Only One (Lee Hyukjae – Jung Jaeni)

Rindu.

Dimana segalanya seolah terasa salah karena tidak ada seseorang yang seharusnya ada di sampingmu.

Sesal.

Dimana kau tidak bisa menghentikan kepergian seseorang dan hanya bisa meratapinya dalam diam.

Hampa.

Dimana hatimu tidak mampu membuka pintunya kepada orang lain selain satu orang itu.

Jung Jaeni mengangkat pena yang ia pegang dari atas kertas dimana ia sedari tadi menulis. Ia menaruh pena itu di atas meja dan mendesah. Matanya berputar-putar, mencoba mencari secercah inspirasi dari sekeliling perpustakaan. Otaknya sudah buntu dan puisi ini belum kunjung selesai.

“Jelek, lagi, puisinya,” Jaeni menggelengkan kepala lalu mengacak-acak rambutnyafrustasi.

“Ya Jung Jaeni! Ngapain sih ke perpustakaan saat istirahat?”

Jaeni membalikkan badannya dan melihat temannya berjalan ke arahnya. Walaupun mendapat tatapan sinis dari para pustakawan karena suaranya yang terlalu lantang saat memanggil Jaeni, lelaki itu sepertinya tidak peduli sama sekali.

“Hyukjae!” Jaeni berbisik, namun ada sedikit nada marah bercampur kesal di dalam suaranya. “Apa yang kau lakukan di sini?”

“Eh, entah. Mengajakmu berkencan di bawah pohon ceri lagi, mungkin?”

Jaeni spontan tertawa. Namun tiba-tiba raut mukanya berubah drastis, matanya menyapu pandangan-pandangan tidak enak murid-murid lain yang ada di perpustakaan itu. Cemas tergambar jelas pada wajah porselen Jaeni.

“Hyukjae, sepertinya kamu harus pergi dari sini.Orang akan bertanya-tanya kenapa kau sedang berada di sini,” Jaeni berkata pada temannya, melekatkan pandangan mata hitam Hyukjae dengan mata coklatnya.

“Tidak bolehkah seorang anggota tim bboy sekolah masuk ke perpustakaan? Seingatku ini fasilitas sekolah untuk seluruh murid.”

“Ya tapi tetap saja – “

“Kalau kau mau aku keluar dari sini, kau juga harus keluar bersamaku,” kata Hyukjae sambil menarik jemari mungil Jaeni agar menyatu dengan jemarinya yang kukuh.

“Ya Lee Hyukjae! Kita mau kemana?”

“Lihat saja nanti. Sudah, jangan protes. Nanti aku belikan waffle Belgia kesukaanmu. Junsu juga sudah menunggu di luar.”

Jaeni yang hanya bisa menurut, mengangguk dengan lemah. Ia memasukkan pena dan kertasnya kedalam tas selempangnya, lalu beranjak untuk mengikuti kemana pun Hyukjae akan membawanya.

***

You’re only getting farther – you’re the only one
As much as I loved you, you’re the only one
It hurts and hurts and it’s foolish but good bye
Though I may never see you again, you’re the only one
Only one

Jung Jaeni, Lee Hyukjae dan Kim Junsu sudah menjadi teman seumur hidup mereka. Mereka tidak tahu persisnya kapan tetapi sepertinya mereka sudah saling mengenal sejak masih balita. Mereka tumbuh di kompleks perumahan yang sama sejak kecil. Karena anak-anak lain di kompleks perumahan itu rata-rata sudah berusia belasan tahun ketika mereka masih balita, maka Jaeni, Hyukjae dan Junsu hanya memiliki satu sama lain.

Mereka akan menggedor-gedor pagar rumah lalu meneriakkan nama satu sama lain untuk keluar rumah dan bermain bersama. Setiap kali anak-anak itu pun main ke rumah satu sama lain, orang tua mereka tidak pernah keberatan, melihat betapa lekatnya persahabatan ketiga anak itu.

Setiap hari mereka akan bersepeda keliling kompleks, bermain petak umpet, atau hanya sekedar duduk-duduk di sebuah gazebo di sebuah taman dekat rumah mereka. Walaupun begitu, mereka tidak pernah bosan dengan satu sama lain. Justru, seiring berjalannya waktu, ikatan diantara mereka semakin kuat dan mereka bertiga semakin sulit untuk dipisahkan.

“Kami seperti Three Musketeers,” begitu kata Jaeni.

Sekarang mereka sudah berumur 18 tahun, kenangan-kenangan masa balita mereka harus mereka tinggalkan jauh di belakang. Namun kedekatan mereka sama sekali tidak berubah. Dalam hati, mereka masih adalah Three Musketeers kecil.

Mereka melakukan segalanya bertiga – kemana-mana bertiga, ngapa-ngapain bertiga. Mau itu nonton film yang sedang tayang di bioskop, mencobai semua kafe yang ada di distrik Gangnam ataupun hanya sekedar nongkrong bareng sehabis bel pulang sekolah berbunyi. Selama kurang lebih lima belas tahun ini, mereka tidak terpisahkan.

It’s always been Jaeni, Hyukjae, and Junsu. Jaeni yang merupakan perempuan satu-satunya suka berlagak macho padahal ia sangat rapuh dan lemah di dalam. Karena itulah Hyukjae sangat protektif terhadap Jaeni, sementara Junsu akan selalu mengingatkan Jaeni untuk makan dan menjaga kesehatannya. Jaeni merasa sangat beruntung telah mengenal kedua pria itu.

Namun seperti yang semua orang bilang, tidak mungkin tidak ada letupan-letupan kecil asmara di dalam sebuah persahabatan antara seorang lelaki dan perempuan. Apalagi, dua lelaki dan satu perempuan.

Seseorang dari mereka telah jatuh hati pada sahabatnya sendiri. Dan ia memilih untuk menyimpan perasaannya selama belasan tahun ini. Dan selama belasan tahun itu juga hatinya meronta-rontah karena sang  majikan terus-menerus menyangkal perasaannya untuk seorang perempuan.

Perempuan yang memutarbalikkan dan mengubah hidupnya,

Jung Jaeni.

“Kim Junsu, aku lelah menahan rasa sukamu terhadap Jaeni. Setiap kali kau melihatnya, aku akan bergejolak. Setiap kali ia tersenyum, aku akan berdebar seribu kali lebih cepat dari biasanya. Setiap kali ia memegang tanganmu, rasanya aku akan copot dari badanmu kapan saja. Namun kau tidak kunjung menyatakan perasaanmu kepadanya. Aku lelah, Kim Junsu. Aku lelah.”

“Baiklah, aku akan memberitahukan Jaeni perasaanku yang sebenarnya. Maaf telah membuatmu menunggu lama, ya. Tapi bersiaplah untuk kenyataan yang mungkin lebih pahit setelah aku menyatakan cintaku untuknya.”

Sang hati menarik napas panjang, lalu akhirnya berkata, “Aku siap.”

We awkwardly sit across each other,
Making small talk and asking what’s new
The moments when the conversation stop for a moment
The cold silence freezes us

We will become strangers at this place right now
Someone will shed tears and be left alone but
I hate seeing you try not to scar me and feel ill at ease
So I’ll let you go

 

flashback

Junsu sedang menangis di pinggir taman. Kakinya berdarah karena ia terjatuh dari sebuah pohon yang sedang ia panjat. Matanya sembab, dan ia hanya mengomat-ngamitkan kata-kata yang tidak jelas karena ia tidak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa, karena ia belum kenal siapa-siapa.

Seorang anak perempuan lewat di depan taman itu, sedang mengendarai sepedanya. Ketika ia mendengar suara tangisan, anak perempuan itu berhenti, memarkir sepedanya, lalu menghampiri Junsu yang sedang menangis.

“Kamu kenapa?”

“Aku sedang mencoba memanjat pohon ini, tapi lalu aku terjatuh,” Junsu menjelaskan sambil masih sedikit sesenggukan.

“Lukamu tidak begitu parah, kok,” kata Jaeni, mencoba menenangkan seorang anak laki-laki yang baru saja ia temui. “Ayo, aku antarkan kamu pulang, supaya lukamu bisa segera diobati di rumah. Rumahmu di blok apa?”

“Rumahku di blok D. Kamu?”

“Wah, dekat, dong! Rumahku di blok F. Sahabatku, Hyukjae, rumahnya di blok H. Nanti aku akan mengenalkannya padamu. Kalian pasti akan menjadi teman baik juga. Namaku Jaeni,” katanya sambil mengulurkan tangannya.  “Kamu?”

“Namaku Junsu,” kata Junsu, lalu mereka bersalaman. “Aku harap kita bisa menjadi teman baik, ya!”

Dan Junsu telah bersumpah ia tidak akan pernah jatuh cinta pada perempuan lain selain Jung Jaeni.

flashback end

Bel pulang sekolah berbunyi. Biasanya, Jaeni, Hyukjae dan Junsu akan menunggu satu sama lain untuk pulang bersama di depan kantin.

Junsu berjalan ke arah kantin dengan tangan keringetan, hati berdebar dan mental tidak siap. Ia telah memutuskan untuk memberitahukkan Jaeni perasaannya yang sebenarnya hari ini. Betapa leganya ia ketika ia melihat Jaeni masih sendiri, celingukan di depan kantin, memeluk beberapa buku pelajaran. Kalau ada Hyukjae, keadaan akan menjadi rumit dan bisa jadi ia batal menyatakan perasaannya.

“Jaeni!” Junsu memanggilnya, melambai sambil berjalan ke arahnya.

“Hai, Junsu. Mana Hyukjae?”

“Aku juga belum melihatnya.”

Hening. Junsu benci momen-momen canggung seperti ini.

“Jaeni, aku butuh memberitahumu sesuatu,” Junsu meraih pergelangan tangan Jaeni, menariknya menjauh dari pintu depan kantin.

“Hey, kita mau kemana? Tidak bisakkah kau mengatakannya disini saja?”

Junsu menggeleng sambil terus berjalan, membuat Jaeni bingung dengan perbuatannya. Langkah kaki Junsu hanya mengarah pada satu tempat, yaitu…

“Gudang sekolah?” tanya Jaeni. “Kenapa harus disini?”

Junsu membalikkan badannya lalu menaruh telunjuknya pada bibir Jaeni, mengisyaratkannya untuk diam. Jaeni diam mematung, seluruh organ tubuhnya serasa tidak berfungsi karena sentuhan telunjuk Junsu pada bibirnya. Dengan canggung, akhirnya Junsu melepaskan telunjuknya.

“Maaf. Itu refleks,” Junsu berbohong, takut Jaeni terkejut dengan perbuatannya yang memang mengagetkan tadi.

Jaeni hanya mengangguk, matanya menghadap lantai, seakan lantai itu dapat berbicara kepadanya.

Junsu membuang napas. Ini saatnya, batinnya. Tangannya merengkuh kuat pundak rapuh Jaeni. Ia mengangkat dagu Jaeni untuk menyejajarkan pandangannya pada pandangan Jaeni, menatap kedua bola mata coklat Jaeni yang bisa membuatnya luluh kapan saja.

“Jung Jaeni,” mulainya, suaranya terasa berat di telinganya sendiri. “Aku menyukaimu. Sejak dulu. Aku tidak tahu persisnya sejak kapan, tetapi ketahuilah, aku telah menyukaimu selama belasan tahun ini.”

“Mengapa?” tanya Jaeni, matanya mulai basah karena air mata yang menumpuk di pelupuk matanya.

“Aku juga tidak tahu. Aku rasa mencintai seseorang tidak memerluan suatu alasan. Karena cinta terjadi begitu saja. Dan dengan begitu pula, hatiku hanya terbuka lebar untukmu seorang.”

Kini tangis Jaeni pecah. Ia menenggelamkan wajahnya di dada Junsu dan memukul-mukul pundak lelaki itu.

“Kenapa kau harus jatuh cinta padaku?” Jaeni bertanya di sela-sela isakannya. “Sekarang aku akan merasa bersalah seumur hidupku karena aku tidak bisa membalas perasaanmu kepadaku.”

Junsu terdiam. Ia menahan napas, membayangkan worst case scenario yang sedang bermain dalam benaknya.

“Karena aku menyukai Hyukjae.”

My love, good bye now – you’re the only one
Even at the moment we break up, you’re the only one
It hurts and hurts and it’s foolish but good bye
Though I may never see you again, you’re the only one

Junsu memang sudah mengantisipasi jawaban itu. Bahwa ternyata selama ini perasaannya bertepuk  sebelah tangan, bahwa memang ternyata Jaeni menyukai Hyukjae, persis seperti dugaannya.

Jadi ketika kata-kata itu keluar dari mulut Jaeni, Junsu hanya tersenyum pahit, melepaskan tangannya dari genggaman Jaeni dan melangkah menjauh dari gadis itu, yang masih terisak di depan gudang sekolah. Junsu tahu, dengan menyatakan perasaannya pada Jaeni, persahabatan mereka bertiga tidak akan sesimpel dan seindah dulu lagi. Ia telah memulai sebuah benang kusut dalam persahabatan mereka, dan ini karena hati egoisnya yang sudah tidak kuat menahan rasa sukanya pada Jaeni.

“Kau tahu, ini semua gara-gara kamu. Kamu juga pasti sekarang merasa sakit, kan?”

Sang hati menjawab, “Setidaknya, sekarang aku merasa lega karena tidak lagi dihantui oleh perasaanmu. Menerima kenyataan adalah sesuatu yang pasti terjadi dalam hidup bukan?”

Jaeni menyukaiku. Jung Jaeni menyukaiku.

Namun Junsu menyukainya. Kim Junsu menyukainya.

Kata-kata itu terulang-ulang seperti kaset rusak di dalam pikiran Hyukjae. Otaknya sedang berusaha untuk mencerna kata-kata yang barusan ia dengar ketika kedua sahabat terdekatnya saling mengatakan perasaan mereka untuk satu sama lain.

Hyukjae sebenarnya tahu bahwa Junsu memang menyukai Jaeni selama ini. Tapi ia selalu mencoba menyangkal dugaan itu,

Karena ia sendiri menyukai Jaeni.

Persahabatan mereka memang rumit. Ketika cinta didahulukan diatas persahabatan, maka persahabatan itu akan hancur. Namun jika persahabatan didahulukan diatas cinta, cinta akan memaksa untuk keluar, untuk menyatakan dirinya.

Hyukjae sudah mengenal Junsu seumur hidupnya. Dan ia ingin sahabatnya itu terus bahagia, meskipun itu berarti ia harus mengorbankan perempuan yang ia cintai demi dia. Tetapi sahabat memang ada untuk membahagiakan satu sama lain, bukan untuk saling menyakiti, bukan?

Hyukjae sudah membulatkan keputusannya. Ia tahu inilah yang harus ia lakukan.

Demi Junsu dan Jaeni, ia berkata dalam hati. Ini untuk kebahagiaan mereka.

At my sudden works, you seem to be relieved for some reason
Where did we go wrong?
Did we hope for different places starting from long ago?

The sharpness of the vast difference of our start and end
And the pain that stabs my heart – why is it so similar?
My overwhelmed heart crumbles emptily in just one moment
How can I stand up again?

Satu tahun sudah berlalu sejak kehilangan misterius Hyukjae. Jaeni juga tidak tahu apa yang menyebabkan sahabatnya itu pergi tiba-tiba, padahal mereka masih berhubungan baik, tidak ada konflik apa-apa diantara mereka. Hingga suatu pagi akhirnya Jaeni dan Junsu berangkat hanya berdua ke sekolah karena mereka menemukan rumah Hyukjae kosong, ia dan seluruh keluarganya telah pindah rumah. Entah kemana.

Yang membuat Jaeni jengkel adalah bahwa Hyukjae sama sekali tidak memberitahu dia ataupun Junsu kalau ia akan pergi. Seharusnya setidaknya ia memberitahu mereka dimana ia tinggal sekarang, agar mereka bisa saling menghubungi satu sama lain.

Setelah Junsu menyatakan perasaannya pada Jaeni, hubungan mereka menjadi canggung. Walaupun mereka masih berteman – pergi ke sekolah bersama, dan sesekali mampir ke sebuah café dekat sekolah, persahabatan mereka tidak lagi seharmonis dulu, apalagi tanpa Hyukjae diantara mereka. Cinta, ternyata, selain bisa mendekatkan dua insan, ternyata bisa juga menjauhkan mereka.

Jaeni duduk di meja belajarnya, sikutnya ditaruh di meja, tangan kanannya menahan wajah mungilnya. Tangan kirinya mengetuk-ngetuk meja. Ia tiba-tiba tersenyum sendiri, teringat akan bagaimana pertama kali ia bertemu Hyukjae.

flashback

Jaeni duduk di sebuah ayunan kecil, termangu oleh sunyi. Kakinya kecilnya bergoyang-goyang tidak sabar. Ia sedang menantikan seseorang untuk lewat dan mendorong ayunannya untuknya agar mereka bisa bermain bersama.

Di dalam kesendiriannya, tiba-tiba sesosok anak laki-laki nampak, hendak menyebrang jalan. Akhirnya Jaeni memutuskan untuk memanggilnya.

“Hei, kamu!”

Anak laki-laki itu berbalik, mencari sumber suara. Lalu ia bertanya, “Aku?” sambil menunjuk dadanya.

“Iya. Ke sini dong!” teriak Jaeni, tangannya mengisyaratkan agar anak laki-laki itu mendekat padanya.

Anak laki-laki itu berlari-lari kecil ke arah Jaeni. Setelah mereka telah dekat, ia itu bertanya, “Ada apa?”

“Aku ingin main ayunan ini. Tetapi tidak ada yang mendorongku. Maukah kamu?” mata Jaeni berbinar-binar, mengharapkan jawaban ‘ya’.

“Tentu saja!” anak laki-laki itu menyahut ceria. Ia menjatuhkan tasnya ke tanah dan bergegas ke belakang Jaeni untuk mendorongnya.

“Main ayunan itu asyik, ya!” seru Jaeni.

“Kamu belum pernah main ayunan?”

Jaeni menggeleng. “Di kompleks perumahan ini tidak ada anak kecil selain aku! Dan kamu, ternyata, aku baru tahu,” Jaeni tertawa.

“Kalau begitu, ayo kita berteman!” anak laki-laki itu tersenyum lebar sambil mengulurkan tangannya. “Aku Lee Hyukjae. Kamu?”

“Aku Jung Jaeni,” katanya sambil tersenyum.

flashback end

When will my head erase you? (I will let you go)
One day, two days, one month, if long term then a few years (My baby can’t forget)
And someday in your memories,
I won’t live in it, you will erase me

 

Jaeni memutuskan untuk keluar dari rumahnya, mencari udara segar karena yang ada di otaknya dari tadi hanyalah Lee Hyukjae. Lelaki itu sepertinya masih punya tempat tersendiri dalam hati Jaeni, karena tidak peduli sekeras apapun Jaeni berusaha, sewaktu-waktu Lee Hyukjae akan mampir lagi dalam benaknya.

Jaeni sedang duduk di ayunan tempat dimana ia pertama kali bertemu Hyukjae. Mengingatkannya kembali akan kepingan kecil memori masa kecilnya bersama sahabatnya yang sekarang entah dimana itu. Mengundang pikirannya untuk bernostalgia tentang persahabatan antara Hyukjae, Junsu dan dirinya dulu.

Ketika ia sedang melamun, sesosok pria tiba-tiba muncul di hadapannya, mengagetkan seluruh indra Jaeni. Ia sangat mengenali pria ini – tidak, ia telah mengenalinya seumur hidupnya.

Ia yang telah memporakporandakan hatinya, sekarang menampakkan diri kembali di hadapannya,

Lee Hyukjae.

“Hai, Hyukjae.”

“Hai, Jaeni.”

Hyukjae membungkukkan badan, mendekatkan bibirnya pada telinga Jaeni lalu berbisik,

“Lama tidak bertemu.”

6 thoughts on “Only One (Lee Hyukjae – Jung Jaeni)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s