A Day (Kim Jaejoong-Kim Jaerin)

A Day

Tidak ada yang tak mungkin, benar kan? Pikir jaejoong sambil merapikan baju kemejanya. Masih jam sepuluh, dia akan menemuinya dua jam lagi. Entah kenapa dia sudah mempersiapkan semuanya, bajunya yang rapi, bunga kesukaannya, tempat-tempat yang akan mereka kunjungi, semuanya! Ia bahkan berencana untuk melakukannya nanti, ketika mereka makan malam di restoran bintang lima yang khusus dipesan oleh jaejoong hari ini. dia sudah mengumpulkan keberanian untuk hal ini, ia tidak akan mundur lagi.

Ia beranjak dari pinggir tempat tidur, mengelilingi kamarnya. Mengapa waktu berjalan begitu lama? Dengan menggerutu ia berjalan ke arah dapur rumahnya yang bersih dan mengkilap. Sesampainya disana dia membuka kulkas dan mengeluarkan sekotak jus buah. Dihisapnya isi kotak itu dengan frustrasi, sampai apa yang keluar dari kotak hanyalah angin dan beberapa tetes jus. Dilemparnya kotak kosong itu dengan kesal ke tong sampah.

Tanpa ada apa-apa lagi yang bisa dia lakukan, menunggu sepertinya merupakan pilihan terbaik. Mengapa malah di saat-saat seperti ini waktu berjalan begitu lambat? Jarum panjang jam dinding itu seperti berdetak lebih keras dari biasanya, bunyi yang semakin lama semakin mengganggu telinga jaejoong.

“aish! Aku tidak bisa menunggu lebih lama!” kata jaejoong dengan gusar. Walaupun sebenarnya sesuatu dalam dirinya berkata tidak, ia akan tetap pergi menemuinya. Ia menyambar topinya dan segera masuk mobil. Dengan sekali putar mesin mobil BMW seri 7nya segera menyala dan menderum halus, meluncurlah ia keluar dari garasi rumah.

Sesampainya di jalanan, ia melaju lebih cepat dari biasanya, dan lebih ceroboh dari biasanya. Terus-terusan ia tidak sengaja menerobos lampu merah, untungnya sedang tidak ada petugas keamanan yang bertugas.

“aku harus memberitahunya kalau aku datang lebih cepat,” kata jaejoong. Ditekannya angka 1 di handphonenya, dan ia pun segera tersambung dengan kekasihnya.

“angkatlah..”

“astaga, bisa kau ang-“

“ne, jaejoong-a?”

jaejoong menghembuskan nafas lega. Tidak ada yang lebih menenangkan daripada mendengarkan suaranya, memastikan ia baik-baik saja.

“jaerin-a, sepertinya aku akan datang lebih cepat.”

“dan kapan itu ‘lebih cepat’nya?”

“uhm…sekarang..?

”apa? Padahal aku baru mandi, bagaimana kamu bisa mengharapkan aku untuk siap ketika kamu sampai disini?”

“mi-mian, jaerin.”

KLIK! Bisa ia dengar suara telefon yang ditutup. Ia tidak mengerti mengapa para wanita perlu waktu yang sangat lama hanya untuk berdandan. Menurutnya jaerin sudah cantik walau tanpa make-up ataupun perhiasan. Ia lebih suka wajah jaerin yang polos dan bebas make-up daripada wajah dengan riasan sana-sini.

“mungkin aku akan dianggap aneh dan tidak punya selera oleh teman-temanku,” terawang jaejoong. “tetapi setidaknya aku jujur pada diriku sendiri.”

Ia pun merasa sedikit senang. Bahkan ia mulai menyanyi-nyanyi kecil, bersenandung dengan riangnya tanpa menyadari sebuah truk ganda yang melaju tak terkendali kearahnya. Anehnya ia tidak mendengar suara klakson truk yang begitu kencang. Truk itu semakin dekat sampai akhirnya..

BAM! Dua kendaraan itu menghantam satu sama lain.Truk itu, berkat massa dan volumenya yang teramat besar, hanya terguling dan terseret sebentar sebelum berhenti tepat di depan seorang pengendara motor yang sudah mengompoli celananya. Sementara jaejoong? Mobilnya terhempas dan terlempar ke udara akibat tabrakan tadi, dan jatuh ke bumi dengan bunyi yang keras, seperti seseorang yang sedang meremukkan kaleng aluminium.

Semuanya tiba-tiba berjalan dengan lambat. Orang-orang yang mulai mendatangi kedua mobil tersebut bergerak dengan sangat lambat, begitu pula dengan badan jaejoong yang digotong dan dipapah ke atas tandu rumah sakit, dengan hati-hati ia dibawa masuk ambulans. Setelah pintu sudah ditutup dan mobil sudah melaju sambil mengeluarkan suara sirene dengan paniknya, tim medis mulai mengecek keadaan jaejoong. Dari penglihatan kaburnya ia bisa melihat beberapa orang yang terkejut sampai menutup mulut mereka dengan tangan ketika melihat bagian sekitar dada jaejoong. Ia mencoba untuk mengangkat kepalanya tetapi pimpinan tim medis itu menyuruh jaejoong untuk tidak bergerak.

Jaejoong masih hidup. Oh ya, walaupun terluka parah dan sekarat, ia masih hidup. Tidak akan ia biarkan sang malaikat pencabut nyawa pergi bersamanya, tidak hari ini. Tapi ketika ia dengan susah payah mengangkat tangannya, ia hampir pingsan. Pecahan kaca tertanam dimana-mana, dan darah yang mengalir juga begitu banyak. Ia hanya bisa tergolek pasrah diatas tandu yang kadang terguncang-guncang karena kencangnya laju mobil.

Sepertinya mereka akan melakukan sesuatu pada tubuh jaejoong karena seseorang baru saja mengisi jarum suntik dengan obat penenang dan menyuntikkannya di lengan jaejoong.

‘Obat sialan,’ rutuk jaejoong dalam hati. Ia merasa ototnya yang melemas, dan rasa sakit yang menderanya lama kelamaan hilang. Tak lama kemudian, kedua kelopak matanya tertutup dan ia tertidur selama perjalanan ambulans ke rumah sakit.

 **********

“nona, kita harus melakukan operasi, sekarang!”

“operasi apa? Tidak mungkin kalian sudah menemukan. . .baru untuknya”

“benar, tetapi bila pecahan kaca dan debris yang berada di dalam tubuhnya dibiarkan begitu saja, kemungkinan ia meninggal akibat infeksi menjadi lebih tinggi”

“maaf dokter, tetapi-“

Percakapan mereka terhenti bersamaan dengan sadarnya jaejoong. ‘aku berada di UGD,’pikir pria malang itu. ‘bukan, aku berada di sebuah kamar rumah sakit.’

Seorang dokter berwajah tidak ramah baru saja melakukan argumen dengan seseorang, dia tidak yakin siapa, kepalanya terasa berat dan pandangannya kabur. Dokter itu mengamati jaejoong, dengan sinis melirik ke sosok misterius, dan akhirnya keluar sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Setelah si dokter pergi, sosok itu segera berlari ke arah ranjang jaejoong. Semakin dia mendekat semakin jaejoong tau identitas sosok misterius itu, dengan rambut panjangnya, pakaiannya, dan yang merupakan ciri khas darinya, senyumnya.

“jaerin-a?” cicit jaejoong dengan susah-payah. “maafkan aku”

“untuk apa kau meminta maaf?” balas jaerin membuang muka, Jaejoong bisa dengan jelas melihat mata jaerin yang sembab akibat menangis. “aku harus memberitahumu sesuatu.”

Jaerin diam sebentar sebelum melanjutkan, ia kelihatan seperti akan menangis lagi. Dilihatnya jaejoong dengan tatapan sedih, takut, dan kasihan bercampur menjadi satu.

“jaejoong, aku tadi sempat bicara dengan dokter yang merawatmu. Ia berkata bahwa…bahwa ligamenmu banyak sekali yang robek, terjadi retakan-retakan yang tidak biasa di seluruh tulang lenganmu. Pihak rumah sakit berkata mereka tidak pernah melihat retakan yang membentuk pola seperti itu, tetapi mereka akan berusaha sekerasnya untuk menyembuhnya kedua lenganmu. Dan, satu lagi…” Jaerin dengan susah payah memberitakan hal ini, kalau bisa ia ingin sekali menelan semua perkataannya yang ia ucapkan tadi. Kadang-kadang kenyataan bisa sangat pahit, sangat pahit sampai kamu sendiri tidak tahu apakah ini benar-benar terjadi dan bukan hanya mimpi.

“satu lagi…” jaerin berusaha untuk memuntahkan kata-kata itu, tetapi semua ini terlalu berat untuknya. Bila ia sendiri saja tidak siap untuk ini, bagaimana jaejoong? Ia hanya bisa tertunduk terdiam, tidak mampu berkata-kata,  sementara air mata pelan-pelan menuruni pipinya yang halus.

“jaerin-a, kamu tidak perlu memberitahuku,” kata jaejoong dengan lembut. Jaerin dengan wajah penuh air mata mendekat dengan terseok-seok, perasaan hatinya tidak karuan. Ketika tepat disebelah ranjang jaejoong ia meletakkan kepalanya di bahu jaejoong tetapi dari depan, jadi ia kelihatan seperti bersandar pada tembok dengan tangannya yang menggelantung bebas di pinggir ranjang. Walaupun pada awalnya hanya terdengar keheningan, jaejoong bisa mendengar suara isakan lirih jaerin. Ia menghela nafas.

‘tidak biasanya dia begini. Otot dan tulang yang cedera tidak akan membuatnya sesedih ini,” jaejoong berpikir keras. “ia sedang merahasiakan sesuatu dariku, ya benar, ia sedang merahasiakan sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari ini.’

“jaerin-a, sudahlah, tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja, kamu janganlah menangis karenaku,” kata jaejoong yang berusaha menenangkan gadis bertubuh mungil yang sekarang sudah sesenggukan di bahu. Ia mengelus kepala jaerin dan mengecup keningnya. “nah sekarang bukankah kamu harus-“

“YA! Hentikan! Bagaimana aku bisa tenang dengan keadaanmu yang seperti ini? Bagaimana aku bisa tidur tenang di malam hari sementara kamu disini, sekarat dan menderita?” bentak jaerin. Ia frustrasi, tidak bisa menghadapi semua ini. ia mengangkat kepalanya dan beranjak menuju sofa.

“aku tidak menderita sama sekali. selama kamu masih berada disini, selama kamu masih berbicara denganku, selama kamu masih tersenyum padaku, aku tidak akan-”

“jantungmu.”

“…ada apa dengan jantungku?”

“jantungmu…mengalami kebocoran.”

“…”

“…”

“Dan?”

Jaerin mendengus kesal. “kamu jahat, kim jaejoong, membiarkan aku memberitahumu hal seperti ini! tidak, aku akan panggil si tuan dokt-“

“jaerin-a, jangan. Aku mau mendengarnya darimu.”

Jaerin terdiam sebentar. ‘aku adalah orang terburuk di seluruh dunia,’ pikirnya sebelum melanjutkan.

“Menurut si tuan dokter, bila hal ini dibiarkan…bila hal ini dibiarkan-”

jaejoong sadar ia mungkin sudah mendesak jaerin terlalu jauh. Jaerin tertunduk, bisa didengarnya isakan-isakan. ‘dia cukup cengeng dalam hal seperti ini,’ gerutu jaejoong dalam hati. Ia adalah orang yang realis, ia tidak takut pada kematian. Ia juga berpendapat bahwa orang yang sudah meninggal tidak perlu ditangisi, untuk apa? Mereka telah tiada.

“terima kasih jaerin, aku mengerti. Apakah hal ini bisa dihindari?”

Jaerin menghela nafas. Lega rasanya telah mengeluarkan segalanya. “jantung yang bocor sudah hampir tidak mungkin disembuhkan. Tetapi bila kamu mau mengambil resiko, transplantasi jantung adalah pilihan satu-satunya.”

Sebelum jaejoong bisa menjawab, seseorang membuka pintu. Si dokter berwajah tidak ramah. Dalam waktu yang bersamaan jaerin dan jaejoong mendengus.

“ah, jaejoong-ssi! Anda sudah sadar. Jadi, jaerin-ssi sudah memberitahu anda?”

“DENGAN SUSAH PAYA-“

“jaerin-ah, tolong, jangan sekarang.”

Jaejoong sudah lama mengetahui bahwa jaerin memiliki masalah dalam mengendalikan emosinya. Dalam beberapa kasus hal ini memberi mereka keuntungan, tetapi dalam situasi seperti ini?

Sang dokter berdeham. Sudah jelas ia tidak suka dengan jaerin.

“jaejoong-ssi, anda mengalami kebocoran mitral regurgitation, yang merupakan kebocoran dari serambi kiri ke bilik kiri. Bila kondisi ini dibiarkan, anda bisa mengalami gagal jantung.”

Semuanya terdiam, tidak ada yang berani membuka mulut. Jaejoong menunggu dokter untuk melanjutkan dengan sabar, ia siap menerima berita ini, ia harus siap, dan ia mungkin tidak memiliki semangat untuk hidup lagi kalau bukan karena jaerin, gadis mungil berisik yang memiliki hatinya.

Di dalam keheningan, pikiran jaerin berputar liar, mencari jawaban. Tidak, akan ada jalan keluar, pasti akan jalan keluar! Batinya berulang-ulang. Butiran keringat dingin menuruni dahinya, ia tidak pernah setakut ini.

Tiba-tiba, seperti kilat di hujan badai, ide itu muncul.

Entah bisikan setan, atau pertolongan dari Tuhan, ia tidak yakin.

Tetapi ia tahu, inilah satu-satunya cara.

Tanpa berkata-kata, ia menerjang keluar, meninggalkan sang dokter dengan jaejoong. Ia sepertinya sedang mencari seseorang, ditelusurinya tiap lantai. Dan ketika ia berada di lantai 2 dari gedung itu, ia akhirnya menemukan apa yang ia cari. Dengan mantap ia menghampiri meja itu, yakin akan tindakannya.

“permisi, saya ingin mendonorkan jantung saya kepada pasien di kamar nomor 512”

 **********

Sudah berbulan-bulan jaerin tidak mengunjungi jaejoong. Ia tidak pernah menelpon jaejoong, maupun mengiriminya pesan singkat. Seolah-olah seorang kim jaerin baru saja menghilang dari permukaan bumi, keberadaannya pun tidak diketahui.

“teganya dia melakukan ini padaku,” kata jaejoong sambil meletakkan telpon di meja sebelah tempat tidurnya. Ini sudah kesekian kalinya dia menelpon jaerin, dan hasilnya selalu sama, tidak diangkat. “padahal besok adalah hari ulang tahunku.”

Baru saja menyalakan televisi, seorang dokter masuk dengan terburu-buru. jaejoong yang kaget setengah mati hanya bisa menatap dokter tersebut dengan tatapan terkejut.

Dokter tua yang malang itu mengatur nafasnya dengan susah payah. Beberapa saat kemudian, nafasnya sudah kembali normal. Ia menarik nafas panjang, lalu tersenyum.

“kim jaejoong-ssi, anda mungkin adalah orang paling beruntung saat ini.”

“dan mengapa itu dokter?”

“seseorang mendonorkan jantungnya untukmu!”

oh tidak.

Tidak mungkin. Tidak!

Aku seharusnya tahu hal ini akan terjadi! Jaerin menghilang selama berbulan-bulan, lalu tiba-tiba saja ada orang yang bersedia mendonorkan jantungnya. Oh tidak, apa yang telah dia lakukan?

“Dokter, bisakah anda memberitahuku, siapakah orang baik hati ini yang mendonorkan jantungnya?” tanya jaejoong dengan hati-hati.

“ah, mengetahui anda akan menanyakan hal ini, ia meminta namanya untuk disamarkan. Jadi maaf, saya tidak bisa memberitahu.”

Jaejoong terdiam. Sekarang ia tidak yakin orang itu jaerin apa bukan. Mukanya begitu tegang, ekspresi wajahnya tidak terbaca.

“jae..jaejoong-ssi? Gwaenchana?” tanya dokter itu dengan khawatir.

“ah…” jaejoong tersadar dari lamunannya. “saya baik-baik saja, terima kasih.”

“baiklah, operasi akan dilakukan besok pagi. Jadi kosongkan perut anda, dan pastikan anda mendapat istirahat yang cukup.” Kata dokter itu mengakhiri percakapan mereka.

 **********

08.15.

lima belas menit lagi.

Lima belas menit lagi, aku akan menyerahkan hidupku.

Lima belas menit lagi, hatiku akan menjadi miliknya.

Berdetak untuknya, hidup bersamanya.

Aku tidak bodoh, aku tahu benar apa yang akan kulakukan.

Aku berani.

Aku siap.

“apa yang anda lakukan adalah tindakan mulia, agasshi. Kau telah menyelamatkan nyawa seseorang.” Puji sang asisten dokter sebelum memberikannya obat bius dalam dosis ‘sekali-pergi’.

Jaerin tersenyum ketika obat bius mulai menghapus kesadarannya. Ia berusaha untuk tetap sadar selama mungkin, tetapi efek anesthesi itu terlalu kuat. Ia memalingkan kepalanya ke arah jaejoong, yang sekarang sudah tertidup lelap di bawah pengaruh obat bius. Setidaknya jaejoong lah hal terakhir yang ia lihat sebelum ia meninggalkan semuanya. Butiran air mata pahit membasahi pipinya.

“kim jaejoong, saranghanda. Aku akan merindukanmu”

**********

Jaerin-ah.

 

 

Ne, oppa?

 

 

Jangan lakukan ini, jangan tinggalkan aku.

 

 

Aku tidak pernah meninggalkanmu. Hatiku milikmu sekarang, ada bagian dari diriku yang selalu bersamamu.

 

 

Tetapi mengapa kau harus meninggalkanku? Untuk apakah hati ini bila tidak ada engkau untuk mengisinya?

 

 

Aku melakukan tindakan yang benar. Jangan merindukanku oppa, kau masih memiliki masa depan yang cerah. Kamu masih bisa menemukan orang lain, orang yang lebih baik dari diriku.

 

 

Aku tidak akan bisa mencintai orang lain seperti aku mencintaimu kim jaerin.

 

 

Aku tahu, oppa, aku tahu.

 

 

….

 

 

….

 

 

kalau begitu, aku pergi dulu. Selamat tinggal, kim jaejoong.

 

 

apakah kamu harus pergi sekarang?

 

 

Ya. Peranku di dunia ini sudah selesai.

 

 

Baiklah kalau begitu.

 

 

Selamat tinggal, kim jaejoong. jangan lupakan aku.

 

 

Selamat tinggal, kim jaerin. 

7 thoughts on “A Day (Kim Jaejoong-Kim Jaerin)

  1. aduh haha samasama :**
    tadinya pas pertama kali baca gue bingung loh kok jaejoong yang kecelakaan tapi kalian bilang jaerin yang mati
    ternyata….. HAHA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s