SHINE (Lee Hyukjae – Jung Jaeni)

Image

 

Gyeonggi, April 1999

 

“Hyukjae oppa!”

Gadis itu memasuki dance studio sekolah mereka, membawa sebuah kue dengan 13 lilin menyala.

“Saengil chukhahamnida, saengil chukhahamnida! Saranghaneun Hyukjae oppa, saengil chukhahamnida!” Jung Jaeni bernyanyi riang.

Hyukjae tersenyum lebar, “Gomawo, Jaeni-ya. Aku bahkan belum menyiapkan apapun untukmu.”

Jaeni tertawa, “Gwaenchanha, oppa.”

“Sampai kapan kau akan menatap kue itu? Kau tidak akan meniup lilinnya?”

“Tiup bersama,” Jawab Hyukjae, “Ini hari ulang tahunmu juga.”

Mereka kemudian duduk bersandar pada cermin yang menutupi satu sisi ruangan tersebut, berbagi kue coklat yang dibawa Jaeni.

“Aigoo, uri Hyukjae oppa sudah sangat tua..” Jaeni bercanda.

“Ya! Hanya karena kau lebih muda setahun dariku tidak berarti aku ini tua!”

“Aku hanya bercanda, oppa.”

Keheningan yang melanda mereka tidaklah canggung, melainkan sangat nyaman.

“Jaeni-ya.”

“Ne?”

“I’m leaving.”

Seketika, air mata Jaeni jatuh. Ia tak mampu berkata-kata.

“Ya,” Hyukjae mengapus air mata Jaeni, “Uljimayo.”

“Mengapa?” Jaeni bertanya kepadanya, “Mengapa kau akan pergi?”

“Searching for happiness.” Hyukjae menjawab, “Aku dan Junsu akan ikut casting di SM Entertainment. Aku ingin menjadi seorang dancer.”

“Well, if that’s what you want.”

“Gomawo, Jaeni-ya. For understanding.”

 

***

Seoul, April 2012

 

“Eunhyuk-ah! Di sini!” Seorang namja tampan melambai kepada temannya yang baru saja memasuki Club Octagon, club paling bergengsi di Gangnam.

“Oh, hyung!” Eunhyuk menghampiri namja itu dan memeluknya erat, “Bagaimana kehidupan militer?”

“Hell. Aku tidak sabar untuk pulang dan kembali ke Super Junior.” Heechul menjawab, “Untungnya aku mendapat libur pas di hari ulang tahunmu.”

Heechul memberikannya segelas penuh alkohol dan mengisi gelasnya sendiri, “To Eunhyukkie’s birthday.”

Gelas mereka bersentuhan, dan mereka meminum isi gelas masing-masing.

Heechul mulai menceritakan kehidupannya di militer tetapi perhatian Eunhyuk tidak tertuju padanya.

Eunhyuk memerhatikan seorang yeoja yang duduk sendirian di ujung dengan sebotol alkohol di hadapannya dan sebuah gelas yang setengah penuh di tangannya.

“Ya, Eunhyuk-ah.” Panggil Heechul saat ia menyadari bahwa Eunhyuk tidak memerhatikannya.

Heechul mengikuti sudut pandang Eunhyuk dan menghela napasnya, “Rupanya seorang yeoja lagi.”

Heechul menepuk pundak Eunhyuk untuk mendapatkan perhatiannya, “Apa yang terjadi dengan Seokyung? Kau sudah melirik yeoja lain lagi?”

“Seokyung?” Eunhyuk tertawa, “Hyung, dia yeojachingu-ku sebulan yang lalu. Tentu sudah kutinggalkan.”

“Kau ini suka sekali bermain-main.”

“Apa yang bisa kuperbuat? Hidupku akan membosankan tanpa seorang yeoja.”

“Tapi kau terlalu sering ganti yeoja.”

“Terserah kau saja, hyung.”

Eunhyuk memanggil seorang waiter dan menuliskan nomor handphonenya beserta sebuah tiket konser Super Show dan notes kecil dan menyerahkannya kepada waiter itu, “Berikan ini kepada yeoja yang duduk di ujung.”

Eunhyuk menunjuk posisi sang yeoja dan waiter itu segera menyampaikan pesannya.

Sang yeoja menerima pesan itu dan tertawa, ternyata masih ada saja orang seperti ini.

Terlebih orang ini adalah Eunhyuk.

THE Eunhyuk of Super Junior.

Lee Hyukjae.

Teman baiknya dulu.

Pesan itu bertuliskan, ‘Kau akan datang, kan?’, disertai dengan sebuah tiket Super Show dan nomor handphone Eunhyuk.

Ia menoleh ke arah Eunhyuk dan melihat bahwa ia telah bangkit berdiri dan berjalan ke arahnya, meninggalkan Heechul dengan alkoholnya.

“Annyeong, Hyukjae oppa.” Jaeni tersenyum kecil, “Kau ingat aku?”

Eunhyuk mempelajari wajahnya lagi dan seketika matanya terbelalak, “Jung.. Jaeni?”

Ia tidak mengharapkan bahwa ia akan bertemu dengan Jung Jaeni di sini.

Setelah keheningan yang cukup canggung, Jaeni akhirnya berkata,

“Sebelum kau pergi, kau bilang kau ingin mencari kebahagiaanmu.”

Ia ingat.

“Well, I’m sure you’ve found it.”

“Sort of. Aku rasa belum.” Eunhyuk menjawab.

“Tapi kau sudah meraih impianmu, menjadi seorang dancer, apa yang kurang?”

“Aku tidak tahu.”

“Aku tidak mengerti pikiranmu, Lee Hyuk Jae.”

Eunhyuk tersenyum kecil dan memandang Jaeni.

“By the way, saengil chukhahae, Hyukjae oppa.”

“Saengil chukhahae, Jaeni-ya.”

Mereka berdua tersenyum kepada yang lain. Senyuman Jaeni membuat jantung Eunhyuk berdegup dengan sangat kencang, entah apa yang ia rasakan sekarang.

“Kau tetap akan datang kan?” Eunhyuk tiba-tiba bertanya sambil menunjuk ke arah tiket Super Show yang baru saja ia berikan.

“Tentu saja.”

***

Jung Jaeni merapikan kembali pakaiannya dan mengecek semua barang bawaanya.

Ia turun dari kamarnya di lantai dua, mengecek dirinya sekali lagi di cermin, dan berlari keluar rumah.

Jaeni segera memanggil taksi dan berangkat ke venue SS5.

“Ajusshi, bisa lebih cepat sedikit? Aku rasa aku akan telat.”

Para fans Super Junior, lebih dikenal dengan sebutan ELF, memenuhi antrian masuk ke venue konser. Sejenak, Jaeni terdiam dan mengagumi popularitas sahabatnya itu.

Ia menghampiri seorang petugas yang berjaga di dekat antrian dan bertanya dari pintu mana ia harus masuk.

“Jung Jaeni-ssi?” Petugas itu menanggapi.

“N-ne?” Jawab Jaeni bingung. Dari mana petugas itu tahu namanya.

Petugas itu tersenyum, “Eunhyuk-ssi sudah menunggumu di backstage, mari saya antar.”

Jaeni mengikuti petugas itu ke backstage dan sekali lagi, ia mengagumi betapa populernya boyband Super Junior itu. Hingga dapat menggelar konser sebesar ini, ditambah lagi tiketnya yang sold out hanya dalam beberapa menit saja.

Jaeni dibawa ke sebuah pintu yang ia rasa menuju ke ruang makeup. Petugas itu mengetuk pintu dan dibukakan oleh salah seorang stylist Super Junior.

“Jaeni-ya, wasseo?” Terdengar suara Eunhyuk dari dalam ruangan.

Jaeni dipersilahkan masuk ke dalam ruangan itu dan Eunhyuk memperkenalkannya pada member-member lain Super Junior. Dari leader Leeteuk, hingga maknae Kyuhyun.

Sesaat sebelum konser dimulai, Jaeni diantar menuju box VIP, tempat paling strategis untuk menonton konser.

Jaeni menikmati konser itu, sama seperti ribuan ELF lain yang menghadiri konser itu.

Sesudah konser itu selesai, Jaeni kembali ke backstage dan berlari langsung ke pelukan Eunhyuk.

“Jinjja daebakida~!” Jaeni menjerit.

“Gomawo. Senang kau menyukainya.”

Jantung Eunhyuk berdegup dengan sangat kencang. Eunhyuk harus mengakui, ia tidak pernah merasakan hal seperti ini dengan semua yeoja yang pernah bersamanya.

Tidak dapat dipungkiri lagi, Lee Hyukjae menyukai Jung Jaeni.

Dengan canggung, ia melepaskan pelukannya dengan Jaeni.

“Jaeni-ssi, jika kau mau, ikutlah ke after party kami.” Leeteuk menawarkan.

“Ah, ne. Terima kasih atas tawarannya, tetapi aku harus pulang.” Jaeni membalas sopan.

“Sayang sekali..” Leeteuk tersenyum, “Tapi kau harus datang lain kali.”

Jaeni mengangguk dan tersenyum balik, “Pasti.”

“Kuantar kau pulang.” Eunhyuk menawarkan.

“Tidak perlu repot, aku bisa pulang dengan taksi.” Jaeni kembali menolak dengan sopan.

“Terserah kau mau bilang apa, aku tetap mengantarmu pulang.”

Eunhyuk menarik tangan Jaeni dan terus menggenggam tangannya hingga mereka sampai di mobil hitam milik Eunhyuk.

Ia membukakan pintu untuk Jaeni dan duduk di kursi pengemudi.

Rumah Jaeni cukup jauh dari venue konser dan Eunhyuk dapat melihat bahwa Jaeni sudah sangat lelah.

“Tidurlah.” Ia memerintahkan.

“Aku tidak lelah.”

“Gojitmal.”

Jaeni merasakan matanya mulai perlahan-lahan menutup.

“Tidurlah, Jaeni.” Eunhyuk memerintahkannya lagi.

Jaeni akhirnya menyerah dan jatuh tertidur.

Eunhyuk memandang wajahnya yang cantik. Tidak heran ia jatuh hati dengan yeoja itu.

Ia membawa mereka ke alamat yang diberikan oleh Jaeni.

Sesampainya di depan rumah putih bertingkat dua itu, Eunhyuk menepuk pundak Jaeni pelan, membangunkannya.

“Jaeni-ya, kita sudah sampai.”

Eunhyuk turun dan dengan sigap membukakan pintu untuk Jaeni.

“Gomawo oppa, telah mengantarku pulang.”

“Cheonmaneyo.”

Jaeni hendak masuk ke rumahnya ketika Eunhyuk memanggilnya kembali.

“Jaeni-ya.”

Jaeni berbalik badan dan menghadapnya, “Wae geuraeyo?”

Eunhyuk menarik napas dan mengumpulkan keberaniannya,

“Choahae.”

Jaeni terdiam sesaat, kemudian tertawa terbahak-bahak, “Oppa, candaanmu mulai berlebihan.”

Seketika, tangan kuat Eunhyuk memutar badan Jaeni, menyandarkannya pada tembok. Masing-masing tangan Eunhyuk berada di kedua sisi Jaeni.

“Mengapa kau tidak bisa mengerti?”

Eunhyuk mengambil tangan Jaeni dan menaruhnya tepat di atas jantungnya yang tengah berdegup kencang.

“In my heart, you are there.”

Jaeni tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya, “O-oppa..”

Eunhyuk mendekati Jaeni dan mencium bibirnya pelan, “Saranghae, Jung Jaeni.”

“Nado saranghae, oppa.”

Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Jaeni, perasaan yang ia simpan sejak dulu akhirnya dapat ia sampaikan.

Eunhyuk tersenyum memandang Jaeni, “I think I’ve found my happiness.”

END.

A/N: Found the last scene slightly familiar? Yep, scene terakhir dari cerita gue kali ini diambil dari Banjun Drama DBSK yang Dangerous Love atas tuntutan dari Janice. Fanfic ini baru selesai jem 01.30 AM soalnya gue dari pagi sampai malem gak pulang-pulang ke rumah. Alhasil, gue harus ngepost ficnya subuh-subuh gini. Mianhae!! Dan fic ini agak ga jelas. Again, mianhae..

– Kim Jaerin

2 thoughts on “SHINE (Lee Hyukjae – Jung Jaeni)

  1. Mulai dari scene menaruh tangan ke jantung gue udah mulai curiga
    Lalu tiba2
    “IN MY HEART, YOU ARE THERE”
    AAAAAAAAA JINJJA DAEBAKIDA!!!!! :33

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s