Wasurenaide (Cho Kyuhyun-Park jihyun)

Nowon, 1994

Namja kecil itu berlari-lari kecil ke depan sebuah rumah.

“PARK JIHYUN!” Kyuhyun berteriak memanggil nama sahabatnya. Kyuhyun mengetuk-ngetukkan kakinya, tidak sabar menunggu sahabatnya keluar dari rumahnya.

Park Jihyun keluar dengan mata sembap dan rambut kusut. Keadaanya benar-benar memprihatinkan. Kyuhyun berlari menghampiri Jihyun dan mengguncang-guncangkan bahu gadis kecil itu.

“Apa benar kau akan pindah?”

Jihyun menggigit bibirnya menahan tangis yang akan pecah lagi, lalu mengangguk.

“Kenapa kau tidak pernah memberitahuku tentang hal ini?”

“Aku tidak mau membuatmu sedih Kyu.”

“Kapan kau kembali?”

Jihyun menggeleng pelan. Air matanya masih menetes.

“Aku tidak tau. Mungkin aku dan keluargaku tidak akan pernah kembali ke Korea. Kami sekeluarga akan pindah ke Amerika. Appa harus menyelesaikan pekerjaannya di situ.”

Kyuhyun menghela napas dan memandang Jihyun.

“Meskipun kita berpisah sekarang, aku tidak akan pernah melupakanmu. Dan aku harap kau juga tidak melupakanku. Aku yakin kita akan bertemu lagi nanti.”

Jihyun mengangguk dan tersenyum.

“Aku akan selalu mengingatmu.”

***

I sit on my bed
I think of you
If only I could see you, I want to see you
Just this feeling, it’s enough

This dredge of a memory grows stronger
A short message from you
Tightens my chest a little but
I want to continue watching over an eternal happiness

Seoul, 2012

“KYAAA KYUHYUN OPPA SARANGHAE!” Suara yeoja-yeoja itu seperti bisa memecahkan telinga Kyuhyun saat ini. Super Junior baru saja sampai di bandara Incheon dan suara para yeoja itu sangat memekakkan telinga.

“Ya, Kyuhyun-a ramahlah sedikit pada para fansmu.” Leeteuk berbisik pada Kyuhyun yang hanya terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun pada kerumunan yeoja yang rela menunggu mereka di bandara saat suhu udara telah mencapai -2 derajat.

Kyuhyun mendengus dan balas berbisik pada Leeteuk. “Aku tidak sepertimu yang suka beramah-tamah kepada semua orang yang bahkan tidak kau kenal.”

Leeteuk menggeleng-gelengkan kepalanya. “Terserah kau sajalah Kyu.”

Kyuhyun mempercepat langkahnya. Ia ingin segera masuk mobil dan tidur. Ia butuh istirahat. World tour itu memang sangat melelahkan. Sejujurnya Kyuhyun sangat jenuh menjadi seorang artis. Apapun yang dia lakukan akan selalu muncul di media sosial. Dan yang paling melelahkan adalah ia tidak bisa berkencan secara terang-terangan seperti kebanyakan orang normal lainnya.

Setiap kali ia akhirnya berani mengajak seorang yeoja untuk pergi bersamanya, pasti besok pagi akan ada berita tentangnya dan yeoja itu. Kyuhyun sudah terlalu sering menghadapi scandal-scandal semacam itu.

“Ya, cepat masuk ke mobil. Sampai kapan kau akan berdiri di situ?” Leeteuk berteriak pada Kyuhyun yang masih berdiri di depan mobil.

Kyuhyun tersadar dari lamunannya dan segera masuk ke dalam mobil.

“Apa aku ada jadwal setelah ini hyung?” Kyuhyun bertanya kepada manager yang duduk di bangku pengemudi.

“Tidak ada Kyu. Hari ini kau bebas.”

Kyuhyun tersenyum. Bagus. Ia bisa bersenang-senang hari ini.

***

“KYAAA KYUHYUN OPPA SARANGHAE!”

Teriakan yeoja-yeoja itu membuat Jihyun menoleh lagi ke arah gerbang kedatangan. Kyuhyun? Apa ia tidak salah mendengar? Kyuhyun. Entah sudah berapa lama Jihyun memikirkan nama itu. Mungkin sudah lebih dari 10 tahun.

Jihyun baru saja kembali dari Amerika dan datang ke Korea untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir. Kehidupannya di Amerika sudah sempurna, setidaknya itu menurut teman-temannya dan orang-orang di sekitarnya. Tapi kenyataannya Jihyun sangat tersiksa. Jihyun memang memiliki rumah mewah dan besar, tas-tas bermerk mahal, mobil mewah, bersekolah di salah satu univertas terfavorit di dunia, dan masih banyak lagi hal-hal yang dapat membuat orang lain bahagia jika mereka memilikinya. Tapi sekali lagi. Itu semua sama sekali tidak dapat membuat Jihyun bahagia.

Hati Jihyun kosong. Puluhan namja menyatakan perasaan pada Jihyun dan Jihyun menolak mereka mentah-mentah. Hatinya masih sama seperti terakhir kali ia meninggalkan Korea. Hanya untuk namja itu. Cho Kyuhyun. Namja yang saat ia akan pergi berjanji tidak akan pernah melupakannya dan juga menuruh Jihyun untuk tidak melupakannya.

Jihyun berjinjit sedikit. Berusaha melihat orang-orang yang keluar dari gerbang keberangkatan. Tubuhnya membeku saat melihat seorang namja yang berjalan terus tanpa menoleh ke arah yeoja-yeoja yang meneriaki nama mereka terus-menerus. Namja itu termasuk tinggi di antara orang-orang yang berjalan di sampingnya. Namja itu menggunakan masker dan kaca mata hitam. Meskipun sebagian wajahnya tertutup, Jihyun tetap mengenal namja itu.

Jadi sekarang dia mejadi artis? Jihyun mengutuk dirinya sendiri karena dia memang tidak pernah mencari tau artis apa yang sedang booming atau naik daun di Korea. Berdasarkan spanduk dan banner yang dibawa yeoja-yeoja itu, Jihyun mengetahui bahwa Kyuhyun adalah anggota sebuah boyband, mungkin. Oh, namanya Super Junior.

Jihyun tersenyum miris. Dia sudah terkenal. Pasti dia tidak mengingat Jihyun lagi. Jihyun yakin itu. Jihyun masih berdiri terpaku saat Kyuhyun sudah melangkah keluar dari gerbang kedatangan. Jihyun ragu-ragu, apakah ia harus mengejar Kyuhyun? Dan Jihyun memutuskan untuk tidak mengejarnya. Kalau mereka memang berjodoh pasti mereka akan bertemu lagi.

***

Dan mereka bertemu lagi. Entah karena memang berjodoh atau mereka hanya bertemu secara tidak sengaja, Jihyun juga tidak tahu. Jihyun cukup kaget saat melihat banyak perubahan pada wajah Kyuhyun. Jihyun mengakui, sejak kecil Kyuhyun memang memiliki wajah di atas rata-rata. Tapi sekarang.. Kyuhyun seperti bertambah tampan berpuluh-puluh kali lipat. Setidaknya semua foto-foto Kyuhyun yang Jihyun cari di internet seperti semakin meyakinkan Jihyun bahwa Kyuhyun telah berubah 180 derajat.

Sebenarnya Jihyun hanya berencana untuk membeli bahan-bahan makanan di supermarket terdekat dan ia tidak menyangka bahwa seorang artis besar seperti Kyuhyun juga bisa pergi berkeliaran ke supermarket dan membeli beberapa botol minuman kaleng tanpa menggunakan penyamaran apapun.

Mereka berpapasan dan Kyuhyun bahkan tidak meliriknya. Jihyun sudah mengira pasti Kyuhyun tidak akan mengingatnya. Bahkan kau yang menyuruhku untuk tidak melupakanmu, Jihyun mendengus.

Dan sekarang Jihyun memutuskan untuk mengikuti Kyuhyun sampai ke depan supermarket itu dan menepuk pundaknya. Kyuhyun sedikit kaget dan saat melihat Jihyun, ia mengerutkan keningnya.

“Maaf, kau… rasanya dulu kita pernah bertemu.”

“Emm.. Aku… Jihyun. Park Jihyun. Apa kau masih mengingatku Kyu?”

Kyuhyun mengerjap-ngerjapkan matanya. Berusaha untuk mengingat lebih jauh.

“Aah, kau dulu juga tinggal di Nowon kan?” Kyuhyun tersenyum.

“Ya. Dulu aku tinggal di Nowon bersama keluargaku.” Perasaan hangat memenuhi hati Jihyun. Jihyun senang, akhirnya Kyuhyun mengingat meskipun hanya sedikit tentang dirinya.

Kyuhyun menepuk tangannya.

“Aku ingat. Dulu kau dan aku selalu bermain bersama setiap hari kan?”

Jihyun mengangguk pelan.

“Dan kau tiba-tiba pergi meninggalkanku. Kau pindah ke luar negeri bersama keluargamu.”

Jihyun terperangah.

“Jadi kau sudah mengingat semuanya Kyu?”

Keruom. Kau meremehkan ingatan seorang Cho Kyuhyun?” Kyuhyun mengeluarkan evil smirk-nya.

Jihyun tersenyum lega. Setidaknya masih ada kemungkinan ia dapat dekat dengan Kyuhyun lagi seperti dulu.

Kyuhyun merogoh saku celananya dan mengambil handphone-nya.

“Ya berapa nomormu?”

Jihyun sedikit terkejut dengan pertanyaan Kyuhyun barusan dan langsung menyebut nomor handphone-nya sendiri. Tidak lama kemudian handphone Jihyun berbunyi dan sederet nomor yang tidak dikenalnya muncul di layar handphone-nya.

“Itu nomorku. Simpan baik-baik. Kau harus bangga karena bisa mendapat nomor handphone dari magnae super junior ini.” Kyuhyun tersenyum bangga.

“Kalau begitu, aku pergi duluan. Aku masih ada jadwal setelah ini.” Kyuhyun tersenyum dan melangkah menuju mobilnya.

Jihyun hanya bisa memandang punggung Kyuhyun yang semakin menjauh dengan wajah bodohnya.

***

“Naega saranghan S.P.Y.
Geunyeoreul jjocha day and night
Japhil deut japhiji anha
Geurimjacheoreom butjiman
..”

 

Ringtone handphone membangunkan Jihyun dari tidur nyenyaknya. Jihyun mengucek mataya dan meraih handphone yang tergeletak di samping tempat tidurnya.

Jihyun melirik layar handphonenya, bermaksud menekan tombol reject. Jihyun mengutuk siapapun yang meneleponnya di hari sepagi ini. Tangan Jihyun hampir menekan tombol merah saat matanya membaca tulisan yang tertera di layar handphone-nya. Cho Kyuhyun.

Jihyun membelalakkan matanya dan langsung mengangkat panggilan itu.

“Yoo..Yobosseo.”

“Ya kau butuh waktu berapa lama sih hanya untuk mengangkat telepon?”

 

“Aah, Kyuhyun-a. Mianhae, tadi aku masih tidur.” Jihyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Cih bahkan aku yang laki-laki bangun lebih awal darimu.” Terdengar jelas nada kesal dari cara bicara Kyuhyun. “Sudahlah itu tidak penting. Oh iya, apa hari ini kau ada acara?”

 

“Tidak. Hari ini..kebetulan aku libur.”

“Bagus. Jam 12 nanti kutunggu kau di Kona Beans.”

 

Belum sempat Jihyun membalas perkataan Kyuhyun, Kyuhyun sudah menutup teleponnya.

Jihyun menatap layar handphone-nya dengan tatapan tidak percaya. Nampaknya hubungannya dengan Kyuhyun dapat kembali seperti dulu lagi. Jihyun harap.

***

Jihyun memajukan mobilnya dengan kecepatan maksimum dan ia hampir ditangkap polisi karena ia dengan terpaksa melanggar beberapa rambu lalu lintas. Jihyun mengutuk dirinya sendiri. Kalau ia tidak terlalu lama memilih satu baju untuk dipakainya. Jihyun sampai berkali-kali melepas dan mengganti baju yang dipakainya dengan baju lain. Entahlah. Jihyun terlalu gugup.

Jihyun mempercepat langkahnya dan mendorong pintu kafe di depannya. Jihyun mengederkan pandangan ke sekelilingnya, mencari Kyuhyun di antara orang-orang yang ada di kafe itu.

Kyuhyun duduk di sudut kafe dan sedang memainkan psp kesayangannya. Jihyun berjalan mendekatinya dan berdiri di depan meja. Jihyun hanya memandangi wajah Kyuhyun yang seperti anak kecil saat bermain game. Matanya yang indah, hidungnya yang meruncing mancung, dan bibirnya yang tebal. Jihyun sadar, ia masih mencintai pria itu dan menginginkannya.

Kyuhyun mengangkat wajahnya dari psp-nya dan mengangkat alisnya saat mendapati Jihyun yang sedang memandangi dirinya.

Pipi Jihyun bersemu merah saat tertangkap basah sedang memandang Kyuhyun.

“Sampai kapan kau akan berdiri di situ?”

Jihyun terkesiap dan langsung duduk dengan canggung di hadapan Kyuhyun.

“Jadi, ceritakan apa yang kau lakukan selama ini?” Kyuhyun mencondongkan badannya dan meletakkan tangannya di atas meja.

“Tidak banyak… Aku bekerja di perusahaan ayahku dan aku pulang ke Seoul untuk mengurus cabang baru yang baru dibuka di sini.” Jihyun berdehem sebelum melanjutkan. “Sekarang ceritakan tentang apa yang kau lakukan selama ini?”

“Apa kau tidak mengetahui boyband bernama Super Junior?”

“Tentu saja aku tau.” Kenyatannya Jihyun baru beberapa hari yang lalu mengetahui bahwa ada boyband bersama Super Junior.

“Aku bekerja sebagai penyanyi. Tidak ada yang bisa diceritakan.” Kyuhyun mengangkat bahunya.

“Jihyun-a, sebaiknya kita pergi dari sini. Kafe sudah mulai ramai dan aku tidak mau mebuat scandal.”

Jihyun mengangguk dan bangkit dari kursinya. Kyuhyun menarik tangan Jihyun.

“Kkaja.”

***

Sejak hari itu mereka selalu bertemu di setiap Kyuhyun mempunyai waktu luang di sela-sela jadwalnya yang padat. Dan kemarin Kyuhyun meneleponnya dan memintanya untuk datang ke sebuah restoran hari ini.

Kali ini, Jihyun datang lebih dulu dari Kyuhyun. 10 menit kemudian Kyuhyun datang dan menghampiri Jihyun dengan wajah berseri-seri.

“Jihyun-a, hari ini aku ingin mengenalkan seseorang kepadamu.”

“Nuguya?”

Kyuhyun tersenyum dan mengeluarkan handphone-nya. Ia menekan beberapa nomor dan menempelkan handphone-nya di telinganya.

“Kau bisa masuk sekarang.” Kyuhyun berkata pada seseorang yang ada di seberang telepon.

Tidak sampai 1 menit kemudian, seorang gadis bertubuh tinggi dan berwajah cantik masuk ke dalam restoran dan menghampiri meja yang sudah diduduki Kyuhyun dan Jihyun.

Gadis itu tersenyum kepada Kyuhyun dan Kyuhyun menarik gadis itu mendekat ke arahnya.

“Kenalkan, ini Cho Jiyoung.” Kyuhyun memandang Jiyoung sebentar dan melanjutkan. “Tunanganku.”

Jihyun menatap Kyuhyun tidak percaya. Jihyun tidak dapat mengatakan sepatah kata-pun.

“Maafkan aku Jihyun-a, sebenarnya aku sudah ingin mengenalkanmu pada Jiyoung dari dulu, tapi aku baru bisa mengenalkannya pada-mu sekarang.” Kyuhyun masih tersenyum.

Jihyun mati-matian menahan air matanya yang akan tumpah. Jihyun bangkit berdiri.

“Mi..mianhae Kyu, aku harus pergi sekarang.” Tanpa berkata apa-apa lagi Jihyun berlari meninggalkan restoran itu.

***

5 years later

Semenjak kejadian di restoran itu, Jihyun memutuskan untuk menjauh dari Kyuhyun. Jihyun mengabaikan semua sms dan telepon dari Kyuhun. Jihyun bahkan tidak mempercayai mata dan telinganya sendiri saat melihat Kyuhyun memperkenalkan seorang gadis sebagai tunangannya. Jihyun selalu berpikir bahwa ia bisa mendapatkan Kyuhyun.

Sejak itu, Jihyun pulang kembali ke Amerika dan berubah menjadi orang yang dingin. Eomma dan appanya bahkan berusaha mengenalkan Jihyun kepada anak-anak dari kolega atau rekan bisnis mereka tapi Jihyun selalu menolak dan lebih memilih untuk menulis lagu untuk mengisi waktu luangnya.

Jihyun selalu menumpahkan semua perasannya di dalam lagu-lagu yang dibuatnya dan keadaan Jihyun saat ini bisa dibilang buruk. Tidak, sangat buruk bahkan.

Jihyun sudah tidak peduli lagi dengan penampilannya dan juga Jihyun lebih memilih terus mengurung diri di kamarnya sepanjang hari.

Hari ini, dengan terpaksa Jihyun kembali lagi ke Seoul. Eommanya membuka sebuah toko baju di Seoul dan Jihyun harus membantunya.

Sesampainya di Seoul, Jihyun langsung menyibukkan diri dengan toko baju ibunya dan ia berusaha membuang jauh-jauh semua yang berhubungan dengan sesorang bernama Cho Kyuhyun.

Jihyun hampir menangis saat TV di toko ibunya menayangkan acara comeback stage Super Junior dan Jihyun melihat Kyuhyun menyanyi dengan suara indahnya.

Jihyun memutuskan untuk cepat-cepat menyelesaikan semua urusannya di Seoul dan kembali ke Amerika secepatnya. Jihyun tidak sanggup berhadapan dengan hal-hal yang berhubungan dengan Kyuhyun.

To become the wind an go forth


Fly to a world with you in it right now


Just to see you, just to see you


Please don’t forget, I’m waiting for you

Malam ini, Jihyun memutuskan untuk pergi ke bar terdekat dan meneguk beberapa gelas soju. Jihyun sengaja membuat dirinya sendiri mabuk dan kehilangan kesadaran. Jihyun ingin melupakan Kyuhyun sebentar saja.

Dan di sinilah dia. Duduk di kursi bar dan mulai meneguk gelas soju-nya yang ke-3. Mungkin Jihyun berlebihan. Jihyun tau itu. Tapi ia harus melakukan hal semacam hangover untuk menguatkan hatinya sendiri.

Saat mencapai gelas yang ke-5, Jihyun memutuskan untuk berhenti inum karena ia sudah merasakan matanya berkunang-kunang dan Jihyun tidak dapat berjalan dengan benar. Jihyun masih sadar bahwa ia harus mengendarai mobil.

Jihyun keluar dari bar dengan langkah gontai dan masuk ke mobilnya. JIhyun tidak yakin, ia bisa membawa mobil dengan benar atau tidak, dan apakah ia bisa selamat sampai di rumahnya.

Jihyun menginjak pedal gas dan mulai memajukan mobilnya. Jihyun ingin mengendarai mobil dengan pelan tetapi entah kenapa badannya sangat panas dan akhirnya Jihyun menginjak pedal gas lebih dalam dan mobilnya melaju dengan kecepatan maksimal.

Di depan ada tikungan dan Jihyun tau bahwa ia harus memperlambat mobilnya supaya dapat berbelok dengan benar. Tapi belum sempat Jihyun memperlambat mobilnya, sebuah mobil datang dari arah berlawanan dan tanpa dapat dihindari, mobil Jihyun menabrak mobil itu.

Jihyun menginjak rem tapi terlambat. Mobil mereka bertabrakan dan kepala Jihyun tidak terluka berkat airbag. Jihyun yang setengah sadar merasakan ketakutan yang sangat besar menjalari seluruh tubuhnya.

Jihyun berusaha membelokkan mobilnya dan meninggalkan mobil serta orang yang Jihyun sendiri ragu, apakah ia selamat atau tidak. Jihyun memajukan mobilnya dan pulang ke rumahnya, berusaha seperti tidak terjadi apa-apa barusan.

***

Jihyun bangun dengan kepala yang sangat pusing, efek soju mungkin dan juga Jihyun tidak bisa berhenti memikirkan apa yang terjadi pada orang yang semalam ditabraknya.

JIhyun meraih remote TV dan menyalakannya.

“…Cho Kyuhyun, anggota Super Junior mengalami kecelakaan kemarin malam dan menurut saksi mata , Cho Kyuhyun ditabrak lari oleh sebuah mobil. Sampai sekarang, polisi masih belum menemukan pelaku dari tabrak lari ini…”

Tubuh Jihyun membeku. Jadi…orang yang semalam ia tabrak adalah Kyuhyun? Ya Tuhan, Jihyun sama sekali tidak menyangka. Dering handphone membunyikan lamunan Jihyun.

“Yobosseo.”

“Yo..yobosseo, apakah ini Park Jihyun?”

“I-iya.”

“Jihyun-ssi, aku Cho Jiyoung. Aku hanya ingin mengabarkan, Kyuhyun telah meninggal pagi ini.”

Jihyun menjatuhkan handphonenya. Ia sama sekali tidak mempercayai apa yang terjadi. Ia telah membunuh seorang Cho Kyuhyun. Cinta pertamanya, dan juga cinta terakhirnya.

Jihyun menangis. Menangisi dirinya, menangisi Kyuhyun, menangisi nasibnya. Jihyun sangat menyesal. Jihyun sadar semua telah berlalu dan Jihyun bahkan baru mengenal Kyuhyun kembali selama beberapa bulan. Kalau bisa, Jihyun ingin mengulang waktu. Ia akan merelakan Kyuhyun bertunangan asalkan Kyuhyun bisa bahagia.

Jihyun masih menangis saat menyadari ada sebuah surat yang tergeletak di atas meja. Jihyun membuka surat itu dan tangisnya bertambah parah saat ia mulai membaca surat itu.

Dear, Park Jihyun

Jihyun-a, aku bahagia saat kita bisa bertemu lagi setelah belasan tahun kita terpisah. Dan aku mengutuk diriku sendiri saat aku tidak mengenalimu pertama kali kita bertemu. Bahkan kau yang harus menepuk pundakku. Kalau kau tidak melakukan itu kita tidak akan pernah bertemu sampai sekarang.

Jujur, aku tidak tahu apa yang membuatmu tiba-tiba pergi pada saat itu, saat aku mengenalkan Jiyoung kepadamu. Aku sangat frustrasi saat kau mengabaikan semua sms dan teleponku. Jiyoung mengatakan kepadaku, tatapan matamu kepadaku adalah tatapan seorang gadis kepada pria yang disukainya. Apa itu benar? Kau menyukaiku? Itu tidak benar kan?

Intinya, Jihyun-a, aku hanya ingin minta maaf kalau aku pernah berbuat salah sampai membuatmu tidak mau bertemuku lagi. Aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita lagi.

Nah, aku akan mengakhiri surat ini karena, jujur, aku merasa aneh saat menulis surat karena aku tidak pandai merangkai kata-kata. Oke, aku akan meneleponmu dalam waktu dekat. Annyeong~^^

Cho Kyuhyun

Jihyun jatuh terduduk dan keadaannya masih sama seperti tadi. Jihyun masih menangis tersedu-sedu. Jihyun menghapus air matanya. Jihyun yakin ia tidak akan bisa hidup dengan benar setelah ini. Jihyun yakin hidupnya akan kacau tanpa Kyuhyun. Kyuhyun bukan hanya pergi dengan wanita lain, tapi Kyuhyun pergi selama-lamanya.

Jihyun mulai menghentikan tangisnya dan tersenyum tanpa nyawa.

Often on this road
I could feel your shadow


I close my eyes quietly and pray


As if that way you won’t disappear

This wound, it deepens Before dawn breaks, in this night you touched


With your scent around me, I miss you, baby

As always it comes down to nothing


I’d hold your hand tighter, as if that way you wouldn’t leave

Please don’t forget, I am here

***

7 thoughts on “Wasurenaide (Cho Kyuhyun-Park jihyun)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s