Hello (Song Ji Na – Kris)

hello

“Sudahlah, semuanya sudah berlalu.”

Tao menepuk pundak Kris pelan. Kris yang Tao kenal adalah seseorang yang sangat dingin dan angkuh, hampir tidak pernah menunjukkan kelemahannya. Sepanjang pengetahuan Tao, satu-satunya saat Kris menunjukkan kelemahannya yaitu saat ia duduk seorang diri di bangku taman dan medongak memperhatikan langit biru yang selalu mengingatkannya akan gadis itu.

Ah, gadis itu.

Sebenarnya tujuan mereka keluar dari apartemen mereka yang nyaman di hari Minggu yang cerah ini hanya untuk pergi ke toko album dan membeli album terbaru Bruno Mars yang diincar Kris. Tapi yang mempunyai urusan malah memutuskan untuk berhenti di taman kota, duduk di bangku yang selalu ia duduki setiap ia melewati taman itu dan mengenang gadis itu.

Kris masih memperhatikan awan yang bergerak di langit biru yang berada di atas kepala mereka. Awan-awan putih yang terlihat selembut kapas itu sangat kontras dengan langit biru cerah seperti hari ini. Seharusnya ini adalah salah satu hari paling menyenangkan di antara hari-hari yang menyenangkan selama musim panas.

Tapi sayang sekali, Kris selamanya akan selalu membenci musim panas.

“1 tahun, Tao. Waktu berjalan dengan cepat sekali, ya? Ah, kurasa waktu itu tidak berjalan, tapi berlari.”

Musim panas yang ajaib 1 tahun yang lalu, sahabatnya itu nyaris tidak pernah menghilangkan senyum di wajahnya. Lalu di akhir musim panas tahun itu juga, Kris menangis semalaman suntuk untuk pertama kali dalam hidupnya.

“Let her go, dude. There’s no way to bring her back.”

“There is…” Kris bergumam lirih. Awan-awan yang berarak pelan di langit Seoul siang itu seolah-olah adalah pemandangan yang paling menyedihkan bagi Kris. “If only I could go back to that day—”

“Berhentilah menyesali apapun yang sudah terjadi. ” Tao tidak membiarkan Kris menyelesaikan kalimat yang sudah ia ulangi berkali-kali. “Apapun yang sudah terjadi, itu sudah terjadi. Tidak akan berubah. Tidak ada cara untuk mengubahnya. Yang harus kau lakukan hanya satu; menerima. Aku tahu ini terlalu sulit untuk kau terima, tapi sadarlah, hidup terus berjalan.”

Kris hanya diam, sama sekali tidak merespon semua yang Tao katakan. Pandangannya menerawang, dan Tao tahu kalau pikiran Kris sedang melayang jauh menentang waktu…

***

When I see myself during these times
I feel that I really am young
Even with you in front of me
I don’t know what to do
To the people who are in love
Please tell me how you started to love

Will the day I hold her hand ever come?
Will the day I kiss her above her closed eyes also come?

Hello, hello
I brought up the courage
Hello, hello
I want to talk to you for a moment
Hello, hello
I may be rushing a bit
Who knows? We might
End up doing well

Harus hari ini. Yes, Kris. Harus hari ini.

Kris bersandar di depan pintu kelas 12. Musim gugur tahun ini mungkin salah satu musim gugur terburuk dalam hidup Kris, karena angin dingin yang tak berhenti berhembus dan membuatnya terjebak dalam flu berat. Ia sudah berdiri pada posisi yang sama sejak 15 menit yang lalu, sama sekali tidak bergerak 1 milimeter pun, dan walaupun ia sudah memasukkan kantong penghangat dalam sakunya dan memastikan jari-jarinya menyentuh kantong penghangat itu, Kris tetap kedinginan. Sepertinya jaket tebal yang ia kenakan sama sekali tidak membantu melindunginya dari angin dingin.

Kris melirik jam tangan yang melingkar ditangan kirinya. Tepat pukul 6 pagi. Ia tidak pernah datang sepagi ini sebelumnya. Biasanya, ia baru akan beranjak dari ranjang 20 menit lagi, lalu mandi dan menyambar satu bungkus Oreo, menghabiskannya dalam perjalanan menuju sekolah. Beruntung baginya karena jarak rumah dan sekolahnya tidak jauh, dan ia bisa mencapai sekolah dalam waktu kurang dari 5 menit kalau ia berlari.

Hari ini, Kris memaksa dirinya sendiri bangun setengah jam lebih cepat dari biasanya. Literally force himself. Ia bahkan masih sempat menghabiskan 1 bungkus ramyeon sebelum berjalan setengah mengantuk ke sekolahnya. Ia melempar ranselnya ke atas mejanya lalu keluar dari kelasnya dan berdiri di depan pintu kelas 12-1

Ada satu orang yang ia tunggu. Ada sesuatu yang harus ia katakan.

Ia sudah mempersiapkan apa saja yang ingin ia katakan. Ia sudah mempersiapkan diri untuk segalanya. Sekarang, ia merasa bahwa ia sudah siap, dan ia tahu ia harus mengatakannya hari ini.

Kalau tidak, ia tidak tahu kapan ia akan mendapatkan keberaniannya lagi.

Nah, itu dia.

Suara sepatu yang mengetuk permukaan lantai koridor kelas 12 terdengar dengan jelas di koridor yang kosong ini. Kris tahu pasti siapa yang sedang berjalan ke arah koridor kelas 12. Hanya ada satu orang yang datang sepagi ini.

Eo, Kris?”

Suara lembut yang selalu disukainya. Suara itu selalu memenuhi benaknya setiap malam, berharap suara itu menyebut namanya penuh sayang, mengucapkan berbagai kata-kata penuh cinta—

“Kris?”

Di saat seperti ini, kau melamun. Gadis itu sedang berbicara padamu! Apa yang kau pikirkan itu, Kris?

“Oh… uhm… Ne. Annyeong, Nuna!”

“Tidak biasanya kau datang sepagi ini. Apa yang kau lakukan di sini? Untuk apa kau berdiri di depan kelas 12-1?”

12-1 adalah kelas gadis itu. Yah, Kris cukup memaklumi kebingungannya.

“Uhm… Begini, nuna, ada yang ingin kukatakan kepadamu…”

“Kepadaku? Ada apa? Kau mau meminjam album lagi?”

“Tidak, bukan itu yang ingin kukatakan padamu…”

Kris, kenapa kau jadi gugup seperti ini? Cepat katakan!

“Lalu?”

Katakan, Kris. Katakan!

Kris menghembuskan nafas keras-keras. “Nuna, aku—”

“Song Ji Na! Kris!”

Shit.

Choi Siwon sedang berjalan ke arah mereka. Kris dan Ji Na sama-sama menoleh ke arah sumber suara itu dan menemukan Choi Siwon melambaikan tangan ke arah mereka.

“Siwon-a! Aku tidak pernah tahu kau datang sepagi ini,” terdengar sekali Ji Na sedang menyindir Siwon.

He ruined all my plan.

“Memang ada yang salah kalau aku datang sepagi ini? Tiba-tiba aku bangun pagi sekali hari ini, jadi aku pikir sekali-kali datang sepagi ini tidak masalah.” Siwon merangkulkan salah satu tangannya di pundak Ji Na. Pemandangan seperti ini adalah salah satu dari sekian banyak pemandangan yang akan kau lihat kalau Siwon berada di dekat Ji Na atau sebaliknya. Kris sejujurnya benci pemandangan ini, tapi semua orang akan beranggapan kalau ia cemburu. Siapa yang tidak tahu kalau kedua anak manusia itu bersahabat baik? Berpelukan sudah merupakan hal yang biasa bagi mereka, apalagi mereka sama-sama pernah bersekolah di San Francisco sebelum mereka pindah ke Korea dan bersekolah di sekolah mereka sekarang.

Apa Kris sudah mengatakan kalau ia juga murid pindahan dari San Francisco?

Anyway, Kris, apa yang kau lakukan di kelas 12?” tanya Siwon.

Nothing, aku hanya ingin bertanya pada nuna apakah ia mau menemaniku mencari album hari ini.”

Ji Na tampak terkejut dengan apa yang Kris katakan. “Kenapa kau tidak mengatakan hal itu dari tadi? Tentu saja aku mau! Siwon bisa ikut kalau ia mau.”

“Kau tahu aku tidak pernah menolak.”

“Bagus!” Ji Na bersorak senang.

Nuna, aku akan kembali ke kelasku.”

“Baiklah, sampai nanti, Kris!”

Begitulah pagi itu berakhir dengan perjuangan Kris yang sia-sia, dan kejadian pagi itu sukses membuatnya uring-uringan satu hari itu.

***

Whether I should approach you
Or wait a little longer
With everyone saying different things
Makes it much harder (You might not believe me)
She has higher standards than she seems
This kind of thing is uncommon for me
Please believe what I say

Will the day I casually hold her come?
I believe everything will turn out the way you think it will

Hello, hello
I brought up the courage
Hello, hello
I want to talk to you for a moment
Hello, hello
I may be rushing a bit
Who knows? We might
Oh yeah

Hari ini tepat 2 tahun sejak kegagalan Kris untuk membuat Ji Na tahu perasaannya yang sebenarnya.

Song Ji Na adalah gadis pertama yang Kris kenal.

Sejak dulu, ia dekat dengan Ji Na dan Siwon. Bukan hal yang mengejutkan sebenarnya, mengingat orangtua mereka bersahabat baik dan masih terus mempertahankan persahabatan mereka hingga sekarang. Sebulan sekali, mereka akan membawa serta anak-anak mereka untuk makan malam bersama di sebuah restoran. Mereka akan membicarakan banyak hal yang Kris tidak mengerti, sementara Kris dibiarkan bersama Ji Na dan Siwon.

Satu-satunya kenyataan yang dibenci Kris dari kedekatan mereka bertiga adalah kenyataan bahwa ia adalah yang termuda di antara mereka bertiga.

Ji Na dan Siwon dua tahun lebih tua darinya. Waktu usia mereka 6 tahun dan Kris 4 tahun, orang tua mereka memutuskan untuk pindah ke San Francisco. Ia, Ji Na, dan Siwon bersekolah di satu sekolah dasar yang sama, hanya saja Kris baru masuk ke sekolah itu 2 tahun setelahnya. Orang tua Kris memutuskan untuk kembali ke Korea setelah Kris menyelesaikan sekolah dasarnya di San Francisco, sementara orang tua Ji Na dan Siwon masih memutuskan untuk menetap sampai Ji Na dan Siwon lulus dari bangku sekolah menengah.

Kelanjutannya sudah jelas. Mereka dekat kembali setelah Ji Na dan Siwon kembali ke Korea, hanya saja kedekatan Ji Na dan Siwon semakin parah saja.

Untuk berbagai alasan, Kris tidak suka melihat kedekatan mereka. Kedengaran sangat jahat, Kris tahu itu. Tapi setiap kali ia melihat kedua orang itu menertawakan sesuatu hal yang tidak ia mengerti, Kris merasa kesal. Kalau Kris bisa jujur, bukan hanya satu kali atau dua kali ia berharap menjadi Choi Siwon.

Kris paling tidak suka saat dirinya dibanding-bandingkan dengan orang lain, dan ketidak sukaan itu akan berubah menjadi benci bila pembandingnya adalah Choi Siwon. Kekayaan, ketampanan, kepintaran… Laki-laki itu memiliki segalanya. Ia juga memiliki semua itu, tapi rasanya Choi Siwon jauh melebihinya di atas segala hal.

Kris tidak pernah menunjukkan rasa bencinya pada Siwon. Kris sadar bahwa ia adalah aktor yang sangat baik, sampai-sampai ia yakin ia bisa menjadi aktor sukses kalau ia mau.

Song Ji Na adalah gadis paling unik yang pernah Kris kenal.

Kris tidak suka bila dibanding-bandingkan dengan orang lain, tapi Kris sering sekali membandingkan semua gadis yang dikenalnya dengan Song Ji Na. Dan tentu saja, gadis-gadis itu akan kalah karena pembandingnya adalah Song Ji Na.

Ji Na tidak seperti gadis-gadis pada umumnya. Gadis itu benar-benar berbeda.

Ji Na adalah orang paling fashionable yang pernah Kris kenal. Satu-satunya yang tidak disukai gadis itu dari semua jenis baju wanita yang ada hanyalah rok. Gadis itu sangat mencintai sepatu-sepatu bertumit tinggi. Kris selalu merasakan rasa kepercayaan diri Ji Na yang tinggi saat ia mengenakan wedges yang ia padukan dengan jeans ketat berwarna gelap dan kemeja-kemeja koleksinya, tapi Ji Na bisa benar-benar menjadi sosok yang pendiam saat terpaksa harus menggunakan rok. Ji Na tidak akan pernah menunjukkan rasa kesalnya kepada siapapun, dan karena Kris mengenal Ji Na, ia tahu kalau Ji Na menjadi pendiam berarti ia kesal akan suatu hal.

Ji Na adalah orang paling logis yang pernah Kris kenal. Ia selalu menggunakan logika, dan gadis itu hampir tidak punya imajinasi menjijikkan seperti kebanyakan gadis-gadis pada umumnya. Kalaupun Ji Na memiliki imajinasi, yang ada di otaknya tidak akan jauh dari film-film yang penuh adegan baku tembak di dalamnya atau film-film pembunuhan berantai. Sampai hari ini, Kris masih tidak mengerti bagaimana orang tanpa perasaan seperti Ji Na sangat mencintai bidang menyanyi dan alat musik piano dan gitar. Oh, Ji Na juga orang paling cuek yang pernah dikenal Kris. Gadis itu masih bertahan dengan ponsel lamanya di saat semua orang mengantri untuk membeli gadget-gadget terbaru, dan gadis itu hampir tidak tahu drama korea apa saja yang sedang ditonton teman-temannya. Kris juga tidak pernah melihat gadis itu duduk bersama teman-temannya dan membicarakan gosip-gosip baru dan hangat di sekolah mereka.

Singkatnya, Ji Na sangat berbeda. Itulah yang membuat Kris menyukainya.

Di saat teman-temannya membicarakan make up, Ji Na akan membicarakan lagu terbaru yang ditulisnya.

“Choi Siwon benar-benar akan mati, lihat saja. Dia sudah berjanji akan datang, tapi tiba-tiba ia menelpon dan mengatakan bahwa ia tidak bisa datang. Lihat saja anak itu, akan kuhabisi dia!”

Oh, apa Kris sudah mengatakan kalau Ji Na sudah berpacaran dengan Siwon selama hampir 2 tahun ini? Alasannya membuang keinginannya jauh-jauh untuk jujur pada Ji Na?

Kris tertawa mendengar omelan Ji Na. “Asalkan kau tidak membantingnya ia ke tanah saja. Kau ingat bagaimana wajah Siwon Hyung saat kau membantingnya ke tanah? Aku masih ingin tertawa kalau mengingatnya lagi.”

Olahraga yang paling dicintai Ji Na adalah judo. Ia dan Siwon sama-sama mengikuti kursus judo, dan momen yang dimaksud Kris adalah saat kedua orang itu berlatih untuk lomba yang akan mereka ikuti. Ji Na –dengan sangat mengejutkan- membanting Siwon ke tanah dengan cukup keras sampai-sampai Siwon mati-matian menahan tangisnya. Alhasil, Siwon tidak bisa mengikuti lomba karena punggungnya cedera dan Ji Na-lah yang memenangkan lomba itu.

“Kau pikir aku masih bisa membanting badan yang penuh otot itu? Kris, mungkin sebelum aku berhasil memegang tangannya, ia akan menahan tanganku lebih dulu dan aku yang akan dibantingnya ke tanah!”

Kris tertawa lagi. Ah, apa yang harus ia katakan sekarang? Ji Na selalu berhasil membuatnya gugup setengah mati.

Nuna, cepat nyanyikan lagu barumu itu. Kau sudah berjanji untuk mentraktirku es krim setelah ini.”

Ji Na mendelik ke arah Kris. “Sebenarnya kau tulus ingin mendengarkan lagu baruku atau hanya menginginkan es krim vanilla-mu, sih?”

“Ani, tentu saja aku tulus ingin mendengar lagu barumu, tapi nuna tahu aku selalu lapar setiap mendengar kata es krim.”

Ji Na mendengus, tapi jari-jarinya mulai memetik senar-senar gitarnya. Senar-senar itu mulai mengeluarkan nada-nada indah, dan lagi-lagi berhasil membuat Kris terpukau. Nada-nada itu begitu lembut dan menenangkan… Dan suara Ji Na yang lembut benar-benar melengkapi keindahan lagu itu. Jenis lagu yang membuat seseorang ingin mendengarnya berulang kali setiap malam sebelum tidur.

“Bagaimana?”

Kris mengerjap-ngerjapkan matanya. Sepertinya tadi ia terlalu terpukau sampai-sampai ia terbengong.

“Lagu nuna selalu bagus, seperti biasanya. Kenapa sih nuna tidak menjadi pengarang lagu atau sekalian penyanyi saja? Mengapa nuna masih memaksakan diri mengambil jurusan business? Nuna sama sekali tidak berbakat di bidang bisnis.”

Ji Na mendesah pelan mendengar komentar Kris. Kris sudah mengulang komentar yang sama untuk kesekian kalinya, dan Kris selalu lupa untuk tidak melontarkan komentar itu. “Kau tahu appa ingin aku meneruskan perusahaannya. Aku sendiri sudah berulang kali memintanya agar mengijinkanku untuk mengambil jurusan musik, tapi appa hanya mau mengijinkan setelah aku menjadi direktur perusahaannya. Sudahlah, tak perlu dibahas,” Ji Na tersenyum kepada Kris. “Aku bisa menunggu, kok.”

Keheningan yang canggung di antara mereka berlangsung selama beberapa menit, sebelum akhirnya Ji Na berdiri dari kursinya, lalu mengulurkan tangan kepada Kris sambil tersenyum.

Kkaja, kita makan es krim!”

***

Dari semua gadis yang ada di dunia ini, mengapa harus Song Ji Na?

Kris duduk berhadapan dengan Ji Na sambil menikmati es krim vanilla-nya, sementara Ji Na dengan es krim cokelatnya. Ji Na sedang sibuk memeriksa ponselnya, sementara Kris memperhatikan setiap detil dari gadis itu yang bisa diperhatikannya. Hari ini gadis itu hanya mengenakan kaos polo berwarna merah dan celana jeans warna hitam. Gadis itu membiarkan rambut panjang berombaknya tergerai indah di kedua bahunya. Wajah cantiknya polos tanpa polesan make
up apapun. iPhone butut di tangannya masih dalam kondisi yang sama seperti saat gadis itu pertama kali membelinya dan tas tangannya yang berwarna putih duduk manis di atas kursi yang ada di sampingnya. Sekilas penampilan gadis itu terlihat sangat biasa saja, tapi sesungguhnya gadis itu bisa memiliki apapun yang diinginkannya seandainya gadis itu mau.

“Ah, payah sekali. Aku tidak bisa mendownload game yang kuincar hanya karena iOS nya sudah terlalu lama.”

Kris berdecak kesal. “Sudah kubilang berkali-kali, beli saja yang baru.”

“Tidak mau,” gadis itu menggeleng dengan ekspresi wajah yang membuat Kris gemas. “iPhone ini masih bagus. Sayang sekali kalau harus membuangnya dan menggantinya dengan yang baru.”

“Kau terdengar seperti orang yang tidak memiliki uang, nuna. Dengan uang saku yang kau terima setiap bulan, kau bisa membeli setidaknya 1 ponsel baru per bulan.”

“Aku lebih suka menggunakan uang sakuku untuk album-album baru atau untuk ditabung. Ah, atau untuk baju-baju yang menurutku bagus.”

Kris sudah mengatakan berulang kali pada dirinya sendiri kalau Song Ji Na adalah gadis paling unik yang pernah ada, tapi tetap saja ia tidak bisa mengerti cara berpikir gadis itu. Gadis itu punya cara sendiri untuk menghadapi masalah yang harus dihadapinya.

“Kris, ayo kita bermain.”

“Main apa?” Kris mengernyitkan dahinya. Ini bukan pertama kalinya Ji Na secara tiba-tiba mengajaknya bermain, tapi hari ini Kris sama sekali tidak memiliki ide permainan apa yang Ji Na ingin mainkan.

“Gunting-Batu-Kertas saja. Kalau kau bisa mengalahkanku 5 kali, kau boleh bertanya apapun padaku. Kalau aku yang menang, kau yang harus membayar es krim kita. Bagaimana?”

Kris menggeleng. “Nuna, kau ini benar-benar seperti anak kecil.”

“Ayolah. Aku bosan.”

Kris menatap Ji Na selama beberapa detik. Apa yang ingin ditanyakannya kalau ia menang?

Sudahlah, main saja dulu.

Kris mengulurkan tangannya dan Ji Na tersenyum, lalu meraih tangan Kris. Kris bisa merasakan rasa panas yang menjalar dari tangannya ke seluruh tubuhnya akibat Ji Na yang menggenggam tangannya.

Satu sentuhan saja dari Ji Na bisa berakibat fatal.

Hana, dul, set!”

Kris mengepalkan tangannya sementara Ji Na membuka tangannya. Ji Na tersenyum penuh kemenangan.

“Satu kosong!”

Ji Na kembali menggenggam tangan Kris dan kembali menghitung. Kali ini, Kris mengeluarkan jari telunjuk dan jari tengahnya, sementara Ji Na mengepalkan tangannya.

“Dua kosong!”

Ji Na menghitung lagi. Kali ini, Kris membuka tangannya sementara Ji Na mengepalkan tangannya.

“Ah, dua satu!”

Kris sama sekali tidak ada niat untuk menang. Kris sudah menemukan apa yang ingin ia tanyakan pada Ji Na, tapi ia sama sekali tidak berniat menanyakannya sekarang. Bukan waktu yang tepat.

“Tiga satu!”

Kris mengepalkan tangannya sementara Ji Na mengeluarkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

“Tiga dua! Kris, kau tidak boleh menang!”

“Ah, wae nuna~? Semua orang boleh menang dalam setiap permainan.”

“Pokoknya kau tidak boleh menang!”

Aigoo nuna, jangan berteriak sekencang itu! Berapa usiamu sekarang? Kau membuatku malu!”

“Masa bodoh,” sahut Ji Na acuh. Ji Na menghitung lagi dan kali ini Kris membuka tangannya sementara Ji Na kembali mengeluarkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

“Empat dua! Ayolah Kris, menyerah saja, kau akan kalah!”

“Siapa bilang? Aku pasti bisa mengalahkanmu!”

“Sudahlah, kurasa kau harus menyiapkan dompetmu.”

“Itu tidak akan terjadi,” balas Kris penuh percaya diri. Ji Na kembali menghitung dan Kris mengalahkan Ji Na dengan mengepalkan tangannya.

“Ah, bagaimana mungkin! Empat tiga!”

“Sudah kubilang aku tidak akan kalah.”

Ji Na mengerucutkan bibirnya, lalu kembali menghitung. Kali ini, Kris menang lagi dengan membuka tangannya.

“Ya, kemana perginya keberuntunganku. Empat sama, Kris. Berarti ini adalah penentuan siapa yang menang dan siapa yang kalah.”

“Bahasamu terlalu dalam. Ayo kita langsung mulai saja.”

Ji Na menggenggam tangan Kris cukup lama sebelum akhirnya mulai menghitung. Ji Na mendesah kecewa saat mereka sama-sama mengepalkan tangan.

“Ulang sekali lagi!”

Ji Na menggenggam tangan Kris. Oh, betapa Kris ingin menghentikan waktu seandainya ia bisa…

“Siapkan dompetmu, Kris-ku yang manis.”

“Kurasa dompetku akan tetap berada di kantongku.”

Kali ini, Kris sengaja benar-benar memperhatikan tangan Ji Na, mengeluarkan tangannya sepersekian detik lebih telat dari Ji Na, dan mengalahkan dirinya sendiri.

Kris menatap tangannya yang terkepal.

“Aku menang! Kris, kau yang membayar es krim kita~!”

***

Ji Na adalah gadis yang sangat periang. Setidaknya, ia tidak akan menunjukkan rasa sedih atau kecewanya di depan semua orang.

Musim semi tahun itu adalah musim yang menyedihkan bagi Ji Na. Yah, gadis itu baru saja putus dengan Choi Siwon. Kris tidak tahu apa yang membuat hubungan mereka yang hampir menginjak tahun ketiga itu berakhir. Sejujurnya, Kris sama sekali tidak ingin tahu. Jadi, ia tidak mencoba menanyakan alasannya pada Ji Na dan memilih untuk menjadi orang yang bisa diandalkan Ji Na setiap saat.

Kris menyesap cappucinno-nya sambil memandangi bunga-bunga yang bermekaran di bangku taman kesukaannya. Tidak ada alasan khusus bagi dirinya untuk menyukai bangku taman itu. Yang membuat Kris menyukai bangku itu hanyalah karena ia merasa nyaman setiap duduk di bangku itu.

“Ah, sudah lama menunggu? Maaf terlalu lama.”

Kris menoleh dan menemukan Ji Na sudah duduk di sampingnya. Hari ini ia berjanji untuk menemani Ji Na pergi ke sebuah agensi musik untuk menyerahkan lagu yang ditulisnya, dan mereka memilih untuk bertemu di taman ini karena lokasi taman ini cukup strategis.

“Kau masih ingin duduk atau langsung pergi?”

Ji Na tampak berpikir sebentar. “Duduk saja dulu. Lagipula kantor agensi itu cukup dekat, kok. Kurasa tidak akan masalah apabila kita pergi sebentar lagi.”

Angin musim semi bertiup lembut membelai kulit mereka, menerbangkan rambut berombak gadis itu yang sekarang dipotong pendek sedada.

Saat itulah keberanian itu muncul lagi.

Mengapa harus di saat ia sama sekali tidak memiliki persiapan apapun, sih? Kris menggerutu pada dirinya sendiri. Gadis itu sedang memperhatikan anak-anak kecil yang berlarian di depan mereka, dan gadis itu sedikit tersenyum. Gadis itu tidak suka dengan anak kecil, tapi ia sangat suka melihat anak kecil berlari-lari riang dengan kaki-kaki kecil mereka, begitu katanya.

Nuna.”

Ji Na menoleh ke arah Kris. Matanya membesar, mengisyaratkan Kris untuk mengatakan alasan ia memanggilnya.

Ayo Kris, katakan sekarang.

“Nuna, kau cantik sekali.”

Aish, apa yang kau katakan itu?

Ji Na tertawa. “Aku tahu, Kris. Semua orang sudah mengatakan hal itu berulang kali. Tapi, terima kasih.”

Ulangi sekali lagi.

Nuna.”

Ji Na menoleh lagi. Kris menghembuskan nafas dengan keras, berusaha mengeluarkan segala kegugupannya. Ia harus mengatakannya. Harus.

Nuna, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Apa?”

“Aku ingin jujur padamu.”

Ji Na mengerutkan keningnya, berusaha menahan tawanya. “Memangnya kau sedang berbohong padaku, Kris? Kau ingin jujur tentang apa?”

“Ya, aku sudah berbohong lama sekali padamu. Nuna, kau harus percaya padaku.”

“Baiklah. Cepat katakan.”

“Berjanjilah kau akan percaya.”

“Aku berjanji. Kau mau mengatakan apa, sih? Sepertinya berat sekali. Cepat, katakan saja, aku tidak akan mengigitmu, kok.”

“Baiklah…” Kris menghembuskan nafasnya sekali lagi. Rasanya berat sekali untuk mengatakannya. Agak terlalu menjijikkan sebenarnya. Tapi ia harus mengatakannya.

Nuna, nan—”

bounce to you bounce to you nae gaseumi neol~

“Aish jinjja, siapa lagi yang menelponku kali ini? Tunggu sebentar, Kris, simpan dulu apapun yang ingin kau katakan itu, aku harus menjawab telepon dulu.”

Shit. Once again.

Sepertinya yang menelponnya adalah Song Seung Hoon, karena samar-samar Kris bisa mendengar suara sang appa yang membentak putrinya untuk segera pulang.

Arrasseo. Beri aku waktu setengah jam.”

Ji Na akhirnya menutup teleponnya dan memasukkan iPhone bututnya ke dalam tas tangannya sambil memberengut kesal. Gadis itu paling benci menjawab telepon, tapi ia paling takut kalau yang menelponnya adaah orang tuanya. Apapun yang sedang terjadi, ia akan sebisa mungkin menjawab telepon mereka, kecuali bila ia sedang berada di dalam satu situasi yang tidak memungkinkannya untuk memeriksa iPhone bututnya.

“Kris, kita harus pergi ke agensi itu sekarang, lalu kau harus mengantarkanku pulang. Appa memaksaku untuk ikut makan malam bersama rekan bisnisnya.”

Ne, nuna.”

Dua kali gagal. Ini benar-benar tidak bisa dimaafkan.

***

It’s not my first time to be honest
I’ve loved and broken up before
But it’s hard, please believe these words
You are different

Hello, hello
I’ll bet my all this time
Hello, hello
Ooh yeah, baby baby baby girl
Hello, hello
I don’t know how you feel right now
Who knows? We might

Hello, hello
Hello, hello
Please give me a chance
Hello, hello
I don’t know how you feel right now
Who knows? Two of us
Might be destiny
(Hello, the times I spent by your side
Can no more compare to any other happiness
I can’t express myself to you
My heart wants all of you, never let you go
If this is love, I’ll never let it go
Who knows? The two of us)

Bukannya Kris belum pernah berpacaran. Ia sudah pernah menemukan gadis-gadis yang ia rasa mendekati Ji Na, tapi pada akhirnya semua tidak ada yang bertahan lebih dari 2 bulan sekeras apapun usahanya untuk mempertahankan hubungannya. Kris ingat betul kalau ia tidak pernah segugup itu setiap menyatakan cinta pada seorang gadis. Ia hanya mengatakan, “Aku menyukaimu. Kau mau jadi pacarku?” dan gadis yang diinginkannya akan jatuh ke dalam pelukannya.

Tapi ia tidak bisa mengatakannya semudah itu pada Ji Na, dan kenyataan ini cukup mengganggunya.

Waktu-waktunya bersama Ji Na boleh jadi merupakan waktu-waktu yang paling membuatnya bahagia. Tapi saat-saat keberanian itu datang adalah waktu-waktu yang paling menyiksanya.

Musim panas tahun ini, Kris berniat mengakhiri segalanya. Ya, ia harus jujur.

Kris melirik jam tangannya. Pukul 13.00.

Kris duduk di bangku yang sama dengan bangku yang ia duduki di kegagalannya yang terakhir. Ia berjanji bertemu Ji Na di taman ini, lalu setelah itu mereka akan makan steak bersama di restoran favorit mereka.

Tapi sebelumnya, Kris akan mengatakan pada Ji Na perasaannya yang sebenarnya, setelah itu membiarkan gadis itu memilih antara makan steak bersamanya atau—

Naega mianhaeyo, lagi-lagi membuatmu menunggu lama!”

Ji Na berjalan ke arahnya, setengah berlari lebih tepatnya. Kris tidak mengerti bagaimana Ji Na bisa berlari dengan high heels tinggi yang dikenakannya.

“Kau pasti sudah lama menunggu. Mianhae, eo? Tadi ada sedikit masalah di perusahaan.”

Gwaenchanha,” Kris tersenyum. Tentu saja ia bisa mengerti. Ia juga sudah berada di posisi yang sama seperti Ji Na, hanya saja belum benar-benar fokus seperti Ji Na karena ia masih kuliah.

“Hah, aku lelah sekali,” Ji Na melemparkan dirinya ke samping Kris. “Orang-orang itu menyebalkan sekali. Bagus aku masih bisa tersenyum di depan mereka. Tidak berperasaan. Mereka tidak tahu bagaimana hari ini aku memaksakan diriku sendiri memakai make up dan rok sepan yang sempit ini. Hah, panas sekali.”

Kris hanya tersenyum mendengar keluhan Ji Na. Gadis itu sangat menggemaskan saat menggerutu.

“Penampilanmu tidak buruk, kok. Kau tetap cantik seperti biasanya,” Kris berusaha menghibur Ji Na.

“Tetap saja, Kris. Make up dan rok sepan ini benar-benar membebaniku. Bagaimana mungkin kami bisa kalah tender seperti ini, aish! Memalukan!”

“Semuanya sudah berlalu, Nuna. Jangan salahkan dirimu sendiri.”

Ji Na mendesah kesal. “Kau benar. Ah, kalau begitu langsung saja kita pergi saja! Muka orang-orang itu sudah membuatku lapar sejak awal.”

“Tapi nuna, kemungkinan kau akan berubah pikiran.”

Ji Na menoleh ke arah Kris dan mengerutkan keningnya. “Maksudmu?”

Nuna, dengar, aku tidak yakin aku bisa mengatakannya lagi di lain waktu. Jadi kau harus mendengarkanku, lalu setelah itu kau boleh memutuskan.”

Ji Na menatap Kris dengan tatap bertanya, menunggu Kris untuk melanjutkan kalimatnya.

Sekarang, Kris!

Nuna, naega neol saranghaeyo.”

Ji Na tampak terkejut mendengar apa yang Kris katakan, namun detik berikutnya ia tersenyum.

Kris sudah tau arti senyuman itu.

“It took you a long time to say it.”

***

Nuna, andwae! Kau tidak boleh pergi!”

Ji Na berdecak mendengar permohonan Kris yang sudah diulang untuk kesekian kalinya. Ji Na mengacak-acak rambut Kris dengan kesal.

“Aku sudah bilang, hanya seminggu. Aku pasti akan kembali sebelum hari pernikahan kita.”

Andwae, nuna! Bagaimana mungkin aku menghabiskan waktu seminggu sendiri tanpa dirimu?”

Ji Na menjitak kepala Kris. “Jangan manja. Aku pergi bukan untuk bersenang-senang, tapi untuk urusan pekerjaan, kau tahu? Kau pikir aku mau?”

“Aku akan memaksa appa untuk membatalkan kepergianmu ke sana.”

Ji Na menggeleng keras. “Tidak, Kris, kau tidak akan melakukan itu. Kalau kau melakukan itu, aku akan membatalkan pernikahan kita.”

Kris memamerkan senyum setengahnya kepada Ji Na. “Nuna, aku tahu kau tidak akan melakukan itu. Kau tidak akan bisa. Kalau kau bisa membatalkan pernikahan kita semudah itu, lima tahun yang lalu kau tidak akan menerimaku menjadi pacarmu.”

Kris tertawa mendengar desahan Ji Na. “Yah, memang sangat disayangkan aku tidak bisa melakukan itu. Tapi Kris, kau benar-benar tidak boleh mencegah kepergianku.”

“Ah, wae, nuna?”

“Kau mau appa memundurkan tanggal pernikahan kita?”

Andwae!”

“Kalau begitu, diam saja. Lagipula, aku akan berangkat dalam beberapa menit lagi, jadi sudah terlambat sekali kalau kau ingin menghentikan kepergianku.”

Benar, mereka sedang berada di Incheon Airport saat ini. Kris memaksa untuk mengantar Ji Na dan sengaja memeluk Ji Na selama di bandara. Biar saja yang lain melihat, lagipula mereka tidak mengerti bagaimana ia akan sendirian selama seminggu.

“Kau selalu melarangku, dan kau tahu aku selalu menurut padamu. Kau tahu nuna, sejujurnya aku merasa tidak enak dengan kepergianmu kali ini.”

Itu benar. Kris sudah memimpikan kecelakaan pesawat yang akan ditumpangi Ji Na selama 3 hari terakhir. Ia sudah mengupayakan segala cara untuk mencegah kepergian Ji Na, tapi Ji Na mengatakan padanya bahwa Kris hanya terlalu gugup saja dengan kepergiannya.

“Ayolah, Canada tidak sejauh itu. Aku akan baik-baik saja, eo?”

Kris mengeratkan pelukannya pada Ji Na. “Aku akan merindukanmu, nuna.”

“Aku juga.”

Persis saat itu, panggilan untuk pesawat yang akan ditumpangi Ji Na memanggil semua penumpangnya untuk segera masuk ke dalam pesawat. Dengan berat hati, Kris melepaskan pelukannya pada Ji Na.

“Jaga dirimu baik-baik, eo? Tunggu aku.”

“Aku akan selalu menunggumu.”

“Jangan dekati gadis-gadis di kantormu, arrasseo?”

Nuna, aku tidak senakal itu!”

“Siapa tahu,” Ji Na tersenyum lalu mengecup pipi Kris. “Aku pergi.”

Ji Na mulai menarik kopernya menjauhi Kris karena panggilan itu mulai terdengar lagi. Kris melambaikan tangannya ke arah Ji Na dan Ji Na juga melakukan hal yang sama.

“Tunggu aku, eo?”

Ne, Nuna! Ppali dorawa!”

Annyeong, Kris!”

Kris terus memandangi Ji Na sampai gadis itu menghilang dari jarak pandangnya.

Kris tidak tahu kalau gadis itu akan menghilang dari jarak pandangnya untuk selamanya.

***

“Sebuah kecelakaan pesawat terjadi pagi ini. Pesawat jurusan Seoul-Ottawa itu diduga mengalami kerusakan pada mesin dan mendarat darurat di Samudra Pasifik. Diduga tidak ada yang selamat dalam insiden ini. Sampai pagi ini, pesawat tersebut belum berhasil ditemukan….”

 

 

 

A/N : Hmm sebenernya author sendiri bingung kenapa author tambahin ini setelah author post. Sepertinya author melakukan terlalu banyak typo yang tak bisa dimaafkan (?) jadi author pun memutuskan untuk mengedit ke-typoan tersebut. Hmm ada sedikit keteledoran kecil gara” author bermaksud mengganti setiap nama Ji Na yang author tulis dengan “Jina” jadi “Ji Na”. Tapi karena author menggunakan menu replace di word, dan author gabaca ulang, jadi……

Song Jina, maafkan cerita yang aneh ini.

Anyways, thanks for reading!

7 thoughts on “Hello (Song Ji Na – Kris)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s