After A Long Time (Kim Jae Joong – Kim Jae Rin)

aalt final

Paris, France.

Kim Jae Rin menopangkan wajahnya pada tangan kirinya. Di hadapannya, berdiri satu botol Beringer Vineyards yang tiga perempat dari isinya sudah diminum habis dan satu gelas wine. Gelas itu masih terisi setengah, tapi tangannya sama sekali tidak ingin bergerak untuk meraih gelas itu dan menghabiskan isinya. Matanya memandang kosong ke arah gelas itu. Jae Rin bahkan menghiraukan iPhone-nya yang terus bergetar di samping gelas wine-nya.

Korea.

Jae Rin tahu pasti bahwa saat ini ia sedang berada di dalam apartemennya di ibukota Prancis, tapi pikirannya berada di tanah kelahirannya.

Korea.

7 tahun yang lalu, Jae Rin bekerja keras untuk bisa meninggalkan Korea dan berada di Prancis seperti saat ini. Untuk berbagai alasan, Jae Rin ingin tinggal di negara dengan segala romantismenya, dengan Sungai Seine dan Menara Eiffel yang menjadi kebanggaan negara itu.

Pergi.

Ia pergi dari tanah kelahirannya untuk bisa sukses sebagai seorang fashion
designer terkenal di Prancis seperti saat ini. Mimpinya sejak dulu. Mimpi yang telah berhasil diwujudkannya di umurnya yang ke-26 tahun ini. Yang tidak diketahui orang-orang, bukan hanya cita-citanya sebagai designer yang membuatnya meninggalkan Korea.

Menghindar.

Benar, ia ingin menghindar. Tidak, ia harus. Sejak awal, Jae Rin tahu ia telah melakukan kesalahan yang besar. A bittersweet mistake. And she never regrets for doing it.

Mengapa ia menghindar? Mengapa Jae Rin tidak berani menghadapi konsekuensi dari kesalahannya? Karena ini bukan jenis kesalahan yang umum. Dan konsekuensinya… Berlebihan untuk sebagian orang, tapi terlalu menyakitkan baginya.

Bertahun-tahun ia mencoba untuk bangkit dari kesalahannya. But she can’t. She just can’t.

And now, she has to come back.

Itu berarti, dia harus bertemu lagi dengan pria itu.

Seharusnya ia bahagia. Tapi tidak, ia tidak bahagia.

Karena pria itu, pria itu adalah kesalahan terbesarnya.

***

The talks we had as we looked at each other
The stories that only we knew
I guess I can’t erase them
I can’t throw them away
I can’t forget them

Incheon International Airport, South Korea.

Here she is. Preparing to face her biggest mistake.

Jae Rin memperbaiki letak kacamata hitamnya dengan tangan kanannya sementara ibu jari tangan kirinya sibuk menari di atas layar iPhone-nya. Membuka email, memeriksa apa saja yang harus ia lakukan di negara ini.

Korea.

Jae Rin belum pernah kembali ke Korea sejak ia meninggalkan Korea 7 tahun lalu.

Sebenarnya tujuannya kembali ke Korea kali ini hanya untuk menghadiri sebuah acara fashion yang akan diselenggarakan di Seoul akhir minggu ini. Tapi ternyata, niatnya untuk meninggalkan Korea secepatnya harus dibatalkan karena ia harus hadir dalam acara pernikahan kakaknya pertengahan bulan depan. Dan ibunya memaksanya untuk kembali ke Korea 3 hari lebih cepat dari yang seharusnya untuk merancang gaun pernikahan untuk calon istri kakaknya. Jae Rin berdecak kesal saat ia ingat bahwa ia harus tinggal sangat lama di negara ini karena ibunya memaksanya untuk tetap tinggal di Korea sampai pernikahan kakaknya dilaksanakan.

Ia tidak bisa menolak. Tapi, ia juga tidak bisa terus berbohong selama itu.

Ah, tidak. Sepertinya ia bisa. Ia sudah berbohong selama 11 tahun. 1 bulan bukan lagi waktu yang lama.

Yang lebih menyedihkan, tidak ada acara fashion lain yang harus dihadirinya dalam waktu dekat selain yang akan diselenggarakan di Seoul, yang membuatnya tidak memiliki alasan untuk pergi lebih cepat. Jae Rin tidak mengerti lagi apakah ia harus senang karena itu berarti ia tidak perlu naik-turun pesawat yang selalu membuatnya mual atau sebaliknya.

Tapi saat ini, Jae Rin lebih suka naik-turun pesawat yang selalu dibencinya.

Jae Rin meletakkan iPhone-nya di atas meja dan menyeruput Hot Chocolate-nya. Persetan dengan berbagai permintaan yang terus memenuhi inbox-nya. Jae Rin sedang tidak ingin memikirkan apapun.

Jae Rin masih memperhatikan papan menu Starbucks sambil menghisap Hot
Chocolate-nya saat iPhone-nya bergetar. Dengan malas, Jae Rin melirik iPhone-nya dan ia semakin tidak bersemangat saat membaca caller id di layar iPhone-nya.

Saranghaneun Jae Joong Oppa

Jae Rin mendesah pelan sebelum mengangkat iPhone-nya yang masih bergetar dan menekan tombol jawab. Lalu, suara khas kakaknya, Kim Jae Joong, membentaknya tanpa benar-benar bermaksud membentak, seperti biasanya setiap Jae Rin tidak menjawab teleponnya.

“Ya, Kim Jae Rin! Kenapa kau tidak menjawab teleponku malam itu? Aku sudah menelponmu hampir 10 kali untuk menanyakan kapan kau akan sampai di Korea! Kau bahkan baru memberitahuku tadi saat aku sedang menuju ‘gedung kaca’. Aku langsung memutar ke arah bandara, tahu!”

Jae Rin tersenyum tipis mendengar omelan kakaknya. ‘Gedung kaca’ adalah sebutan mereka sejak dulu untuk gedung perusahaan keluarga mereka, karena dari luar gedung itu tampak terbuat dari kaca karena jendela-jendela gedung itu. Ia dan Jae Joong tidak pernah ingin menyebut-nyebut perusahaan mereka secara terang-terangan di depan semua orang, jadi mereka memutuskan untuk menggunakan sebutan ‘Gedung Kaca’ yang selalu membuat orang-orang tidak mengerti isi pembicaraan mereka. Selain ‘Gedung Kaca’, ia dan Jae Joong juga menciptakan banyak sebutan lain yang sama aneh dan membingungkannya dan hanya mereka yang mengerti.

Mianhae, Oppa. I was busy with my clients.”

Bohong.

“Well, aku mengerti kau terlalu lama tinggal di Prancis sampai-sampai kau jarang sekali berbicara dalam bahasa Korea selain ketika aku menelponmu atau saat appa dan eomma memaksamu untuk menelpon mereka setiap bulan, but please, don’t use english with me. Telingaku kurang terbiasa, kau tahu?”

Liar. Mana mungkin kau tidak terbiasa mendengar bahasa Inggris? Oppa, kau selalu menonton NCIS setiap malam!”

Kakaknya itu selalu bercita-cita menjadi seorang agent, tapi tidak cukup berani untuk merelakan hidupnya berada dalam ancaman. Jae Rin menarik nafas dalam-dalam saat Jae Joong tertawa. “I was just kidding. Katakan padaku di mana kau sekarang.”

“Aku? Aku ada di Starbucks, di meja—”

“I’ve found you. Lihat ke belakang.”

Nafas Jae Rin tertahan saat otaknya menebak kalau kakaknya itu sudah berdiri di ambang pintu yang berada tepat di belakang kursinya. Jae Rin menghembuskan nafas keras untuk menenangkan dirinya sendiri, lalu menoleh kebelakang sambil mengeratkan genggamannya pada iPhone-nya yang masih menempel di telinganya.

Dugaannya tepat. Kim Jae Joong berdiri di ambang pintu Starbucks, dengan setelan jas kerjanya yang rapi yang membuatnya tampak semakin dewasa dan iPhone yang masih menempel di telinganya. Jae Joong melambaikan tangan kanannya ke arah Jae Rin sambil memamerkan senyum yang selalu Jae Rin sukai.

Jae Rin memaksakan sebuah senyuman manis.

Seharusnya ia bersemangat. Seharusnya ia bahagia. Setelah 7 tahun, akhirnya ia bisa bertemu lagi dengan kakaknya. Kakak yang selalu dicintainya.

Tapi tidak, ia tidak bersemangat. Sama sekali tidak bahagia.

Sekarang, Jae Rin hanya perlu melihat kakaknya dan dia bisa hancur kapan saja.

***

I look around these streets for the first time in a while
Whenever I pass this street, the good memories
They keep floating up in my head so I stop my footsteps

After a long time, I am here right now
Because I long for that time,
Though I tried to live without knowing,
I keep thinking about it
That’s how I am, it keeps coming into my eyes
The times we spent together, the memories –
they fall like stars


Kim Jae Joong adalah kesalahan terbesarnya.

Sejak kapan hal semacam mencintai kakakmu sendiri melebihi batas wajar dilegalkan? Kalau sampai itu terjadi, Jae Rin tidak akan menganggap Jae Joong sebagai kesalahan terbesarnya.

Sejak dulu, Jae Rin selalu menyangkal semua perasaan aneh yang menguasainya setiap ia melihat Jae Joong. Tapi semakin Jae Rin menyangkal, ia semakin jauh dari kata berhasil.

Jadi Jae Rin memutuskan untuk pergi.

Awalnya, Jae Rin yakin ia akan berhasil melupakan kakaknya kalau ia tinggal jauh dari kakaknya.

Ia tidak menyangkal kenyataan bahwa ia kembali merindukan kakaknya setiap kali kakaknya menelponnya. Kakaknya adalah orang yang paling memedulikannya, dan setiap memiliki kesempatan maka kakaknya itu akan menelponnya. Tidak untuk membicarakan sesuatu yang penting. Bisa dibilang, pembicaraan mereka hanya sekedar basa-basi. Tapi pembicaraan itu akan berlangsung lebih dari 2 jam, tanpa niat dari salah satu di antara mereka untuk mengakhiri sambungan telepon mereka. Saat mereka tertawa, mereka melupakan fakta kalau hubungan internasional itu mahal sekali.

Walaupun Jae Rin kembali merindukan kakaknya setiap dia mendengar suara kakaknya dari telepon, ia selalu berhasil mengatasinya dengan kertas-kertas yang tertumpuk tinggi di atas mejanya atau meminum wine sampai ia tertidur.

Sekarang ia duduk di samping kakaknya yang sedang memperhatikan jalanan di hadapannya sambil menyenandungkan salah satu lagu favoritnya. Dan Jae Rin harus berusaha sekuat tenaga untuk membuat dirinya tampak wajar, bukan seperti orang yang baru bertemu lagi dengan kekasihnya setelah 7 tahun berpisah.

“Kim Jae Rin, jangan diam saja. Ceritakan padaku apa saja yang kau lakukan di Paris sampai-sampai kau tidak ingin pulang ke Korea.”

Jae Rin melirik kakaknya sekilas, lalu berpura-pura memusatkan seluruh perhatiannya pada iPhone-nya yang ada di pangkuannya. “Well, nothing much. Hanya sibuk dengan pekerjaan impianku sebagai fashion
designer, itu saja.”

Really? Kenapa kau begitu nyaman tinggal di sana sampai-sampai kau tidak ingin kembali ke Korea? Kau tidak rindu dengan kakakmu yang tampan ini?”

“Tidak. Untuk apa aku merindukanmu, Oppa? Aku sudah bosan melihat mukamu selama 19 tahun.”

Bohong. Tentu saja aku merindukanmu. Sangat, bahkan.

Jae Joong mendengus. “Kau masih tetap sama, Kim Jae Rin. Masih tetap sinis pada oppa-mu sendiri.”

Jae Rin hanya tersenyum. Sinis adalah satu-satunya cara Jae Rin untuk menyembunyikan perasaannya jauh-jauh dari kakaknya. Hanya dengan cara ini Jae Rin bisa terlihat baik-baik saja.

“Kau mau makan jjajangmyeon di tempat Ga In ahjumma? Atau mau makan sushi di tempat Jong Jin harabeoji?”

Tempat makan kesukaan mereka. Jae Rin mempertahankan senyumannya dan menatap kakaknya dengan ekspresi manja, seperti biasanya. “Uhm, aku rindu jjajangmyeon buatan ahjumma, tapi… aku juga ingin makan sushi buatan harabeoji.”

“Pilih salah satu, Jae Rin my darling. Setelah ini aku masih harus membawamu ke hadapan eomma. Kau tahu, dia sudah menelponku berkali-kali untuk segera mengantarmu ke rumah segera setelah kau sampai di Korea.”

“Tapi aku rindu dua-duanya.” Jae Rin memanyunkan bibirnya dengan manja ke arah Jae Joong. Biasanya, dengan cara ini Jae Rin akan berhasil memaksa Jae Joong menuruti keinginannya.

Jae Joong menolehkan kepalanya ke arah Jae Rin sambil tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya dengan pasrah. “Arrasseo,” jawab Jae Joong, lalu mengacak-ngacak rambut Jae Rin, seperti yang biasa ia lakukan kalau ia tidak bisa menolak permintaan Jae Rin. “Umurmu sudah 26 tahun, tapi kau masih manja seperti dulu.”

“Memangnya aku tidak boleh manja di depan oppa-ku sendiri?”

“Tidak, sih,” balas Jae Joong, masih terlihat sisa-sisa tawa di wajahnya. “Tapi kan sangat tidak lucu kalau gadis setua dirimu masih bermanja-manja seperti ini.”

“Aku tidak tua. Kau lebih tua, Oppa. Umurmu sudah 28 tahun.”

“Tetap saja tua.”

Perdebatan mereka masih berlanjut hingga mereka tiba di tempat Ga In ahjumma, dan untuk sementara waktu Jae Rin bisa melupakan perasaannya sendiri.

***

“Astaga, Kim Jae Rin. Kau sudah makan 2 mangkuk jjajangmyeon di tempat ahjumma dan masih memesan 3 piring sushi? Sebenarnya kau benar-benar rindu atau benar-benar lapar?”

“Dua-duanya,” sahut Jae Rin dengan mulut penuh dengan sushi. “Siapa suruh kau mengajakku ke tempat ahjumma dan harabeoji? Aku selalu tergoda dengan masakan mereka. Lagipula aku tidak bisa makan apa-apa di pesawat. Kau ingat kalau aku selalu mual di pesawat, kan?”

“Aku belum lupa,” balas Jae Joong sambil tersenyum. “By the way, darling, besok malam Seung Mi akan pulang dari Hokkaido, jadi appa dan eomma berencana mengajak kita semua makan malam bersama di rumah.”

Seung Mi. Nama itu langsung menghilangkan nafsu makannya siang ini. “Lalu?” Entah kenapa suaranya terdengar lebih ketus dari yang diinginkannya. Jae Rin memasukkan potongan sushi terakhirnya tanpa semangat.

“Uhm, hanya ingin memberitahumu saja. Ya, kenapa kau jadi galak begitu? Kau masih ingin satu piring lagi?”

“Tidak perlu. Aku sudah kenyang, dan aku lelah. Aku mau pulang.” Jae Rin merutuki dirinya sendiri karena gagal menghilangkan kegalakan dalam suaranya. Untung ia punya kakak yang terlalu perasa dan terlalu pengertian, jadi kakaknya tidak berkomentar apapun lagi saat Jae Rin mengatakan kalau ia lelah. Jae Joong malah langsung berlari ke arah kasir untuk membayar makanan mereka dan segera mengantar Jae Rin ke rumah.

Tuhan, 1 bulan ini akan sangat melelahkan.

***

Jae Rin memilih untuk memperhatikan bangunan-bangunan dari jendela di sampingnya sepanjang perjalanan pulang. Sepanjang itu pula, Jae Joong menceritakan persiapan pernikahannya dengan Seung Mi yang sudah hampir selesai. Jae Rin hanya menanggapi seperlunya, karena sebenarnya Jae Rin sama sekali tidak tertarik mendengarkan cerita Jae Joong tentang pernikahannya.

Jae Rin memandangi orang-orang yang berlalu lintas di jalan itu. Seoul sudah banyak berubah sejak terakhir ia meninggalkan kota ini 7 tahun yang lalu. Dan, sepertinya Jae Joong sengaja atau memang hanya jalan ini yang bisa dilalui –Jae Rin tidak ingat lagi- tapi jalan yang ditempuh Jae Joong adalah jalan yang dulu selalu mereka tempuh bersama setiap mereka pulang sekolah.

Jae Rin tersenyum miris. Jalan itu menyimpan cerita tersendiri.

Dulu, ia dan Jae Joong tidak ingin diantar dan dijemput dengan mobil walaupun appa dan eomma memaksa. Mereka sama-sama berpikir kalau jalan kaki bersama pasti lebih menyenangkan dan sama-sama merasa risih kalau di antar dengan mobil. Jadi, setelah melakukan aksi mogok makan selama sehari bersama Jae Joong, mereka diperbolehkan jalan kaki ke sekolah, dengan perjanjian mereka harus berangkat bersama dan kalau salah satu di antar mereka terluka, mereka harus diantar dan dijemput dengan mobil.

Tidak masalah, pikir Jae Rin kecil. Jae Joong oppa akan memastikan kalau aku akan baik-baik saja.

Setiap pulang sekolah, Jae Rin akan menunggu di depan kelas Jae Joong sampai Jae Joong keluar dan mereka akan berjalan bersama. Kadang-kadang bila Jae Rin dihukum karena berbuat ulah di kelasnya, Jae Joong akan diam-diam membantunya menyelesaikan hukumannya dan membuat mereka bisa pulang lebih cepat. Dalam perjalanan pulang, ia dan Jae Joong akan tertawa karena hal apapun yang mereka bicarakan, lalu kalau sempat mereka akan berhenti di rumah makan milik ahjumma atau harabeoji. Setelah itu, mereka akan berlomba siapa yang paling cepat menghabiskan makanan mereka, dan siapapun yang kalah harus membawakan tas sekolah milik yang menang sepanjang perjalanan mereka pulang ke rumah. Malamnya, mereka sama-sama harus mengikuti bimbingan belajar dari seorang guru privat di rumah mereka. Biasanya, Jae Joong akan mencubit pinggang Jae Rin atau menginjak kakinya setiap Jae Rin akan tertidur. Jae Rin paling malas mendengarkan ajaran guru privat mereka, dan biasanya akan lebih mengerti kalau Jae Joong yang menerangkan bagian yang tidak ia mengerti.

Begitulah dulu hari-harinya berjalan.

Jae Rin masih ingat bagaimana saat kelas 6 ia pernah membuat kakinya sendiri terkilir karena terlalu bersemangat mengalahkan temannya dalam pelajaran berlari di jam olahraga, dan Jae Joong yang menggendong Jae Rin di punggungnya sepanjang perjalanan pulang mereka sambil menceramahi Jae Rin panjang lebar. Setelah kecelakaan kecil itu, mereka terpaksa diantar dan dijemput dengan mobil selama beberapa hari, tapi setelah kaki Jae Rin sembuh mereka melakukan aksi mogok lagi yang membuat mereka diijinkan berjalan kaki ke sekolah lagi.


How she misses those days.

Jae Rin tidak ingat kapan pastinya wajah Kim Jae Joong terlihat jauh lebih tampan dari biasanya di matanya, sejak kapan ia mulai memikirkan baju apa yang sebaiknya ia pakai agar mendapat pujian dari oppa-nya, kapan ia mulai membandingkan teman-teman cowoknya dengan Kim Jae Joong, kapan ia merasa canggung berdiri dalam jarak yang terlalu dekat dengan Jae Joong, atau kapan ia mulai berusaha menjadi seseorang yang selalu Jae Joong sukai.

Lalu suatu hari Jae Joong memperkenalkan Seung Mi pada Jae Rin, dan sejak mereka berjabat tangan, Jae Rin tahu kalau ia tidak akan menyukai Seung Mi.

Sejak hari itu, Jae Joong yang baru saja mendapatkan surat ijin mengemudinya akan mengantar Jae Rin dan Seung Mi dengan mobilnya. Seung Mi selalu duduk di samping Jae Joong, dan Jae Rin yang duduk di belakang Jae Joong hanya bisa berpura-pura menatap buku pelajarannya saat kedua orang itu tertawa-tawa karena apapun yang mereka bicarakan.

Jae Rin tidak pernah menunjukkan rasa tidak sukanya pada Seung Mi. Never. Jae Rin tidak pernah ingin mengecewakan Jae Joong. Ia ingin Jae Joong merasa kalau dia sebagai adiknya mendukung siapapun yang dipilih Jae Joong.

Bukannya membenci siapapun yang dipilih Jae Joong karena dia menginginkan Jae Joong.

“Ya, kan, Jae Rin-a?”

Jae Rin tersentak dari nostalgianya dan menoleh ke arah Jae Joong. “Wae?”

“Kubilang, kau akan membuatkan gaun pengantin paling cantik untuk Seung Mi-ku, kan?”

Eo, tentu saja. Kapan pernikahan kalian akan dilaksanakan?”

“13 Maret. Astaga Jae Rin sayang, kenapa kau jadi pelupa seperti ini?”

Aku tidak pernah mengingat semua yang berhubungan denganmu dan Seung Mi eonnie.

Mianhae, oppa. Sepertinya lelah membuatku jadi pelupa.”

“Kalau begitu, setelah ini kau harus langsung beristirahat. Jangan membuat Seung Mi mengkhawatirkan keadaanmu, arrachi? Sudah terlalu banyak masalah yang harus ia selesaikan di perusahaannya, aku tak mau kalau ia jadi khawatir berlebihan karena kondisimu.”

Hanya satu orang yang bisa membuat Jae Joong tidak memedulikannya, dan orang itu adalah Kim Seung Mi.

Ne.” Jawab Jae Rin singkat.

Hanya Kim Seung Mi yang bisa membuatnya merasa iri.

***

Kim Seung Mi memiliki segalanya.

Wajah yang cantik, tubuh yang tinggi semampai, kaki yang jenjang, kulit putih susu, senyuman yang selalu berhasil membuat siapapun jatuh hati. Seakan belum cukup, gadis itu adalah seorang model yang sukses, menjadi cover-cover di berbagai majalah ternama, dan memiliki sebuah restoran Italia yang dikenal baik oleh semua orang yang tinggal di Seoul.

Kalau harus dibandingkan dengan gadis yang lebih tua 2 tahun darinya itu, Jae Rin tidak yakin ia lebih baik.

Seung Mi adalah gadis yang sangat lembut dan manis. Seung Mi jarang sekali memakai celana dan sudah bukan rahasia lagi kalau Seung Mi sangat menyukai dress-dress pendek yang bisa memamerkan tubuh indahnya dengan maksimal. Sedangkan Jae Rin? Ia keras kepala, dan ia tidak akan pernah memakai dress jenis apapun kalau tidak terpaksa harus mengenakannya.

Seung Mi adalah tipe gadis impian para pria, dan Jae Rin tahu sejak awal ia sudah kalah telak.

Ah, lagipula memang sejak awal seharusnya ia tidak memiliki perasaan semacam ini.

Semalam Jae Rin tidak bisa tidur dengan nyenyak walaupun matanya sangat berat dan ia sudah menenggelamkan diri dalam selimut tebalnya. Ia tidak ingin memikirkan Seung Mi dan Jae Joong, tapi kedua manusia yang sudah bertunangan itu seaakan tidak mau keluar dari kepalanya. Mendadak, semua momen kebersamaan Jae Joong dan Seung Mi yang pernah dilihatnya baik sengaja maupun tanpa sengaja terus memenuhi benaknya. Bahkan ingatan saat pasangan itu berciuman untuk pertama kalinya di halaman belakang sekolah saat hujan deras masih Jae Rin ingat dengan jelas.

Kurang tidur selalu membuat Jae Rin uring-uringan, dan penyebab ia tidak bisa tidur membuatnya semakin uring-uringan hari ini.

Jae Rin mengenakan salah satu dari sedikit gaun yang ia miliki untuk makan malam kali ini. Orang tuanya dan orang tua Seung Mi memilih untuk bersantap di salah satu restoran mewah di kawasan elite Gangnam, dan eommanya sudah mengulang ratusan kali kalau ia tidak ingin melihat Jae Rin hanya mengenakan jeans dan kemeja biasa.

“Kau ini designer, bagaimana mungkin kau tidak tahu cara berpakaian yang sedikit sopan dan lebih feminin? Usiamu sudah 26 tahun tapi cara berpikirmu masih sama seperti remaja ingusan,” tegur eomma-nya saat melihat Jae Rin muncul di hadapannya dengan kaos kebesaran dan celana hitam dari kain dan memaksa Jae Rin mengganti pakaiannya.

“Jae Rin sayang, kapan kau akan mulai merancang baju untuk calon kakak iparmu ini?”

Jae Rin mengangkat kepalanya dari lasagna di hadapannya dan menatap ‘calon ibu mertua kakaknya’ di seberang meja yang duduk di samping Seung Mi. Mereka semua di meja itu, kecuali Jae Rin, sudah hampir menghabiskan makanan mereka sedangkan Jae Rin belum menyentuh sama sekali lasagna miliknya. Jae Rin mengulas senyum tipis di wajahnya lalu menjawab dengan ramah, “Aku sudah punya beberapa rancangan. Uri eomma sudah memaksaku untuk mulai membuat beberapa rancangan sebelum kepulanganku ke Korea. Besok Seung Mi eonnie boleh memilih salah satu rancangan yang ia sukai atau mungkin bisa menjelaskan padaku gaun seperti apa yang ingin dikenakannya, lalu aku akan menggambarkannya dan kita hanya perlu menyerahkannya pada penjahit.”

“Apakah kau sudah membuat ekor gaunnya sepanjang mungkin? Ah, apakah kau sudah menambahkan bunga-bunga mawar di gaun itu? Kau tidak membuat bagian bawah gaunnya polos, kan? Aku suka yang berenda. Pokoknya, gaunku harus megah! Kalau tidak—”

“Seung Mi-ya…” desis ayahnya. “Habiskan makananmu.”

Jae Rin sebenarnya ingin tertawa keras-keras saat muka ceria Seung Mi karena membahas gaun pernikahannya berubah menjadi sangat memelas, seperti baru saja dimarahi karena melakukan suatu kesalahan besar. Tapi sejujurnya, Jae Rin menganggap tingkah lagu Seung Mi agak sedikit berlebihan saat membahas apa saja yang ia ingin dan tidak inginkan untuk gaun pernikahannya.

“Besok eonnie bisa lihat sendiri,” sahut Jae Rin tanpa menghilangkan senyum ramah di wajahnya. Lalu para orang tua kembali sibuk dengan apapun yang mereka bicarakan sebelum mengungkit masalah gaun pernikahan sementara Seung Mi sibuk berusaha menarik perhatian Jae Joong agar hanya tertuju kepadanya saja, sedangkan Jae Rin yang duduk di antara Jae Joong dan ibunya berpura-pura sibuk dengan lasagnanya. Walaupun lasagna di hadapannya sangat enak dan menggoda iman, tapi Jae Rin sama sekali tidak bernafsu malam itu.

She wonders if she will be able to survive….

***

How about you?

The people look only happy
It seems like I’m the only one left in loneliness
I try to pretend that I’m not
but I keep thinking of you

After a long time, I am here right now
Because I long for that time,
Though I tried to live without knowing,
I keep thinking about it
That’s how I am, it keeps coming into my eyes
The times we spent together, the memories –
they fall like stars

“Gaun ini masih terlalu polos!”

Jae Rin mengunyah permen karet rasa pisangnya dengan geram dan menatap kertas di atas meja belajar di kamarnya dengan harapan ia bisa membakar kertas itu. Jae Rin sudah berusaha mati-matian mengerahkan kemampuannya dan menghabiskan semalam suntuk untuk membuat ulang gaun yang ‘wah’ karena rancangan-rancangan terbaiknya tidak ada yang sesuai dengan keinginannya. Bahkan Jae Rin sama sekali tidak tidur setelah mengikuti acara Fashion yang harus dihadirinya. Tapi dengan mudahnya, Seung Mi mengatakan kalau gaun itu terlalu polos. Jae Rin mengakui ia lebih ahli mendesain baju yang simple, dan ia sangat payah kalau harus mendesain gaun dengan pernak-pernik berlebihan seperti permintaan Seung Mi.

Gaun ini, dengan potongan bagian atas bajunya yang memamerkan lebih dari separuh punggung dan dadanya, adalah batas paling menjijikkan bagi seorang Kim Jae Rin, tapi gadis itu masih memintanya untuk menambahkan payet-payet yang berkilau tertimpa sinar lampu dan renda-renda yang mengembang dengan aneh pada bagian bawah gaunnya?

Jae Rin tidak mengerti jalan pikir gadis itu.

Tepat saat Jae Rin ingin merobek kertas rancangannya, terdengar ketukan tiga kali yang sangat lembut dari pintunya.

Ah, pasti Jae Joong oppa.

Jae Rin melempar kertas rancangan itu ke sembarang tempat, lalu membuka pintunya kamarnya dengan satu tarikan kasar. Persetan dengan gaun pernikahan Seung Mi, Jae Rin tidak ingin memikirkannya untuk saat ini.

Dugaannya tepat, Kim Jae Joong berdiri di hadapannya, hanya mengenakan kaus berlengan panjang dan jeans warna abu-abu kesayangannya.

“Hello, darling! Mukamu kusut sekali. Ada apa?”

Sapaan ramah dari Jae Joong sama sekali tidak bisa menghilangkan kedongkolan Jae Rin akan Seung Mi. “Gaun pengantin calon istrimu. Aku tidak mengerti, seleranya aneh sekali.”

Jae Joong tertawa kecil saat mendengar keluhan Jae Rin dan menganggukkan kepalanya. “Benar, seleranya aneh sekali.”

“Kenapa seleramu aneh sekali, oppa?”

Sebelah alis Jae Joong terangkat. “Aneh? Wae?”

“Kenapa kau bisa-bisanya ingin memperistri gadis seaneh Seung Mi? Kau sendiri mengatakan kalau gadis itu aneh.”

Jae Joong menggedikkan bahunya. “Sometimes things don’t happen as you wish, darling.”

Sekarang giliran Jae Rin yang menautkan kedua alisnya. “What do you mean?”

“Nothing,” ujar Jae Joong cepat. Jae Joong meraih tangan Jae Rin dan menarik Jae Rin mendekat.

“Wae, oppa?”

Jae Joong hanya menyunggingkan senyum setengahnya yang mematikan.

“Ikut saja.”

***

“Oppa, aku bukan anak kecil lagi!” rengek Jae Rin saat mengenali di mana taksi yang mereka tumppangi berhenti. Jae Joong sengaja tidak ingin membawa mobilnya sendiri, karena Jae Joong bilang ia ingin mengenang saat-saat dimana mereka berjalan kaki bersama. Karena menurut Jae Joong jarak yang akan mereka tempuh cukup jauh, maka Jae Joong memutuskan membayar taksi.

Sekarang Jae Rin mengerti kenapa Jae Joong membayar taksi.

“Memangnya aku memperlakukanmu seperti gadis kecil? Yaampun, darling, kau bukan Jae Rin kecilku lagi yang selalu merengek setiap saat,” Jae Joong bersikap biasa-biasa saja, tapi Jae Rin semakin kesal karena ia tahu Jae joong sedang menyindirnya.

“Kupikir kau mau mengajakku kemana… tapi ini… Oppa, hentikan panggilan ‘darling’ itu, mejijikkan sekali.” Jae Joong jarang sekali memanggil namanya. Sejak dulu Jae Joong lebih suka memanggilnya ‘darling’. Bahkan Jae Rin belum pernah mendengar Jae Joong memanggil Seung Mi dengan sebutan ‘darling’, ‘dear’ , ‘honey’, ‘babe’, dan sejenisnya.

“Memang kenapa? Panggilan ‘darling’ itu imut sekali.”

“Tapi orang-orang akan salah mengira kita sebagai sepasang kekasih. Lagipula, seharusnya kau menggunakan panggilan sejenis ‘darling’ pada Seung Mi. Kenapa kau tidak pernah menggunakannya?” tany Jae Rin ketus.

“I told you, sometimes things don’t happen as you wish. Nah, darling, kau mau ikut turun atau tidak?”

Sebenarnya Jae Rin ingin menolak keras ide ini, tapi kapan lagi ia bisa berjalan bersama Jae Joong? Jae Rin hanya mengangguk malas sebagai jawaban atas pertanyaan Jae Joong.

***

“Baboya. Sejak kapan singa makan pisang?”

Jae Rin jengkel saat mendengar sindiran Jae Joong untuk kesekian kalinya. Setelah memaksanya untuk menerima ajakan Jae Joong masuk ke dalam kebun binatang yang selamanya selalu menjadi tempat bagi anak kecil di otak Jae Rin, Jae Joong mengerjainya sampai-sampai Jae Rin melempar salah satu dari pisang-pisang yang ingin mereka berikan pada monyet ke kandang singa. Jae Joong terus menerus mengingatkan Jae Rin akan kejadian memalukan itu sepanjang perjalanan mereka mengelilingi kebun binatang itu.

“Siapa yang membuatku melempat pisang itu?”

‘Tidak ada. Kau sendiri yang melemparnya.”

“Tapi itu refleks,” Jae Rin membela diri. Ia bisa merasakan pipinya memanas, “Kau melemparku dengan kacang dan mengenai dahiku, jadi aku refleks melempar pisang di tanganku.”

“Tapi pisang itu meleset dan masuk ke kandang singa,” Jae Joong menyelesaikan kalimat Jae Rin dan tertawa terpingkal-pingkal setelahnya.

Jae Rin hanya melipat tangannya dan menatap Jae Joong dengan kesal. Jae Joong menghentikan tawanya, lalu segera menarik Jae Rin ke dalam pelukannya. Jae Rin tidak menyingkir, ia tidak bergerak dari posisi berdirinya.

“Mian,” bisik Jae Joong sambil mengelus kepala Jae Rin. “Aku tidak suka melihat wajahmu saat kau kesal. Kau jadi lucu sekali. Aku rasa aku ingin mencubit pipimu.”

“Sebenarnya kau mau meminta maaf atau membuatku semakin kesal, sih?” sahut Jae Rin ketus. “Satu syarat.”

“Syarat apa?”

“Tadi kau bilang kau meminta maaf. Aku akan menerima maafmu dengan satu syarat.”

“Apa itu?”

“Traktir aku makan jjajangmyeon di kedai ahjumma.”

***

“Baru satu minggu dan kau sudah merindukan jjajangmyeon buatan ahjumma lagi?”

Jae Rin mengangguk penuh semangat. Saat ini mereka berada di dalam taksi dan sedang dalam perjalanan menuju kedai ahjumma. Jae Joong merangkul pundak Jae Rin dengan tangan kirinya, sementara Jae Rin setengah meringkuk dalam rangkulan Jae Joong.

Jae Joong oppa hangat sekali…

Jae Rin yakin kalau supir taksi itu pasti mengira kalau ia sedang membawa 2 orang yang sedang di mabuk cinta di taksinya, tapi tidak berani mengatakan apapun dan hanya fokus menyetir.

“Oppa, kau tidak kasihan melihat adikmu merindukan jjangmyeon ahjumma setengah mati di Prancis sementara kau bisa pergi ke sana kapan saja—”

“Siapa yang menyuruhmu pergi ke Prancis?” potong Jae Joong. “Aku sudah bilang agar kau sekolah di sini saja. Jangan pergi jauh-jauh.”

Jae Rin tertawa mendengar jawaban Jae Joong. “Oppa, kau terdengar seperti seseorang yang tidak ingin berpisah seseorang yang sangat dicintainya.”

“Aku memang—”

Kalimat Jae Joong tak pernah terselesaikan, karena saat itu, seberkas sinar yang sangat terang membuat mata Jae Rin refleks menutup dan hal berikutnya yang Jae Rin tahu adalah sepasang tangan kekar yang mendekapnya erat dan ia tidak dapat merasakan tubuhnya lagi.

***

Sakit.

Jae Rin mengangkat tangan kanannya dan memegangi kepalanya. Erangan kecil terlontar dari tenggorokannya. Kepalanya didera sakit kepala yang hebat dan ia tidak dapat merasakan kedua kakinya.

Ada apa ini?

Jae Rin memaksa dirinya sendiri untuk membuka mata dan warna pertama yang menyambut matanya adalah warna putih. Hidungnya disambut dengan aroma khas disinfektan atau apapun itu. Jae Rin memaksa otaknya untuk bekerja dan menemukan jawaban bahwa saat ini ia berada di rumah sakit.

“… Kim Jae Rin tidak… luka yang terlalu parah…tidak…Tuan Kim Jae Joong… Kepala… Kelumpuhan pada kakinya… Terapi… Akan sembuh… Koma… Pecahan kaca… Seluruh tubuh… Jahitan… Mata… Buta….”

Jae Rin menjerit tertahan. Jae Rin yakin saat ini seorang dokter berdiri di depan pintu ruang rawatnya bersama orang tuanya, dan sedang membicarakan keadaannya dan Jae Joong. Tidak banyak yang bisa ditangkap indera pendengarannya, dan Jae Rin butuh penjelasan sekarang juga.

Apa yang terjadi pada ia dan Kim Jae Joong?

Jae Rin bisa mendengar jerit tangis Seung Mi dan ibunya serta ibunya sendiri, dan Jae Rin rasa ia juga bisa ikut menangis.

“Dokter…” panggil Jae Rin dengan seluruh kekuatannya yang masih tersisa. Berharap seseorang mendengar, lalu masuk dan menjelaskan semuanya.

Tapi setelah itu, Jae Rin menyesal karena berkeras meminta Dokter untuk mengulang penjelasannya tentang apa yang terjadi pada ia dan Jae Joong.

Sementara seluruh wanita di ruangan ini menangis, kecuali dirinya, dokter itu memulai penjelasannya yang sangat… Menyedihkan.

“Luka anda tidak terlalu parah, maksudku tidak separah tuan Kim Jae Joong. Anda hanya mengalami luka pada kepala dan hanya menerima beberapa jahitan. Kaki anda juga mengalami kelumpuhan untuk sementara waktu, tapi melalui terapi anda akan bisa berjalan lagi seperti biasa. Tapi Tuan Kim Jae Joong… saat ini sedang dalam kondisi koma. Pecahan kaca di seluruh tubuh dan menerima banyak sekali jahitan. Ada juga yang mengenai matanya dan Tuan Kim Jae Joong terancam buta.”

Jae Rin yakin ia hampir mati mendengarnya.

***

Tears fall

If I wait here,
will I be able to see you?
Then will I be able to tell you
how I feel right now?

“Kau yakin?”

Jae Rin hanya mengangguk pelan. Sejujurnya, ia tidak yakin. Sama sekali tidak yakin. Tapi ia sudah membulatkan tekad, dan ia tidak ingin mundur.

“Kita bisa menunggu donor mata yang lain.”

Jae Rin menggeleng. “Oppa seperti ini karena ia melindungiku. Aku ingin membalas budi. Eomma, biarkan aku melakukan ini. Kumohon. Anggap saja ini permintaan terakhirku.”

“Tapi ini terlalu berlebihan, Kim Jae Rin. Kau tidak perlu melakukan ini.”

Jae Rin menggeleng. Air matanya mulai mengalir tanpa seijinnya. Yaampun, ia cengeng sekali. “Andwae, eomma. Biarkan aku melakukannya. Eomma, jangan membuatku mengubah keputusanku. Kumohon…”

Eomma-nya sudah menghapus air matanya untuk kesekian kalinya sejak hari kecelakaan ia dan Jae Joong. Jae Joong sudah sadar, dan dokter sudah menjelaskan semuanya. Mereka mengatakan pada Jae Joong kalau ia hanya perlu menunggu donor mata dan keadaannya akan kembali seperti dulu.

Eomma membuka tas tangannya, lalu menyodorkan sebuah amplop coklat kepadanya.

“Jae Joong berpesan untuk menyerahkan ini padamu kalau samapi suatu hari sesuatu terjadi padanya. Tapi kurasa, sekarang waktu yang tepat. Bacalah. Setelah itu, kau bebas melakukan apapun yang kau mau.”

***

Annyeong, darling!

Ya Tuhan, akhirnya aku benar-benar menulis surat cinta untuk seorang gadis, dan gadis pertama yang mendapat kehormatan untuk membaca surat cintaku adalah kau!

Ya, ya, aku tahu eomma pasti sudah mengatakan padamu kalau kau menerima surat ini berarti sesuatu terjadi padaku. Uljima, babo! Aku benci tangisan, kau tahu itu.

Sebenarnya surat pendek ini tidak benar-benar berisi pengakuan cinta sih…

Begini. Ada beberapa hal yang harus kujelaskan padamu.

Pertama, aku tidak pernah menyukai Seung Mi. Sungguh. Ya, kau tidak tahu bagian dari hubungan kami yaitu dijodohkan. Aku melarang mereka untuk mengatakan padamu kalau ini hanya perjodohan. Aku benar-benar tidak ingin terlihat lemah saat itu. Maksudku, lemah karena aku terlalu putus asa sampai aku tidak bisa menemukan seorang kekasih pun.

Kedua… Some things don’t happen as you wish. When i realized i liked you so much, i know this is wrong.

Maafkan oppamu yang tidak berguna ini, darling…

Berjanjilah padaku untuk melakukan apa yang membuatmu bahagia dan temukan seseorang yang bisa membahagiakanmu.

Love you always, Kim Jae Joong

***

Jae Rin menatap kosong ke arah lampu-lampu neon di langit-langit rumah sakit itu.

Sebentar lagi, semuanya akan menjadi gelap. Tapi Jae Rin tidak akan menyesal.

Lampu di ruangan operasi itu mulai mati. Jae Rin menatap Jae Joong yang sudah tak sadarkan diri karena efek obat bius. Memperhatikan setiap garis wajah Jae Joong, berusaha mengingatnya dengan baik.

Mianhae, Oppa. Tapi ini yang membuatku bahagia.

Jae Rin tersenyum tanpa nyawa. Lalu perlahan semuanya meredup….

***

Seoul, Korea.

100 years later.

Sial, kalau begini ceritanya ia bisa telat.

Kim Jae Rin mengendarai amphibithrope nya dengan kecepatan maksimum, melesat di antara amphibithrope lainnya yang sedang melenggang dengan tertib. Ia tidak memperhatikan hal lain selain jalanan di depan matanya. Jae Rin menekan sebuah tombol di atas kemudinya dan langsung membentak dengan suara kencang.

“Ya Shim Changmin, neo eodiya! Kenapa kau tidak membangunkanku?”

Changmin berdecak kesal. “Memangnya alarm barumu tidak berfungsi lagi? Aigoo jinjja! Sudah kubilang kau benar-benar butuh sebuah robot untuk menjadi pelayan rumahmu. Kenapa sih kau ini keras kepala sekali? Dengar ya, aku menelponmu juga tidak akan berguna, karena kau tidak akan mendengar bunyi X7-mu! Kau pasti meninggalkannya di amphibithrope-mu. Kalau tidak, kau tidak akan mungkin bisa menelponku sekarang.”

“Appa sudah datang?” Jae Rin mengacuhkan protes adiknya dan langsung memastikan keberadaan ayahnya di perusahaan mereka.

“Tentu saja sudah datang. Appa kan rajin, tidak seperti kau.”

“You’re going to pay for that,” geram Jae Rin.

“Nuna, sebaiknya kau cepat kemari. Appa punya berita… Besar!”

“Berita apa?” Jae Rin mengambil X7-nya lalu turun dan menyerahkan amphibithrope-nya kepada salah seorang robot dan membiarkan robot itu memarkirkan amphibithrope-nya. Jae Rin segera masuk ke dalam lift dan menekan tombol 27, dan 3 detik berikutnya ia sudah sampai.

“Pernikahanmu akan dipercepat.”

“MWO?!”

“Aish nuna, jangan berteriak seperti itu. Cepat masuk ke ruang Appa!”

***

Memangnya ini jaman dulu saat perjodohan sedang marak-maraknya? Memang di tahun 2113 ini masih ada yang namanya perjodohan?

“Kau telat lagi, Sayang.”

“Jweseonghaeyo, Appa.” Siapa yang menyuruhnya datang ke kantor jam 7 pagi? Ia tidak akan bangun sebelum jam 10!

“Lupakan saja. Omong-omong, hari ini kau harus bertemu dengan calon suamimu.”

“Appa, aku sudah bilang aku tak mau menikah! Suruh Changmin saja, aku tidak mau!”

“Ya, naega wae?!” Teriak Changmin tanpa mengalihkan perhatiannya dari OnGo nya. “Nuna, aku masih 16 tahun! Mana mungkin aku menikah?!”

“Pokoknya, aku tidak mau, appa!” rengek Jae Rin.

Appa-nya hanya menggeleng pelan. “Begini, kau temui dulu dia di MAX. Setelah itu, terserah kau apakah kau mau menikah dengannya atau tidak. Appa sudah membuat janji dengannya, appa tidak enak kalau tidak menepatinya.”

“Appa saja yang bertemu dengannya,” sungut Jae Rin sambil berlalu dari ruangan ayahnya.

***

Mana pria bernama Kim Jae Joong itu, dengus Jae Rin kesal. Ia sedang tidak ingin berlama-lama. Ia hanya punya satu pilihan untuk bisa menemukan pria itu dengan cepat.

“KIM JAEJOONG, DIMANA ANDA DUDUK?”

Semua orang yang sedang menikmati makan siang mereka di MAX menoleh ke arahnya, tapi Jae Rin sama sekali tidak menghiraukan tatapan aneh mereka.

“Siapa yang berani meneriaki namaku seperti itu?”

Jae Rin menoleh ke belakang, ke arah suara itu, lalu terpekur di tempatnya.

Siapa dia?

“Nugu… seyo?” tanya Jae Rin ragu.

“Nan Kim Jae Joongiyeyo. Kau mencariku?”

Jae Rin yakin ia mengenal pria di hadapannya. Sungguh. Mengenal dengan sangat baik, bahkan? Sekelebat perasaan rindu memenuhi dirinya.

Astaga, perasaan macam apa ini?

“Apa kita pernah bertemu?”

“Molla,” sahut pria itu asal. “By any chance… Are you… Kim Jae Rin?”

“Yes but… Tunggu, kau yakin kita belum pernah bertemu sebelumnya?”

“Kapan kita pernah bertemu, astaga! Dengar, aku dipaksa datang kesini karena aku harus bertemu dengan seseorang yang bernama Kim Jae Rin. Aku tidak pernah mengenal siapapun yang bernama Kim Jae Rin, tahu?”

Tidak mungkin. Jae Rin yakin ia mengenal pria di hadapannya.

Hanya ada satu cara untuk memastikan mereka pernah bertemu.

“Kalau begitu, perkenalkan, namaku Kim Jae Rin. Sekarang, kau tahu yang mana Kim Jae Rin, kan? Sekarang kau pernah bertemu Kim Jae Rin, kan? Dan kau akan segera mengenalku! Aku pastikan itu!”

Because I miss you, because I am missing you
That’s how I am, I only know you
Living without you makes me filled
with regret about everything
Because you’re not here,
because there are so many empty things
Again today, I long for that spot and
my footsteps won’t move and I call out to you

***

19 PAGES!!! Omg seriously jeongmal mianhae buat yang udah setia nungguin cerita gue *plak*. LEADERNIM MAAFKAN AKU TELAT POST…

Sama sekali gasempet edit. Bener-bener random.

Celine-a… Jeongmal mianhae TT Maafkan kalau ini diluar ekspetasi TT

Anyways, hope you enjoy this story~~~

P.S : Itu poster dibuat karena faktor keisengan semata dan gara” nemu tutorial. Terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s