Ice Cream (Kim Kibum – Go Jaemi)

Ice cream

 

 

 

CKRIK!!!

“yak! Selesai! Terima kasih semuanya!” teriak sang fotographer. Semuanya langsung tertawa lega dan bersalaman dengan satu sama lain. semua orang, kecuali satu.

Jaemi, sang model, hanya memasang sebuah senyum tipis tanpa arti. Tidak ada yang mampu membuatnya tersenyum akhir-akhir ini. dengan sempoyongan ia berjalan ke arah managernya dan bersandar pada bahu pria itu. Diambilnya laptop dari tas sang manager dan mulai mengutak-atik di dunia maya.

Ketika sedang membaca artikel tentang konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan, ia menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya.

Go jaemi. Gadis idaman semua orang. Dambaan para pria, idola semua wanita. Dengan tubuh tinggi semampai dan wajahnya yang bak dewi yunani, jaemi berhasil menjadi salah satu model terbaik di seluruh dunia versi time’s most successful models in history. Sayangnya, jaemi akhir-akhir ini dikabarkan terlibat skandal dengan model pria terkenal asal korea, Choi Minho. Mereka berdua terlihat sedang berjalan keluar dari-

Jaemi mendesah dan menutup laptop. “berita ini lagi,” gerutunya. “bukankah agensi sudah mengeluarkan pernyataan resmi? Kita hanya berteman! Dia bahkan sudah memiliki kekasih.”

Sang manager yang sedari tadi membolak-balik jadwal jaemi mengangkat kepalanya, terlihat dari wajahnya bahwa ia juga lelah harus menghadapi masalah ini. Diambilnya laptop dari pangkuan gadis berdarah campuran amerika-korea tersebut, dan menaruhnya di tempat lain.

“laurent, listen,” katanya, memanggil jaemi dengan nama internasionalnya. “tidak ada model yang bisa jauh dari kontroversi. Ingat ketika kamu baru saja memulai sepak terjangmu sebagai model, dan sudah begitu banyak orang yang menuduhmu melakukan operasi plastik besar-besaran? Bahkan ada beberapa dari mereka yang menyebarkan foto palsu orang lain yang sama sekali tidak mirip denganmu. Mereka hanya iri pada kecantikan dan bakatmu, it’s as simple as that.” Simpulnya sambil memeluk jaemi.

“so what you’re trying to say is that i should ignore these kind of news and just let it disappear by it’s own?”

“exactly honey!” seru sang manager riang. Dengan lincah ia mengambil jadwal jaemi dan memeriksanya. “baiklah, menurut jadwalmu untuk hari ini, kamu harus melakukan satu kali lagi photoshoot di, umm, apa ini? oh! Aku lupa! Kamu harus pergi ke amerika untuk pemotretanmu yang selanjutnya!“

“Richard…”

“astaga! Bagaimana aku bisa lupa! Aku rasa aku masih terbayang-bayang sepatu jimmy choo yang tadi kita lihat di shopping mall,”

“Richard.”

“Coba saja aku seorang perempuan! aku akan langsung membelinya!  Those pumps are just too CUTE to be true girl i’m telling you-“

“RICHARD! Please, just, stop. Bisakah kau membatalkan semua janji untuk minggu ini?” pinta jaemi letih.

“jaemi you know i can’t do that.”

“PLEASEEEEEEEE” rengek jaemi.

Richard tampak berpikir keras. Setelah beberapa menit dalam diam, ia menutup matanya dan terkekeh pelan. Ia masukkan jadwal jaemi ke dalam shopping bag andalannya mengangkat tangannya seolah-olah dia menyerah.

“fine,” katanya pasrah. “anything for my baby girl! Kamu juga kelihatan lelah, apakah kamu mau movie-marathon lagi di apartemenku? Aku punya koleksi film yang bagus! Kamu juga bisa makan malam bersama kita, leon akan memasak pasta malam ini.” lanjutnya sambil mengedipkan sebelah mata.

“thanks, but no thanks. Aku harus pergi menemui seseorang terlebih dahulu.” Kata jaemi sambil merapikan barang-barangnya. Ia diam-diam menyentuh bandul kalung yang dipakainya, kalung yang diberikan olehnya. Oh betapa dia merindukannya. “aku pergi dulu richard. Bila ada orang yang bertanya aku dimana bilang saja aku sedang sakit dan tidak ingin dikunjungi.”

“oh no. no, no, no, no, no. kamu sudah berjanji untuk tidak menemuinya lagi. He’s dangerous for both of you.” bantah richard. Ia tidak ingin gadis kesayangannya terluka lagi. tetapi ketika ia membalikkan badan, ia tidak bisa melihat jaemi dimana-mana. “anak itu sudah terlanjur pergi. gawat.” katanya sambil menyambar kunci mobil dan berlari keluar.

*****

Jaemi berani bersumpah ia melihat langit diatas tempat itu jauh lebih gelap daripada langit di sekitarnya. Dinding tempat itu sudah terkikis oleh waktu, lumut tumbuh di pertemuan antara batu bata dengan batu bata yang lain. bangunan itu seperti dirancang untuk memadamkan segala semangat hidup orang-orang di dalamnya, dan pelan-pelan merenggut kewarasan mereka sampai mereka hanyalah sebuah nama di surat kabar. Awalnya jaemi tidak percaya tempat seperti ini ada, tetapi setelah ia melihatnya direnggut dari dirinya dengan mata kepala sendiri, ia sadar bahwa dunia luar jauh lebih berbahaya dari yang dia kira.

“maaf nona, s-s-saya hanya mampu mengantarmu sampai sini saja. Apa anda yakin ingin m-m-masuk ke tempat seperti…ini?” tanya supir taksi itu gemetar. jaemi bisa mengerti ketakutan sang supir taksi. Satu-satunya orang yang masuk ke tempat ini adalah orang-orang yang kehilangan kewarasan mereka, orang-orang yang telah dikecewakan oleh dunia nyata. Mereka sendirian dalam kegelapan, memendam kebencian yang sedikit demi sedikit menghancurkan mereka, hilang kepercayaan.

“maaf anda harus mengantar saya ke tempat seperti ini,” jaemi meminta maaf sambil mengeluarkan sejumlah uang yang harus dia bayar. “anda simpan saja kembaliannya.”

Jaemi baru saja keluar dari taksi ketika kendaraan itu meluncur keluar dengan cepat. Setelah taksi tersebut hilang dari pandangan, ia mengetuk gerbang besi setinggi 10 meter di depannya. Suara yang dihasilkan sungguh mengerikan, seolah-olah jaemi baru saja membangunkan sebuah monster yang telah tertidur selama ratusan tahun.

“SIAPA DISANA?!” sebuah suara berteriak lewat megaphone yang dipasang di puncak gerbang.

“GO JAEMI! AKU ADA DI DAFTARMU!” jaemi balas berteriak.

Hanya terdapat suara dengingan radio selama beberapa saat. Jaemi menunggu dalam diam sementara malam mulai menyelubunginya. Semilir angin malam yang dingin membelai rambutnya, tangan-tangan dingin tak bernyawa memeluknya.

Tiba-tiba, gerbang tersebut bergetar dan terbuka dengan mengerikannya. lapisan karat yang tebal menunjukkan bahwa gerbang ini sudah lama tidak dibuka. Seorang sipir penjara bertubuh tinggi besar menatap jaemi dengan tatapan curiga.

“pasien 283,” ucap jaemi lirih. Tidak bisa dipungkiri lagi, dengan segala teriakan-teriakan dan rintihan minta tolong yang bisa ia dengar bahkan dari luar bangunan, ketakutan menguasainya.

“ikut saya.” Jawab sang sipir singkat sambil berjalan ke arah bangunan.

Jaemi menahan nafas sambil bersusah payah melangkahkan kaki masuk melewati gerbang tersebut. Dibacanya plang gerbang tersebut untuk sekali lagi sebelum gerbang besi itu kembali menutup.

‘Rumah Sakit Jiwa Nasional Korea’

*****

BRAK BRAK BRAK!!!

Pintu besi di sepanjang lorong tersebut digedor-gedor dari dalam. Jaemi secara otomatis memekik kaget. ‘Apakah kibum telah berubah seperti ini? apa yang akan kulakukan bila…? ah tidak, ia selalu menepati janjinya, selalu.’ Batin jaemi.

Ketika mereka telah sampai di ujung lorong, sang petugas mengambil sebuah kunci dari kantung celananya dan memasukkannya di lubang kunci pintu itu.

“5 menit,” katanya. “dan pintunya akan tetap terbuka.”

Kunci itu berputar dengan sangat pelan, seperti baru diminyaki. Jaemi menelan ludah, tenggorokannya hampir kering. Pintu itu berayun terbuka, dan bisa dilihatnya seorang pria berambut pirang yang sedang duduk di ranjangnya dengan mata tertutup. Merasakan keberadaan orang lain, pria itu membuka matanya. Matanya yang waspada berwarna hijau tua mematikan, seperti mata ular.

“Kim…kibum?” panggil jaemi dengan hati-hati.

“……”

“kibum-ah, bagaimana kabarmu? Ini aku, jaemi.”

“…..jae..mi? Go..jaemi?”

“ya! Benar! Go jaemi! Oh kibum-“

Kalimat jaemi terpotong ketika kibum tiba-tiba memeluknya dengan sangat erat. Sang sipir segera mengambil tindakan dan berusaha memisahkan mereka berdua.

“kotak nomor 158,” bisik kibum sebelum pelukannya terlepas. “JAEMI-YA SARANG-“

BLAM!! Pintu kembali ditutup tepat sebelum kibum menyelesaikan kalimat terakhirnya.

Jaemi tidak membuang-buang waktu lagi dan segera berlari menuju pintu keluar, tidak dihiraukannya erangan mengerikan dari pasien yang lain. ketika ia sampai ke pintu gerbang­–yang anehnya terbuka–bisa dilihatnya richard yang sudah menunggu di dalam mobil.

“BANK! KITA KE BANK!!” teriak jaemi panik sambil menghempaskan tubuhnya ke dalam mobil. “STEP ON IT MISTER!”

Richard segera mengemudi seperti orang gila menuju bank satu-satunya di kawasan itu. matahari baru saja terbit, tetapi jaemi tidak bisa mengagumi keindahan matahari terbit seperti yang ia lakukan dulu bersama kibum. Ia harus memenuhi permintaan terakhirnya.

Richard dengan mudahnya memarkir mobil, dan jaemi segera berlari keluar disusul olehya. Jaemi hampir saja mendobrak pintunya ketika ia ingat bahwa bank ini buka 24 jam, jadi ia menerobos masuk, mengagetkan semua orang dan hampir memberi seorang nenek tua sebuah serangan jantung.

“tolong, kotak nomor 158, PLEASE!” teriak jaemi dengan parau. Selama perjalanan tadi ia menangis sejadi-jadinya, dan sekarang penampilannya sungguh berantakan. Tetapi, sekali lagi, ia tidak peduli. Untuk apa dia peduli? Tidak ada lagi yang penting dalam hidupnya.

Seorang bapak gempal berkumis lebat tergopoh-gopoh menghampiri jaemi dan menuntunnya ke arah penyimpanan barang berharga. Dengan sekuat tenaga ia buka pintu aluminium raksasa tersebut, memperlihatkan ratusan kotak penyimpanan di dalamnya.

“155…156…157…..158! nona! Disini!” seru bapak itu yang entah kenapa ikut bersemangat.

Bapak itu menyerahkan kunci kotak ke jaemi. dengan tangan gemetar ia membuka kotak itu dengan amat sangat perlahan.

Hanya satu benda di dalamnya.

Benda yang kecil, dan berkilau tertimpa sinar lampu ruangan itu.

Jaemi tidak bisa menahan segala emosinya dan jatuh menangis sesenggukan. Dipegangnya erat-erat benda itu.

Sebuah cincin.

3 thoughts on “Ice Cream (Kim Kibum – Go Jaemi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s