I Love You (Park Ji Hyun – Cho Kyuhyun)

i love you - poster

WARNING : PANJANG DAN SANGAT GAJE

They were enemies, they were lovers

They hugged, they kissed, they broke up

No one ever imagine they will say goodbye easily

Even they, between them, no one ever imagine they will say goodbye this way

She used to think he is the definition of perfection

He used to think she is the right one

But now they were just a memory which they wish they can erase it forever

She pretends he never exists

He pretends it was all just a dream

Now fate brings them to this place

And they are forced to think over

Who is he?

Who is she?

Does she still love him?

Does he miss her?

But neither one of them want to lose their pride

So they avoided each other

And realize how they regret what they have done so much

But when they decide to start over

It’s all too late

Just too late

They just don’t meant to be together

***

8 years ago…

“Dengan semua foto-foto ini, apa yang akan kau lakukan?”

Mata Cho Kyuhyun terbelalak lebar saat melihat foto-foto berukuran kartu pos yang ada dalam genggamannya saat ini. Kyuhyun melihat setiap foto di tangannya dengan kemarahan yang sudah memuncak. Ada sekitar 30 lembar foto di sana, dan objek dari semua foto tersebut sama. Ada dua orang yang menjadi fokus setiap foto, dengan segala tawa dan senyum mereka yang membakar amarahnya. Hanya satu orang yang ia kenali dalam foto itu. Walaupun Kyuhyun sudah berusaha memperhatikannya selama mungkin untuk memastikan bahwa orang itu adalah gadis itu, ia tidak menemukan alasan mengapa ia harus percaya kalau orang itu bukan gadis itu.

“Dari mana asal semua foto ini?”

Choi Siwon mendengus. Pertanyaan konyol macam apa yang dilontarkan adik sepupunya ini? Adik sepupunya yang sangat tampan dan pintar, namun bisa jadi sangat mengerikan dan kehilangan arah saat putus asa dan depresi. Seperti saat ini. “Kau sendiri yang bertanya apa yang sedang mereka lakukan, dan karena aku tidak bisa menjelaskannya secara mendetail maka aku mencuci semua foto mereka di ponselku dan memberikannya padamu.”

“Siapa pria ini?” desis Kyuhyun sambil menunjukkan seorang pria yang duduk di hadapan gadis itu. Yeah, pria dengan jaket kulit hitam dan topi yang diturunkan pria itu sedemikian rupa hingga menutupi setengah wajahnya.

How should I know, my silly cousin? Aku kebetulan melihat mereka di kafe itu, aku memberitahumu dengan harapan bisa menghilangkan sedikit rasa depresimu itu, lalu kau langsung bertanya padaku apa yang mereka lakukan. Kau meminta penjelasan selengkap-lengkapnya. Aku tidak bisa menjelaskan panjang lebar apa saja yang mereka lakukan, jadi aku memutuskan untuk memotret mereka dan memberikannya kepadamu.”

Kyuhyun mendelik ke arah Choi Siwon yang sedang menatapnya sambil melipat tangannya di depan dada. Kyuhyun tahu Siwon bukan tipe orang yang bisa kau suruh menceritakan sesuatu panjang lebar. Siwon selalu mengatakan inti dari semua hal yang dilihat, didengar, atau yang sedang dilakukannya. Memang adalah hal yang sangat bodoh bila mengharapkan penjelasan selengkap-lengkapnya dari Choi Siwon. Pria itu terlalu simple untuk ukuran orang biasa.

Tapi bukan karena itu Kyuhyun menatap Siwon dengan tatapan seolah ia bisa menelan Siwon bulat-bulat saat itu juga.

“Apa kau harus memberikan semua foto ini kepadaku? Tidak bisa kau menceritakan intinya saja seperti yang biasa kau lakukan? Kau ingin membuatku mati dengan foto-foto ini?”

Siwon mengerutkan keningnya. “Siapa yang meminta penjelasan selengkap-lengkapnya? Aku hanya melakukan apa yang kau minta. Seharusnya kau berterima kasih kepadaku. Kau pikir mudah mengambil gambar sebanyak itu tanpa diketahui siapapun?”

Kyuhyun mengerang kesal. Siwon selalu berhasil memojokkannya hingga ia tidak bisa berkutik. “Kau tidak perlu mencuci foto-foto tak penting ini hanya untukku.” Kyuhyun meletakkan foto-foto itu di atas meja lalu beranjak dari sofa di ruang kerja Siwon, membuat Siwon semakin kebingungan dan berseru kepada Kyuhyun, “Kau mau kemana?”

“Aku? Bertanya langsung pada gadis itu.”

***

It hurts, it hurts – my closed heart – a lot, a lot
Oh my honey, honey baby – what do I do?

“Menolak makan malam denganku hanya karena pria itu? Bagus sekali, Nona Park Ji Hyun. Kau tahu betapa aku mati bosan seorang diri sementara kau bersenang-senang dengan pria lain?”

Ji Hyun menyatukan alisnya saat mendengar sapaan Kyuhyun yang penuh dengan nada sarkasme. Kyuhyun memintanya menemuinya di kafe tempat mereka biasa menikmati Cappucinno bersama. Kyuhyun mengatakan bahwa ada hal penting yang harus mereka bicarakan, dan ia meminta gadis itu untuk datang saat itu juga, tak peduli apapun yang sedang ia lakukan. Ji Hyun yang sedang belajar untuk ujian yang akan dihadapinya terpaksa meninggalkan buku-bukunya dan memaksakan diri berjalan menemui pria itu. Lihat, apa yang ia dapatkan setelah mengorbankan waktunya yang sangat berharga?

“Apa maksudmu? Aku sudah mengatakan padamu kalau aku harus belajar untuk ujian, dan mungkin tidak bisa menemuimu sampai ujian selesai.”

Kyuhyun mendengus. “Bagus, teruslah berbohong. Aku tidak percaya hatimu sejahat itu.”

Kerutan di kening Ji Hyun semakin dalam. Apa sih yang sedang dibicarakan pria itu? Ia tidak mengerti tuduhan macam apa yang sedang ditujukan pria itu kepadanya. Ia ingat semalam suntuk ia duduk di depan meja belajarnya, sama sekali tidak beranjak dari kursi sampai jam menunjukkan pukul 1 malam. Sialan, otaknya terlalu penuh saat ini sampai-sampai ia tidak bisa memikirkan apapun saat ini selain pelajaran yang harus dipelajarinya.

“Aku tidak berbohong. Tanya saja pada semua orang di rumahku, mereka pasti akan mengatakan kalau—”

“Untuk apa?!” Kyuhyun tidak bermaksud berteriak, tapi suaranya terdengar sangat keras, jauh dari harapannya. “Bisa saja mereka bersekongkol membantu pembohong sepertimu dan—”

Kesabaran Ji Hyun mulai habis. “Kenapa kau suka sekali menarik kesimpulan sendiri, Cho Kyuhyun?! Kenapa kau tidak bisa memastikan kebenaran dulu sebelum menarik kesimpulan?! Dan apa tadi katamu, aku pembohong?! PEMBOHONG?! Apa aku terlihat seperti orang yang sedang berbohong sekarang?”

Kyuhyun mendengus sinis. “Wajah polosmu itu menyembunyikan banyak sekali kebohongan di baliknya.”

Ji Hyun menatap Kyuhyun dengan tatapan tidak percaya. Mungkin saja bola matanya bisa keluar sebentar lagi. Hanya serendah itu rasa percaya pria itu padanya? Demi Tuhan, apakah pria itu sebegitu tidak percaya kepadanya sampai-sampai mengatakan kalau ia pembohong?!

“Kau jahat, Cho Kyuhyun.”

“Aku tidak punya hati bagi pembohong.”

So this means goodbye?”

If you like to do it that way, go on. Do it as you please.”

Ji Hyun yakin matanya benar-benar akan keluar sekarang. Pria itu bahkan tidak berusaha mencegahnya. Apakah pria itu memang tidak pernah mencintainya? Apakah selama ini ia memberikan hatinya pada orang yang salah?

Ji Hyun mengigit lidahnya, berusaha untuk menahan air matanya yang entah mengapa mendesak keluar. Tidak, ia tidak akan menangis di depan pria itu. Tidak akan pernah.

Ji Hyun beranjak dari kursinya, menatap Kyuhyun yang sedang menatapnya dengan sinis. Ia membungkuk sedikit ke arah Kyuhyun, yang mulai detik itu sudah resmi menjadi mantan pacarnya dan kembali menyandang status sebagai sunbae yang paling dibencinya, lalu pergi meninggalkan kafe itu secepat kakinya membawanya.

Jangan berharap kita akan bertemu lagi, Cho Kyuhyun.

***

9 Years Ago…

“Kenapa sih kau suka sekali menatap buku-buku itu? Apakah mereka jauh lebih tampan dariku?”

Ji Hyun tidak sedang dalam mood yang bagus untuk merepotkan dirinya sendiri dengan mengangkat kepalanya dan menatap Kyuhyun yang sedang duduk di hadapannya sambil menikmati sebungkus rumput laut kering. “Aku harus mendapatkan beasiswa karena aku ingin kuliah di luar negeri.”

Kyuhyun menatap adik kelasnya yang masih serius menghafalkan setiap kata yang tertulis di bukunya sambil memasukkan lagi selembar rumput laut kering ke mulutnya. Ini seharusnya merupakan kencan mereka, tapi gadis itu mengabaikan dirinya demi buku-buku tebalnya. Ia tidak mengerti pada dirinya sendiri mengapa ia bisa jatuh cinta pada gadis kutu buku seperti Ji Hyun. Gadis yang sangat rajin, yang jelas-jelas jauh dari tipe idealnya. Kyuhyun sama sekali tidak rajin. Dia selalu beranggapan bahwa menghafal adalah pekerjaan yang sangat membuang waktu, dan Kyuhyun lebih suka belajar di saat-saat terakhir sebelum ulangan. Hasilnya sama dengan gadis itu yang belajar semalam suntuk.

They were enemies. Tidak jelas penyebab mereka mulai membenci satu sama lain. Di matanya, Ji Hyun adalah anak penyendiri yang lebih senang duduk di sudut ruangan sambil berkencan dengan buku-bukunya. Kyuhyun sama sekali tidak suka dengan tipe gadis ansos seperti itu. Tambahan lagi, Ji Hyun sama sekali bukan tipe gadis yang bisa memikat setiap pria yang melihatnya di pertemuan pertama mereka. Gadis itu bukan gadis paling cantik di sekolah mereka, dengan kacamata setebal pantat botolnya yang sangat besar hingga membuat matanya lebih mirip dengan mata burung hantu. Kyuhyun harus mengakui bahwa gadis itu sebenarnya sangat seksi, dengan lekuk badan yang bisa membuat gadis manapun menangis saking irinya dan pria manapun memujanya, tapi sangat disayangkan karena gadis itu lebih memilih untuk tidak memamerkannya dan lebih memilih menggunakan kemeja yang satu ukuran lebih besar dari seharusnya.

Pertama kali Kyuhyun benar-benar berurusan dengan gadis itu adalah saat persiapan sebuah acara di sekolah mereka di mana ia dan gadis itu terpaksa harus bekerja sama dalam persiapannya. Pemikiran mereka yang sangat bertolak belakang seharusnya membuat mereka semakin tidak menyukai satu sama lain, but what hapenned? They ended up as lovers.

“Park Ji Hyun, kau benar-benar akan mengabaikanku demi bukumu?”

Kali ini Ji Hyun mengangkat kepalanya dari buku. Ji Hyun kesal setengah mati karena ia hampir saja hafal dan Kyuhyun mengacaukan segalanya. Ji Hyun menutup bukunya dan memukul kepala pria itu dengan bukunya. “Bisakah kau tidak menggangguku saat aku sedang serius belajar?”

Kyuhyun mengerang kecil dan mengusap-usap kepalanya yang tadi dipukul dengan buku Ji Hyun yang super tebal. “Tapi ini seharusnya waktu kencan kita.”

“Aku kan sudah bilang tidak bisa. Aku harus belajar. Aku bukan anak kuliahan semester awal sepertimu yang bisa bersantai-santai. Salahmu sendiri memaksaku untuk tetap pergi bersamamamu.”

“Tapi dari dulu aku selalu bersantai.”

“Aku tidak.”

“Kenapa tidak? Sudah kubilang, jangan terlalu menganggap serius sesuatu. Nikmati sedikit hidupmu. Apa makna hidupmu kalau setiap waktumu hanya kau habiskan bersama buku?”

Ji Hyun mengerang kesal. Kenapa sih ia bisa jatuh cinta pada pria brengsek macam Cho Kyuhyun? Ji Hyun selalu membenci Kyuhyun sejak hari pertama ia menjejakkan kakinya di SMA mereka. Cho Kyuhyun, sang ketua OSIS yang terkenal dengan image playboy dan gadis-gadis yang selalu berusaha menarik perhatiannya, dengan wajah yang kadar ketampanannya di atas rata-rata, dengan otak yang sangat encer hingga ia hampir tidak pernah belajar, adalah tipe pria yang dibencinya. Itu masih ditambah dengan hartanya yang berlimpah dan arogansinya yang tinggi. Kenapa ia tidak bisa menolak pesona pria itu, Ji Hyun tidak mengerti. Padahal, mereka lebih mirip Tom and Jerry yang hampir tidak pernah akur. Hanya Tuhan yang tahu penyebab Tom tidak berusaha memakan Jerry dan Jerry tidak berusaha menjebak Tom hingga kucing itu babak belur.

“Aku benar, kan? Untuk apa kau terlalu stress menghafalkan setiap kata di buku itu? Itu hanya akan membuatmu stress. Stress akan membuatmu lupa semua yang telah kau pelajari. Sama saja. Lagi pula, memangnya kau akan mengingat semua yang sudah kau hafalkan setelah ulangan selesai? Tidak. Karena itu, kau tidak perlu terlalu serius dan bersantailah sedikit.”

Ji Hyun merengut kesal. Begitulah yang selalu pria itu katakan setiap kesal melihatnya belajar dan mengabaikan pria itu. Enak saja pria itu mengatakan hal tersebut, pria itu punya otak yang sangat encer. Ji Hyun selalu percaya kalau hanya dengan mendapatkan nilai bagus, ia bisa meraih mimpinya untuk kuliah di luar negeri dan menjadi arsitek seperti ayahnya. Sayang sekali Kyuhyun terlalu pintar, sehingga ia tidak akan mengerti keyakinan semacam itu. Untuk apa pria itu menghafal? Kyuhyun hanya perlu membuka bukunya, membolak-balik halaman buku tersebut dan ia siap untuk ulangan hanya dalam waktu 10 menit.

Ini keterlaluan. Tidak adil. Benar-benar tekanan batin.

“Terserah kau saja,” balas Ji Hyun kesal. Ia sedang tidak berniat berdebat dengan pria itu, jadi ia tidak peduli lagi walaupun ia harus kalah kali ini.

Secepat kilat, Kyuhyun berdiri dari kursinya, menyebrangi meja yang ada di antara mereka dan detik berikutnya bibirnya sudah menyapu bibir Ji Hyun. “My sweet pie, I hate you when you got mad. Ayolah, jangan cenberut terus seperti itu. Kau membuatku merasa bersalah.”

Ji Hyun mendelik tajam ke arah pria itu. Apa?! Sweet pie?! Panggilan macam apa itu?! Selama dua tahun mereka berkencan, Kyuhyun belum pernah memanggilnya dengan panggilan semenjijikkan itu.

Don’t call me like that, or I’ll kill you.”

You won’t kill me, will you? You can’t, honey, you just love me too much.” Kali ini Kyuhyun mencium pipi kiri Ji Hyun dengan cepat dan kembali duduk di tempat duduknya.

Kalau Ji Hyun bisa memuntahkan seluruh isi perutnya di depan Kyuhyun saat ini, ia akan memuntahkannya. Setan apa sih yang sedang merasuki pikirannya sampai-sampai ia jadi semanis ini, dengan semua panggilan menjijikkan itu? Atau mungkin Kyuhyun bermimpi berada di depan rumah biskuit milik nenek sihir di cerita Hansel and Gretel yang membuatnya memanggil Ji Hyun dengan semua nama makanan manis yang jelas-jelas dibencinya?

Stop it, Cho Kyuhyun. Kau membuatku ingin muntah.”

How could you vomit in front of this hot and sexy guy you love with all you heart? That won’t happen, darling.”

Yang benar saja, pasti ada sesuatu yang salah dengan otak pria itu hari ini. Mungkin kepalanya terbentur sangat keras saat ia bangun tidur tadi dan membuat sistem kerja otaknya berantakan. Atau mungkin ada obat aneh yang dicampurkan dalam sarapannya. Atau ada setan yang merasukinya. Atau mimpi rumah biskuit itu. Benar, pasti salah satu di antara empat kemungkinan itu terjadi pada Kyuhyun sehingga pria ini jadi sangat manis.

“Berhentilah, Cho Kyuhyun. Jangan membuatku benar-benar ingin muntah.”

Kyuhyun memamerkan senyum setengahnya yang bisa membuat Ji Hyun berhenti bernafas sekarang juga. “Dengan satu syarat.”

“Apa?”

“Tinggalkan buku-bukumu itu dan ayo kita jalan-jalan~!”

Beruntunglah Kyuhyun karena buku di tangan Ji Hyun belum melayang dan menghantam kepala pria itu.

***

NOW

London, England

01.00 AM

Did it pass by…Our love
Is it just a heart-breaking memory..
It’s turning around…Your heart…Can’t I catch it with my tears…

My love I love you, I love you… Are you listening…
My love… Don’t forget… Don’t erase… Our love..

Semua kenangan itu selalu kembali di saat Kyuhyun tidak melakukan apapun selain duduk diam sambil menatap langit malam yang kosong. Kadang-kadang kenangan itu akan muncul saat ia bernyanyi di sela-sela pekerjaannya, tapi tidak ada seorang pun yang menyadarinya karena Kyuhyun bisa menyembunyikannya dengan sangat baik. Kenangan tentang ia dan gadis itu akan muncul kapan saja saat ia tidak harus memikirkan apa yang harus ia selesaikan malam ini dan apa yang pertama kali harus ia lakukan besok pagi.

Saat Kyuhyun mendapatkan hari-hari liburannya, hari-hari yang seharusnya disyukuri oleh presiden direktur perusahaan besar mana pun yang hampir setiap hari dikejar deadline dan meeting dengan klien-klien penting yang masih diperparah dengan urusan internal kantor lainnya, Kyuhyun justru membenci hari-hari liburannya. Karena saat ia tidak tenggelam di antara segala bentuk urusan yang bisa membuat dirinya sendiri membenturkan kepalanya ke tembok, semua kenangan itu akan muncul lagi. Lagi. Lagi. Jujur saja, kenangan-kenangan itu lebih menguras tenaganya dibandingkan urusan-urusan perusahaannya.

It all was a mistake.

Kyuhyun baru menyadari kesalahannya di hari kepergian gadis itu ke Prancis untuk menempuh pendidikan di bidang arsitektur yang selalu menjadi mimpinya. Kyuhyun melupakan fakta kecil yang sangat penting tentang Ji Hyun di hari foto-foto itu ada dalam genggamannya karena terlalu kalap dengan foto-foto itu. Fakta kecil yang berakibat fatal bagi hubungan mereka.

Fakta bahwa Park Ji Hyun memiliki seorang kembar identik bernama Park Joo Hyun.

Kedua gadis itu hampir tidak bisa dibedakan bila hanya dilihat sekilas. Selera fashion kedua gadis itu sama persis, selain wajah mereka yang tentu saja benar-benar jiplakan satu sama lain. Seumur hidup hanya kaus dan jeans serta converse yang mereka cintai, dan jangan pernah berharap melihat mereka memakai dress dan heels serta make
up. Benar-benar sebuah kesamaan yang Kyuhyun sesalkan. Kenapa sih gaya berpakaian mereka harus sama persis ? Apa wajah yang sama persis sama sekali belum cukup? Pria waras mana yang akan tetap tenang saat melihat orang yang ia kenali sebagai kekasihnya tertawa bersama pria lain?

Tapi saat Kyuhyun datang untuk meminta maaf, ia hanya menemukan Joo Hyun di rumah keluarga Park, bukan Ji Hyun.

5 tahun terus merindukan gadis itu tanpa berusaha untuk menghubungi gadis itu dan meminta maaf, akhirnya takdir mempertemukan mereka lagi.

But it’s all too late.

“Nggh…”

Kyuhyun menolehkan kepalanya ke arah ranjang berukuran King Size di kamar hotel yang saat ini menjadi tempat tinggal sementaranya selama ia berlibur di London, tempat istri dan anaknya saat ini berbaring. Jam di sebelah tempat tidur itu menunjukkan pukul 1 dini hari, dan istri serta anaknya sudah tertidur sejak 3 jam yang lalu. Sepertinya gadis itu mengalami mimpi buruk dan membuatnya mulai menggigau tidak jelas.

Kyuhyun mendesah. What the hell are you doing, Cho Kyuhyun? Your wife is sleeping and you are thinking about another girl. You should be sleeping now and hug her, not standing in front of the window, staring at Big Ben and recalling all your memories.

Kyuhyun menyeret langkahnya ke arah ranjangnya lalu membaringkan tubuhnya perlahan di samping putri kecilnya yang saat ini sudah bermimpi indah. Maafkan ayahmu ini, bisik Kyuhyun dalam hati sambil menatap putrinya.

Kyuhyun memeluk tubuh mungil putrinya dan memejamkan matanya. Malam ini bisa dipastikan hanya ada satu orang yang ada di dalam mimpinya.

Hanya akan ada Park Ji Hyun di sana.

***

London, England

01.30 AM

After playing like crazy all day, I erase my thick makeup
Will I forget by being like this?
Looking quite miserable, on top of my half-erased cheeks
On top of the half-erased lipstick,
The fallen tears melt with the cleansing cream

Satu garis lagi, dan pekerjaannya untuk malam ini sudah selesai. Besok ia akan menyerahkan rancangannya kepada kliennya, dan menunggu reaksi dari klien itu. Ji Hyun setengah yakin kalau kliennya akan meminta perubahan di sana-sini, karena sejujurnya Ji Hyun sama sekali tidak bisa menangkap keinginan kliennya tersebut akibat penjelasannya yang terlalu berbelit-belit. Sementara itu, mungkin sebaiknya malam ini ia mempersiapkan diri untuk mendengarkan semua protes kliennya itu besok.

Ji Hyun meletakkan pensil dan penggarisnya di atas meja kerja di dalam kamar hotelnya, lalu meregangkan tangannya. Astaga, tangannya benar-benar kaku akibat duduk dengan posisi yang sama selama hampir 5 jam. Ji Hyun mengalihkan tatapannya pada jam digital di atas meja kerja itu dan ia menguap. Setengah dua dini hari di pertengahan musim panas London. Pantas saja ia mengantuk.

Anehnya, Ji Hyun sama sekali belum ingin tidur. Ji Hyun berjalan ke kamar mandinya dan mulai menghapus make-up nya. Ji Hyun tidak sempat mencuci mukanya tadi setelah ia pulang, karena ia langsung duduk di meja kerjanya dan menyelesaikan sketsanya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin di hadapannya.

Oh astaga, lihat kantung matanya yang terlihat sangat jelas. Dan jerawat di dekat pelipisnya… Sialan. Ji Hyun mengumpat dalam hati sambil mengutuki semua peralatan make up-nya yang ia beli dengan sangat terpaksa karena niatnya yang terlalu besar untuk berubah.

Well, Ji Hyun memang harus berubah.

Beberapa hari ini ia tidak bisa tidur karena insomnia menyerangnya, selain karena ia cukup sibuk beberapa hari terakhir ini. Kurang tidur bisa menghancurkan keseluruhan penampilan wajahnya seperti yang dipantulkan cermin itu, dan menurutnya make up memperparah segalanya.

“Kenapa sih kau suka sekali memakan ramyeon di pertengahan musim panas seperti ini? Ramyeon itu paling enak di makan saat musim dingin.”

“Ah, sejak kapan ada peraturan seperti itu, Park Ji Hyun? Aku tidak pernah tahu ada aturan seperti itu. Setahuku, kau bisa menikmati ramyeon kapan saja kau mau. Aku penggila ramyeon, that kind of statement doesn’t make sense to me.

Oh, sialan, jangan lagi. Ji Hyun segera membersihkan sisa make up-nya dan segera membasuh wajahnya dengan air dingin, mengabaikan air matanya yang tiba-tiba saja menetes. Ia memarahi dirinya sendiri dalam hati. Not again, Park Ji Hyun.

Mendadak Ji Hyun merasa lapar. Ji Hyun keluar dari kamar mandinya, setengah berlari menuju kopernya. Ada banyak persediaan ramyeon di sana, dan Ji Hyun hanya perlu menyeduhnya dan… tadaaa~! Ia sudah bisa mengisi perutnya.

Dalam hati Ji Hyun berdoa bagi siapapun yang telah menciptakan ramyeon.

Sambil menikmati ramyeon-nya dengan penuh rasa syukur, Ji Hyun memandangi Big Ben yang terlihat jelas dari jendela kamarnya. Jam besar bersejarah yang merupakan kebanggaan warga Inggris itu adalah satu dari sekian banyak objek wisata di dunia yang selalu dikaguminya. Ji Hyun selalu berandai-andai untuk kembali ke masa lalu dengan jam itu. Agak aneh memang, tapi hanya itu yang ada di kepalanya setiap mendengar nama ‘Big Ben’ dan semakin menjadi-jadi saat ia melihat langsung.

Sementara itu, kenangan-kenangan akan masa lalu yang selalu dirindukannya kembali muncul, terus bermunculan hingga Ji Hyun rasa ia bisa menangis sekarang juga. Tak peduli bagaimana ia berusaha untuk mengatakan pada dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja, saat ia duduk seorang diri menatap langit malam yang kosong setengah dari jiwanya melayang. Sedikit berlebihan memang, tapi malam ini akhirnya Ji Hyun menyadari sesuatu…

Selama ini, Ji Hyun selalu merindukan Cho Kyuhyun.

“Menurutmu, kota apa yang paling indah?”

“Hmm… London!”

Why London? Menurutku Paris atau Tokyo lebih keren.”

“Kau kan bertanya menurutku, jadi kau tidak boleh mengomentari jawaban apapun yang kuberikan.”

“Kau benar-benar ingin pergi kesana?”

“Tentu saja!”

“Kalau begitu, aku akan mulai berusaha menyukai London. Lalu, aku akan membawamu ke sana. Eottae?”

Jari-jari Ji Hyun menari dengan lincah di atas iPhone-nya. Matanya mencari-cari satu nama dalam contact list-nya yang selalu ia hubungi di saat-saat seperti ini.

Nada sambung yang monoton berbunyi tiga kali sebelum terdengar jawaban dari sana.

Eo, Park Ji Hyun. Wae?”

Why, why, why, unni?
All throughout the night, why can’t I forget him?
Why, why, why, unni?
With my blackened and smeared tears, I can’t forget him
And I stubbornly say, bye, bye

What do I do, unni? I want to sleep now
But my heart keeps running to him
What to do, unni? I don’t think I can go on like this
Please, can you have a drink with me? I ask of you, unni

***

5 Years Ago…

So this is where the story begins.

Have you ever been in love?
Have you ever really loved?
Love – for others it’s so easy
But for me, it’s like an unerasable tattoo
I empty my glass again

“Ji Hyun-a, ayolah, kau sudah berjanji akan menemaniku.”

Ji Hyun mendengus mendengar suara Joo Hyun yang sangat nyaring di telinganya. Mengherankan sekali bagaimana ia bisa memiliki suara yang sangat rendah sementara kembarannya memiliki suara yang sangat nyaring dan memekakkan telinga. Sama sekali tidak disarankan untuk menerima telepon dari Joo Hyun kalau telinga kalian terlalu peka, karena suara Joo Hyun akan terdengar semakin nyaring di telepon, dan bisa memecahkan gendang telinga siapapun saat gadis itu berteriak dan merajuk seperti saat ini.

“Umurmu sudah 24 tahun, merajuk seperti itu sama sekali tidak cocok lagi untukmu, eonnie.”

Tapi Ji Hyun, kau benar-benar akan menemaniku, kan?”

Ji Hyun berdecak cukup keras. “Aku sudah bilang aku tidak tahu apakah aku bisa menemanimu mendatangi acara reuni itu hari Sabtu nanti. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan dan aku tidak mau membuat diriku sendiri dipecat dalam waktu kurang dari 3 bulan.”

Ji Hyun, aku hanya perlu janjimu. Masalah kau ada urusan atau tidak lupakan saja dulu, aku hanya perlu janjimu.”

Ji Hyun memijat pelipisnya. Rajukan siang bolong Joo Hyun benar-benar hanya menambah sakit kepalanya, tapi Ji Hyun tidak tega untuk menutup telepon darinya. Salahkan hatinya yang terlalu lembut untuk masalah seperti ini.

“Ya, ya, baiklah, aku berjanji, tapi aku tidak berjanji untuk menepatinya.”

Bagus!” seru Joo Hyun penuh semangat. “Aku sudah merekam pembicaraan kita kali ini, jadi kau benar-benar akan mati kalau kau berusaha mengelak, Ji Hyun.”

Satu saran untuk kalian ; Jangan pernah mau punya kakak yang bekerja untuk kepolisian, di divisi apalah itu yang memungkinkannya menciptakan barang bukti sekecil apapun itu.

***

Ternyata semua masalahnya bisa selesai sebelum hari Sabtu dan Ji Hyun, dengan sangat terpaksa, harus menepati janjinya pada Joo Hyun. Joo Hyun mengancam akan merajuk selama seminggu kalau Ji Hyun menolak menepati janjinya, dan jujur saja, ancaman itu lebih mengerikan daripada bila Joo Hyun memutuskan untuk menyita semua sneakers-nya (yang berarti ia hanya bisa menggunakan heels dan itu sudah sangat mengerikan baginya). Padahal Ji Hyun sudah berdoa sepanjang malam agar masalah itu diperpanjang sehingga ia tidak perlu menepati janjinya, tapi sayang sekali Tuhan berkata lain.

Mengapa Ji Hyun begitu takut untuk menemani kembarannya sendiri ke acara reuni SMA mereka?

“Ji Hyun-a, jangan cemberut seperti itu terus. Kau sama sekali tidak cantik dengan mulut manyunmu itu. Lagipula seharusnya kau senang, karena kita akan segera bertemu dengan teman-teman SMA kita dulu, dan mereka—”

“Diamlah Park Joo Hyun, atau lupakan janjiku untuk menemanimu.”

Karena satu orang.

“Ayolah Ji Hyun, jangan bersikap kekanak-kanakan. Lagi pula kau sudah berdandan sangat cantik malam ini –oh, kau selalu cantik sejak kau memutuskan untuk melepas kacamata tebalmu itu- dan kita sudah sampai di hotel paling mewah di kota ini. Masa kau mau menyia-nyiakan semuanya begitu saja, sih?”

“Aku di sini hanya untuk menepati janjiku,” balas Ji Hyun sengit. “Aku tidak akan ada di sini malam ini kalau bukan karena kau memaksaku untuk berjanji.” Kembarannya tahu dengan sangat baik kalau Ji Hyun tidak bisa untuk tidak menepati janji yang telah ia buat.

Joo Hyun berdecak mendengar reaksi Ji Hyun. “Malam ini mood-mu jelek sekali, ya? Ah, mungkin mood-mu akan membaik setelah bertemu dengan teman-teman lama kita.”

Bagaimana mungkin ia bisa baik-baik saja saat pria itu dipastikan akan hadir di acara ini?

“… bertemu Jae Mi… Jam 10 malam di lobby, oke?”

Ji Hyun berusaha mencerna apa yang Joo Hyun katakan padanya karena sejujurnya ia tidak terlalu memperhatikan apa yang dikatakan gadis itu barusan. Ji Hyun baru saja akan meminta Joo Hyun mengulang apa yang dikatakannya, namun gadis itu sudah menghilang di antara kerumunan orang di ballroom itu.

Oh Tuhan, ini mengerikan sekali.

Ji Hyun berjalan memasuki ballroom yang entah bagaimana ceritanya sudah penuh dengan banyak sekali orang. Ah benar juga, ini reuni bagi 3 angkatan sekaligus. Bagaimana mungkin reuni bagi 3 angkatan dilaksanakan pada hari dan tempat yang sama? Ji Hyun belum pernah mendengar ada reuni semacam ini. Hanya pengurus reuni ini yang tahu mengapa bisa ada reuni akbar seperti ini.

Ji Hyun tidak bisa menemukan satu orang pun yang dikenalnya di antara ratusan orang di ruangan ini. Inilah yang akan terjadi bila kau hanya menghabiskan waktumu bersama buku-bukumu, kau tidak akan mengenal siapapun di saat-saat seperti ini. Putus asa, Ji Hyun memutuskan untuk berjalan ke arah meja tempat gelas-gelas berisi air putih berbaris rapi di atas meja. Mungkin Ji Hyun akan berpura-pura menikmati air dingin, atau berpura-pura menunggu seseorang, atau—

“Park Ji Hyun!”

***

Everyday I long for you. That’s how my day goes by.

Where are you…
I’m sorry, I’m sorry that I can’t forget you…
My 
love come back to me.. Don’t leave my side, please…

Kabur. Yah, mungkin itu kata yang tepat untuk mendefinisikan apa yang ia lakukan saat ini.

“Aku harus menghadiri acara reuni sekolahku… Bukan, bukannya aku tidak ingin mengajakmu, tapi kemungkinan besar kau tidak akan melakukan apa-apa di sana selain berdiri diam di sampingku. Lagi pula aku sudah berjanji untuk pergi minum bersama sahabat-sahabatku… Ayolah, aku tidak akan minum banyak. Satu botol… Aku tidak akan mabuk seperti waktu itu lagi, jadi kau tidak perlu bersiap dengan kunci mobilmu… Astaga Han Hye Na, aku bukan anak kecil lagi, percayalah padaku… Ya, ya, aku mengerti… ArrasseoNado
saranghaeAnnyeong.”

Kyuhyun mematikan ponselnya dengan rasa kemenangan memenuhi dirinya. Malam minggu tanpa gadis itu, tidak ada hal lain yang lebih indah selain kenyataan itu.

Kyuhyun menginjak pedal gas-nya dengan seluruh tenaganya. Jalanan kota Seoul cukup padat malam ini, dan ia sudah telat lebih dari satu jam. Walaupun jalanan yang padat merupakan salah satu faktor penyebab keterlambatannya, tapi sebelum itu ia harus bertemu dengan seorang klien penting dan meminta maaf kepada Han Hye Na karena ia baru ingat soal reuni itu dan terpaksa membatalkan kencan mereka. Mengatakan alasannya hanya perlu waktu kurang dari 1 menit, tapi rajukan gadis itu pasti akan berlangsung seminggu penuh. Yah… tapi sekali-kali ia juga butuh istirahat dari gadis itu, dan saat ini, bayangan akan gadis itu merajuk selama seminggu bukan merupakan bayangan yang buruk.

Everyone needs holiday.

Sambil memarkirkan Jaguar-nya di basement hotel itu, Kyuhyun menggerutu dalam hati. Apakah kakeknya tidak bisa memilih gadis yang lebih menyedihkan lagi daripada Han Hye Na untuknya? Satu-satunya alasan yang membuat Kyuhyun percaya bahwa ia bisa mencintai gadis itu hanyalah, karena gadis itu mirip sekali dengan Park Ji Hyun…

Oh tunggu. Tadi Changmin bilang kalau ini adalah reuni bagi 3 angkatan, dan menurut apa yang dikatakan Changmin, angkatan mereka adalah yang tertua, dan itu berarti…

Jangan katakan padanya kalau Park Ji Hyun akan ada di acara reuni ini.

Ah, mungkin saja anak itu hanya membohongi dirinya. Setelah memastikan mobilnya sudah terkunci, Kyuhyun segera menuju ballroom tempat reuni tersebut diadakan. Kyuhyun bahkan tidak membiarkan dirinya sendiri untuk berhenti dan menikmati kemewahan hotel itu. Untuk apa? Ia datang ke hootel itu hampir setiap minggu. Hotel itu atas namanya, ia sudah hafal tempat itu lebih baik dari siapapun.

Sepanjang perjalanan, Kyuhyun terus berdoa, berharap Changmin hanya membohonginya lagi kali ini. Sungguh, Kyuhyun tidak akan menjitak kepala sahabatnya itu bila kali ini sahabatnya hanya bercanda. Asal ia tidak harus melihat gadis itu dari jarak dekat. Kyuhyun tidak yakin apakah ia bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak mendatangi gadis itu, meminta maaf pada gadis itu— Ah tidak, ia pasti akan langsung menarik gadis itu ke dalam pelukannya, lalu—

Demi Tuhan, Cho Kyuhyun, kau sudah bertunangan.

Kyuhyun hampir melewatkan ballroom tempat reuni itu diadakan kalau saja Changmin tidak menepuk pundaknya dan menghentikan langkahnya.

Man, where are you going?”

Eo? Apakah aku melewatkan Sapphire Ballroom?”

Dahi Changmin berkerut dalam mendengar gumaman Kyuhyun. “Man, ada apa denganmu? Sepertinya kau memang benar-benar butuh alkohol hari ini.”

“Changmin-a, kau tidak berbohong bagian reuni 3 angkatan itu?” Kesadaran Kyuhyun telah kembali sepenuhnya, dan ia langsung menanyakan apa yang ingin ia pastikan sejak tadi.

Changmin mengangguk. “Benar sekali. Koordinator reuni ini adalah tiga-Kim-bersaudara. Yah, kau kan tahu kalau tiga saudara itu sangat nyentrik, dan mereka memutuskan untuk mengadakan reuni bagi tiga angkatan sekaligus di hari dan tempat yang sama. Dasar gila. Hei, bagaimana mungkin kau tidak tahu? Bukankah kau sendiri yang mengijinkan ballroom ini digunakan?”

Ah, bagaimana Kyuhyun bisa lupa? Tiga-Kim-bersaudara yang Changmin maksud adalah Kim Joong Woon, Kim Young Woon, dan Kim Ryeowook. Yang tertua, Kim Jong Woon, adalah teman sekelas mereka dulu. Lalu adiknya Kim Youngwoon berada satu tingkat di bawahnya, dan si kecil Kim Ryeowook adalah yang termuda di antara mereka. Mereka sangat dekat, dan pastinya adalah orang-orang yang paling gatal ingin membuat acara reuni ini. Kelanjutannya sudah bisa ditebak, dan berakhir dengan reuni dengan konsep super aneh ini.

“Ayo masuk. Yang lain sudah menunggu.”

Kyuhyun menggeleng. Mendadak ia merasa haus. “Nanti aku menyusul, aku mau mengambil minum sebentar.”

Changmin berlalu setelah memberitahukan Kyuhyun tempat ia dan yang lain menunggu Kyuhyun, dan Kyuhyun sendiri segera menuju ke arah meja tempat gelas-gelas berisi air putih terjajar rapi di atas meja.

Saat itulah siluet orang yang paling ingin Kyuhyun hindari tertangkap oleh matanya.

Gadis itu… Cantik sekali.

Gadis itu sedang berbincang bersama beberapa temannya dulu. Gadis itu terlihat sangat menikmati pembicaraan mereka dan sesekali ia dan teman-temannya tertawa. Sebenarnya tidak ada masalah bagi Kyuhyun untuk mengambil segelas air dan langsung pergi dari sana. Masalahnya adalah, gadis-gadis itu berada sangat dekat dari meja gelas, dan mereka pasti akan melihatnya bila ia mendekat. Mata Kyuhyun segera mencari-cari meja gelas yang lain, namun yang ia temukan hanyalah sebuah meja dengan berbagai minuman berwarna. Kyuhyun sedang tidak ingin meminum minuman berwarna macam soda dan sari jeruk, tapi sepertinya ia harus mengalah kalau tidak ingin bertemu gadis itu.

Kyuhyun berjalan ke arah meja tersebut dan memilih segelas sari jeruk, lalu ia berbalik dan bermaksud untuk pergi ke meja tempat sahabat-sahabatnya sedang menunggunya—

Ups.

Mata Kyuhyun terbelalak lebar. Oh Tuhan, jangan sekarang…

***

Sepertinya reuni ini tidak terlalu buruk. Sahabat-sahabatnya yang dulu ternyata masih mengenalinya, dan mereka punya banyak sekali cerita-cerita seru. Ji Hyun punya beberapa sahabat baik, tapi tidak dengan teman yang banyak.

Rasa haus kembali menyerang kerongkongannya. Ah, kenapa harus di saat cerita Ji Young sedang seru-serunya? Tiba-tiba Ji Hyun ingin meminum sari jeruk yang ada di atas meja yang letaknya tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.

Babodeul, aku mau mengambil segelas jeruk dulu. Aku haus.”

Jae Ni yang berdiri di sampingnya dengan cepat menghentikan langkah Ji Hyun dengan menahan lengannya.

Wae?”

“Ambilkan aku juga…” pinta Jae Ni dengan muka yang menurut Ji Hyun sangat memelas.

Ji Hyun hanya berdecak dan mengangguk, kemudian berjalan ke arah meja dengan bergelas-gelas sari jeruk di atasnya yang sudah diincar Ji Hyun sejak tadi. Sambil memikirkan betapa segar sari jeruk itu di kerongkongannya yang kering, Ji Hyun memperhatikan seorang pria yang berdiri membelakanginya. Pria itu sangat tinggi, dengan potongan rambut cepak, kemeja hitam pas badan dengan celana dan sepatu kulit dengan warna sama yang Ji Hyun yakini semuanya bermerk… Sekilas sebuah nama yang Ji Hyun yakini telah lama ia lupakan kembali muncul. Sebagian dari dirinya yakin bahwa pria itu adalah orang yang pernah menjadi bagian penting masa lalunya, tapi Ji Hyun lebih memilih untuk percaya bahwa pria itu hanya kebetulan mirip dengan orang itu.

Tanpa sadar, Ji Hyun terus berjalan hingga ia berada tepat di belakang pria itu. Ji Hyun baru menyadarinya saat pria itu berbalik dan…

SPLASH!

“Oh astaga, naega mianhaeyo jeongmal…”

Permintaan maaf pria itu terputus. Sekarang mata pria itu beralih dari gaunnya yang terkena sari jeruk milik pria itu ke atas dan…

Mata mereka bertemu.

Ji Hyun berani bersumpah pria itu sama kagetnya dengan dirinya. Mata mereka sama-sama membesar, sama-sama tidak percaya. Ji Hyun juga berani bersumpah kalau ia tidak salah mengenali pria ini, karena jantungnya berdebar sangat kencang, dan sejauh pengetahuan Ji Hyun hanya ada satu orang yang bisa membuat jantungnya berdebar sekencang ini….

“Kita harus bicara.”

***

Can you see my tears? I long for you all day
My heart beat when we kissed but now it’s all a memory

My love I love you, I love you…Are you listening
My love Don’t forget Don’t erase… our love..

Pertemuan tersebut sama sekali tidak bisa dihindari. Sepertinya takdir belum puas mempermainkan mereka, dan harus memilih cara seperti ini hanya untuk mempertemukan mereka.

Ji Hyun sama sekali tidak menolak untuk berbicara dengannya, tapi Ji Hyun menolak saat Kyuhyun menawarkan diri untuk membereskan semua kekacauan yang telah ia perbuat. Sekarang, mereka duduk di sebuah kafe yang ada di lantai dasar hotel itu, menghindari orang-orang di ballroom tempat reuni tersebut diadakan.

It’s been a long time.”

Ji Hyun hanya tersenyum tipis mendengar sapaan Kyuhyun. She hates this. Ji Hyun tidak suka berada dalam situasi secanggung ini, dan walaupun Ji Hyun sudah tahu bahwa ini yang akan terjadi bila ia menyanggupi ajakan pria itu untuk ‘berbicara’, Ji Hyun sama sekali tidak berniat menolak.

“Aku minta maaf. Benar-benar minta maaf, sungguh.”

Ji Hyun mendongakkan kepalanya. Ia tidak menjawab, membiarkan Kyuhyun melanjutkan kalimatnya.

“Aku… Waktu itu…Tidak seharusnya aku langsung menuduhmu seperti itu. Waktu itu aku benar-benar marah karena Siwon memberikan foto kembaranmu dan pacarnya di sebuah kafe dan aku mengenali saudaramu di sana sebagai dirimu. Aku sama sekali tidak memikirkan kemungkinan kalau itu adalah kembaranmu, lalu aku… Kita…”

“Sudahlah. Sudah berlalu. Lupakan saja.”

Suasana kembali canggung. Ji Hyun menggigit-gigit bibirnya sendiri. Astaga, kenapa bisa secanggung ini?

“Bagaimana kabarmu?”

How’s life?

Kyuhyun dan Ji Hyun sama-sama terdiam setelah mereka menanyakan pertanyaan yang sama dalam waktu yang bersamaan. Ji Hyun mengigit bibirnya lagi.

“Kabarku… Tidak terlalu baik setelah kau pergi. Kau sendiri? Aku yakin sekarang kau sudah berhasil menjadi arsitek seperti mimpimu selama ini.”

Tawa yang dipaksakan Kyuhyun di akhir kalimatnya semakin membuat perasaan Ji Hyun tidak enak. Ji Hyun memaksakan sebuah senyum tipis. “Begitulah.”

Kyuhyun mendesah keras. “Ahh, mengapa kita jadi canggung seperti ini? Park Ji Hyun, apakah kau menyukai ideku untuk mengulang semuanya dari awal?”

“Maksudmu?”

“Yah… ” Kyuhyun tampak berpikir selama beberapa saat, “Memperbaiki hubungan kita. Kembali berteman, maksudku.”

Ji Hyun hampir saja bertanya, ‘Apakah kita tidak bisa kembali seperti dulu lagi?’ saat ia tahu bahwa ia tidak boleh menanyakan pertanyaan itu lagi karena…

“Sebagai teman,” Ji Hyun mengangguk.

“Bagus!” Kyuhyun tersenyum lebar. Ah, bagaimana pria itu bisa terlihat baik-baik saja sementar Ji Hyun perlu mengerahkan seluruh tenaganya untuk bisa terlihat baik-baik saja?

“Cho Kyuhyun.”

“Hmm?”

Chukhahae.”

Dahi Kyuhyun berkerut mendengar ucapan selamat dari Ji Hyun. “What for?”

Ji Hyun mempertahankan senyumannya sambil menunjuk jari manis Kyuhyun. Ji Hyun tidak bodoh untuk tidak bisa mengenali cincin itu sebagai cincin pertunangan.

Kyuhyun terdiam. Sekarang senyuman di wajahnya benar-benar hilang sepenuhnya. “Don’t congratulate me for this one. Just don’t.

Why not?”

“Karena kalau aku bisa memilih, Park Ji Hyun, cincin ini tidak akan pernah ada. Aku tidak bahagia, Ji Hyun-a, sama sekali tidak. Percayalah padaku.”

***

NOW

02.00 AM

“Kau benar-benar berubah pikiran dan bersedia bekerja di kantor cabang kita di London?”

Ji Hyun mengangguk mantap. “Ne, sajangnim.”

“Kau tidak akan menyesal, kan? Aku tidak mau kau memohon-mohon kembali ke Korea karena menyesal. Aku tidak suka, kau tahu itu.”

“Ne.”

Lee Sungmin mendesah. “Arrasseo. Aku akan mengurus kepindahanmu ke sana.”

Eo, Park Ji Hyun, wae? Bicaralah, atau aku akan menutup telepon ini.”

Eonnie…” Suara Ji Hyun tercekat. Setengah mati Ji Hyun memaksa dirinya untuk tidak menangis lagi. Ayolah Park Ji Hyun, jangan cengeng seperti ini.

“Ada apa? Kenapa suaramu bergetar begitu?”

Today, there was a really great guy who asked me out
But I kept seeing him
I stupidly ran out from that place,
I stupidly couldn’t do anything
What’s the use of pretty makeup?

Eonnie, kenapa aku tidak bisa melupakan pria itu… Wae? Aku sudah berjanji untuk merelakan semuanya… Tapi kenapa aku tidak bisa, eonnie?”

Why, why, why, unni?
(Why can’t I forget this one guy for all this time
Unintentional memories get erased in the far distance
He already forgot about me)
Why, why, why, unni?
With my blackened and smeared tears, I can’t forget him
And I stubbornly say, bye, bye
Why, why, why

“Park Ji Hyun, kau kenapa?”

Air matanya tidak bisa dibendung lagi. “Eonnie… Aku… Aku masih mencintai orang itu…”

Astaga Park Ji Hyun. Kenapa kau jauh sekali, sih? Kalau saat ini kau ada di Seoul, tentu saja aku akan memelukmu. Sekarang kau mengharapkan aku berbuat apa? Tidak ada yang bisa kuperbuat…Sudah kubilang, harus dirimu sendiri yang mau merelakan pria itu…”

What do I do, unni? I want to sleep now
But my heart keeps running to him
What to do, unni? I don’t think I can go on like this
Please, can you have a drink with me? I ask of you, unni

Please party with me
I don’t want to erase my makeup yet
I ask of you, unni

It hurts, it hurts – my closed heart – a lot, a lot
Oh my honey, honey baby – what do I do?

Ji Hyun tidak mendengarkan lagi apapun yang dikatakan Joo Hyun setelah itu. Ia terus menangis sesenggukan, sampai akhirnya ia jatuh tertidur di samping ranjangnya…

Besok ia akan bangun, dan semuanya akan baik-baik saja. Ji Hyun akan bangun dan kembali menjadi Ji Hyun yang ia kenal. Ji Hyun yang sibuk, Ji Hyun yang selalu tersenyum, Ji Hyun yang tidak pernah menangis…

Semuanya akan kembali seperti dulu, semuanya akan baik-baik saja…

It hurts, it hurts – my closed heart – a lot, a lot
Oh my honey, honey baby – what do I do?

***

A/N :

See… author bener kan? Ini emang panjang, aneh, dan sangat gajelas.

Park Ji Hyun, naega mianhaeyo…

Oh, ini ceritanya author juga pake lagu Cleansing Cream – BEG selain I Love You- Tae Yeon yang super galau… Gatau kenapa, karena merasa pas, terus emang author lagi suka lagi sama lagu itu, jadi dengan segala pemaksaan author masukkin…

Btw, maaf ya karena bahasa inggris author ancur lebur. Muahaha.

Anyways, thanks for reading! Much love~~ :*

33 thoughts on “I Love You (Park Ji Hyun – Cho Kyuhyun)

  1. Daebak. Jeongmal. Tapi cuman satu, WAE HAN HYENA ? AH I SHOULD HAVE USED HYENA DI FF I UNTUK YOU. WOW THANKS FOR MAKING MY AND I LOVE YOU LIKE RUBBISH. And hei, ini termasuk satu dari lima hadiah ulang tahun i kan ? And paling yang 4 lain u oake mimpi you. Eonnie saranghae. #kiss #bye #hashtag #beautiful

  2. ff ini bukup buat aku umm sesak?
    entahlah, ini tragis banget….
    baca sampe gemeteran -lebay-
    bukan hal yg gampang buat bikin alur ff kaya gini…

    author jjang!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s