyum dengan tulus kepada Kibum. Ia berani bersumpah itu adalah senyuman paling indah yang pernah ia lihat seumur hidup.

***

Go Jaemi, di bagian dunia manakah kau sekarang?

Mata coklat itu, lesung pipit itu, senyum ompong itu…. aku rindu semuanya tentang dirimu.

Bertahun-tahun ia setia menunggu pemilik dari senyum itu. Bertanya-tanya pada takdir, kapan ia akan bertemu lagi dengan perempuan yang selama ini menghiasi hatinya.

Sebenarnya, ia tidak pernah percaya pada takdir. Sampai akhirnya, hari ini takdir menjawab pertanyaannya. Mempertemukannya kembali dengan perempuan yang ia rindukan di dalam sebuah bus pelajar penuh sesak.

Namun ia tidak peduli. Melihat senyumnya kembali sudah cukup untuk Kibum.

***

Thoughts overflowing
This is my love
Increased even more more

“Ada apa, Jaemi?” tanya Kibum. Mereka sudah keluar dari bus, dan sejak tadi Jaemi merogoh-rogoh isi tasnya dengan panik.

“Dompetku,” katanya putus asa. “Sepertinya hilang. Tadi kan aku lupa meresleting tasku. Mungkin terjatuh di dalam bus tadi,” pundaknya melorot. “Aku butuh uang untuk naik taksi untuk pulang…”

“Kau perlu tumpangan pulang? Ikut aku saja,” tawar Kibum spontan. Ia memutar-mutar kunci motor yang bergelantung pada jari telunjuknya. “Lagi pula, teman lama harus membantu satu sama lain, kan,” kata Kibum jahil sambil mengedipkan mata.

“Mm-motor? Tapi Ibuku tidak pernah membolehkanku naik motor sebelumnya – “

“Sudahlah, kau juga pasti akan baik-baik saja. Lagipula, Ibumu kan kenal padaku. Pasti tidak apa-apa,” Kibum mencoba beralasan.

“Tapi Kibum – “

“Ayo kita pergi!”

“Nih, pakai ini,” Kibum memberi Jaemi sebuah helm berwarna biru. “Jangan bilang kau tidak tahu cara memakai helm.”

“Eh, sebenarnya aku memang tidak tahu,” Jaemi menggaruk kepalanya salah tingkah sambil nyengir lebar.

“Ya ampun, sini aku pakaikan,” kata Kibum. Ia menaruh helm itu diatas kepala Jaemi, menyesuaikan posisi helm itu agar nyaman di wajah mungilnya dan mengencangkan pengikat helm.

Tanpa sadar, Jaemi menahan napas ketika Kibum mengencangkan pengikat helm untuknya. Wajah mereka hanya berjarak sekian sentimeter ketika –

“Nah, sudah selesai,” kata Kibum. “Serius, aku masih tidak habis pikir kau tidak tahu cara memakai helm,” ejek Kibum.

Jaemi merasakan paru-parunya mendapat masukan oksigen kembali. Akhirnya ia dapat bernafas. “Terserah kau lah,” balasnya tak acuh.

“Pegangan yang erat, ya,” perintah Kibum.

“Kibum, aku tidak yakin – aaaaaa!”

Motor Kibum sudah terlanjur melaju. Jaemi memejamkan matanya dan melingkarkan lengannya pada pinggang Kibum.

“Tenang sedikitlah, aku jamin kau akan sampai rumah dalam keadaan selamat dan sehat walafiat,” Kibum bercanda.

Belum berapa lama mereka berboncengan, tiba-tiba rintik-rintik hujan turun dari langit yang mulai menggelap. Rintik-rintik itu makin lama semakin banyak, dan hujan itu makin lama semakin deras.

“Kibum! Hujan!” Jaemi mulai panik. Ia menarik-narik jaket Kibum dan memukul-mukul punggungnya.

“Kau kira aku bodoh? Aku tahu ini hujan!”

“Aku ingin cepat-cepat sampai rumah!”

“Aku sudah ngebut, kau tahu?”

“Ya Kim Kibum!”

Motor Kibum melesat mendahului kendaraan-kendaraan lain yang ada di samping mereka. Jaemi refleks mempererat pegangannya pada pinggang Kibum, takut kalau ia bisa mati kapan saja. Kibum hanya tersenyum pada dirinya sendiri ketika Jaemi mempererat pegangannya.

***

I have to tell you something
How I wanna be with you, be with you

Repeatedly to you and me
I want to tell someday

“Jaemi? Hey, Go Jaemi, kita sudah sampai.”

Jaemi membuka matanya dengan berat. Ia menutup matanya sejak tadi, memikirkan kemungkinan bahwa hidupnya akan berakhir saat itu juga.

“Aku benar, kan? Kau tetap akan hidup sampai rumah,” kata Kibum sambil tertawa.

Jaemi benar-benar kesal. Ia basah kuyup, suhu tubuhnya sepertinya sudah meningkat dan ia nyaris mati – ya, mungkin ini dilebih-lebihkan tapi untuk sesaat ia benar-benar berpikir bahwa malaikat pencabut nyawa sudah siap untuk mengantarnya ke alam baka.

Melihat Jaemi yang sepertinya tidak senang, ekspresi Kibum berubah serius. Wajahnya berkerut gelisah, dan dari matanya terpancar perasaan bersalah karena telah memaksa gadis itu untuk menerima tawarannya untuk mengantarnya pulang.

“Kau menyebalkan,” rutuk Jaemi sambil memukul-mukul dada Kibum. “Kau menyebalkan, aku sebal padamu… Kim Kibum mengapa kamu sangat menyebalkan…” Jaemi terisak diantara sela-sela kalimatnya.

“Jaemi….. maafkan aku,” Kibum meminta maaf seraya mengelus pelan rambut Jaemi, berharap ia dapat memberikan ketenangan pada gadis itu, meskipun hanya sedikit. Ia membiarkan Jaemi melampiaskan seluruh kekesalannya dengan membiarkan gadis itu memukul-mukul dadanya sampai ia puas.

“Aku memang menyebalkan. Aku tahu,” Kibum melanjutkan. “Maaf karena telah memaksamu untuk menerima tawaranku untuk mengantarmu pulang,” terdapat rasa penyesalan yang amat sangat ketika ia mengucapkan kata-kata itu.

“Maafkan aku…” Kibum menghapus air mata yang bergulir turun dari mata Jaemi dengan ibu jarinya.

“Sudahlah, tidak apa-apa,” Jaemi menyingkirkan tangan Kibum dari wajahnya. “Aku permisi dulu. Terima kasih atas tumpangannya,” Jaemi beranjak dari Kibum dan membuka pintu pagar rumahnya.

“Jaemi – “

“Cukup, Kibum,” rintih Jaemi lelah. “Apa yang kau perbuat padaku hari ini sudah cukup – “

Kata-kata Jaemi terhenti ketika Kibum memeluknya dari belakang. Pelukan Kibum menghantarkan kehangatan pada tubuhnya yang menggigil karena pakaiannya yang basah kuyup. Memberikannya perasaan nyaman ketika tubuh Kibum merengkuh tubuhnya dengan protektif, seakan ia sedang menjanjikan perlindungan baginya.

“Jangan pergi. Aku mau kau tetap disini.”

“Mengapa?” Jaemi menuntut alasan. “Mengapa?”

“Karena aku sayang padamu.”

***


A key inserted in the chest
I pushed forcibly, it broke

Hey, this same miracle
Are you sure you want to open your heart?

“Karena aku sayang padamu.”

Air mata kembali menggenang di pelupuk mata Jaemi. Sekujur tubuhnya berguncang hebat, tidak dapat membendung air matanya yang tak kuasa ditahannya.

Setelah menunggu sekian lamanya, akhirnya penantiannya selama bertahun-tahun silam ini tidak sia-sia. Akhirnya, ia mengetahui jawaban atas pertanyaan yang bahkan tidak pernah ditanyakannya. Bahwa perasaan yang lama ia pendam selama ini tidak bertepuk sebelah tangan. Bahwa ternyata…..

Ternyata…..

Kim Kibum menyayanginya.

Dan mulai sekarang, hanya untuk Kim Kibum seorang ia akan bernafas.

“Apakah kau tahu….. berapa lama aku sudah menunggumu untuk mengatakan itu?”

“Maaf membuatmu menunggu terlalu lama…”

“Kau memang menyebalkan.”

***

All I cannot tell immediately
I want to tell someday
As if I took 1000 years
But much to my side

“This is the last call for Flight 6002A to Seoul. Please check in immediately because the plane is going to take off in fifteen minutes. Thank you.”

Pemberitahuan dari pengeras suara itu tersebarluas ke seluruh penjuru Soekarno Hatta International Airport. Jaemi dan Kibum baru saja akan pulang dari Indonesia setelah berlibur bersama di Bali.

Atau boleh disebut liburan pre-wedding?

Mereka berdua sudah check-in dan sekarang sedang duduk di bangku tunggu, menanti dipanggil untuk masuk pesawat yang akan membawa mereka kembali ke Korea.

Jaemi memegang tiket pesawatnya sembari memutar-mutar cincin yang kini menghiasi jari manisnya. Tiga bulan yang lalu, lelaki yang dulu selalu menghiasi mimpi-mimpinya mengajaknya untuk membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius. Dan Jaemi dengan senang hati menerima lamaran dari lelaki bernama Kim Kibum itu. Untuk menemaninya selama sisa hidupnya.

“Jaemi, ayo masuk,” Kibum menarik tangan Jaemi lembut, menariknya untuk berdiri dari kursinya.

“Terima kasih, Kibum. Untuk segalanya.”

Kibum hanya membalas dengan sebuah senyuman penuh makna.

“Please fasten your seatbelts as the plane is going to take off,” seorang pramugari menyuruh semua penumpang untuk memakai sabuk pengaman sambil mendemonstrasikan bagaimana cara memakainya.

“Baby, kita kembali lagi ke Korea,” Kibum berbisik lembut di telinga Jaemi. Napasnya yang hangat menggelitik geli telinganya. Jaemi tidak menjawab, hanya membalas Kibum dengan memegang erat tangannya dan menyenderkan kepalanya pada bahu Kibum. Tidak lama kemudian, kedua insan yang sedang dimabuk cinta ini pun tertidur pulas, tanpa tahu apa yang menanti mereka.

“Tuan, Nyonya, mohon segera bangun,” seorang pramugari mengguncang-guncang tubuh Jaemi dan Kibum. Mereka berdua serentak bangun dan mengucek-ngucek mata, jiwa mereka masih setengah berada di alam bawah sadar.

“Apa yang sedang terjadi?” Kibum bertanya setelah melihat bahwa pesawat yang mereka tumpangi sedang dalam keadaan kacau balau.

“Pesawat sedang dalam kondisi darurat,” kata pramugari itu seraya memberikan Jaemi dan Kibum masing-masing satu life jacket. “Untuk sementara waktu, pakailah dulu life jacket ini, sampai ada perintah lebih lanjut lagi.”

“Tunggu, memangnya apa yang terjadi – “

Sejurus kemudian, bel pengumuman berdengung di seluruh pesawat. Suara kapten pesawat langsung terdengar, dan pramugari tersebut membungkukkan badan, lalu meninggalkan mereka berdua.

“Passengers, this is your captain speaking. Sorry for the inconvenience. Namun kami harus mengumumkan bahwa dengan terpaksa, pesawat ini harus crash landing.”

Kapten pesawat itu akhirnya mengungkapkan kenyataan pahit yang harus diterima semua penumpang pesawat. Bahwa mungkin saja hari ini adalah hari terakhir hidup mereka, bahwa mungkin saja hari ini nyawa mereka akan melayang, bahwa mungkin saja hari ini adalah kesempatan final mereka untuk menikmati dunia dan melewatkan waktu bersama dengan orang-orang yang dicinta.

“Terjadi keretakan pada sayap kiri pesawat. Kami dengan berat hati mengatakan bahwa tidak ada yang bisa kami lakukan untuk memperbaiki kerusakan ini. Retak pada sayap tersebut sangat vital maka dari itu pesawat tidak dapat berfungsi sebagaimana seharusnya lagi,” kapten pesawat itu memberikan penjelasan.

Suasana di dalam pesawat seperti kapal pecah. Ada yang menangis, ada yang memaki, dan ada yang hanya diam meratapi nasib. Jaemi dan Kibum hanya bertukar pandang, tidak mampu berkata apa-apa pada satu sama lain.

Kapten pesawat itu keluar dari kabin pilot, lalu berkata, “Pada saat-saat seperti ini, mungkin berdoa sesuai dengan kepercayaan masing-masing akan membantu…” suara kapten itu mulai bergetar. Ia pun membungkuk sangat dalam, memberi hormat terakhirnya pada seluruh penumpang dan akhirnya tersungkur di lantai pesawat sambil terus bergumam, “Maafkan aku….. Maafkan aku…..”

Kibum memeluk Jaemi erat. Tangis Jaemi pun pecah, tubuhnya berguncang-guncang tak karuan dan ia sesenggukan. Kibum membiarkan Jaemi membenamkan wajahnya di dadanya, supaya gadis itu dapat menumpahkan seluruh kekhawatirannya, seluruh kegelisahannya, seluruh kecemasannya, seluruh ketakutannya.

“K-kibum… pernikahan kita padahal tinggal bulan depan…” Jaemi mencoba berbicara di sela sesenggukannya.

“Percayalah, Jaemi, kita pasti akan selamat… Kita akan menikah, mempunyai banyak anak yang lucu dan hidup bahagia selamanya…” Kibum berusaha tegar meskipun pandangannya juga sudah mengabur karena air mata yang memenuhi pelupuk matanya, siap untuk tumpah kapan saja.

“Janji padaku kita akan selamat… Janji?”

“Aku janji, Go Jaemi…..” Kibum mengaitkan kelinglingnya dengan kelingking Jaemi sementara tangan kirinya memasukkan sebuah buku ke dalam tas calon istrinya.

“Apapun yang terjadi……”

 

Kalaupun aku tidak selamat, ingatlah aku akan selalu mencintaimu

Kalaupun aku tidak selamat, ingatlah aku akan selalu menemanimu

Kalaupun aku tidak selamat, ingatlah bahwa aku akan selalu menjadi malaikat pelindungmu

Yang akan menjagamu

Walaupun seribu tahun telah berlalu

8 thoughts on “1000 Years, Always By Your Side (Kim Kibum – Go Jaemi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s