사랑하지 않을까? (Park Jihyun – Cho Kyuhyun)

“Jangan masuk ke dalam pesawat itu.”

Seorang pria menarik lengan Park Jihyun dengan kuat, membuatnya terpaksa membalikkkan badan untuk menghadap pria itu.

“Kumohon. Jangan masuk ke dalam pesawat itu.”

Jihyun mencoba melepaskan lengannya dari cengkraman pria itu sekuat tenaga, tetapi usahanya sia-sia. Cengkraman pria itu terlalu kuat.

“Kamu siapa?” Jihyun membentak.

“Untuk saat ini, identitasku tidak penting. Tolong, jangan masuk ke dalam pesawat itu,” kata pria itu, tidak menjawab pertanyaan Jihyun.

“Kau tahu, aku bisa saja telpon polisi?” Jihyun mengancam, mengeluarkan ponsel dari tasnya dengan tangan kirinya yang bebas.

Pria itu membanting flip ponsel Jihyun, mengambil ponsel itu dari tangannya lalu mengeluarkan baterai ponsel itu.

“Apa yang sedang kau lakukan?!”

This is the last call for Flight 1215A, destination Santiago de Compostela Airport. Please follow the instructions of our officers to board the place because the plane will be taking off in five minutes. I repeat, this is the last call for Flight 1215A. Thank you.”

Bel pengumuman berdengung di sepanjang Incheon International Airport. Jihyun tertunduk lemas. Lima menit lagi pesawatnya ke Spanyol akan berangkat, sementara lengannya masih dicengkram oleh seorang pria yang tidak ia kenal yang sekarang telah mengambil ponselnya juga.

“Kamu siapa? Apa yang kau mau dariku?!” Jihyun berteriak frustasi dengan suaranya yang lantang. Pria itu membekap mulutnya, lalu menyeretnya ke sisi ruang tunggu yang lain karena beberapa orang sedang mengamati mereka dengan tatapan yang kurang enak.

“LEPASKAN AKU!”

Namun pria tidak berkata apa-apa, hanya menatap Jihyun dengan tatapan yang tak terbaca sambil  mempererat cengkramannya.

‘Apa dosa yang kuperbuat sampai Tuhan memberikanku hukuman seperti ini?’ Jihyun bersungut-sungut.

Beberapa saat kemudian, pesawat yang harusnya Jihyun tumpangi lepas landas. Jihyun hanya bisa menangis sambil mengucapkan selamat tinggal kepada mimpinya yang kini terbang bersama dengan terbangnya pesawat itu.

Lalu pesawat itu meledak.

Pesawat itu hancur berkeping-keping di udara, bersama dengan asap kehitaman yang dilepaskannya. Manusia-manusia jatuh dari ketinggian yang mengerikan, lalu terhempas ke tanah. Entah mereka masih hidup atau tidak. Jihyun hanya bisa menatap tak percaya dari balik kaca, mulutnya menganga lebar.

Pria itu meletakkan ponsel Jihyun di tangannya, lalu membalikkan badan sambil berkata,

“Kubilang juga apa.”

“Tunggu!” Jihyun menghentikan langkah pria itu sebelum ia bisa berjalan lebih jauh. “Siapa namamu?”

Pria itu tergelak. Ia membalikkan badan, dan dengan manis tersenyum kepada Jihyun, sebelum melangkah lagi.

Namanya Cho Kyuhyun.

Dan ia bisa melihat masa depan.

***

It feels like I’m turning away as I have lost it

There’s no choice but to hold it in

Though I shut my eyes

 

Menjadi secret service itu tidak mudah. Apalagi untuk Korea Utara.

Kyuhyun merutuki nasibnya. Dengan otaknya yang memiliki IQ diatas rata-rata dan kemampuan bela diri yang mengesankan, dalam umurnya yang baru memasuki awal 20-an ia diterima menjadi secret service untuk Korea Utara yang notabene susah untuk ditembus oleh mereka yang professional sekalipun.

Teman-temannya bertanya, “Apakah kau sudah gila? Cho Kyuhyun, what has gotten into you?

Namun ia tidak peduli. Karena baginya hidup pun sudah tidak berarti.

Kyuhyun selalu merasa bahwa alam semesta membencinya karena ia mengambil seluruh anggota keluarganya sejak ia masih balita. Orangtua dan kakak-kakaknya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Hanya Kyuhyun yang selamat dari kecelakaan itu. Orang-orang berkata bahwa ia seharusnya mensyukuri hidup karena ia masih bisa bernafas sekarang, tapi Kyuhyun berpikir sebaliknya.

Ketika Korea Utara memintanya untuk menjadi mata-matanya, Kyuhyun berpikir,

‘Kenapa tidak?’

Dan sejak itu, ia hidup dengan nama Gui Xian.

Ia tidak pernah mengenal cinta. Ia hidup bagaikan robot, dikontrol oleh pemerintah Korea Utara untuk melaksanakan berbagai macam pekerjaan kotor.

Ia baru tahu kalau ternyata ia bisa melihat masa depan juga, ketika ia bertemu wanita itu secara tidak sengaja. Oh, ia bahkan tidak tahu namanya.

Ia sedang berjalan keluar dari bandara ketika tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Di dalam otaknya berputar suatu skenario dimana sebuah pesawat yang baru saja lepas landas tiba-tiba meledak di udara, hancur berkeping-keping. Entah didorong oleh apa, tiba-tiba Kyuhyun berbalik, kakinya membawanya kemana pun ia ingin pergi. Ia bahkan tidak tahu pesawat mana yang akan mengalami kecelakaan itu. Otaknya yang sedang tidak waras memaksanya untuk menghentikan seorang wanita yang sedang berlari mengejar penerbangan suatu pesawat.

Kyuhyun tersenyum pahit.

 

Namanya Park Jihyun.

Orangtuanya meninggalkannya di sebuah panti asuhan ketika ia berumur tiga tahun. Berpuluh-puluh tahun ia menunggu sepasang orangtua asuh untuk mengadopsinya, tetapi mereka tak kunjung datang. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari panti asuhan lalu bekerja keras untuk menghidupi dirinya sendiri.

Ia tidak pernah merasakan kasih sayang orangtua. Hidupnya terasa hampa. Tidak ada yang bisa menggantikan perasaan disayangi seseorang. Tanpa kehadiran kedua orangtuanya, ia rasa ia tidak memiliki alasan untuk hidup lagi.

Sampai ia bertemu lelaki itu. Lelaki yang menyelamatkan hidupnya, namun tidak ingin memberitahukan namanya.

Sejak saat itu, ia belajar untuk menghargai, untuk mengapresiasi hidup. Dan lelaki itu jugalah, yang akan menjadi alasannya untuk bertahan hidup.

***

 

I’m grateful to be allowed to live in this blessed days

If only we can make new relationships

Rather than broken hearts, having a joyful love altogether

If only we can all smile together

 

“Apakah kau… “

“Yang waktu itu?”

Kyuhyun dan Jihyun sama-sama terbelalak. Mereka menabrak satu sama lain di perpustakaan lokal. Kebetulan? Mungkin. Tanya saja pada takdir.

Jihyun refleks memeluk Kyuhyun erat. Air matanya tumpah begitu saja di hadapan pria itu, padahal ia bukan tipe orang yang suka menangis di depan orang lain.

“Tidak tahukah kau bahwa selama ini aku mencarimu? Aku mengelilingi kota Seoul ratusan kali dan ternyata aku bertemu lagi denganmu di sini.”

Kyuhyun tidak berkata apa-apa, hanya merangkul balik Jihyun dalam diam. Mereka menghabiskan beberapa menit dalam posisi itu, sampai tangis Jihyun mereda dan ia melepaskan pelukannya.

“Siapa namamu?” tanya Jihyun. “Aku perlu tahu.”

“Gui Xian,” kata Kyuhyun akhirnya.

“Apakah kau dari China? Ah, tapi wajahmu terlihat Korea.”

Kyuhyun hanya membalasnya dengan sebuah senyuman.

“Ayolah, jangan diam-diam seperti itu. Karena kita sudah bertemu lagi, bagaimana kalau aku traktir makan malam hari ini?”

Kyuhyun tidak menjawab apa-apa. Tidak seharusnya ia memulai suatu hubungan dengan seorang wanita.

“Aku tahu kamu lapar, Gui Xian. Ayo kita pergi!”

Kyuhyun hanya menghela napas sambil tersenyum kecil.

“Enak juga ternyata.”

Mereka sedang makan di sebuah restoran Italia yang letaknya tidak jauh dari perpustakaan tempat mereka bertemu tadi.

“Akhirnya kamu bicara juga. Rasanya sudah lama sekali sejak aku mendengar kamu terakhir bicara. ‘Jangan masuk ke dalam pesawat itu’,” Jihyun tertawa sendiri, mengingat bagaimana ia pertama kali bertemu dengan pria yang duduk di depannya.

Kyuhyun hanya tersenyum kecut sambil menyuap kembali fettuccine alfredo yang dipesannya.

“Tapi sungguh, kau tidak tahu betapa aku sungguh berterimakasih padamu. Aku berhutang nyawa,” kata Jihyun sambil menepuk-nepuk dadanya. Raut mukanya tiba-tiba berubah serius, “Tapi kau tahu dari mana bahwa pesawat itu akan jatuh?”

“Itu tidak penting,” kata Kyuhyun. “Yang penting kau masih hidup kan sekarang?”

“Ya, berkatmu, aku belajar untuk mensyukuri hidup sekarang,” Jihyun tersenyum.

Mensyukuri hidup? Kyuhyun rasa ia tidak akan pernah bisa melakukan itu. Bagaimana seseorang bisa mensyukuri hidup karena dia?

“Tapi mengapa aku?” tanya Jihyun lagi. “Dari sekian banyak penumpang pesawat itu, kenapa kau hanya menghentikan aku?”

“Jujur, aku sendiri tidak tahu,” aku Kyuhyun.

Jihyun menghela napas, lalu tersenyum. Rasanya Gui Xian bukan tipe orang yang begitu terbuka, pikirnya. Akan susah untuk mendekatinya.

“Sudah agak larut. Aku pulang duluan, ya,” kata Jihyun sambil berdiri dari kursinya, lalu beranjak pergi.

Langkahnya terhenti, lalu ia membalikkan badan, menatap Gui Xian yang masih terduduk di tempatnya semula,

“Oh ya, namaku Park Jihyun. Kita harus tetap berhubungan, eo?”

***

We meet, hold hands, feel, laugh, and cry together

We resemble one another and we are connected

But if you want to turn it back

 

Ketika Park Jihyun mengatakan padanya untuk ‘tetap berhubungan’, ternyata ia tidak main-main.

Mereka bertemu lagi di perpustakaan itu. Perpustakaan yang sama.

“Apakah kau tahu aku menunggumu setiap hari di sini? Aku kira kau ke sini setiap hari,” sungut Jihyun.

“Mengapa kau menungguku setiap hari di sini?”

“Karena aku ingin bertemu denganmu, bodoh,” Jihyun tersenyum berseri-seri.

“Mengapa kau ingin bertemu denganku?”

Senyum Jihyun menghilang dari wajahnya. Moodnya yang sedang bagus karena bertemu lagi dengan Gui Xian seketika hilang juga.

“Kau harus traktir aku kali ini!” bentak Jihyun. “Aku mau es krim!”

“Saya mau rasa chocochip mint,” kata Jihyun kepada si pelayan. “Gui Xian, kau mau pesan apa?”

“Kau saja. Aku tidak lapar.”

Jihyun mengerucutkan bibirnya, lalu menghadap pelayan itu lagi, “Itu saja, terimakasih.” Pelayan itu membungkuk lalu berjalan pergi.

“Walaupun kau tidak makan, tetap kau yang bayar ya.”

Kyuhyun tertawa. “Iya, iya.”

Jihyun tersenyum. Akhirnya ia mendengar tawa pria itu. “Dari mana asalmu?” tanyanya kemudian.

“Aku lahir di Nowon,” katanya kemudian.

“Hmm, aku di Seoul,” Jihyun berkata tanpa ditanya. “Kamu lahir tahun berapa?”

“1988,” kata Kyuhyun.

“Wah, aku tahun 1990! Berarti aku harus memanggilmu ‘oppa’!”

“Tolong, jangan. Memanggilku oppa pasti terasa aneh,” kata Kyuhyun sambil tertawa.

“Ya sudahlah,” kata Jihyun. “Tapi ingat ya, ulangtahunku tanggal 5 Mei!” Jihyun menghitung dengan jari-jarinya yang panjang dan lentik. “Itu berarti sembilan hari lagi! Kau setidaknya harus membelikanku sesuatu~”

“Maumu banyak sekali!” protes Kyuhyun, lalu menonjok ringan lengan Jihyun.

“Baru tahu?” Jihyun tertawa.

Kyuhyun juga tertawa. Tertawa pahit lebih tepatnya.

Karena ia telah membuat suatu kesalahan besar.

***

There’s no life, emotion or warmth but just garbage language

A desolately rolling meadow

Loneliness adds as the days go by

We have to be humans because we get scars

 

“Gui Xian, aku percaya kamu tahu peraturan dari menjadi seorang secret service bukan? Aku yakin otakmu tidak sedangkal itu untuk tidak mengingatnya.”

Kyuhyun hanya menatap balik atasannya dengan nanar.

“Berhubungan dengan orang luar sangat dilarang. Apalagi ia seorang wanita. Dan dari yang aku dengar kalian sudah sangat dekat.”

Kyuhyun menghela napas, tidak sedikitpun membela diri, karena ia tahu atasannya benar.

“Seperti apa dia, sampai-sampai kau berani melanggar aturan?”

Kyuhyun hanya menelan cercaan atasannya dalam diam.

“Aku tidak mau kau berhubungan lagi dengan wanita itu. Jangan menemuinya lagi, eo?”

“Ia pasti mencemaskanku – “ Kyuhyun akhirnya membuka mulut.

“CHO KYUHYUN!” bentak atasannya, memanggil Kyuhyun dengan nama aslinya. “Have you lost it?

“Ya,” katanya tegas. “Sepertinya aku menyukainya.”

“Anak brengsek – “ teriak atasannya, hendak meluncurkan sebuah tinju tepat di muka Kyuhyun. Namun Kyuhyun menahan kepalan tangan atasannya sebelum tinju itu berhasil mendarat di mukanya.

Atasannya mengambil satu langkah mundur, menyadari bahwa ia tidak akan bisa menghadapi Kyuhyun yang memiliki sabuk hitam dalam Taekwondo.

“Ingat saja, kau punya misi penting sembilan hari lagi. Jangan sampai kau lupa untuk melakukannya.”

***

 

Answer me and tell me why people have changed

Has there even been a beautiful time before?

They forgot how to love and lost their heart to care

 

 

“Ingat ya, besok ulangtahunku!”

Hari ini Kyuhyun bertemu lagi dengan Jihyun. Ternyata semakin kuat ia berusaha untuk menghindari perempuan itu, semakin ia merindukannya. Gawat.

“Apa yang kamu mau untuk hadiah ulangtahunmu?” tanya Kyuhyun, walaupun ia tahu ia tidak akan bisa memberikan Jihyun hadiah apa-apa.

“Aku mau sebuah kamera! Canon EOS 605D,” pinta Jihyun.

“Ya, tidak mungkin aku bisa membelikanmu barang dengan harga semahal itu,” protes Kyuhyun.

“Tidak bisakah? Memang pekerjaanmu apa?”

Kyuhyun membeku di tempatnya. ‘Aku seorang agen rahasia untuk Korea Utara. Hahaha.’

“Aku tidak bisa memberitahumu.”

“Kenapa?”

Kyuhyun tersenyum pahit.

“F15, panggilan untuk pesawat F15. Apakah kau bisa mendengarku?”

“Roger,” Kyuhyun menjawab.

“Apakah misi siap dilaksanakan?”

Kyuhyun menghembuskan napas panjang, lalu membuka matanya. Selayang pandang kota Seoul terbentang di hadapannya.

“Siap.”

“Laksanakan.”

***

Why won’t we look each other in the eye anymore?

Why won’t we communicate? Why won’t we love?

We shed tears at the painful reality once again

 

Seoul hancur berantakan. Chaos terjadi dimana-mana. Kemarin malam sebuah pesawat tempur Korea Utara melancarkan sebuah misi bunuh diri, dengan kota Seoul sebagai target utamanya.

Pilot jet itu adalah seseorang yang sangat amat ia kenal. Gui Xian – tunggu, nama aslinya ternyata Cho Kyuhyun. Ia bahkan berbohong tentang nama aslinya.

Pria itu, satu-satunya orang yang pernah mengisi relung hatinya. Sekarang ia sudah tiada.

Dan itu semua terjadi pada hari ulangtahunnya.

 

Annyeong Jihyun-ah,

Apakah surat ini akhirnya sampai padamu? Aku sangat berharap kau bisa membaca surat ini, karena ada seribu kata tak terucap yang seharusnya aku sampaikan kepadamu jauh sebelumnya.

Hidupku dipenuhi oleh kebohongan dan tipu muslihat. Aku yang kamu kenal selama ini, bukanlah aku yang sebenarnya.

Aku bukan Gui Xian. Nama asliku Cho Kyuhyun.

Aku adalah seorang secret service untuk Korea Utara.

Dan aku bisa melihat masa depan, makanya aku tahu pesawat yang kau tumpangi waktu itu akan jatuh.

Dan kemarin malam, tepat sebelum aku akan melaksanakan misi bunuh diriku…

Aku mendapat suatu penglihatan lagi.

Aku melihat pesawat yang aku kendarai hancur berkeping-keping, dan hatimu juga hancur berkeping-keping seiring kau melihat berita dan membaca surat ini dariku.

Jihyun-a… aku tidak mau itu terjadi.

Jangan menangis untukku, eo?

Jihyun-a, ini mungkin terlihat aneh dan tidak masuk akal, tapi percayalah.

Kau boleh membenciku, tapi ketahuiah…..

Sepertinya aku telah jatuh cinta padamu.

Tapi aku tidak bisa mencintaimu.

 

Careless, careless. Shoot anonymous, anonymous.

Heartless, mindless. No one. who care about me?

9 thoughts on “사랑하지 않을까? (Park Jihyun – Cho Kyuhyun)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s