한번만 (Kim Jaerin – Kim Jaejoong)

“Untuk tugas minggu depan, pilihlah seorang sahabat sebagai partner proyek kalian. Buatlah sebuah komik tentang bagaimana kalian pertama kali bertemu.”

Kim Jaejoong dan Kim Jaerin saling melirik satu sama lain, masing-masing dengan tatapan kita-pasti-bersama-kan di mata mereka.

“Itu saja untuk hari ini. Jangan lupa tugas kalian. Selamat siang.”

“Selamat siang, Han seonsaengnim!”

Setelah guru seni rupa itu keluar dari kelas XII Bahasa, Jaerin langsung berdiri dari kursinya, lalu berlari-lari kecil ke tempat duduk Jaejoong.

“Kita tidak jago gambar, mana mungkin kita bisa membuat sebuah komik?” kata Jaerin sambil mengambil sebuah kursi kosong dan duduk diseberang Jaejoong.

Jaejoong sontak tertawa. “Aku tahu. Kau tidak perlu mengingatkanku lagi. Tapi setidaknya gambarku masih lebih bagus daripada dia,” Jaejoong mengacungkan jari telunjuknya pada Jung Yunho, namja terpopuler di angkatan mereka.

Kini giliran Jaerin yang tertawa terbahak-bahak. “Ingat yang waktu itu ia menggambar – “

“Badak!” mereka berteriak bersamaan. Keduanya lalu tenggelam dalam suara gelak tawa masing-masing.

“Sepertinya aku lupa bagaimana kita pertama kali bertemu, Kim Jaejoong,” kata Jaerin dengan mimik muka mengejek sinis.

“Hmm,” Jaejoong menopang wajahnya dengan tangan kirinya, sikutnya menyentuh meja. Ia memasang ekspresi seakan-akan ia sedang berpikir keras. “Bagaimana, ya, memangnya?”

“Pabo,” Jaerin tertawa, lalu menjitak kepala Jaejoong penuh canda. “Mana mungkin aku lupa?”

***

Please love me just once

Can I crazily call out your name just once?

Because of my heart, I want to go closer to your side

In order to tell you, I want to go closer to your side

 

Kim Jaejoong. Charming, tampan, dan sangat berbakat dalam bidang musik. Tidak sepopuler Jung Yunho, sih, namun semua orang suka padanya. Dari luar, mungkin ia terkesan dingin, tetapi begitu kau benar-benar mengenalnya, ia sebenarnya orang yang sangat hangat.

Terkadang, Jaerin hampir tidak percaya bisa berteman dengan Jaejoong. Mereka sangat berbeda dalam berbagai hal. Namun entah mengapa, mereka berdua sangat lengket sekarang. Seperti mentega dan roti.

 

flashback

“Anak-anak, hari ini kita akan kedatangan murid baru. Ia adalah blasteran Indonesia – Korea. Ia baru pindah ke Korea beberapa bulan yang lalu, jadi saya harap partisipasi kalian untuk membantunya beradaptasi dengan lingkungan sekolah kita yang baru baginya.”

Indonesia? Negara apa itu? pikir Kim Jaejoong sambil menguap, punggungnya tersender pada tembok. Posisi yang sangat bagus untuk tidur di kelas.

Murid blasteran yang dimaksud, berambut lurus dan berkacamata masuk ke dalam kelas sambil memeluk beberapa buku tebal, pandangannya tertuju ke lantai yang berada di bawahnya.

“Annyeong, nama asliku Celine Wirasusanto, tapi kalian dapat memanggilku Kim Jaerin. Bahasa koreaku sangat payah, jadi aku mohon pengertiannya. Please take care of me,” gadis itu memperkenalkan diri, lalu membungkuk.

“Sepertinya kursi di sebelah Kim Jaejoong kosong, bagaimana kalau kau duduk di sana saja?” sang wali kelas, Lee seonsaengnim, mengusulkan.

Jaerin hanya mengangguk, membungkuk sekali lagi, lalu berjalan ke kursi yang dimaksud Lee seonsaengnim.

“Hai,” Jaerin mencoba memulai percakapan.

“Hmmmm,” balas Jaejoong, yang lalu tidur pulas beberapa menit kemudian.

flashback end

 

“Bahkan pertemuan pertama kita sangat awkward,” Jaejoong tertawa.

“Itu kan karena kamu sangat jutek waktu itu. Bukannya menyapaku dan mengajakku ngobrol, kau malah tertidur pulas sepanjang pelajaran. Aku sampai kebingungan ingin membangunkanmu atau tidak,” kata Jaerin kesal, tetapi sebuah senyum tersungging di bibirnya.

“Aku juga tidak menyangka akhirannya akan menjadi seperti ini. Kim Jaerin, berteman dengan Kim Jaejoong? Siapa yang menyangka? Tsk tsk,” Jaejoong menggelengkan kepalanya.

“Sudahlah! Aku akan ke rumahmu besok jam sepuluh pagi. Aku harap kau sudah bangun.”

***

 

Can I love you? I have something I want to say

But my lips are heavy and my heart has words

That it couldn’t say even once

 

“JAEJOONG! Kim Jaejoong! Ya Kim Jaejoong! YAAAA! BANGUN!” Jaerin mengguncang-guncangkan tubuh temannya yang masih berada di alam bawah sadar itu.

“Aku bangun, aku bangun,” Jaejoong mengerang dengan suara serak seraya mengucek-ngucek matanya.

“Aish, padahal aku sudah bilang untuk bangun lebih pagi,” Jaerin merutuk kesal.

“Sungguh, aku sudah memasang alarm! Tapi tetap saja aku tidak berbangun…”

“Terserah apa katamu,” Jaerin membalas acuh tak acuh.

“Maaf,” kata Jaejoong sambil mengacak-acak rambut Jaerin. “Never gonna happen again.”

Jaerin tersenyum. Lalu seketika matanya berbinar, dan seperti baru teringat akan sesuatu, ia menjentikkan jarinya.

“Oh ya! Aku bertemu Changmin di bawah tadi. Ia sedang bermain gitar! Demi apapun, dia keren sekali!” pekik Jaerin sambil mengipasi dirinya sendiri. Pandangannya menerawang jauh, seakan-akan ia sedang membayangkan sesuatu.

Mendengar kata-kata Jaerin, Jaejoong serasa ditampar. Ditampar oleh kenyataan.

Shit, she’s really in love.

Ya, selama hampir dua tahun sejak pertama kali mereka bertemu, Jaerin telah menyukai Changmin. Perawakan Changmin yang dewasa serta charismanya pasti telah membuat sahabatnya ini jatuh hati pada kakaknya. Kata Jaerin, cintanya pada Changmin adalah cinta pada pandangan pertama.

Namun sahabatnya yang bodoh itu tidak pernah menyatakan perasaannya pada kakaknya. Ia tahu betul sifat Jaerin – ia pemalu, karena itu ia tidak akan berani untuk menyatakan perasaannya kepada seseorang. Apalagi jika seseorang itu adalah kakak dari sahabatnya sendiri.

Kenapa harus Changmin, Rin-ah?

“Jeje?” Jaerin melambaikan tangannya di depan muka Jaejoong.

“Hmmmm.”

“Kau tidak mendengarkanku dari tadi.”

“Rin, Changmin itu kakakku. Bagaimana aku tidak bosan mendengar sahabatku mengoceh tentang kakakku?”

Pipi Jaerin bersemu merah, malu. “Sudah dua tahun,” katanya. “Sudah dua tahun aku menyimpan perasaan ini.”

Aku juga, batin Jaejoong.

“Kau harus menyatakan perasaanmu padanya,” kata Jaejoong tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka berdua.

“Hah?!” Jaerin berseru kaget. “Kapan?”

“Besok malam. Biar aku yang atur semuanya.”

***

 

Do you know about my clumsy love?

As I see you turn away, I can’t say anything

So I will just place all my love inside my heart

 

“Berputarlah.”

Jaerin berputar dengan kikuk dalam balutan sebuah dress berwarna tosca. Setelah selesai berputar, ia membentak sahabatnya yang sedang duduk di seberangnya, menilai penampilannya.

“Maldo andwae! Aku tidak ingin memakai dress ini!”

“Auw, tapi kau terlihat sangat cantik~”

“Ya Kim Jaejoong!”

“Kami ambil yang ini ya,” kata Jaejoong kepada pelayan toko baju itu sambil menunjuk dress yang sedang dipakai Jaerin.

“Untuk apa kau lakukan semua ini?”

“Kau harus terlihat sangat cantik di depan Changmin. Sehingga ia akan terpana, terpukau dengan kecantikanmu – “

“Eww Jae, kau jijik sekali hari ini,” kata Jaerin sambil tertawa.

“Aku hanya jadi begini di depanmu, kok, jadi tenang saja,” kata Jaejoong sambil mengedipkan sebelah mata.

“Gomawo, Jae.”

“Untuk apa? Untuk ini? Naaaahh tidak usah dipikirkan…”

“Untuk segalanya,” kata Jaerin sambil tersenyum, menatap dalam mata coklat Jaejoong.

Jaejoong merasa dirinya berhenti bernapas.

***

 

I tell you that it’s alright, that I’m here right now, my dear

Even though I get bruised by embracing you in my heart

Even though it hurts, I only want you

 

Jaejoong telah menyuruh Jaerin dan Changmin masing-masing untuk pergi ke sebuah cafe di kawasan Gangnam. Ia sudah membuat semua reservasinya, dan memastikan semuanya berjalan dengan lancar.

“Kenapa kau tidak ikut pergi?” Jaerin telah bertanya padanya.

“Eung,” Jaejoong menggelengkan kepala.

Tidak mungkin ia bisa tahan melihat gadis yang dicintainya berduaan dengan kakaknya. Apalagi malam ini gadis yang dicintainya itu akan menyatakan perasaannya kepada kakaknya.

Semalaman, Jaejoong tidak bisa tidur. Skenario-skenario tentang apa yang mungkin terjadi di cafe itu terus-menerus berputar di dalam otaknya. Cemas, khawatir, gelisah, semuanya bercampur menjadi satu.

Bagaimana jika Changmin menerima Jaerin?

Jaerin akan bahagia. Tetapi Jaejoong tidak.

Bagaimana jika Changmin tidak menerima Jaerin?

Jaejoong akan bahagia. Tetapi Jaerin akan terluka.

“JEJEEEEEEEEEEEEEEEE!”

Sebuah suara membuyarkan lamunan Jaejoong. Hanya ada satu orang yang memanggilnya Jeje. Di dunia ini, hanya ada satu orang.

Kim Jaerin.

Gadis itu berlari terhuyung-huyung ke arah Jaejoong. Ketika sampai di depan Jaejoong, ia hampir rubuh dan dengan cekatan Jaejoong meraih pinggang Jaerin untuk menopang tubuhnya. Jaerin yang sepertinya setengah sadar tiba-tiba memeluk Jaejoong dan berbisik di telinganya.

“Jae… jangan pernah tinggalkan aku…”

Jaejoong tidak memerlukan penjelasan apapun. Ia sudah bisa menebak apa yang terjadi.

“Kau tahu kan aku tidak akan pernah melakukan itu.”

***

 

You’re getting farther away when I still have words I couldn’t say, my dear

Like a fool, I swallowed those words into my heart

Even though it hurts, I only want you

 

Neon naemaldaerohaesikineun daero hae geobwa jal matjanha’

Ponsel Jaejoong berdering, menandakan sebuah panggilan telepon sedang menantinya.

Pukul berapa ini? pikir Jaejoong sambil mengucek mata, tangan kanannya berusaha meraih ponselnya. Jam 3 pagi?

“Yeoboseyo?”

“Jaejoong-ah.” Sebuah suara yang familier terdengar di telinga Jaejoong.

“Rin-ah?”

“Dengar. Aku tidak punya banyak waktu. Aku akan terbang ke Indonesia pagi ini.”

“Terbang? Indonesia?” Jaejoong yang baru terbangun mengalami kesulitan untuk mencerna apa yang baru saja Jaerin katakan.

“Ibuku sakit. Kanker serviks. Stadium 2,” katanya cepat.

“Aku tidak pernah tahu – “

“Aku juga tidak pernah tahu,” terdengar suara helaan napas Jaerin di seberang sana.

“Kapan kau akan kembali?”

“Aku tidak yakin. Mungkin aku tidak akan pernah kembali.”

“Rin-ah, itu tidak mungkin, kan?”

“Ibuku membutuhkanku. Setelah ayahku meninggal, hanya aku keluarga yang ia punya.”

“Jam berapa penerbanganmu? Aku akan menyusulmu ke sana.”

“Aku… sudah di pesawat, Jae,” kata Jaerin, suaranya mulai serak karena tangis yang ditahannya. “Lima menit lagi pesawatku akan take off. Sia-sia jika kau berusaha menyusulku ke sini.”

“Jaerin-ah – “

“Jebal, Jae!” tangis Jaerin pun pecah. “Jangan kejar aku. Dan jangan tunggu aku pula.”

Seorang pramugari menepuk pundak Jaerin pelan, mengatakan padanya bahwa ia harus segera mematikan ponselnya karena pesawat akan segera lepas landas.

“Annyeong, Jeje,” kata Jaerin pelan, sadar bahwa ia sedang mengucapkan selamat tinggal. “I will miss you.”

“JAERIN, TUNGGU – “

Jaerin memutuskan sambungan telponnya dengan Jaejoong, mengakhiri pembicaraan terakhir mereka. Ia pun tenggelam dalam isak tangisnya sendiri.

Indonesia.

Aku pulang.

***

 

5 tahun kemudian

“Apakah anda serius, Dok?”

“Ya. Kanker yang ada di dalam tubuh ibumu sudah hilang seluruhnya,” kata dokter itu memastikan Jaerin yang sedang tercengang di hadapannya. “Ibumu adalah salah satu cancer survivor paling hebat yang pernah saya kenal. Anda beruntung mempunyai ibu seperti dia.”

“Terima kasih, Dok…” Jaerin berterimakasih, dan spontan memeluk si dokter. Pandangannya sudah mengabur karena matanya basah oleh air mata.

Dokter itu tersenyum tulus. “Ibumu sedang menunggumu di ruang pasien.”

 

“Celine?”

“Ya, Ma?”

“Kejarlah kembali pria itu. Pria yang kamu cintai.”

“Siapa? Changmin?”

“Bukan. Yang selalu kau ceritakan pada Mama. Yang namanya tidak pernah absen di buku harianmu. Yang kamu bilang adalah sahabat terbaikmu.”

Nama itu menyambar otak Jaerin bagai petir. “M-maksud Mama… J-jaejoong?”

“Nah, iya, Jaejoong,” kata ibunya sambil tersenyum.

“Tapi aku tidak menyukainya. Kami hanya sahabat, Ma.”

“Apakah kamu tidak pernah tahu, bahwa yang sebenarnya kau cintai selama ini adalah Jaejoong, bukan Changmin?” kata ibunya sambil mengusap pipi Jaerin pelan.

“Mama tahu sejak awal bahwa kamu menyukai Jaejoong. Dari cara kamu menyebut namanya, dari bagaimana matamu akan bersinar-sinar setiap kali bercerita tentang dia, dari bagaimana kau selalu membanggakannya, Mama tahu apa yang selama ini kau rasakan terhadap dia.”

Jaerin menelan ludah. “Apa yang selama ini aku rasakan?”

“Cinta.”

 

Setelah apa yang ibunya katakan barusan, pikirannya menjadi ruwet. Ia memutuskan untuk keluar dari rumah sakit dan pergi ke toko kaset untuk mencari udara segar.

Namun yang namanya takdir, ia bertemu lagi dengan Jaejoong. Dalam bentuk sebuah poster bersama empat pria lain. Mereka menyebut diri mereka… apa itu? TVXQ?

“Gila juga si Jeje. Bisa jadi penyanyi seperti ini. Kesambet apa dia?”

“Iya nih. Kesambet apa si Jeje?”

Suara itu. Jaerin kenal betul suara lembut itu. Ia membalikkan badannya, dan menemukan sesosok pria dalam setelan jas hitam lengkap dengan kacamata hitam yang membingkai wajahnya sempurna.

Mulutnya menganga lebar. Kini ia benar-benar bertemu lagi dengan Jaejoong. Dalam dunia nyata…

“Rin-ah?” Jaejoong melambaikan tangannya di depan muka Jaerin, memanggil ‘sahabatnya’ dengan panggilan sayang khasnya.

“Ya ampun, Jeje, apakah itu benar kau…”

Jaejoong terbahak, lalu menjitak kepala Jaerin pelan. “Pabo. Ini aku. Kim Jaejoong. Jeje. Jae. Apapun panggilan anehmu untukku,” katanya.

“Kau berubah banyaaaaaakkk sekali,” Jaerin tertawa.

“Ada satu hal yang tidak berubah dariku,” kata Jaejoong serius.

Napas Jaerin tercekat.

“Perasaanku. Waktu lima tahun tidak akan bisa mengubah perasaanku untukmu, Rin-ah.”

Jaejoong mengambil selangkah mendekat Jaerin, lalu menarik tubuh gadis itu mendekat ke tubuhnya. Mendekapnya dalam kesunyian yang melukiskan rindu mereka berdua.

Jaejoong menaruh dagunya di atas kepala Jaerin, lalu berbisik pelan,

Saranghamnida, geuriunsaram.”

5 thoughts on “한번만 (Kim Jaerin – Kim Jaejoong)

  1. leadernim kya kya kya sedih karena ini ga galau tapi gue masih senyum” kayak orang gila haha daebaaak~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s