Just For One Day (Kim Jaejoong – Kim Jaerin)

tumblr_mjtlczxC751rn8fsvo1_500

Friday, 15 July 2011

Seoul, South Korea

14.33 PM

 

“Enyahlah dari pandanganku, Shim Changmin.”

Seorang Kim Jaejoong berkata tegas kepada Shim Changmin yang tengah berjalan mengikutinya di belakangnya.

“Jaejoong-a, aku mohon dengarkan aku.”

“Shim Changmin, apa kau pikir aku dapat mendengarkan penjelasanmu yang mampu membunuhku perlahan-lahan ?!” bentak Jaejoong untuk kesekian kalinya.

Changmin masih mengikuti Jaejoong dibelakang sahabatnya itu dan berusaha untuk menyeimbangi jarak antara mereka berdua.

“Jaejoong-ah.” Panggil Changmin lagi sambil menahan lengan Jaejoong yang ternyata sia-sia saja karena sahabatnya itu langsung menyentakkan tangannya dengan keras.

“Kim Jaejoong !”

“Tinggalkan aku sendirian, Shim Changmin.” Jaejoong pun mempercepatkan langkahnya yang sia-sia saja karena memang kakinya tidak sepanjang sahabat dibelakangnya punyai.

“Tidak bisakah kau hentikan ini semua dan dengarkan penjelasanku sekali saja ?!” teriak Changmin pada akhirnya saat Jaejoong tetap tidak mengacuhkannya. Ia pun menyentakkan tubuh Jaejoong hingga sahabatnya itu menghadapnya.

“So you expect that I could just sit quietly and hear shits coming out from your mouth about how you killed my girlfriend ?” Jaejoong menatap Changmin tajam sambil berbicara dengan nada yang mampu membunuh setiap orang yang mendengarnya.

Changmin tidak pernah mendengar nada bicara Jaejoong seperti ini sebelumnya. Tidak seumur hidupnya ia mengenal sahabatnya itu. Dan walaupun Jaejoong tengah berada didepannya berbicara dengan nada sesantai mungkin sekarang, Changmin tahu bahwa Jaejoong mampu mengeluarkan jantungnya dan membunuhnya dengan tangan kosongnya sekalipun.

Dan ini pertama kalinya Changmin melihat Jaejoong mampun menahan amarahnya sebaik ini. Kim Jaejoong yang dahulu akan menyakiti orang yang menurutnya mengganggu pada detik yang sama disaat orang itu membuat ulah didepannya. Dan pada detik ini juga Changmin tidak bisa melihat keinginan membunuh Jaejoong dari mata sahabatnya itu.

“Maafkan aku, Jaejoong-ah.” Kata Changmin tulus pada Jaejoong. Sahabatnya itu hanya memasukkan tangannya kedalam saku celananya dan tangan yang satu lagi menepuk bahu Changmin yang lebih tinggi darinya.

Jaejoong pun tersenyum kecil seakan-akan meremehkan Changmin.

“Jangan berminta maaf denganku. Mintalah maaf kepada Jaerin yang entah dimana ia berada sekarang.” Katanya sambil menghelakan nafasnya kecil.

“Jaejoong-ah.” tegur Changmin yang berhasil membuat Jaejoong terkekeh kecil.

Jaejoong pun menepukkan tangannya pada pundak Changmin beberapa kali sebelum ia memasukkan tangannya tersebut kedalam saku celananya yang satu lagi.

“Nan gwaenchanha, Changmin-ah. Nan jeongmal gwaenchanha. Geopjonghajima.”

Dan Jaejoong pun meninggalkan Changmin yang masih berdiri di tempatnya mendengus putus asa.

***

Seorang Kim Jaejoong tengah terduduk di sofa panjangnya dan menyelonjorkan kedua kakinya. Ia pun menghelakan nafasnya kencang lalu memijit-mijit dahinya dengan tangannya sedikit, sedikit berharap bahwa rasa sakit pada peningnya itu dapat berkurang sedikit.

Seorang Kim Jaejoong.

Memangnya siapa yang tidak mengetahuinya ?

Hidupnya bagaikan tokoh-tokoh fiksi pada novel-novel romantis yang dibeli kebanyakan yeoja maupun ibu-ibu yang sudah mempunyai anak pun. Tokoh fiksi namja yang mempunyai semuanya. Harta kekayaan, wajah yang tampan, tubuh yang atletis, kepintaran diatas rata-rata, charisma, dan tentu dibalik semua itu terdapat seorang wanita yang mampu mengubah hidupnya, and they would live happily ever after. Tapi sebenarnya ia tidak sesempurna yang orang kira.

Seorang Kim Jaejoong memang mempunyai harta, wajah, tubuh, otak, dan charisma seperti kebanyakan tokoh-tokoh fiksi, tetapi ia tidak mempunyai lagi mempunyai wanita yang telah mengubah hidupnya, dan dirinya dengan diri wanita itu tidak akan mempunyai hidup yang berakhir bahagia.

Mengapa ? Karena sahabatnya sendiri, sahabat yang sudah ia anggap bagaikan adik kandungnya sendiri, membunuuh satu-satunya wanita yang ia cintai itu. Menewaskan hidup wanitanya dengan satu kali tembakan pistol di depan matanya.

Akhir kisah cinta yang menyedihkan, bukan ?

Dan sejak saat itu pun Jaejoong berjanji kepada dirinya sendiri, ia tidak akan mencintai wanita lain dan sekalipun berpikir akan mengakhiri hidup mereka bahagia, karena akhir bahagia hanyalah omong kosong belaka. Salah satu dari mereka akan meninggal suatu saat dan itu sama sekali bukan bahagia, bukan ?

Pada saat itu juga, Jaejoong berjanji untuk memaafkan sahabatnya itu atas kesalahannya yang tidak sengaja dilakukannya. Tapi ia juga manusia normal yang tidak akan memaafkan orang yang membunuh orang yang dicintainya dengan begitu mudahnya. Bukan. Ia bukan mahadewa yang dapat melakukan hal itu.

Dan sampai saat ini pun hidup Jaejoong, menurut laki-laki itu sendiri, bagaikan kertas tidak terpakai yang dibuang begitu saja ke lantai. Hidupnya tidak berguna lagi tanpa wanita yang satu itu.

Kim Jaerin.

Wanita yang satu-satunya menarik perhatiannya dan mengubah hidupnya, yang sekarang tidak berada pada satu dunia dengannya, dan mengingat itu, Jaejoong semakin menderita.

Kim Jaerin telah meninggalkannya di dunia yang kejam ini sendirian. Meninggalkannya dengan masalah-masalah yang terus tertumpuk yang harus ia selesaikan sendiri. Meninggalkan Jaejoong tak berdaya begitu saja.

Andai saja para ilmuwan-ilmuwan gila itu sudah menciptakan mesin waktu.

Seorang Kim Jaejoong rela untuk kembali ke masa lalu dan mengubah semuanya sebelum terlambat.

 

Return to the room alone, a sofa that I sank my body in

When I close my eyes I see your face

I want to feel you next to me like that day

 

Looking at far sky, I have only one wish

With your hand, please touch

I want to call that tender morning wind like that day

 

Why is love more painful as we part

I wish for it, knowing that shine won’t return

Just for one day

 

If we can meet again, let’s share feelings for sure

Treasure box is still empty

I’m still holding it tight

 

I didn’t ask for the reason of your tears

Every time we hurt each other, Lost your love

I hide my true feelings because I’m timid

 

Jaejoong pun menutup kedua matanya, dan menghelakan nafasnya untuk kedua kalinya. Tanpa disangkanya, wajah dari seorang Kim Jaerin muncul dibenaknya. Wajah polos dan cantik wanita itu terus muncul, tersenyum polos kepadanya. Rambut panjang hitam lurusnya yang tergerai disamping wajahnya membuatnya ingin menyampinykan rambut itu dan mengelus rambut halusnya.

Rasanya Jaejoong ingin sekali menarik tangannya mendekat, memeluk tubuh yang lebih kecil darinya itu, dan mendekamnya dalam pelukannya yang erat, tanpa menunjukkan tanda apapun untuk melepaskan pelukannya. Ia ingin sekali tersenyum kepadanya lagi, menaruhkan dagunya pada bahu wanita yang lebih pendek darinya itu, menghirup bau wangi tubuhnya pada lehernya jika ia tengah memeluknya.

Ia ingin dapat mencium bibir wanita itu, melumatnya pelan, dan bercinta dengannya sepanjang malam. Ia ingin dapat merasakan lagi arti hidup sebenarnya, sebelum kejadian mengerikan itu menimpa mereka berdua.

Dan Demi Tuhan, kejadian waktu itu adalah kejadian yang paling mengerikan yang pernah dilihatnya.

Shim Changmin, dirinya, dan juga Kim Jaerin merupakan agent rahasia di sebuah organisasi dan mereka pun merupakan satu-satunya tim terbaik yang dimiliki Korea Selatan dalam kurun waktu 50 tahun ini. Kim Jaejoong yang merupakan penembak jitu dan dapat menembak musuhnya tepat pada jantungnya dalam jarak ratusan kilometer pun. Shim Changmin mampu membela dirinya dengan sangat baik, dan dapat melumpuhkan musuh dengan satu pukulan tangan pun. Tenaganya melebihi siapapun dalam tempat mereka bekerja, termasuk atasan mereka sendiri. Dan Kim Jaerin merupakan agent wanita yang mampu bertahan dalam organisasi itu setelah banyak wanita yang mengundurkan dirinya karena alasan tidak masuk akal yang menurut Jaerin sangat bodoh. Mereka mengeluh atas kekerasan yang telah terjadi dan pada saat Jaerin mendengar itu pertama kali, amarahnya memuncak. Para wanita itu bekerja ditempat yang dengan jelas menggunakan kekerasan dan kekuatan fisik sekaligus. Wanita-wanita itu dianggapnya sangat bodoh.

Kim Jaerin merupakan orang dibelakang misi yang mereka jalankan bertiga. Kecerdasannya mampu mengalahkan ide-ide tidak terpikirkan musuh sekalipun dan bukan hanya itu, ia merupakan satu-satunya wanita yang dengan senang hati membunuh musuhnya pada jantungnya tanpa berpikir dua kali. Dan ia pun terkenal dengan sifat yang sama sekali tidak terdapat belas kasihannya.

Kim Jaejoong pun membuka kedua matanya, dan ia pun berdiri dari sofa itu dan menuju pada jendela yang tidak terlalu jauh dengan dimana sofa itu berada. Ia pun memasukkan kedua tangannya masing-masing pada saku celananya dan memandang pemandangan didepannya dengan mata yang sedikit menyipit itu.

Bisa terlihat olehnya satu rumah kecil yang belum selesai dibangun dan melihat rumah itu, perasaan Jaejoong perlahan-lahan mulai membunuhnya.

Rumah kecil itu dibuat olehnya dan Jaerin, dan rumah itu pun berupa ruangan besar bagaikan rumah untuk bersantai dan membaca buku. Ruangan itu dipenuhi dengan rak-rak buku yang telah penuh dengan bermacam-macam buku dengan berbagai ragam bahasa.

Kim Jaerin terlalu sering datang kerumahnya hanya untuk membaca buku novelnya sehingga ia membuat satu ruangan khusus untuknya dan Jaerin. Tetapi ternyata rumah kecil itu pun tidak selesai dibangun dan tidak akan pernah selesai dibangun.

Jaejoong pun menghelakan nafasnya kencang untuk kesekian kalinya pada hari itu sebelum berkata pada dirinya sendiri.

“Bolehkan aku memilikimu hanya untuk satu hari lagi ?”

***

Thursday, 21 July 2011

Seoul, South Korea

10.17 AM

 

“Changmin-ah,” panggil Jaejoong kepada Changmin yang baru membuka pintu ruangan rapat itu. Changmin membelalakkan matanya saat mendengar Jaejoong memanggilnya seperti dulu lagi. Tidak ia sangka Jaejoong akan mau berbicara lagi dengannya.

“Jaejoong-ah, kau tidak sakit, bukan ?” Tanya Changmin yang berhasil membuat Jaejoong terkekeh kecil mendengarnya. Jaejoong pun tetap tersenyum sambil memandangi Changmin dan menepuk-nepuk kursi kosong disebelahnya, menyuruh Changmin duduk. Namja itu pun hanya mengikuti perintahnya dan duduk di kursi tersebut. Ia pun menatap Jaejoong dengan bingung.

“Aku hanya ingin berbicara denganmu.” Jawab Jaejoong. Changmin hanya menatapnya dengan pikirannya yang semakin bingung.

“Kau mau berbicara apa ? Dan sejak kapan kau mau berbicara denganku lagi ?” Tanya Changmin balik yang berhasil membuat Jaejoong terkekeh kecil lagi.

“Jaejoong-ah,” tegur Changmin atas perlakuan Jaejoong yang menurutnya melebihi batas.

“Changminnie, kau terlalu curiga kepadaku. Aku hanya ingin memberimu permintaan maaf.”

Jaejoong tertawa lagi dan menepuk-nepuk bahu Changmin dengan tangannya. Akhirnya ia pun tersenyum kearah Changmin dan menghelakan nafasnya kencang.

“Aku tidak berbohong. Aku sudah mulai melupakannya dan aku ingin kau dan aku menjadi seperti yang dahulu, tidak seperti dua kakak beradik yang bertengkar seperti ini. Aku memaafkanmu, Changmin-ah.” Lanjut Jaejoong.

Changmin hanya memandang Jaejoong tidak percaya. Ia pun menghelakan nafasnya kecil, lalu membalas senyum Jaejoong yang masih terpancar dari wajah sahabatnya itu.

“Baiklah, kalau begitu hubungan diantara kita sudah baik-baik saja bukan ?” Tanya Changmin memastikan. Terlihat olehnya Jaejoong mengangguk dan terus tersenyum kepadanya.

Jaejoong dan Changmin menolehkan kepalanya saat banyak orang mulai masuk kedalam ruangan rapat itu dan duduk pada tempatnya masing-masing. Hari ini memang agen-agen terbaik organisasi mereka serta pimpinan-pimpinan tertinggi mengadakan rapat mengenai kasus terbesar mereka yang tengah mereka selidiki.

Beberapa dari orang tersebut tersenyum kearah Jaejoong dan Changmin dan beberapa yang lainnya mengerutkan alis mereka dengan bingung, mengingat akan kejadian tidak lama yang lalu terjadi.

Jaejoong membalas senyuman kepada semua orang yang masuk, termasuk orang yang tengah dalam kebingungan itu, yang berhasil membuat mereka lebih bingung dan menolehkan kepala mereka kearah Changmin, yang tentunya menjawab mereka dengan kebingungannya sendiri dengan mengangkat kedua bahunya.

Atasan tertinggi dari organisasi mereka pun masuk kedalam ruangan mereka dalam urutan terakhir dan tersentak kaget melihat Jaejoong yang tidak bersikap dingin seperti biasanya dan terduduk disebelah Changmin lagi.

Bahkan atasan tertinggi mereka menyerngit bingung, apalagi bawahannya yang lain ?

“Baiklah sekarang rapat akan dimulai.” Kata atasan tertinggi mereka, Oh Joong Seok, saat semua orang yang menghadiri rapat itu telah terduduk pada kursi mereka masing-masing. Dilihat olehnya sebuah kursi kosong pada ujung meja ruangan rapat itu yang membuatnya menghelakan nafasnya pelan. Kursi Kim Jaerin.

Ia pun melirik kearah Jaejoong dan Changmin bergantian, lalu melanjutkan kalimatnya.

“Seperti yang kalian ketahui, kasus yang setelah ini akan kami tangani masih bertempatan pada lokasi yang sama seperti kasus yang sebelumnya gagal karena.. tewasnya akan agen wanita terbaik dalam organisasi ini, Kim Jaerin.”

Oh Joong Seok pun melirik kearah Jaejoong.

Jaejoong membalas tatapannya dengan kosong, berpura-pura bodoh tentang apa yang telah diucapkan oleh atasannya dan berpura-pura tidak berduka atas apa yang telah terjadi. Atasannya tersebut menyerngit bingung saat Jaejoong tidak menunjukkan ekspresi apa-apa terhadap kalimat yang telah diucapkannya tadi. Ia pun melanjutkan.

“Sekitar dua atau mungkin tiga minggu kedepan setelah dilakukan penyelidikan terhadap lokasi tersebut, para agen terbaik kami, Hero dan juga Max berserta agen lainnya, akan masuk ke dalam lokasi tersebut dan menyelesaikan misi kami ini, menangkap seorang bernama Lee Jung Shik yang merupakan bandar narkoba terbesar Korea Selatan pada saat ini, hidup maupun mati. Kali ini, diharapkannya tidak ada kejadian-kejadian yang tidak harapkan lagi. Agen lainnya akan mengikuti apa saja yang Agen Hero maupun Agen Max lakukan, tanpa kecuali. Karena lokasi tersebut sangat berbahaya, agen yang lain berhak melindungi Agen Hero dan Agen Max. Itu saja yang ingin saya sampaikan. Rapat selesai.” Jelas Joong Seok panjang.

Ia pun berdiri dari kursinya dan membungkukkan badannya sendiri. Para agen yang lainnya termasuk Jaejoong dan Changmin pun berdiri dari tempat duduknya dan membungkukkan tubuhnya kepada atasan tertinggi mereka itu.

Setelah Oh Joong Seok keluar dari ruangan rapat itu, agen yang lainnya baru mulai beranjak keluar dan kembali melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing lagi.

Jaejoong terlihat mendekati Changmin yang telah berdiri dari kursinya dan beranjak untuk keluar. Ia pun menahan lengan Changmin sedikit yang berhasil membuat Changmin menoleh ke arahnya dan menyerngit bingung.

“Changmin, maukah kau membantuku ?”

***

“Omong kosong.” Kata Changmin tegas kepada Jaejoong sambil berjalan cepat menjauh dari Jaejoong yang masih mengikuti dibelakangnya.

“Aku mohon, Changmin.”

Changmin terus berjalan tanpa melihat kebelakang menuju pada ruangannya sendiri. Entah kenapa kali ini ruangannya itu terasa jauh sekali dari biasanya, dan itu membuatnya tidak tenang karena Jaejoong akan mengikuti dibelakangnya lebih lama berbicara tentang omong kosong yang tidak ingin ia dengar.

“Changmin.”

Pada akhirnya Changmin sampai pada depan ruangannya, ia membuka pegangan pintu tersebut dengan keras dan langsung berjalan masuk tanpa mempunyai niat sedikit pun untu menutup pintu itu kembali.

“Changmin !”

“Aku tidak akan menuruti permintaanmu itu, Jaejoong ! Aku tidak akan membunuh sahabatku sendiri di tempat yang sama dimana aku membunuh Kim Jaerin ! Aku tidak akan pernah mau !” teriaknya pada Jaejoong setelah ia mendengar pintunya sudah kembali tertutup dan suara Jaejoong yang masih membujuk-bujuknya.

“Aku mohon, Changmin-ah.”

“Shirheo !”

“Ini permintaan terakhirku padamu, Changmin-ah. Aku benar-benar ingin kau membunuhku. Lebih baik aku mati daripada menderita hidup tanpa Jaerin. Kau tahu itu. Aku tidak akan menyesalinya, aku janji. Aku mohon, Changmin-ah.” Pinta Jaejoong terus kepada Changmin.

“Marhaesseo shirheo.”

“Shim Changmin, aku janji ini akan menjadi permintaan terakhirku kepadamu.” Kata Jaejoong kepada Changmin yang bahkan sampai sekarang terus melihat keluar jendelanya dan tidak menunjukkan keinginan apapun untuk berbicara kepadanya.

“Setelah aku mati, katakan kepada yang lain bahwa aku tertembak oleh salah satu penjaga disana dan kau tidak sempat menolongku.”

Jaejoong mendesah kecil saat Changmin masih tidak masu membalasnya.

“Aku lebih baik mati daripada hidup tanpa Jaerin, Changmin. Dan aku yakin kau akan baik-baik saja tanpa diriku.”

Kata-kata terakhir Jaejoong berhasil membuat Changmin menolehkan kepalanya kebelakang dan memandang Jaejoong tidak percaya.

“Aku mohon, Changmin. Aku mohon.”

Changmin menatap mata Jaejoong dalam dan mendesah kecil kepada Jaejoong, mengalah kepada sahabatnya itu sebelum berbicara lagi.

“Aku mungkin orang tergila yang mau menuruti permintaan tidak masuk akal sahabatnya sendiri.”

***

Sunday, 7th of August 2011

Seoul, South Korea

09.03 AM

I kept waiting for your words

Since when have I been uneasy

Invisible tomorrow sometimes disturbed my heart

 

Different (you) eyes (love)

Not being able to trust, we lost it

With two of us who should have been able to protect

Just for one day

 

Let’s keep walking this path so we can meet each other again

Wish hard and if miracle happens

Let’s promise for tomorrow

 

Sparkles strewn on night

They shine one by one

Connect from past to future

All I want is just to be with you

 

If we can meet again, let’s share feelings for sure

Treasure box is still empty

I’m walking

I want to find you

Someday again, dream

Seorang Kim Jaejoong memandang luar jendela rumahnya tanpa senyuman di wajahnya. Matanya menuju sebuah rumah kecil yang hampir setiap hari ia pandangi itu dengan perasaannya yang entah mengapa merasa sedih. Sebentar lagi ia akan bertemu dengan Jaerin lagi, ia akan bertemu dengan satu-satunya wanita yang dicintainya di tempat dimana mereka akan bersama selamanya, dan tidak akan lagi terpisahkan. Bukankah semustinya ia merasa bahagia ?

Jaejoong mendesah pelan mengingat keberadaan Jaerin yang entah dimana saat ini sambil memegang erat cangkir kopinya pada tangan kirinya. Ia pun menaikkan tangannya tersebut dan dengan pelan-pelan menyesap kopi hitam yang masih panas itu.

Setelah menyesapkan beberapa teguk dari cangkir itu, ia pun menurunkan tangannya dan meletakkan cangkir yang hampir tidak terisi itu pada meja. Ia pun memandang luar lagi. Matanya masih memandang rumah kecil itu dan di pikirannya pun terlintas seorang Kim Jaerin yang tengah terawa dengannya.

Jaejoong pun tersenyum ke arah rumah kecil itu dan ia pun menutup matanya. Tidak lama setelah itu, ia pun membuka matanya kembali, dan mendesahkan nafasnya pelan.

“Jaerin-ah, kita akan bertemu sebentar lagi. Tunggulah diriku, ne ?”

***

Monday, 8th of August 2011

Seoul, South Korea

19.18 PM

 

“Team Alpha, kanan, Team Charlie, kiri, aku dan Jaejoong akan maju kedepan berdua.” Kata Changmin sambil menunjukkan arah-arahnya kepada agen-agen lainnya. Ia pun memandang Jaejoong sesaat sebelum melangkahkan kakinya masuk kedalam bangunan baru didepannya. Bisa ia dengar suara sepatu Jaejoong dibelakangnya yang terdengar olehnya. Sebuah Parabellum-Pistole terletak masing-masing pada tangan Jaejoong dan Changmin. Terdengar oleh mereka suara letusan-letusan peluru agen lainnya yang tentunya tepat pada sasaran. Mata mereka pun dengan cermat melihat daerah sekitar mereka.

Changmin pun menembak seorang penjaga terlebih dahulu sebelum penjaga lainnya keluar dari persembunyian mereka, yang tentunya berhasil dilumpuhkan oleh Jaejoong.

Satu per satu penjaga lainnya pun mulai keluar dan tidak lama kemudian tempat dimana Jaejoong dan Changmin berdiri mulai dikelilingi oleh pria-pria berjas putih yang besar dan tinggi. Tanpa ragu apapun, Jaejoong dan Changmin pun menembakkan peluru mereka satu-satu dan tentunya sasaran mereka tepat pada jantung korban.

Setelah yakin semua orang itu telah tewas, mereka pun berjalan lagi dan tidak lama kemudian mereka bertemu pada sebuah ruangan dengan pintu yang sangat besar. Jaejoong pun membuka pintu itu dengan satu sentakan pelan. Sunyi. Ruangan itu terlihat kosong. Tetapi mereka berdua tahu, ini adalah ruang persembunyian Lee Jung Shik bersama pengawal lainnya.

Dengan hanya beberapa letusan peluru, Jaejoong dan Changmin melumpuhkan pengawal Jung shik tersebut dan hanya menyisasakan Lee Jung Shik berdiri sendirian dengan 1911-type .38 Special Revolver ditangannya.

“Changmin-ah. Sekarang.” Bisik Jaejoong kepada Changmin.

Changmin hanya menoleh saat mendengar Jaejoong membisikkan kalimat itu kepadanya.

“Nanti.”

Lee Jung Shik pun berjalan mendekat dan dengan kecepatan diatas rata-rata, ia menodongkan senjatanya pada kepala Jaejoong dan tengah mencekik Jaejoong dengan tangannya yang satu lagi. Changmin yang melihat itu tersentak dan ia pun menodongkan senjatanya pada Lee Jung Shik.

“Kau berani melangkahkan kakimu, akan kupastikan temanmu yang satu ini akan mati ditanganku.” Tantang Lee Jung Shik kepada Changmin.

Changmin pun tidak bergerak sedikit pun. Ia terlihat membetulkankan sasaran pelurunya pada jantung laki-laki itu.

“Se—karang.” Kata Jaejoong kepada Changmin dengan sedikit kesusahan akibat cekikan lee Jung Shik pada lehernya.

“Nanti !” teriak Changmin pada Jaejoong.

Lee Jung Shik pun terlihat tertawa kepada Changmin. “Kenapa ? Kau takut sasaranmu tidak pas dan mengenai temanmu yang satu in—“

DOR DOR

Terdengar oleh Changmin dua letusan peluru. Tunggu.. Changmin hanya meledakkan satu peluru kepada Lee Jung Shik yang berhasil membuatnya jatuh terkapar, berarti..

“Jaejoong-ah ! Kim Jaejoong !” teriak Changmin kepada Jaejoong yang jatuh bersama dengan Lee Jung Shik.

Ledakan dari Changmin mengakibatkan Jung Shik secara otomatis menarik pelurunya yang dengan pasti dapat mengenai Jaejoong. Bodoh sekali Changmin tidak mengetahui itu. Tapi itu memang rencana Jaejoong dari awal. Membiarkan Lee Jung Shik menahannya dan menodongkan pistol pada kepalanya sehingga semuanya tidak terlalu menyusahkan Changmin. Dan Changmin sendiri tahu, bahwa Jaejoong mampu membunuh Lee Jung Shik dan menangkap laki-laki tua itu dalam hitungan detik pun. Membiarkan lawan menodongkan pistol pada kepalanya dengan begitu mudahnya sama sekali bukan style seorang Kim Jaejoong yang dinobatkan sebagai penembak jitu selama kurun waktu 50 tahun ini.

“Kim Jaejoong, IREONA !” teriak Changmin pada Kim Jaejoong yang ia yakin sudah tidak akan bergerak lagi.

“Agent Max, Agent Hero, semua pengawal telah berhasil dilumpuhkan, over.” Kata salah satu agen lainnya kepadanya dan kepada Jaejoong yang bisa terdengar dari alat communicatornya dan Jaejoong.

“Lee Jung Shik, dead. Agent Hero… dead.”

***

THE END

5 thoughts on “Just For One Day (Kim Jaejoong – Kim Jaerin)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s