Summer Dream (Kris – Song Ji Na)

Image

I always feel overflowing MUSIC

Passing through the sun

The heart that desire each other across the sky

WE ARE we can become one

The more I think it’s important, it hurts my heart

I wish the time stops forever in this place

 

Ia bisa merasakan angin pantai yang mengenai mukanya sangat segar, setelah 2 tahun akhirnya ia bisa kembali lagi ke Heundae pantai yang menjadi tempat favorite baginya dan juga laki-laki itu.

Ia kembali melihat laki-laki itu Laki-laki yang tidak keberatan dipanggil oppa meskipun ia bukan orang Korea. Ia sangat senang bisa melihatnya lagi, tapi pikiran itu lagi-lagi mengusiknya. Apakah ia masih mengingatnya? Apakah ia masih mengingat janjinya? 2 tahun bukanlah waktu yang singkat, tapi ia sudah menepati janjinya. Ia sudah sukses, ia sudah kembali ke Korea.

“Oppa…”

Setelah memanggilnya, ia merasakan sesuatu yang belum ia rasakan sejak ia pergi. Ia kembali merasakan musim panas 2 tahun lalu saat pertama kali mereka bertemu.

***

“Song Ji Na-ssi? Selamat, kau bisa bekerja disini selama musim panas.”

Ji Na baru saja menyelesaikan SMAnya di Seoul dan sekarang ia sedang menikmati liburannya di Busan. Ia melamar kerja di salah satu summer camp ternama milik keluarganya di Busan. Tempat kerjanya sangat menyenangkan, terletak di pantai Heundae. Ia juga sangat menyukai anak-anak jadi tempat kerja ini dianggapnya sangat cocok.

“Ji Na-ssi, apa kau pernah melihat anak pemilik camp ini?”

“Tidak, kenapa?”

“Tidak, tidak ada yang pernah melihatnya. Aku penasaran. Semua orang bilang mereka seperti pangeran.”

“Ya mungkin.”

“Namanya Kevin!”

Ji Na meninggalkan temannya. Ia tidak terlalu peduli dengan gossip-gossip itu, menurutnya yang penting sekarang adalah menikmati liburan tanpa gangguan. Hanya itu tujuannya ke Busan. Karena setelah ini ia akan pergi ke  Canada untuk melanjutkan sekolahnya. Lagipula, tentu saja ia sudah pernah bertemu Kevin. Kevin adalah saudaranya dan karena itu juga ia berada disini.

***

“Ji Na, tolong kau ajak anak-anak memberi makan ikan ya.”

“Ne”

Di belakang camp itu ada sebuah kolam ikan yang cukup besar dan biasanya anak-anak akan memberi makan ikan-ikan itu setelah mereka makan siang, kira-kira jam 1 siang. Ji Na berjalan bersama anak-anak dibelakangnya. Mereka semua terlihat sangat senang, berjalan bergandengan, dan tertawa-tawa.

“Nah, sekarang kalian beri makanan itu pada ikan-ikan ini ya. Jangan terlalu banyak.”

“Ne, nuna. Eonni”

Ji Na tersenyum melihat mereka. Lalu tiba-tiba terdengar suara teriakan dari belakangnya.

“AAAAA!”

Dan setelah itu Ji Na terdorong masuk kedalam kolam ikan yang ada didepannya tadi. Ji Na mendongakan kepalanya ketika orang yang menabraknya mengulurkan tangan. Baru saja ia akan memaki-makinya tapi muka bersalah pemuda didepannya ini membuatnya mengurungkan niat itu. Pemuda yang sangat tampan, mukanya terlihat ramah namun juga tegas.

gwenchana?”

 

“Ya, neo gwenchana?”

Pemuda itu mengulangi kembali kata-katanya karena perempuan yang sekarang masih terduduk di kolam ikan itu sepertinya hanya sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Ah-a, ne.”

“I’m Kris. Umm, maaf bahasa Korea-ku kurang bagus.”

“Oh, Song Ji Na imnida.”

Lalu Kris membantu Ji Na keluar dari kolam itu dan semua anak perempuan yang ada di sekitar mereka hanya tersenyum sambil sedikit berteriak karena melihat adegan didepan mereka. Astaga ini sangat memalukan bagi Ji Na tapi bagi Kris ini sama sekali bukan apa-apa. Gadis yang sekarang menggenggam tangannya ini membuatnya sangat penasaran.

“Jadi, Ji Na? Apa kita bisa makan siang bersama?”

“Ya, tentu? Tapi aku harus kembali bekerja sekarang.”

***

Entah mengapa jantung Ji Na beredegup sangat cepat hanya karena bertemu Kris tadi. Ia bahkan tidak tahu siapa dia. Selama beberapa jam ia bekerja disini, ia sama sekali belum melihat dia. Apa dia tidak bekerja disini? Tapi bagaimana ia bisa masuk ke area camp dengan mudah?

“Ji Na-ya! Tadi ku dengar Kevin kesini!”

“Kevin?”

“Astaga, anak pemilik camp yang tadi kuceritakan.”

Ya Tuhan, ada apa dengan temannya ini. Ji Na benar-benar sedang tidak bisa berpikir jernih. Ia hanya mengingat mata  Kris tadi. Ia tidak percaya selama ini ia menghina teman-temannya yang bisa tiba-tiba suka pada seseorang namun sekarang ia mengalaminya sendiri.

***

         Because we’ve been waiting for this season

MOVE ON we’ll find brightness

My body rustles and something seems to happen

Follow what you want and go to the place you believe

 

Kris berjalan menyusuri pantai. Malam ini bisa dibilang malam terburuk sepanjang tahun. Ia baru saja menangkap basah pacarnya berselingkuh. Tidak, ia tidak secara terang-terangan melihatnya. Namun tadi ia mendengar suara laki-laki memanggil nama mantan pacarnya dengan nada yang tidak ingin ia ingat lagi. Sial, malam ini seharusnya menjadi malam musim panas pertama yang indah. Ia berjalan dengan agak gontai meskipun ia tidak mabuk, ia masih sangat kesal dengan perlakuan mantan pacarnya. Ia terduduk di pinggir pantai sambil memeggang segelas minuman bersoda yang tiba-tiba saja terjatuh karena seseorang memukulnya.

“Ya! Jangan mabuk disini! Kau pikir aku tidak melihatmu? Kau berjalan gontai sekarang masih mau minum-minum didekat camp anak-anak?”

Perempuan itu memarahinya dengan sangat lancar. Kris mengedipkan mata beberapa kali. Astaga, ini adalah perempuan yang ia tabrak tadi siang, dan perempuan ini menuduhnya mabuk-mabukan di camp.

“Pergi!”

Ia ingin sekali tertawa melihat tingkah gadis ini. Ji Na terlihat takut namun juga marah disaat yang bersamaan, membuat Kris semakin ingin menggodanya.

“ha—Apa ka-kau bilang?” Kris menjawab sambil bergaya mabuk.

Lihat ekspresi wajah gadis itu menjadi semakin lucu dan takut.

“Hahaha, jangan menatapku begitu. Aku tidak mabuk, dan ini bukan bir.”

Ji Na menatap Kris dengan tatapan tidak percaya. Apa laki-laki ini serius? Ia membuatnya malu karena sudah menuduh dan menjatuhkan kaleng minuman miliknya dan sekarang ia menertawainya.

“Ter-terserah kau saja!”

Ji Na lalu bergegas pergi namun tanpa disangka tangannya tertahan. Kris menggenggam tangan Ji Na mencegahnya untuk pergi.

“Bisakah kau menemaniku? Aku tahu aku sedang sangat berantakan, tapi aku butuh teman dan aku sama sekali tidak punya satu disini.”

“A-apa?” Ji Na tertegun mendengar perkataan Kris namun ada sesuatu dalam dirinya yang membuat dia ingin mengenal Kris dan ia pun menganggukan kepala.

“Bagus! Mulai sekarang kau harus menemaniku kapanpun aku mau.”

“Mwo? Mana mungkin! Aku harus bekerja.”

“Tidak apa-apa ayahku tidak akan keberatan.”

“Ayahmu?”

“Iya, pemilik camp ini.”

***

         Tidak mungkin. Ji Na masih tidak percaya Kris adalah anak pemilik camp ini. Menurut temannya nama anak pemilik camp ini adalah Kevin, dan yang ia tahu Kevin adalah anak satu-satunya.

“Kau bohong kan?”

“Tidak, ayahku benar-benar pemilik camp ini.”

“Lalu, Kevin?”

“Kevin? Dia sahabatku sejak kecil. Ayahnya dan ayahku bekerja sama membuat camp ini.”

Dalam hati sebenarnya Kris ingin sekali bertanya dari mana ia tahu Kevin.  Sejak Kris datang ke camp ini sebulan lalu ia sama sekali belum bertemu Kevin, bagaimana gadis ini tahu tentang dia. Tapi yasudahlah biarkan saja, Kris tidak mau ambil pusing tentang mereka.

***

         Hari-hari musim panas mereka sangat menyenangkan. Kris akan makan bersama Ji Na setiap jam makan siang dan Ji Na akan memasakkan Kris makan malam setiap malamnya. Ji Na memang sangat gemar masak dan masakannya juga sangat enak jadi tidak heran kalau Kris tidak keberatan dimasakinya setiap malam.

“Ji Na, kita sudah mengenal kira-kira 3 minggu? Aku tahu ini sangat cepat tapi sepertinya aku menyukaimu.”

Ji Na tertegun melihat mata Kris dalam-dalam.

Sial. Kris merutuki dirinya dalam hati bagaimana kata-kata itu bisa keluar dari mulutnya, astaga sekarang pasti Ji Na tidak mau lagi bertemu dengannya, dan dia bisa gila jika benar-benar begitu. Namun tanpa ia sangka Ji Na malah memeluknya dengan tiba-tiba membuatnya sangat kaget.

“Terima kasih, Kris.”

***

         Hari Minggu. Hari ini Ji Na dan Kris akan berkencan. Mereka sudah sepakat untuk menghabiskan hari minggu untuk bermain di arena bermain di pantai. Kris sudah menyiapkan semuanya dan ia yakin Ji Na akan sangat menyukainya. Makan malam, bermain bersama. Ia akan sangat senang.

“Oppa!”

Suara itu memanggil Kris, wajahnya sangat lucu ketika ia berlari kearah Kris. Ia telat 5 menit, namun wajahnya yang lucu membuat Kris tidak bisa memarahinya. Dan yang membuatnya lebih terkejut adalah, oppa. Ini pertama kalinya Ji Na memanggilnya oppa, terdengar asing namun menyenangkan.

“Oppa? Haha. Apa kau mencoba merayuku dengan kata-kata itu?”

“Apa? Tidak!”

Muka Ji Na berubah warna menjadi merah karena kata-kata yang dilemparkan Kris padanya. Sebenarnya tujuannya adalah ia ingin melihat Kris kesal, ia belum pernah melihatnya kesal karena itu ia memanggilnya oppa. Tidak banyak orang China yang senang dipanggil oppa.

“Apa kau tidak keberatan aku memanggilmu oppa?”

“Tidak, terserah kau saja.”

“Haah, terserah. Jadi kita akan main sekarang?”

“Ten—“ Kata-kata Kris terpotong oleh suara dering telpon dari handphone Ji Na. Setelah melihat caller id si penelpon muka Ji Na langsung menjadi sangat cerah. Ia tersenyum dan mengangkat telponnya.

“Ya! Oppa, kau kemana saja?”

 

“A-apa? Kau dimana?”

 

“Aku akan kesana! Jangan pergi!”

Hanya itu yang bisa didengar Kris dan setelah itu air muka Ji Na berubah menjadi kesal, dan Kris benar-benar bisa merasakan perubahan mood Ji Na.

“Oppa, aku harus pergi. Maaf ya, maaf oppa. Ini sangat penting.”

Sebelum Kris sempat menjawab Ji Na sudah berlari meninggalkannya. Sebenarnya siapa yang tadi menelponnya, apakah Ji Na selingkuh? Tapi sepertinya ia bukan tipe orang yang suka selingkuh. Diam-diam Kris mengikuti Ji Na dari jarak yang cukup jauh agar tidak ketahuan, dan betapa ia kaget melihat siapa yang ditemui Ji Na.

***

When the blue sky and ocean shine and overlap

OH BABY the tears will dry,

summer is smiling

Someday I hope my feelings will reach you

Fun is here forever

SUMMER DREAM

“OPPA!”

Ji Na berlari menuju orang yang berdiri menyandar di tembok dekat camp sambil memegang sebotol bir ditangannya. Orang yang menghancurkan kencannya. Saudaranya.

“Hey, Stella. You came.”

Dia mabuk. Ji Na tahu itu, ia tidak mungkin memanggilnya dengan nama itu saat sedang sadar. Ia pasti ada masalah dengan pacarnya. Ia selalu begini.

“Oppa, wae?” Ji Na memeluk saudaranya mencoba menenangkannya.

“Dia pergi lagi, Stell. Dia-“ sebuah tonjokkan membuat Kevin berhenti bicara. Ji Na tidak sanggup berkata apa-apa melihat Kris yang ada didepan mereka jelas-jelas terlihat sangat marah.

“Wh—Ouch, What was that for?” Kevin mengaduh karena tonjokan Kris pada pipi kanannya.

“Ji Na! Aku tidak percaya kau selingkuh! Dengan sahabatku sendiri.”

“Oppa, aku ti—“

“Sudahlah! Aku tidak bisa bicara denganmu! Oh and Kev, I thought we were best friends.”

***

         Sejak kejadian itu, Ji Na tidak lagi bekerja di camp. Ia tinggal dirumah pamannya, dirumah Kevin juga. Setelah Kevin sadar Ji Na menceritakan semuanya dan Kevin merasa sangat bersalah. Ia ingin menjelaskan semua pada Kris namun Ji Na melarangnya.

“Oppa, aku akan pergi ke Canada lebih cepat.”

“Apa? Kenapa?”

“Aku sudah tidak bekerja disini, lebih baik aku mempersiapkan sekolahku disana daripada disini.”

“Apa ini karena Kris?”

“Bukan, tenang saja oppa.”

Ji Na akan pergi beberapa hari lagi dan Kevin yakin mereka berdua akan menyesal karena berpisah karena kesalah pahaman ini. Mereka berdua ditakdirkan bersama dan Kevin harus berusaha meyakinkan mereka, namun hasilnya nihil.

***

MOVE ON we’ll find brightness

My body rustles and something seems to happen

Follow what you want and go to the place you believe

 

         Kris memutuskan untuk ke camp untuk mencari Ji Na tetapi orang-orang bilang Ji Na sudah tidak bekerja disana dan tinggal bersama Kevin. Sontak Kris menjadi kesal karena mendengar itu. Ia pergi ke rumah Kevin dengan marah.

“Ji Na!!”

Kris menekan bel rumah Kevin dan berkali-kali meneriakan nama Ji Na hingga akhirnya Kevin keluar. Melihat Kevin keluar, Kris menjadi semakin kesal dan tanpa ia sangka ia sudah melesatkan sebuah tonjokan di pipi kiri Kevin.

“APA? Kau tidak puas sudah membuat Ji Na pergi tanpa mendengarkan penjelasannya?” Kevin berteriak memaki Kris karena ia sudah sangat kesal dengan tonjokan Kris di pipinya.

“Ji- Ji Na pergi?”

“Ya! Dia pergi ke Canada, mungkin sekarang dia masih di Airport. Silahkan kau kejar jika kau memang menyayanginya. Dan perlu kau tahu, aku tidak ada apa-apa dengan Ji Na, ia adalah saudaraku, dan aku cukup yakin aku sudah pernah memberitahu mu itu.”

Mendengar itu Kris langsung berlari meninggalkan Kevin. Astaga, bagaimana ia bisa sangat bodoh. Tentu saja, Kevin pernah bercerita ia punya saudara yang akan mengunjungi camp. Bodoh. Sesampainya di airport, ia langsung mencari Ji Na dan tanpa memerlukan waktu lama ia sudah melihat siluet tubuh gadis yang ia cintai itu. Tanpa ragu ia memeluk tubuh Ji Na dari belakang dan membuat gadis itu lompat dan berteriak kecil.

“Apa-apaan kau?”

“Ji Na maaf, maafkan aku. Aku bodoh. Ji Na tolong jangan pergi.”

“Aku harus pergi, aku akan melanjutkan kuliahku.”

“Apa? Berapa lama?”

“2 Tahun”

“Baik, 2 tahun. Aku akan menunggumu dan aku berjanji. Jika kau masih ingin bersama ku tolong kembali ke pantai itu.”

“Ya, aku janji. 2 tahun.”

***

I always feel overflowing MUSIC

Passing through the sun

The heart that desire each other across the sky

WE ARE we can become one

The more I think it’s important, it hurts my heart

I wish the time stops forever in this place

Kris berbalik mendengar suara yang sangat ia rindukan itu memanggilnya. Ia tidak percaya ia benar-benar kembali. Tepat 2 tahun sejak terakhir mereka bertemu. Ia sangat ingin memeluk perempuan ini. Ia tidak berubah, ia masih secantik terakhir mereka bertemu. Ia terlihat lebih dewasa sekarang.

“Ji Na?”

“Oppa.” Ji Na berlari memeluk Kris dengan sangat erat. Ia benar-benar senang Kris masih mengingatnya, mengingat mereka, mengingat janji mereka.

“Aku menepati janjiku untuk menunggumu, kurasa kau juga menepati janjimu untuk kembali. Maafkan aku Ji Na, dulu aku bodoh. Seharusnya aku tahu kau tidak mungkin selingkuh dengan Kevin.”

“Tidak apa-apa oppa.” Air mata Ji Na mulai jatuh karena ia sangat bahagia sekarang. Suasana pantai yang indah dan kenangan mereka berkelut menjadi satu.

“Jadi Ji Na, maukah kau menemaniku selamanya?”

“Tentu.”

Dan hanya dengan satu kata itu hidup Kris terasa sangat lengkap. Ia tidak pernah merasa sebahagia ini sejak Ji Na pergi bahkan sebelum ia mengenal Ji Na pun ia belum pernah sebahagia ini.

Gomawo Song Ji Na. Saranghae.”

 

KISS ME while your wet skin is still hot

TOUCH ME the feeling surges up

Because we’ve been waiting for this season

MOVE ON we’ll find brightness

My body rustles and something seems to happen

Follow what you want and go to the place you believe

 

Each time I meet you summer becomes new

HERE WE GO Ride on the moving wind and fly high

Living has the same meaning as trying

We can now be born again in the light SUMMER DREAM

A/N: Jelek maaf😦

-GoJaeMi-

#BTX

#BUFFALO!

7 thoughts on “Summer Dream (Kris – Song Ji Na)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s