Promise You (Kim Jae Joong – Kim Seung Mi)

While seeking unchanged things, we’ve walked in the changing seasons.
Always we came along together holding our hands.
I could passed the days I wasn’t sure without losing a way thanks for you,
and I could stay strong anytime.
Even though much scenery might be changed in our future, we won’t be changed.

Promise you. I will live thinking of you. We are the one from heart to heart.
Promise You. What I want to tell is just “I love you”.
I will promise the piece of eternity.

We’ve had many little quarrels. We also had some days apart each other.
But each time, it reminded me that I need you.
When you have difficulties, I want to be the first man who gives you a hand.
Let me stay beside you.

Even if we repeat parting or encounter,
let’s stay next to one another.

Promise You. I want to protect you in my whole life, my heart is hot
(and being full of love)
Promise You, what I want to send you is just “I love you” with never changed love.

If tomorrow is covered with darkness and there is no way,
you need not to be afraid. Unless you leave my hand,
we can go anywhere.

Promise you. I will live thinking of you. We are the one from heart to heart.
Promise You. What I want to tell is just “I love you”.
I will promise the piece of eternity.

I will promise the piece of eternity.

***

Dulu aku berpikir, hal-hal semacam kisah cinta sejati yang berakhir bahagia hanya ada di dalam novel-novel atau film-film saja.

Sampai hari ini, aku masih berpikir seperti itu.

Hari ini, aku berjalan di sampingnya, makan bersamanya, menatapnya dan memberikan senyum terbaikku, tapi pria itu sama sekali tidak bereaksi. Kau tahu maksudku.

Walaupun aku sudah berusaha membuat diriku sendiri tampil sangat cantik malam ini, tapi pria itu masih tidak bisa membaca semua tanda yang kuberikan kepadanya.

Menyatakan perasaanku lebih dulu? Tidak, aku tidak seagresif itu. Lagipula, di novel-novel dan film-film romantis itu, peraturannya selalu pria yang lebih dulu menyatakan perasaannya. Kalau aku yang memulainya, kemungkinan besar aku akan menerima penolakan. Dan aku tidak suka menerima penolakan, apalagi jika penolakan itu datang darinya.

Jadi, aku memutuskan untuk menunggu…

Tapi pria itu tetap tidak bereaksi. Dia tetap memperlakukanku istimewa karena aku sahabat terbaiknya, bukan karena aku adalah orang yang ia cintai. Dia tidak bergerak satu milimeter pun. Dia tetap sama.

Tapi, aku sudah lelah menunggu.

Apa aku harus mulai menjauh darinya? Karena aku tidak yakin sampai kapan aku bisa menahan diriku sendiri untuk tetap bersikap seperti biasa, di saat aku melihatnya dengan cara yang sama sekali berbeda.

***

Malam ini gadis itu cantik sekali. Ah, gadis itu selalu yang tercantik.

Gadis itu adalah satu dari sekian banyak orang yang pernah kukenal, dan satu dari sedikit mereka yang kukenal yang menurutku adalah orang-orang yang baik, yang bisa diandalkan dan bisa dipercaya.

Jujur saja, aku selalu merasa diriku adalah orang yang munafik.

Begini. Aku selalu berusaha menyembunyikan siapa diriku yang sebenarnya dengan bersikap dingin pada semua orang. Aku selalu ingin menjaga jarak dari semua orang, terutama mereka yang baru kukenal, dan satu-satunya cara untuk menjaga jarak dari mereka yang menurutku paling efektif hanyalah memberikan kesan yang buruk pada mereka.

Aku benci perpisahan. Jadi, aku memutuskan untuk tidak terlalu dekat dengan seseorang.

Sebenarnya bukan hanya itu saja yang kulakukan. Aku melakukan banyak hal untuk mengubah diriku yang sebenarnya menjadi seseorang yang aku inginkan untuk dilihat orang lain.

Satu-satunya saat aku dapat menunjukkan siapa diriku sebenarnya, hanya pada keluargaku dan sahabat-sahabatku. Lalu, pada gadis itu. Menurutku, hanya mereka yang bisa benar-benar mengerti diriku. Sebagian orang akan sulit percaya bagaimana seorang Kim Jae Joong, yang dikenal sangat manly dan sebagainya, suka memasak dan membereskan rumah. Itu cewek sekali. Aku benar, kan?

Intinya, aku hanya bisa menunjukkan siapa diriku yang sebenarnya pada orang-orang yang menurutku bisa kupercaya dan bisa diandalkan. Orang-orang yang selalu membuatku merasa nyaman.

Lalu suatu hari, aku sadar kalau aku menyukai gadis itu. Benar-benar menyukainya, sungguh.

Masalahnya hanyalah, bagaimana aku menyatakan perasaanku?

Egoku sangat tinggi. Walaupun aku selalu menunjukkan diriku yang sebenarnya pada gadis itu, tapi aku tetap ingin terlihat keren di matanya.

Bagaimana cara menyatakan perasaan yang keren? Bagaimana jika saat aku sudah menemukan cara untuk menyatakan perasaanku, semuanya sudah terlambat?

Seung Mi-ya, eotteokhae?

***

Tokyo, December 25th 2022

Novotel, Room 1003

“Jaejoong-a, Merry Christmas!”

Jae Joong segera melompat bangun saat mengenali suara penelponnya. Waktu iPhone-nya berdering riang di samping tempat tidurnya, ia terbangun dari tidur lelapnya dengan malas dan langsung menekan tombol jawab tanpa melihat siapa penelponnya.

“Ah, Seung Mi-ya. Kau sudah bangun?”

“Tentu saja! Hari ini kami harus mulai shooting dari pukul 4 pagi. Aku yakin aku sudah mengatakan padamu kalau kemarin kami akan selesai shooting pukul 2 pagi, lalu saat aku ingin tidur, ternyata aku dan kru yang lain harus—” Gadis itu menguap sebelum melanjutkan, “mengurus kesalahpahaman di lokasi shooting kami selanjutnya. Benar-benar merepotkan. Aku kehilangan waktu tidurku yang berharga.”

“Lalu sekarang kenapa kau menelponku dan bukannya beristirahat?”

“Setelah ini masih harus mengambil tiga scene lagi. Kami benar-benar dikejar waktu. Lagipula mendengar suaramu sama dengan beristirahat, kok.” Gadis itu menguap lagi dan Jae Joong benar-benar merasa kasihan padanya. Jae Joong sampai ingin menggantikan posisi gadis itu seandainya ia bisa. “Aku akan membalas dendam pada waktu tidurku yang hilang setelah shooting film ini selesai.”

Jae Joong tertawa kecil. “Aku sudah tahu. Itu kebiasaanmu. Aku yakin film terbarumu akan sukses. Sutradara Kim Seung Mi jarang sekali gagal dalam menghasilkan film yang sangat bagus.”

“Well, semoga saja. Oh, hari ini kau ada konser, bukan?”

“Eung,” gumam Jae Joong mengiyakan. “Dan aku baru saja bangun.”

“Jam berapa konsermu dimulai?”

“Jam 7 malam. Ya Kim Seung Mi, kau sudah tiga kali menguap. Walaupun kau akan membalas dendam setelah shooting selesai, kau juga harus memperhatikan kesehatanmu? Bagaimana kalau kau sakit? Tidak ada yang—”

Gadis itu menguap untuk yang keempat kalinya. “Arrasseo, aku sudah tahu tidak ada yang akan menjagaku dan aku akan merepotkan orang lain kalau aku sakit. Iya, aku sudah hafal setelah ini kau akan mengatakan kalau kau akan langsung berlari ke tempat aku berdiri saat ini kalau sampai kau tahu kalau aku sakit. Aish, kau ini cerewet sekali. Kau lebih cerewet dari ibuku. Yang benar saja. Aku gadis yang kuat, Jae Joong-a, tidak tidur satu hari tidak akan membuatku langsung sakit seperti yang kau katakan. Tentu saja setelah ini aku akan beristirahat. Kalau aku sakit, bagaimana caraku menyelesaikan film ini?”

“Kau sudah makan?”

“Tentu saja sudah. Mana ada orang yang belum sarapan di jam 10 pagi selain orang-orang yang sama malasnya dengan dirimu?”

Well, Kim Seung Mi. Jangan lupa kalau kau bisa lebih malas daripada diriku.”

“Itu hanya terjadi setelah selesai shooting,” balas Seung Mi ketus. “Kau tidak latihan? Sepercaya diri itukah kau, Kim Jae Joong?”

“Sebenarnya aku tidak yakin,” jawab Jae Joong. “Aku masih lupa beberapa gerakan untuk lagu terbaruku yang akan kurilis di sini.”

“Berlatihlah! Aku yakin kau pasti bisa.” Entah mengapa Jae Joong merasa bahwa konsernya malam ini akan sukses saat gadis itu mengatakan kalau ia bisa. “Lihat, sekarang aku menyesal karena tidak bisa menghadiri konser solo Kim Jae Joong di Tokyo Dome. Sahabat macam apa aku ini?”

“Kau tidak perlu sesedih itu,” Jae Joong tersenyum lebar mendengar keluhan gadis itu. Mengherankan sekali bagaimana mendengar suara gadis itu yang sedang mengeluh selalu membuatnya ingin tertawa. “Kau bisa menikmati konser soloku setiap saat.”

“Jadi kalau sekarang aku memintamu menyanyikan satu lagu untukku, kau mau?”

Jae Joong masih tersenyum, walaupun gadis itu tidak bisa melihat senyumannya. “Kau tahu aku tidak pernah menolak permintaanmu.”

“Ah, bagus!” Senyuman Jae Joong bertambah lebar saat mendengar gadis itu berseru senang. “Hadiah natalku?”

“Anggap saja sepersepuluh dari hadiah natalmu.”

“Lalu sembilan persepuluhnya?”

“Nanti, setelah aku pulang dan kau menyelesaikan filmmu.”

“Okay. Cepatlah, nyanyikan satu lagu untukku~”

I’ll sing our favorite song.

eojjeom urin bokjapan inyeone
seoro eongkyeo inneun saram ingabwa
naneun maeil nege gapjido motalmankeum
maneun bijeul jigo isseo

yeonin cheoreom ttaeron namnam cheoreom
gyesok saragado gwaenchaneun geolkka
geureokedo maneun jalmotkkwa jajeun ibyeoredo
hangsang geogi inneun neo

nal sesangeseo jedaero salkehae jul
yuilhan sarami neorangeol ara
na huhoe eopssi saragagi wihae
neoreul pputjabaya haltejiman

nae geochin saenggakkkwa buranhan nunbitkkwa
geugeol jikyeoboneun neo
geugeon amado jeonjaenggateun sarang
nan wiheomanikka sarang hanikka
neoege seo tteonajul kkeoya
neoreul wihae tteonal kkeoya

(Maybe we are people
Tangled in a complicated relationship
Everyday I am debted to you
Debts that are too much for me to pay back
Sometimes like a couple, sometimes like strangers
Can we keep living on like that?
Despite countless mistakes and separations
You are still there

I know that you are the only person
Who can help me live properly in this world
I, in order to live without regrets,
Should keep you by my side
My rough mind and unstable expressions
And you watching it
That is a love like a war
Because I’m dangerous, because I love you
I will leave from you
I will leave for you)

***

Kim Jae Joong memiliki suara yang selalu disukainya. Saat berbicara, suara itu terdengar tegas dan tidak bersahabat, tapi saat pria itu bernyanyi, semua kesan itu hilang.

Kim Seung Mi selalu menyukai suara Jae Joong. Dia selalu membandingnya suara penyanyi-penyanyi favoritnya dengan suara Jae joong, dan aneh sekali bagaimana suara sahabatnya itu selalu terdengar lebih bagus di telinganya daripada suara-suara penyanyi kelas dunia favoritnya.

Kim Jae Joong sangat suka menyanyi. Semua orang tahu itu. Tapi kalau ada orang yang paling mengerti mengapa Jae Joong suka menyanyi, maka hanya Seung Mi orangnya.

Jae Joong sangat mencintai dunia musik. Jae Joong pernah mengatakan kalau darah musiknya berasal dari ibunya yang selalu bercita-cita menjadi penyanyi, dan bahwa ibunya memiliki suara sopran paling indah yang pernah Jae Joong dengar. Jae Joong selalu membanggakan ibunya, dan selalu mengatakan bahwa ibunya adalah orang yang paling baik di dunia ini. Sangat menyedihkan bagaimana ibunya terpaksa merelakan cita-citanya karena ia harus bekerja untuk menghidupi keluarganya yang miskin.

Jae Joong ingin mewujudkan cita-cita ibunya, dan ia bekerja keras untuk bisa menjadi seorang penyanyi solo yang sukses seperti sekarang.

Lagu yang dinyanyikan Jae Joong untuknya beberapa saat lalu, For You, adalah lagu kesukaan mereka. Bahkan Jae Joong mengatakan pada Seung Mi saat pertama kalinya mereka bersama-sama mendengarkan lagu itu kalau lagu itu adalah lagu milik mereka berdua.

Seung Mi masih tersenyum sampai Jae Joong mengakhiri lagu itu.

“Kim Seung Mi, kau masih di sana?”

Seung Mi mengalihkan pandangannya dari ujung conversenya yang sejak tadi ia perhatikan ke sekeliling lokasi shooting dan bertemu pandang dengan asistennya. Asistennya sedang mengacungkan salah satu jempolnya ke arahnya, menandakan kalau semuanya sudah siap dan Seung Mi harus mengakhiri obrolan singkatnya bersama Jae Joong. “Ne, aku masih mendengarkanmu. Aku tidak mengerti bagaimana suaramu saat baru tidur tetap sama bagusnya dengan suara yang kau tampilkan di depan penggemar-penggemarmu.”

“Tentu saja, karena aku Kim Jae Joong.”

Seung Mi mendengus mendengar Jae Joong membanggakan dirinya, tapi sama sekali tidak berniat menyangkal pria itu. Untuk apa menyangkal kenyataan? Sama sekali tidak berguna.

“Jae Joong-a, aku harus melanjutkan shooting. Jangan lupa sarapan, ne? And good luck for the show.

“Arrasseo. By the way, thanks.”

Ada secuil perasaan kecewa yang muncul saat Jae Joong mengucapkan kata ‘bye’ dan mengakhiri sambungan telepon mereka. Rasa kecewa yang sama yang selalu muncul setiap Jae Joong harus mengakhiri obrolan mereka.

Seung Mi menghembuskan nafas pelan. “Semangat, Kim Seung Mi,” katanya pada dirinya sendiri. “Kau akan segera bertemu lagi dengannya.”

***

Seoul, January 20th 2023

A Hotel

“Your film is a big success!”

“Hehe. Thanks!”

Senyuman di wajah Seung Mi masih belum hilang. Hari ini perilisan filmnya dan film itu mendapat tanggapan yang positif. Tadinya ia berpikir kalau ia akan merayakan keberhasilan filmnya dengan makan malam bersama para kru malam ini, namun Kim Jae Joong secara mengejutkan datang dan menjemputnya.

Benar-benar persis dengan harapan Seung Mi.

Semua orang yang tahu kalau Sutradara Kim Seung Mi adalah sahabat karib dari penyanyi Kim Jae Joong, tapi orang-orang tidak tahu sedekat apa mereka sebenarnya atau bagaimana mereka bisa menjadi sahabat.

Tentu saja, Jae Joong membatasi diri saat mereka ada di tempat publik. Itu bisa dimengerti. Kalau Jae Joong tidak membatasi diri, kemungkinan orang-orang tidak akan percaya kalau mereka hanya bersahabat.

“Kita mau makan di mana?” Seung Mi menatap Jae Joong yang berjalan di sampingnya, lengkap dengan topi dan masker serta jaket tebal yang membuat badannya terlihat sedikit lebih besar. Terimakasih pada musim dingin, penyamaran pria itu tidak akan terlalu mencurigakan. Inilah alasan mengapa Seung Mi mulai menyukai musim dingin sejak Jae Joong menjadi penyanyi.

“Di tempat biasa,” jawab Jae Joong singkat. Mereka sedang berjalan menuju basement tempat Jae Joong memarkir Audi R8-nya.

Setelah itu Seung Mi tidak bertanya apa-apa lagi. Dia sudah tahu tempat yang dimaksud Jae joong. Dia dan Jae Joong sudah sepakat untuk tidak terlalu banyak bicara saat mereka ada di tempat umum, agar mereka tidak menarik perhatian.

Seung Mi ingin cepat-cepat masuk ke dalam mobil.

***

“Kapan kau kembali dari Jepang?”

Jae Joong menoleh sekilas ke arah Seung Mi yang duduk di sampingnya, lalu menjawab, ” Tanggal 3. Aku minta maaf tidak langsung menghubungimu karena aku sibuk sekali.”

Aku sedang menyiapkan sesuatu untukmu.

“Aku mengerti.” Jae Joong bisa melihat Seung Mi dari sudut matanya yang menyunggingkan senyum penuh pengertian kepadanya. Ah, Seung Mi memang selalu mengerti dirinya. Jae Joong merasa sedikit bersalah tidak memberitahukan alasan yang sebenarnya kepada Seung Mi.

“Aku sudah membaca beritanya. Konsermu sangat sukses. I’m proud of you.”

Jae Joong tersenyum lagi. Semua pujian yang ditujukan Seung Mi padanya selalu memiliki efek seperti ini.

Jae Joong menginjak rem saat lampu lalu lintas berganti menjadi merah lalu menatap Seung Mi. “Thanks. Hey, by the way, aku masih berhutang hadiah natal padamu.”

Seung Mi mengangguk. “Yup. Jadi, kapan aku akan mendapatkan sembilan persepuluh hadiah natalku?”

“Hanya delapan persepuluh,” Jae Joong menyunggingkan senyum mematikannya. Jae Joong bisa melihat tatapan protes dari Seung Mi sekilas sebelum ia kembali fokus pada lalu lintas Seoul malam itu yang cukup padat.

“Lalu sepersepuluhnya? Ya Kim Jae Joong, jangan mengurangi hadiahku seperti itu!”

“Kalau kau mau delapan persepuluh hadiahmu, besok kau harus mengikuti petunjuk yang akan kuberikan padamu. Sepersepuluh sisanya juga akan kau dapatkan besok. Besok jadwalmu kosong, kan? Aku juga. Jadi kau benar-benar harus datang kalau kau masih menginginkan hadiahmu. Arrasseo?”

Kening Seung Mi berkerut. Ia tidak mengerti sedikitpun yang Jae Joong katakan, tapi akhirnya ia hanya mengangguk.

Mendadak Seung Mi ingin memejamkan mata dan bangun lagi di hari berikutnya.

***

“2 mangkuk, Kim Seung Mi. Dan kau masih ingin menambah. Astaga, mana ada gadis yang makan sebanyak itu?”

“Ada, dan sahabatmu ini salah satunya.”

Seung Mi menandas habis isi mangkuk keduanya, tapi Jae Joong menghentikannya saat ia ingin meminta mangkuk yang ketiga. Seung Mi terpaksa hanya bertahan dengan segelas Vanilla Milkshake-nya sambil menunggu Jae Joong selesai menghabiskan Kimchi Jiggae-nya.

“Aku juga baru tahu ada orang yang minum Vanilla Milkshake setelah memakan Kimchi Jiggae.”

Seung Mi hanya tersenyum saat mendengar sindiran Jae Joong sambil meminum sedikit Vanilla Milkshake-nya yang tinggal setengah gelas. Seung Mi yakin dia sudah meminum milkshakenya sepelan mungkin, tapi tetap saja isi gelas itu habis dengan cepat.

“Nafsu makanmu terlalu besar.”

Well, kau sangat mengerti itu.”

Jae Joong mengangkat mangkuk itu dan mengarahkannya bibir mangkuk itu ke mulutnya, lalu menghabiskan isinya dengan kecepatan yang mengagumkan. “Ah, aku jadi ingat bagaimana pertama kali aku mengenalmu.”

Seung Mi tersenyum. Setelah ini Jae Joong pasti akan mengulang cerita perkenalan mereka dengan pandangan menerawang, mengenang kembali hari itu.

Hari yang tidak akan pernah disesalkan oleh Seung Mi.

“Hari itu roti di rumahku habis, dan aku tidak membawa makan siang. Aku lapar, tapi aku tidak punya uang untuk membeli makanan di kantin. Lalu kau datang dan menawarkan separuh dari spaghetti buatan ibumu. Itu pertama kalinya aku makan spaghetti. Setelah itu aku baru tahu kita sekelas. Kau ingat aku tidak punya teman dan tidak ada yang kukenal sama sekali di kelasku. Lalu setelah itu kau selalu menemaniku, dan aku baru tahu kalau punya sahabat itu sangat menyenangkan.”

“Yah Kim Jae Joong, waktu itu aku hanya kasihan karena melihatmu tidak makan disaat semua orang makan. Tapi ternyata kau orang yang menyenangkan, jadi aku memutuskan berteman denganmu.”

“Waktu itu kita masih di TK.”

“Kau benar. Tapi pada dasarnya aku memang orang yang baik, jadi—”

“Ya, dan pada dasarnya kau juga pemakan yang hebat.”

“Tunggu, mengapa kita mendebatkan hal ini? Sudahlah, ayo kita pulang saja, aku sudah mengantuk,” Seung Mi berusaha mengakhiri pembicaraan mereka yang entah mengapa berdampak bagi perasaannya yang sangat sensitif.”

“Tidak mau, aku senang melihat wajahmu memerah seperti itu.”

“Kim Jae Joong!”

“Wae?” Jae Joong berdiri kemudian menarik Seung Mi untuk berdiri dari kursinya, lalu menggandeng tangan gadis itu keluar dari restoran itu, sementara mereka masih melanjutkan perdebatan mereka.

***

Seoul, January 21th 2013

“Bangun, sudah pagi.”

“Masih menunggu? Sebegitu inginnya kau menerima hadiah natalmu? Well, tapi hadiah itu tidak akan datang secepat yang kau harapkan. Mandilah, lalu sarapan. Aku tidak mau kau sakit malam ini.”

“Aku yakin kau masih menunggu. Kau tidak pernah menolak hadiah, kan? Mandilah, nanti akan ada mobil yang menjemputmu. Supirku akan membawamu ke suatu tempat, dan kau akan tahu apa yang harus kau lakukan di sana.”

“Baju yang mana yang kau pilih? Aku yakin pilihanmu pasti bagus ^^. Kembalilah ke mobil, supirku akan membawamu ke suatu tempat lagi.”

“Apakah Yenny Jo sudah membuatmu merasa lebih cantik malam ini? Dia tidak pernah mengecawakanku, aku yakin dia sudah membuatmu sangat cantik malam ini. Ah, tapi tanpa pertolongannya pun kau sudah sangat cantik ^^. Sekarang, kembalilah ke mobil, dan kita akan segera bertemu!”

Itu pesan yang Seung Mi terima hari ini, dan selalu ia terima pada waktu yang tepat. Sepertinya orang itu memiliki indera keenam atau apa yang bisa menebak dengan tepat apa yang sedang ia lakukan. Atau mungkin supir itu melaporkan semua yang ia lakukan pada Jae Joong. Tapi tidak mungkin juga, karena supir itu menunggu di dalam mobil sepanjang waktu…

Apapun tujuan Jae Joong, yang jelas ini berhasil membuat Seung Mi menggelengkan kepalanya tidak percaya.

Supir itu mengantarkannya ke sebuah hotel bintang lima dan menyuruhnya naik ke lantai 7. Seung Mi menebak-nebak apa yang akan dilakukan Jae Joong setelah ini. Seung Mi memilih gaun berwarna hitam di atas lutut dan flat shoes berwarna sama, dan Yenny Jo membuat rambutnya menjadi 2 kali lipat lebih indah dari yang sebenarnya. Yenny Jo hanya memoleskan make-up natural di wajahnya, dan secara keseluruhan Seung Mi menyukai penampilannya sendiri malam ini.

Lift itu berhenti dan berdenting saat layarnya menunjukkan angka 7. Seung Mi melangkah keluar dari lift itu, dan dibuat bingung karena seluruh ruangan itu gelap.

Ini benar-benar lantai 7, kan?

Seung Mi hampir berbalik dan menekan tombol lift ketika suara seseorang dari pengeras suara membuatnya berbalik lagi.

eojjeom urin bokjapan inyeone…”

Lalu semuanya terjadi begitu saja. Jae Joong menggiringnya duduk, lalu membuat Seung Mi hanyut dalam suaranya…

Speechless.

Lampu sorot yang mengarah ke Jae Joong, ekspresi Jae Joong saat ia menyanyi…

“Seung mi-ya… Ini konser solo spesialku yang khusus hanya boleh dilihat olehmu. Kau suka? Maaf, aku tahu dari pagi ini aku terkesan mengerjaimu atau apapun. Aku benar-benar minta maaf. Bagaimana penampilanku? Kau suka? Aku menerima kritikan apapun yang kau berikan padaku. Oh, dan aku khusus memesankan Kimchi Jiggae dan Vanilla Milkshake untukmu. Kuharap kau belum bosan memakan itu semua.”

Jae Joong memamerkan senyum mautnya sambil tetap mengarahkan mic-nya di depan mulutnya. Benar-benar membuat Seung Mi sukses kehilangan kata-kata.

Kim Jae Joong memang penuh kejutan.

“Ini delapan persepuluh yang kumaksud… Sekarang, aku akan kembali menyanyi untukmu sementara kau menghabiskan makananmu, lalu setelah itu aku akan memberikan sepersepuluh sisa hadiahmu.”

Jae Joong menyanyikan lagu-lagu kesukaan Seung Mi seolah-olah itulah yang ingin ia katakan pada Seung Mi, dan Seung Mi tidak tahu apa yang harus ia katakan…

Jae Joong turun dari panggung setelah Seung Mi menghabiskan makanannya, dan berjalan ke tempat duduk Seung Mi.

“Sepersepuluh hadiahku?”

Seung Mi masih duduk di bangkunya saat Jae Joong menariknya berdiri, lalu menggenggam tangan kanan Seung Mi.

“Aku mungkin bukan orang paling romantis di dunia ini…” Jae Joong menatap kedua mata Seung Mi dengan intens, dan sukses membuat Seung Mi membeku di tempatnya.

“Aku sudah memikirkan puluhan cara. Mungkin membelikanmu bunga, atau mengajakmu menonton di bioskop, atau makan malam romantis di sebuah restoran mahal… sampai berlayar di tengah danau berdua. Aku sudah memikirkan puluhan cara, Kim Seung Mi. Puluhan cara bagaimana aku bisa mengatakan apa yang ingin aku katakan padamu yang sesuai dengan gayaku. Tapi tidak ada yang benar-benar sesuai dengan gayaku. Untuk mempersiapkan ini, aku butuh waktu lama… Waktu untuk meyakinkan dan memberanikan diriku sendiri.”

O-oh, sepertinya Seung Mi tahu kemana ini akan mengarah…

“Dengar, aku tidak yakin apakah aku bisa mengulanginya untuk kedua kalinya, jadi kumohon dengarkan aku.”

Jae Joong menarik nafas dalam-dalam, lalu…

“Kim Seung Mi, Saranghae.”

Speechless.

Jae Joong merengkuh pinggangnya dan menarik Seung Mi yang masih terpaku mendekat, dan membuat Seung Mi tidak dapat memikirkan apapun saat bibir pria itu menyentuh bibirnya. Lalu Seung Mi merasakan sesuatu yang dingin di jarinya…

“Kalau kau mau menolak, kau bisa mengembalikan cincin itu kepadaku.”

Seung Mi menurunkan pandangannya ke tangan kanannya, dan menatap cincin yang melingkar manis di jari manisnya.

“Bagaimana kalau aku tidak ingin mengembalikan cincin ini?”

***

Seoul, March 12th 2013

“Kim Jae Joong, kenapa harus tanggal 12 Maret? Memangnya tidak ada tanggal lain selain hari ini?”

Kim Jae Joong menatap gadis yang baru beberapa jam lalu resmi menjadi istrinya. Jae joong hanya memamerkan senyum setengahnya yang mematikan, seperti biasanya, dan tidak menjawab pertanyaan yang sudah ditanyakan gadis itu berulang kali untuk kesekian kalinya.

“Ah, biar saja. Jadi aku tidak repot mengingat 2 tanggal berbeda untuk 2 hal yang spesial. Kalau ingatanku menurun, setidaknya nanti aku hanya perlu mengingat 1 tanggal penting.”

“Kau sedang membayangkan menjadi tua?”

“Aish Kim Seung Mi, aku memang sudah tua dan akan semakin tua~”

“Kau ini. Menyebalkan sekali.”

“Bukankah memang selalu begitu?”

Seung Mi tidak bisa menahan senyumannya lebih lama lagi. “Tidak, kok. Kalau kau menyebalkan, aku tidak akan mau menikah denganmu.”

***

Jadi. Ini diketik kilat tanpa perencanaan apapun, dan selesai setelah menanyakan berbagai macam pertanyaan gapenting ke leadernim…

Leadernim, igeosseun neoui saengil seonmuliyeyo~ ^^

Leadernim, semoga anda suka TT

Gue tau banget ini samasekali ga nyambung sama lagunya… Mohon dimaklumi…

12 thoughts on “Promise You (Kim Jae Joong – Kim Seung Mi)

  1. AAAAAHHHHHH JAEJOOONGGG!!!!!!! INI BAGUS BANGET!!!!!!!!

    Btw, “Sebagian orang akan sulit percaya bagaimana seorang Kim Jae Joong, yang dikenal sangat manly dan sebagainya, suka memasak dan membereskan rumah. Itu cewek sekali.” Troll banget hahahaha

  2. OHMYGOD GUE SUKA BANGET OKE. SUKA. BANGET.
    JIYOUNG-AH SARANGHAEEEEEEE :**
    BTW ULANGTAHUN GUE 12 MARET ^^ (kalo itu yang lu maksud)
    TAU GA SIH HARUSNYA JUDUL FF INI ITU FOR YOU AJA
    KENAPA DI HOTEL DIA CUMA NYANYIIN BARIS PERTAMA
    OKAY I’M LITERALLY CRYING OUT OF HAPPINESS
    GOMAWOOOOOOOOO DANIAAAAAAAAA :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s