Nonsense (Kim Jaejoong – Kim Seungmi)

tumblr_mjtq00JRGh1r4y5iko1_500bfjabjafbeafbe

 

 

Seoul, South Korea

Seoul National University

11.04 AM

Surat pertama.

No way, I’ve realized that I’ve been looking at you

It won’t do even if I hate it, stop it, or hide it

It can’t go on like this

I will confess that I’ve fallen for you

You’re everywhere in my dream

I know that it doesn’t make any sense but I love you

–KSM

Seorang Kim Jaejoong yang tengah memandang kertas kecil berbau wangi seperti parfume itu mengerutkan kedua alisnya dengan bingung. Tangannya yang memegang kertas itu pun diangkat, dan dihirupnya bau wangi itu lagi. Bau ini, ia pernah menghirupnya. Bau bunga lilac yang sangat ia kenal ini, ia pernah menghirupnya entah dimana. Ia pun memandang tulisan itu lekat-lekat lagi, tulisan ini, ia juga mengenalnya. Tulisan kecil-kecil dan rapi milik seorang gadis yang sepertinya ia kenal. Seperti tulisan..

“Ya, Kim Jaejoong !”

Jaejoong menolehkan kepalanya kebelakang saat ia mendengar namanya dipanggil. Surat yang tengah ia pegang oleh tangannya langsung ia sembunyikan dibelakang tubuhnya. Wajahnya pun menampilkan senyum yang jarang sekali ia tampilkan kepada orang lain selain sahabatnya sendiri, Kim Seungmi. Tunggu..

Kim Seungmi… KSM.. Apakah.. ?

“Ya, Kim Jaejoong ! Astaga, apakah kau akan terus saja terjebak didalam pikiranmu itu dan membiarkanku sendirian ?!” teriak yeoja itu lagi, ani– lebih tepat yeoja itu disebut dengan sahabatnya.

“Kim Seungmi, bisakah kau tidak berteriak ? Telingaku lama-lama bisa pecah karenamu.” Protes Jaejoong yang dalam sekejap hilang senyuman pada wajahnya. Ia pun berjalan melewati gadis itu lalu menghentikan langkahnya saat ia yakin Seungmi sudah berdiri dibelakangnya. Dengan cepat, ia masukkan kertas kecil itu berikut tangannya kedala saku celananya. Setelah itu ia pun membalikkan tubuhnya.

“Ngomong-ngomong, ada apa kau mencariku ? Kau merindukanku, huh ?” kata Jaejoong kepada Seungmi. Sekejap, Jaejoong dapat melihat Seungmi memasang wajah ‘kau-menjijikan’nya. Ia pun tertawa kecil melihat reaksi yeoja itu.

“Ayolah, aku tidak sedang ingin bercanda ! Aku membutuhkan bantuanmu.” Kata Seungmi sambil berjalan mendekati Jaejoong.

“Bantuan macam apa, memangnya ? Biasanya kau dapat menyelesaikan semua masalahmu dengan mudah tanpa bantuanku.”

Seungmi terlihat berdeham kecil sebelum melanjutkan maksudnya menemui Jaejoong, yang berhasil membuat Jaejoong mengerutkan keningnya bingung lagi. Seungmi tidak pernah terlihat gugup didepannya seperti ini. Atau mungkin ia tidak pernah mengetahuinya, tetapi sama saja.

“Bantuan untuk mendekati… Park Yoochun.“

Demi Tuhan, pada detik itu pun, jantung seorang Kim Jaejoong terasa berhenti mendengar kalimat terakhir sahabatnya itu. Bahkan ia masih mengaharapkan Seungmi yang masih ingin bersama dirinya, menunggu dirinya sampai meyakinkan perasaannya sendiri terhadap yeoja itu, masih berharap bahwa yang memberikan surat yang tadi ia terima itu dari yeoja itu. Tetapi saat ia mulai yakin terhadap perasaannya, yeoja itu mulai berpaling darinya.

Eotteokhaji ?

***

Seoul, South Korea

Seoul National University

10.48 AM

Surat keempat.

I like this sensation, you know how I feel even if we were to fight everyday

You always want it your way but I can accept anything from you, only you

I’m lonely, my heart’s crazy for you and and you’re the only one I see

–KSM

Jaejoong menatap lekat surat kedua yang ia dapatkan itu. Jenis tulisan tangah dan wanginya masih sama. Perbedaannya hanyalah kemarin kertas kecil itu berwarna pink, dan hari itu kertas yang ia dapatkan berwarna ungu.

Jaejoong menyenderkan tubuhnya pada tembok dibelakangnya dan memasukkan satu tangannya kedalam saku celananya. Mengapa surat-surat seperti ini masih ia dapatkan ? Dan ia pun masih berharap yeoja yang terus menuliskan surat-surat ini adalah Kim Seungmi. Bodoh. Ia tahu Seungmi sekarang sudah bersama namja barunya. Bodoh bodoh bodoh.

Tapi ia masih sangat yakin yeoja yang mengasih surat ini adalah Seungmi. Kemarin ia bertengkar dengan Seungmi demi memperebutkan makanan kesukaan mereka dan baru saja kemarin ia melihat Seungmi yang mau menyerahkan makanan yang mereka perebutkan kepadanya untuk pertama kalinya.

I like this sensation, you know how I feel even if we were to fight everyday

You always want it your way but I can accept anything from you

Jaejoong membaca ulang kalimat yang tertulis dikertas itu. Kebetulan ? Atau memang Kim Seungmi yang memberinya surat-surat seperti ini ?

Jaejoong pun memasukkan surat yang sudah terlipat itu kedalam saku celana. Sesaat lagi, Seungmi pasti akan datang menemuinya. Bagaimana ia tahu itu ? Entah mengapa ia juga tidak mengetahuinya. Yang ia tahu hanyalah beberapa menit setelah ia membaca surat yang selalu ia dapat itu, Seungmi akan datang kepadanya dan terus berbicara tentang Park Yoochun, namja barunya.

Mengingat tentang namja itu, Jaejoong mendesah pelan, mencoba untuk setidaknya meredakan emosinya sedikit.

“Kim Jaejoong !”

There she is.

“Mwool~, Kim Seungmi ?” jawab Jaejoong dengan malas sambil berjalan mendekati Seungmi dan berhenti didepan yeoja itu.

“Ada masalah apa lagi ? Kau dicampakkan oleh Yoochun ?”

“Kau ini. Tidak mungkin, bodoh. Bagaimana kau berpikiran itu ?”

Well, aku mengharapkannya seperti itu.

“Lalu apa ?”

“Aku hanya butuh teman untuk kuceritakan semuanya.”

“Mengapa tidak kau ceritakan saja kepada Kim Jaerin atau Song Jina saja ? Mereka yang perempuan mungkin akan lebih tertarik untuk mendengarkanmu menceritakan kisah cintamu bersama Yoochun.”

“Memangnya kau tidak ingin membantuku ? Lagian kau laki-laki, jadi kau lebih bisa mengerti maksud Yoochun daripada Jaerin dan Jina. Kalian laki-laki mempunyai semacam man’s guide book, bukan ?” lanjut Seungmi sambil menarik tangan Jaejoong, seakan-akan menyuruh laki-laki itu untuk berjalan bersamanya sepanjang koridor university mereka.

“Awas saja jika kau berpikiran aku membaca buku tidak berguna seperti itu.” Kata Jaejoong dengan sedikit keras yang berhasil membuat Seungmi tertawa kecil sambil menyiku perut Jaejoong pelan.

“Baiklah, sekarang, kau harus tahu bahwa Yoochun mengajakku untuk berkencan ! Kabar baik, bukan ?” kata Seungmi dengan senyuman diwajahnya.

Jaejoong menganggukkan kepalanya kecil, masih berjalan disamping Seungmi yang sekarang terus menceritakan kejadian yang ia dan Yoochun lakukan kemarin siang.

Tidak bisakah kau melihatku sekali saja ?

***

Seoul, South Korea

Seoul National University

09.32 AM

Surat kesembilan.

When I’m with you, I don’t mind being nervous

I may be a little hasty, but you’re the only one who can tell me what to do

I guess my heart was stolen before I knew it and I’m missing you all day long

–KSM

Surat itu lagi. Surat itu masih terus berdatangan. Dan mengapa semakin lama ia tetap masih mengharapkan Kim Seungmi ?

Dan, yang menjadi masalah lagi, bagaimana ia menanyakan kepada Seungmi tentang semua ini ? Tidak mungkin ia menanyakan semua ini seakan-akan Seungmi-lah yang memberinya surat-surat seperti ini ? Dan jika bukan Seungmi yang memberi surat ini ? Mau dikemanakan harga dirinya sebagai laki-laki ?

“Melamun lagi ?”

Jaejoong tersenta kecil saat ia mendapatkan wajah Seungmi berada di depan wajahnya dan tengah memandangnya dengan lekat, seakan-akan mampu membuat Jaejoong meleleh akibat tatapannya.

Dengan sedikit kepanikannya, Jaejoong meraba-raba saku celananya dengan cepat. Saat ia merasakan bagaikan kertas terlipat didalam sakunya, ia tersenyum lega terhadap Seungmi yang membuatnya mengerutkan keningnya bingung.

“Kau tahu, bahwa kedua hal yang barusan kau lakukan itu membahayakan ?”

“Memangnya hal apa yang aku lakukan ?” Tanya Jaejoong balik sambil melipat tangannya didepan dadanya.

“Melamun dan tersenyum aneh. Melamun mampu membuat kinerja otakmu lama-kelamaan melambat dan dapat membuatmu malas. Dan untuk yang satu lagi, jika aku memberi tahu abeoji tentang kau berpikiran mesum dan tersenyum-senyum aneh, kau dalam bahaya besar.” Kata Seungmi didepan Jaejoong yang tengah memelototkan kedua matanya.

“Kau gila ! Mungkin aku melamun, tetapi aku tidak berpikiran mesum. Otakmu saja yang selalu membayangkan hal-hal jorok seperti itu. Tapi tidak denganku.” Kata Jaejoong.

Seungmi masih saja tersenyum kepada Jaejoong.

“Tapi kau pernah, bukan ?” Tanya Seungmi lagi.

Of course ! Namja apa yang tidak pernah berpikiran seperti itu ?”

Jaejoong pun terseyum kecil sekilas sebelum berjalan melewati Seungmi.

“Ya, ya, ya, gidaryeo~ ! Aku ingin menceritakanmu tentang Yoochun !” kata Seungmi sedikit keras sambil berlari kecil mengikuti Jaejoong yang sudah jauh didepannya. Ia pun menahan lengan Jaejoong dan melepaskannya setelah ia menyeimbangkan langkah mereka.

“Kau tahu, aku mulai bosan dengan semua ini, Seungmi~ya. Tidak bisakah kau menceritakannya ke eommeoni saja ? Aku laki-laki, dank au tahu aku mudah bosan.” Kata Jaejoong sambil menolehkan kepalanya kearah Seungmi yang tengah mengerucutkan bibirnya itu.

“Ayolah~! Kau tahu satu-satunya orang yang mampu mengerti diriku adalah kau.” Jaejoong yang mendengarnya mendesahkan nafasnya pelan.

I’m bored of all your stories of him.

***

Seoul, South Korea

Seoul National University

08.17 AM

Surat kesebelas

Everything’s so different, it’s too different

I think I am falling in love, be my baby, be my baby

From head to toe we have nothing in common

Now I wanna know more about you, be my baby, be my baby

–KSM

Jaejoong dengan keras mendesahkan nafasnya saat ia menemukan kertas kecil itu lagi. Kertas itu kali ini berwarna biru muda. Tulisan dan bau wanginya masih sama seperti pertama kali ia mendapatkan kertas seperti itu. Entah mengapa, ia merasa muak dengan semua ini. Dengan tulisan seorang yeoja yang kecil-kecil yang sepertinya mengartikan seorang gadis baik yang semacam geek-geek dan teacher’s pet. Bau wangi parfume bunga lilac yang seakan-akan mengartikan seorang gadis yang elit, yang tidak akan asal-asalan memilih seorang namja. Dan warna kertas-kertas yang dipilihnya mengartikan bahwa yeoja itu girly. Tipe yeoja yang tidak terlalu ia sukai.

Dan yang terakhir ia merasa muak dengan semua perlakuan yeoja itu. Seakan-akan ia merasa dimainkan dengan semua kertas-kertas berisikan kata-kata menjijikan itu. Jika yeoja itu mempunyai perasaan terhadapnya, mengapa tidak langsung ia sampaikan saja kepadanya langsung ?!

“Aish.” Gerutu kecil Jaejoong sambil meremas kertas kecil berwarna biru muda itu. Ia pun melempar kertas itu sembarangan entah kemana.

“Sedang emotional, kurasa ?” kata Seungmi yang melihatnya melempar kertas kecil berwarna biru muda itu.

Jaejoong yang mendengar suara Seungmi menolehkan kepalanya, masih dengan tatapan emosi yang terpancar dari wajahnya.

“Seungmi, maukah kau jujur kepadaku ?”

Seungmi yang mendengar kalimat Jaejoong itu pun terhenyak sedikit, namun ia pun mengangguk kecil setelah ia berpikir sebentar.

Ia harap ia tidak memilih pilihan yang salah.

***

“Maukah kau menjelaskan kepadaku apa maksud semua kertas ini ?” Tanya Jaejoong sambil melihat Seungmi dalam melalui matanya.

“Kertas kecilmu, bau parfumemu, tulisanmu yang kecil-kecil, dan semua kata-kata cinta itu. Maukah kau menjelaskan semuanya kepadaku ? Demi Tuhan, aku telah muak dengan semua ini Kim Seungmi ! Jika kau memang mempunyai perasaan terhadapku, mengapa tidak kau langsung saja mengatakannya didepan mataku, Kim Seungmi ?!” teriak Jaejoong didepan Seungmi.

Yeoja itu melangkahkan kakinya sedikit kebelakang saat Jaejoong berteriak didepannnya. Ini pertama kali Jaejoong terlihat marah dan berteriak didepannya. Dan menurutnya, ini semua menakutkan.

Beruntung mereka berdua sekarang berada dalam ruang kelas yang kosong dan tidak pada koridor kampus mereka. Orang-orang sudah diyakinkan pasti akan memperhatikan mereka sekarang.

“Jadi ? Apakah kau ingin berbicara apa-apa mengenai semua ini ?” tuntun Jaejoong, masih dengan pancaran amarah dari matanya.

“Jaejoong-ah,” kata Seungmi ragu sambil memandang Jaejoong yang berdiri dengan tegak didepannya.

“Aku.. Aku ingin meminta maaf. Aku tidak bermaksud memainkanmu seperti ini. Hanya inilah cara yang terpikirkan olehku. Kurasa harga diriku terlalu tinggi sehingga aku tidak mampu mengucapkan perasaanku kepadamu seperti yang yeoja-yeoja biasa lakukan. Mianhae. Jeongmal mianhae. Aku kira, kau akan segera tahu siapa yang memberimu kertas-kertas kecil dengan bau parfumeku dan tulisanku. Tetapi sepertinya tidak, sehingga aku terus saja memberimu tulisan seperti itu. Kukira kau belum mengetahui siapa orang yang mengirimkanmu surat begituan

Dan mengenai Yoochun, aku meminta maaf terhadap semua itu. Aku meminta bantuan Yoochun untuk berpura-pura menjadi kekasihku untuk membuatmu merasa cemburu. Kau tahu, selama ini aku menunggumu, Jaejoong-ah ? Aku memang mungkin yeoja penakut yang tidak mau bersikap jujur dan memainkan perasaan orang lain, tetapi bagaimana mungkin seorang yeoja mengutarakan perasaannya sebelum seorang namja mengutarakan perasaannya ? Mau dikemanakan harga diriku ?”

Jaejoong yang mendengar penjelasan Seungmi yang panjang itu terlihat tidak berkedip, seakan-akan mencerna semua yang telah dikatakan yeoja itu. Seungmi terlihat memperhatikannya dengan senyuman ragu yang diberikannya, yang membuat Jaejoong semakin bingung.

“Jadi.. Selama ini.. Kau mempunyai perasaan kepadaku ?”

 

THE END

 

Nan jeongmam mianhae ini pendek banget. But I just made it today, and it’s really hard to make it for Seungmi, so I’m sorry if ada part yang niat I buat and ada yang I ga niat buat hehe. I’m sooo sorry omg I’m really dissapointed with this ff.

Mianhae

–Park Jihyun

3 thoughts on “Nonsense (Kim Jaejoong – Kim Seungmi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s