Rise And Shine (Cho Kyuhyun-Cho Jiyoung)

Seoul, 2013

Cho Jiyoung menatap tumpukan novel historical-romance di depannya dengan mata berbinar-binar. Matanya membelalak lebar seakan-akan dia dapat menelan semua buku itu bulat-bulat.

“Jihyun-a, belikan aku itu semua! Kau berjanji akan membelikan semua novel ini sebagai hadiah ulang tahunku, kan?”

Jihyun melirik Jiyoung dengan tatapan tidak berminat dan mendengus. “Aku lebih baik membelikanmu tiket fanmeeting Super Junior M saja dari pada membelikanmu buku-buku mesum ini.”

“Aah, ayolah Jihyun-a. Jebal.” Jiyoung menatap Jihyun dengan tatapan memelas yang membuat Jihyun merinding.

Jihyun menghela napas dan akhirnya meraih dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dan menyerahkannya pada Jiyoung. “Beli 3 saja, eo? Aku masih harus menyimpan uangku untuk membeli tiket fanmeeting.”

Jiyoung mengambil uang dari tangan Jihyun dan langsung mengambil 3 buku terdekat dan membawanya ke kasir, lalu membayarnya. Jiyoung tersenyum puas saat membawa kantong plastik berisi novel yang sudah selama satu bulan ini diincarnya.

Gomawo Jihyun-a. Kau orang paling baik di dunia. Saranghae!”

Jihyun berdehem dan menatap Jiyoung. “Sebagai gantinya kau harus menemaniku datang ke suatu tempat minggu depan.”

Jiyoung mengangkat alisnya. “Eodiga?”

Jihyun tersenyum dan menjawab dengan mantap. “Tentu saja ke fanmeeting Super Junior M yang selama ini kubicarakan.”

“Tapi…aku tidak mau mengeluarkan uangku dengan percuma hanya untuk melihat delapan laki-laki, ani semi laki-laki yang bahkan lebih cantik dariku.”

“Tenang saja. Itulah alasan mengapa aku hanya membelikanmu 3 novel. Aku akan membelikanmu tiket fanmeeting itu.”

***

“Jiyoung-a, ppali!” Jihyun menarik tangan Jiyoung dengan tidak sabar. Gedung tempat faneeting itu sudah penuh sesak oleh ratusan, bahkan ribuan ELF.

“Ya, Park Jihyun, kau tidak usah menarikku seperti ini. Aku masih bisa berjalan dengan baik tanpa bantuanmu.” Jiyoung mendesah kesal menerima perlakuan Jihyun padanya.

“Tidak ada waktu untuk protes. Ayo masuk sekarang.”

Jihyun menyerahkan dua lembar tiket fanmeeting kepada staff yang ada di dekat mereka dan langsung berlari memasuki hall tempat fanmeeting berlangsung.

“Kau seperti orang kesetanan Park Jihyun.” Jiyoung mendesis kesal pada Jihyun.

“Kita harus mendapat tempat terdepan agar aku bisa melihat Siwon oppa dengan jelas.”

“Bahkan seluruh dinding kamarmu sudah dipenuhi oleh foto Choi Siwon.” Jiyoung menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Sudahlah, lebih baik kau menyiapkan hatimu karena sebentar lagi kau akan melihat delapan orang paling tampan di Korea Selatan.”

Lampu dimatikan dan Jihyun berteriak histeris. Intro ‘Break Down’ terdengar dan munculah ‘delapan orang paling tampan di Korea Selatan’ bernyanyi dengan semangat di atas panggung.

Jiyoung meneliti satu per satu wajah anggota Super Junior dan komentarnya hanya satu, mereka sangat girly. Jiyoung hampir mengeluarkan novelnya dan akan mulai membuka halaman pertama saat matanya menangkap sesosok namja, bersuara paling indah di antara yang lain. Dan Jiyoung yakin dirinya sudah gila saat mengakui bahwa namja itu memang tampan. Eumm.. siapa namanya? Aku yakin pernah mengingatnya. Wajahnya ada di salah satu poster di kamar Jihyun.

Lagu pertama selesai dan Jiyoung yakin ia melihat Jihyun hampir meneteskan air matanya saat melihat member Super Junior M yang sedang memperkenalkan diri masing-masing.

“Jihyun-a, igo.. namja yang berdiri di sebelah Siwon. Ireumi mwoya?”

Nugu? Sebelah kanan atau kiri?”

“Kiri.”

“Aahh.. Kyuhyun maksudmu?”

Annyeonghaseo Cho Kyuhyun imnida.”

Penjelasan dari Jihyun bersamaan dengan perkenalan diri dari Kyuhyun. Ahh jadi namanya Kyuhyun.

Wae geure? Dia tampan kan?”

Aniyeo. Tidak ada yang tampan.” Jiyoung menggeleng. Tentu saja berbohong. Apa yang akan dikatakan Jihyun kalau sampai Jiyoung mengakui seorang Cho Kyuhyun tampan.

Harus diakui, Jiyoung tidak menyesal dan berterima kasih pada Jihyun yang sudah menyeretnya ke fanmeeting ini. Setidaknya sekarang menurutnya masih ada satu namja yang tampan.

Suara teriakan Jihyun menyadarkan Jiyoung dari lamunannya tentang Kyuhyun.

Ya mwo ya? Aku hampir tuli mendengarmu berteriak-tertiak seperti orang gila dari tadi.”

Ya Cho Jiyoung apa kau tadi tidak mendengar apa yang mereka katakan?”

Jiyoung mengerutkan keningnya dan menggeleng.

Mwo?”

“AYO KITA KE DEPAN SEKARANG! ADA SESI TANDA TANGAN!” Jihyun berteriak tepat di depan wajah Jiyoung.

Kesadaran Jiyoung belum terkumpul sepenuhnya dan tangannya sudah ditarik paksa oleh Jihyun.

“Cepat pegang ini.” Jihyun menyerahkan satu album Super Junior M.

Ya Park Jihyun kau punya berapa banyak album sih?”

“Jangan banyak bicara dan mengantri saja.” Jihyun mendesis tajam pada Jiyoung.

Jiyoung mengumpat kecil dan tetap berdiri di belakang Jihyun yang Jiyoung yakin sudah hampir pingsan karena akan berhadapan langsung dengan Choi Siwon.

Jihyun sampai di depan Siwon dan wajahnya berubah pucat.

“Maaf oppa.. aku boleh minta tanda tanganmu?”

Siwon tersenyum ramah pada Jihyun dan meraih album yang dipegang Jihyun lalu menanda-tanganinya. “Siapa namamu?”

“Aahh.. Jihyun. Park Jihyun.”

Siwon menuliskan “To: Park Jihyun” dan langsung menyerahkan album yang sudah di tanda tangani olehnya kepada Jihyun.

Sekali lagi. Jiyoung yakin Jihyun hampir menangis.

Jiyoung menoleh dan hampir mati saat menyadari di depannya sudah duduk seorang Cho Kyuhyun dengan wajah dinginnya.

Tenggorokan Jiyoung tercekat. Tidak tahu akan berbicara atau meminta apa pada Kyuhyun.

Seakan tersadar ia akan menghambat antrian, Jiyoung langsung menyerahkan albumnya pada Kyuhyun.

Kyuhyun menanda-tangani album itu dengan wajah tidak niat dan Kyuhyun akhirnya dengan enggan membuka mulutnya. “Siapa namamu?”

“Cho Jiyoung.”

Kyuhyun menuliskan nama Jiyoung dengan cepat dan menuliskan angka-angka yang tidak dapat dimengerti Jiyoung sebelum ia melihat sendiri dengan jarak dekat album itu.

Kyuhyun menyerahkan album itu kepada Jiyoung sambil tersenyum. Kyuhyun tersenyum padanya. Jiyoung yakin kakinya lemas saat melihat Kyuhyun tersenyum. Senyumnya sangat indah…Aish sadar Cho Jiyoung, bahkan kau baru melihat Kyuhyun hari ini.

Jiyoung menyeret kakinya menjauhi area tempat orang-orang mengantri dan berjalan menghampiri Jihyun yang sedang berdiri sambil memandangi albumnya dengan tatapan tidak percaya.

“Jiyoung-a, apakah aku bermimpi?”

Jiyoung menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak mengerti dengan jalan pikiran Jihyun.

“Astaga aku baru saja bertatapan dengan Siwon oppa!”

Jiyoung mendengus melihat tingkah Jihyun yang benar-benar ‘gila’ menurutnya.

Jiyoung menatap album di tangannya dan melihat tanda tangan Kyuhyun tertera beserta tulisan “To: Cho Jiyoung”. Jiyoung hampir memasukkan album itu ke dalam tasnya saat melihat sederet angka yang hampir dilupakannya.

“+8288-032-273

Hubungi aku besok.

***

I was busy being chased and

running away with short breaths

I didn’t know how to calm my heart

that was pressing me on and about to burst

Why am I so young?

And why is the sky so high?

I jump tens and hundreds of times

but I’m still standing in the same place

 

If only I could fly as much
as I wanted (if only I could feel it)


I would fill up my heart
 with that sky and give it to you

Seoul, 2018

Jiyoung melirik jam tangannya sementara mulutnya mulai mengeluarkan umpatan-umpatan kecil menandakan kesabarannya sudah hampir habis. Kyuhyun benar-benar keterlaluan. Seharusnya namja itu sudah datang dari tiga puluh menit yang lalu tapi sampai sekarang Kyuhyun benar-benar belum menampakkan batang hidungnya.

Jiyoung hampir meraih handphone-nya saat tiba-tiba sepasang telapak tangan menutup matanya dari belakang.

Guess who?”

“Cho Kyuhyun berhentilah bermain-main.”

Kyuhyun tertawa kecil dan duduk di samping Jiyoung.

“Hari ini kau tidak ada jadwal?”

Kyuhyun mengedikkan bahunya. “Molla. Sepertinya ada. Tapi, apa peduliku memangnya?”

“Aku heran mengapa ribuan yeoja bisa jatuh cinta padamu. Mereka hanya melihatmu di layar televisi dan tidak pernah menghadapi seorang Cho Kyuhyun di kehidupan nyata.”

“Berarti kau termasuk di dalam ribuan yeoja yang jatuh cinta padaku kan?” Kyuhyun memamerkan evil smirk-nya.

“Aku itu pengecualian. Sudah bagus aku mau menjadi “Aku itu pengecualian. Sudah bagus aku mau menjadi yeoja chingu-mu.”

Ya Jiyoung-a, kau boleh saja berbicara seperti itu, tapi sebenarnya kau sangat mencintaiku kan?”

“Jangan terlalu percaya diri Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun mendengus dan menatap Jiyoung.

“Ayo pergi.”

Eodiga?”

“Suatu tempat yang akan membuatmu tidak pernah menyesal telah mengenal seorang Cho Kyuhyun.”

You have on the biggest wings
in the world and you’re so beautiful


Now you can jump over
everything, higher yea yea


The sky is spread out
for beautiful you – touch the sky


As much as you believed, as much as you dreamed,
tomorrow will definitely rise and shine

The more nervous you get,
the slower your footsteps will be


You won’t have the confidence
to stop so you will tiredly go


But tune your ears to your heart – it
may be small but you will definitely hear it


 

On top of the mount of dreams,
your courage has been growing

I hope you will be able to rise up
several times (hope you will withstand)


I will gather up all the support
in my heart and give it to you

You have on the biggest wings
in the world and you’re so beautiful


Now you can jump over
everything, higher yea yea


The sky is spread out
for beautiful you – touch the sky


As much as you believed, as much as you dreamed,
tomorrow will definitely rise and shine

***

Ya! Apa-apaan ini? Kenapa kau membawaku ke tempat seperti ini?”

Kyuhyun hanya menatap Jiyoung sambil tersenyum mengejek. “Jangan banyak bicara dan cepat pilih satu gaun yang kau suka.”

“Tapi Kyuhyun-a, ini semua.. gaun pengantin!”

Kyuhyun mengangkat alisnya. “So?”

“Memangnya siapa yang akan menikah?”

Kyuhyun tersenyum. “Kau akan mengetahuinya nanti. Sekarang pilih satu gaun atau aku yang akan memilihnya.”

Jiyoung menghembuskan napasnya kesal. Firasatnya mengatakan Kyuhyun akan mengerjainya lagi.

Jiyoung mengambil satu gaun dan menyerahkannya pada Kyuhyun. “Aku paling suka yang ini.”

“Bagus.” Kyuhyun memanggil pelayan toko dan langsung membayarnya. Jiyoung yakin ia hampir pingsan saat melihat uang yang diserahkan Kyuhyun dengan wajah tidak berdosanya kepada pelayan toko yang tersenyum puas saat menerima uang dari Kyuhyun.

Kyuhyun menarik tangan Jiyoung keluar dari toko itu dan membawanya ke mobilnya. Kyuhyun menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Senyum terus tersungging di bibir tebalnya.

“Kyu.. sekarang kita kemana?”

“Diamlah. Nanti kau akan mengetahuinya juga.”

***

“Kyu jelaskan semuanya sekarang. Setelah kau memaksaku memilih satu gaun pengantin sekarang kau membawaku ke toko perhiasan dan lagi-lagi memaksaku memilih sepasang cincin yang kusuka.”

“Jiyoung-a sudahlah. Aku sudah bilang, kau akan mengerti nanti. Sekarang cepat pilih satu.”

Jiyoung mendesis kesal pada Kyuhyun. Ada apa sih dengan dia hari ini? Dia nbenar-benar tidak waras hari ini.

Eotte? Ada yang kau suka?”

Jiyoung menatap puluhan cincin yang terpampang dihadapannya. Seumur hidupnya, ia benar-benar tidak pernah menginjakkan kakinya ke sebuah toko perhiasan. Sejak kecil hidupnya hanya ada di toko buku.

“Eumm.. aku suka yang itu.” Jiyoung menunjuk sepasang cincin bermodel simpel berwarna silver.

Kyuhyun mengangguk. “Baiklah aku akan membelinya.”

Kyuhyun mengedarkan pandangannya ke seluruh toko dan memanggil seorang pegawai toko perhiasan yang dikunjunginya.

Ahjusshi, aku mau yang itu.” Kyuhyun menunjuk cincin yang tadi dipilih Jiyoung.

Pegawai itu menyebutkan harga cincin itu dan Jiyoung hampir mengeluarkan protesnya. Tapi Kyuhyun dengan santainya melangkah ke meja kasir dan mengeluarkan uang dari dompetnya dengan wajah gembira.

“Cho Kyuhyun neo miccheosseo! Berapa banyak uang yang sudah kau keluarkan hari ini?”

Kyuhyun menepuk kepala Jiyoung dengan dompetnya. “Tenang saja. Hanya membeli gaun dan cincin, aku masih bisa menghidupi tujuh turunan setelah aku.”

Jiyoung mendecak kesal mendengar penjelasan Kyuhyun dan hanya bisa menurut saat Kyuhyun menggandeng tangannya keluar dari toko perhiasan itu.

“Masih ada satu tempat yang harus kita kunjungi.”

“Kita akan kemana lagi setelah ini? Ke tempat yang akan menguras isi dompetmu, huh?” Jiyoung bertanya kesal pada Kyuhyun yang hanya tersenyum-senyum dari tadi.

Kyuhyun menggeleng. “Uangnya tidak harus diberikan saat ini juga kok.”

Jiyoung yang sama sekali tidak mengerti maksud perkataan Kyuhyun hanya mendengus.

Jiyoung benar-benar tidak mengerti saat Kyuhyun mengajaknya ke travel agent.

“Nah. Sekarang kau pilih. Kau mau menikah dimana?”

***

 

Lonceng gereja berbunyi dan sesosok perempuan cantik mengenakan gaun pengantin berjalan memasuki gereja sambil menggandeng ayahnya.

Sang namja berdiri di depan altar dengan senyum mempesonanya. Tangannya terulur menyambut sang yeoja.

Pendeta berdehem dan mulai berbicara.

“Cho Kyuhyun and Cho Jiyoung, have you come here freely and without reservation to give yourselves to each other in marriage?”

“Yes, Pastor.”

“Will you love and honor each other as man and wife for the rest of your lives?”

Kyuhyun dan Jiyoung berpandangan dan tersenyum satu sama lain.

“I do.” 

“Will you accept children lovingly from God and bring them up according to the law of Christ and his Church?” 

“I do.”

 

“Cho Jiyoung, saranghae.”

4 thoughts on “Rise And Shine (Cho Kyuhyun-Cho Jiyoung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s