ONE (Kim Kibum – Go Jaemi)

Image

Sabtu, 1 Desember 2012

 

Sangat aneh, bukan? Seorang namja menulis diary. Tidak pernah aku bayangkan bahwa hari ini akan datang.

 

Hari di mana seorang Kim Kibum menulis diary.

 

Tetapi aku akan terus menulis. Setidaknya jika aku sudah tidak di sini lagi, aku akan mempunyai sesuatu untuk kuberikan kepadanya.

 

Ya, Go Jaemi, diary ini untukmu. Baca dengan baik, eo?

 

Jika diary ini, well, aku akan menyebutnya sebagai sebuah journal, agar tidak terdengar terlalu, er, feminim, sudah berada di tanganmu, berarti aku sudah tidak ada di sini lagi.

 

Kau mengerti, kan?

 

Ini mungkin sangat aneh untuk dibaca, karena aku tidak pernah menulis journal seperti ini sebelumnya seumur hidupku.

 

Tetapi jika kau hanya punya sisa waktu 30 hari untuk hidup, tidak ada salahnya untuk mencoba.

 

Kim Kibum menutup buku hitam tipis itu dan memandang keluar jendela, menatap langit tak berawan malam itu.

Satu hari lagi berakhir.

Ia menghela napasnya dan berbaring di tempat tidurnya.

Tanpa sadar, ia jatuh tertidur.

***

Kibum mengirim Jaemi sebuah pesan,

‘Kau di mana?’

 

Balasan dari Jaemi tiba beberapa saat setelah itu,

‘Di rumah. Mengapa?’

 

‘Ingin pergi sebentar? Aku bosan.’

 

‘Baiklah, jemput aku di rumah.’

 

Kibum segera mengganti pakaiannya dan bergegas turun untuk menjemput Jaemi.

“Kim Kibum!” Panggil eommanya, “Minum obatmu dulu.”

Kibum memandang berbagai macam pil yang dipegang eommanya dengan kesal, “Obat itu tidak akan memberikan perbedaan apapun. Aku akan mati dalam 28 hari, bukan? Obat itu tidak akan membuatku hidup.”

“Kim Kibum!” Eommanya berteriak marah, air matanya mulai bercucuran, “Jangan pernah kau berbicara seperti itu lagi!”

Kibum, merasa bersalah telah membuat eommanya menangis lagi, meraih pil-pil tersebut dan meminumnya.

“Aku akan keluar sebentar. Pergi bersama Jaemi.” Kibum menjelaskan.

“Baiklah, hati-hati.”

Eommanya terdiam sebentar, kemudian melanjutkan, “Apakah Jaemi tahu?”

“Belum.”

Ia mengangguk mengerti, “Kau tetap harus memberitahunya suatu saat.”

“Aku tahu.”

Kibum meraih jaketnya dan keluar, memasuki mobilnya, dan menyetir menuju rumah Jaemi.

Jaemi membuka pintu rumahnya setelah tiga kali Kibum membunyikan bel.

“Maaf membuatmu menunggu.” Terlihat sama sekali tidak menyesal.

“Kau mau ke mana?”

Jaemi mengangkat bahunya, “Terserah kau.”

“Pantai?”

Jaemi tertawa, “Kau gila? Ini musim dingin!”

“Ayolah, sekali ini saja. Aku tidak pernah ke pantai pada musim dingin!”

“Baiklah, tetapi kalau aku sakit setelah ini, kau yang tanggung jawab.”

Kini giliran Kibum yang tertawa, “Arasseo.

 

Senin, 3 Desember 2012

 

Hari ini aku dan Jaemi pergi ke pantai.

 

Ya, tentu saja ia memanggilku gila karena mengajaknya ke pantai pada musim dingin.

 

Kami seakan kembali menjadi anak-anak lagi, berlarian sepanjang pantai, bahkan membangun istana pasir.

 

Udara tadi sangat dingin dan air laut juga terlalu dingin untuk berenang. Aku sampai harus memberikan jaketku untuk Jaemi, yang terlihat menggigil kedinginan. Tentu saja jaket itu ia tolak habis-habisan, tetapi aku terus memaksanya. Tidak mungkin akan kubiarkan dia kedinginan.

 

Setelah itu, aku mengantar Jaemi pulang, dan kembali ke rumah.

 

Sekarang sudah lewat pukul 12 malam, yang berarti sekarang sudah tanggal 4, dan aku baru saja mencoret satu tanggal lagi dari kalender di mejaku.

 

27 hari lagi.

 

 

***

Rabu, 5 Desember 2012

 

Ia belum tahu. Betapa singkatnya sisa waktuku. Dan perasaanku untuknya.

 

Ia belum tahu.

 

Aku ingin memberitahunya.

 

Sangat ingin.

 

Tetapi aku tahu, itu akan membuatnya menangis. Dan aku tidak ingin melihatnya menangis.

 

Tetapi aku juga tahu, jika aku tidak memberitahunya sekarang, aku tetap akan membuatnya menangis saat aku pergi nanti.

 

Eotteokhaji?

 

26 hari lagi.

***

“Jaemi-ya,”

“Hmm?” Jaemi menjawab pelan, matanya masih tertuju pada Sungai Han yang mengalir di samping jalan yang mereka lewati.

“Apa yang akan kau lakukan bila aku pergi meninggalkanmu?”

“Mencarimu.”

“Apa yang akan kau lakukan bila aku pergi meninggalkanmu selamanya?”

“Membangkitkanmu kembali dan membunuhmu dengan tanganku sendiri.”

Kibum tertawa ringan. Ia ingin, sekaligus tidak ingin memberitahunya.

“Jaemi-ya,”

“Hmm?”

“Nan.. N-naega..”

“Ada apa, Kibum?” Jaemi memanggil sahabatnya.

“Aniya.”

“Ya, marhaebwa.”

“Naega neol saranghae.”

Kalimat itu terungkap begitu saja dari mulut Kibum.

Took you long enough to say it.” Jaemi menjawab, mukanya memerah.

Kibum tersenyum, mendekati Jaemi dan mencium bibirnya pelan.

Tangan Kibum meraih pinggang Jaemi dan menariknya lebih dekat, dan Jaemi seketika melingkarkan kedua lengannya pada leher Kibum.

Minggu, 9 Desember 2012

 

Hari ini aku melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku; menyatakan perasaanku pada Jaemi.

 

Dan sialnya, ia mencintaiku juga.

 

Andaikan aku tidak menderita penyakit sialan ini, aku tentu akan merasa bahagia.

 

Tetapi pada kenyataannya, aku hanya memiliki 22 hari 21 hari lagi sebelum aku harus meninggalkannya.

 

Mengapa aku harus mempunyai nasib seburuk ini? Baru saja aku mendapatkan gadis impianku, dan aku sudah harus meninggalkannya lagi dalam waktu kurang dari sebulan.

 

Jaemi pasti akan hancur jika ia mendengar kabar ini. Apa yang akan ia lakukan jika ia tahu aku menderita Pneumonia? Dan sudah begitu parahnya sehingga aku akan mati dalam 21 hari?

 

Maafkan aku Jaemi..

 

Maafkan aku..

22 hari lagi.

 

***

 

 

“Ini di mana?” Kibum bertanya pada Jaemi.

“Sudah ikuti saja arahanku. Belok kiri di belokan depan.” Jaemi menunjuk belokan yang dimaksud.

Beberapa saat kemudian, Jaemi menyuruh Kibum menghentikan mobilnya.

“Kita sudah sampai. Ayo turun.”

Kibum menengadah, memandang tempat yang dimaksud Jaemi.

Kona Beans.

 

‘Tempat apa ini?’ Batin Kibum.

“Jaeni-ya! Hyukjae Oppa!” Jaemi berseru sambil melambaikan tangannya pada sepasang kekasih yang duduk di dekat jendela.

“Annyeong!” Jaeni membalas sapaan sahabatnya itu.

“Jaemi-ya, guess what?” Hyukjae meletakkan sikunya di atas meja dan menggerakkan jemarinya, memamerkan cincin emas yang berkilau di jari manisnya.

Jaemi memekik kaget dan menarik tangan kanan Jaemi. Ia melihat cincin yang serasi di jari manisnya.

“Kalian akhirnya bertunangan?”

Kedua sahabat Jaemi itu mengangguk dan tersenyum.

Jaemi membalas senyuman mereka, “I’m really happy for you guys.”

 

Jaemi terdiam sebentar, kemudian dengan iseng melanjutkan, “Don’t forget to invite me to your wedding. I’m gonna kill you if you ever forget.”

 

“Sepertinya tidak akan dalam waktu dekat,” Jaemi memberitahu sahabatnya.

“Satu tahun, dua tahun, lima tahun lagi pun aku tidak peduli. Yang penting undang aku.”

Mereka pun tertawa dan Kibum berdeham kecil, merasa sangat tidak nyaman berada di tengah ketiga sahabat itu.

Jaemi memperkenalkannya pada kedua sahabat lainnya, “Kibum-ah, ini Jung Jaeni dan Lee Hyuk Jae. Mereka temanku sewaktu SMP.”

Teman SMP. Pantas Kibum tidak mengenali mereka.

Kibum dulu bersekolah di sekolah khusus namja saat SMP dulu, yang berarti ia tidak satu sekolah dengan Jaeni yang bersekolah di sekolah campuran.

Kibum maju dan berjabat tangan dengan mereka, “Annyeonghaseo, Kim Kibum imnida.”

 

Jaeni menyengir kecil pada Jaemi, “Akhirnya kau punya namja chingu juga.”

“Kibum bukan-“

“Jangan mengelak. Aku tahu dia namja chingumu.”

Jaemi mengangkat tangannya menyerah, “Fine. Terserah kau.”

Mereka memesan minuman dan berbincang-bincang lagi.

Kibum merasa iri pada Jaeni dan Hyukjae. Mereka akan menjalani sisa hidup mereka bersama, tanpa ada yang menghalangi.

Tidak seperti dirinya dan Jaemi.

Kibum akan memberikan apapun yang ia miliki, hanya demi memiliki hidup seperti Hyukjae dan Jaeni bersama Jaemi.

Jumat, 14 Desember 2013

 

Jaemi mengajakku menemui teman-temannya, Lee Hyukjae dan Jung Jaeni. Rupanya, kedua temannya itu baru saja bertunangan.

 

Jaeni sangat beruntung. Setelah berpacaran sejak SMP, Hyukjae akhirnya melamarnya.

 

Aku mengaku, aku sangat iri pada mereka.

 

Why?

 

Cause they can have their fairytale ending.

 

While me? I’m going to be dead soon, and leave Jaemi alone.

 

Aku ingin memiliki hidup seperti mereka.

 

Aku ingin hidupku tidak dihitung dengan hari.

 

Aku ingin penyakit ini pergi.

 

Aku ingin tetap bersama Jaemi.

 

Aku terdengar seperti anak kecil.

 

Terlalu banyak yang kuinginkan.

 

16 hari lagi.

 

 

***

 

 

“Kibum-ah, kaja!” Jaemi menarik tangan Kibum menuju stall es krim.

“Satu stroberi dan satu cokelat.” Ujar Jaemi pada sang penjual.

Mereka berjalan bergandengan, tangan yang lain memegang es krim masing-masing.

“Kau mau mencoba yang cokelat?” Tanya Kibum, menawarkan es krimnya pada Jaemi.

Jaemi menerimanya dan balik bertanya, “Kau mau coba punyaku?”

Kibum memakan es krim yang disodorkan Jaemi, tangannya tidak pernah melepas genggamannya pada tangan Jaemi.

“Kau tahu, selama ini kita tidak pernah pergi ke Everland bersama.”

Jaemi tertawa, “Aku baru sadar. Dan kita sudah mengenal satu sama lain sejak.. Sebelas, dua belas tahun yang lalu?”

Kibum mengangguk, “Ya, kita baru umur sepuluh waktu itu. Dan sekarang kau sudah 24 tahun.”

“Kibum-ah,”

“Eo?”

“Saranghae.”

Kibum mengecup pipinya, “Arayo. Nado saranghae.”

Setelah mengatakan itu, Kibum merasakan tubuhnya melemas, napasnya terputus-putus. Dadanya sakit. Sakit sekali.

“Kibum-ah!” Jaemi berteriak, melihat Kibum yang telah menjatuhkan es krimnya dan tersungkur di jalan, memegang dadanya. Napasnya pendek, terengah-engah.

“Kibum-ah!” Jaemi berteriak lagi, berlutut di sebelah Kibum.

Banyak orang memandang mereka kebingungan, beberapa hanya pergi, beberapa mendekat, berniat membantu.

“N-nan gw-gwaenchanha.” Kibum terbata-bata memberitahu Jaemi dan berusaha berdiri.

Jaemi membantunya dan tangannya menetap di lengan Kibum.

“Jeongmal gwaenchanhayo?”

N-ne. Asmaku kambuh.” Kibum berbohong.

“Sejak kapan kau mengidap asma?” Jaemi bertanya tak percaya.

“Sejak kecil. Aku tidak pernah memberitahumu. Sudah lama hilang, tetapi kambuh lagi.” Kibum melanjutkan.

Jaemi masih terlihat tidak percaya, tetapi memutuskan untuk melupakannya.

Kibum berusaha tersenyum, “Kau mau ke mana lagi?”

Kamis, 20 Desember 2012

 

Penyakitku bertambah parah.

 

Setelah mengantar Jaemi pulang, aku dan eomma pergi ke rumah sakit. Dokter bilang aku harus dirawat di rumah sakit.

 

Aku menolak.

 

Rumah sakit hanya akan menghabiskan uang eomma dan tidak akan merubah apapun.

 

Dan aku tidak dapat meninggalkan Jaemi.

 

Masuk rumah sakit berarti aku tidak akan keluar lagi selama 10 hari yang tersisa.

 

Masuk rumah sakit berarti aku tidak akan bisa melihat Jaemi lagi.

 

Eomma sangat khawatir dan terus membujukku agar mau dirawat di rumah sakit.

 

Aku tetap menolak.

 

10 hari lagi.

 

***

“Kibum-ah, Merry Christmas!” Eommanya tersenyum sambil membawa sebuah kotak kecil terbungkus kertas merah dan menyerahkannya pada Kibum.

Kibum tersenyum kembali pada eommanya, “Gomawo, eomma.”

Kibum membukanya bungkusan itu dan membuka kotak kecil di dalamnya.

Kotak itu berisi sebuah cincin. Sebuah cincin perak polos dan tipis yang sangat simple, tetapi sangat indah.

Kibum melihat mata eommanya berkaca-kaca.

Appamu memberikan itu padaku. Bukan saat ia melamarku dulu, tetapi saat kau lahir. Appamu tidak mampu membelikanku cincin saat ia melamarku dulu, dan cincin perkawinan kami pun warisan dari nenekmu. Setelah kau lahir, ia memberikan cincin itu kepadaku. Ia meminta maaf karena ia terlambat memberikannya padaku.”

Kibum memeluk eommanya yang menangis dan mengelus punggungnya.

“Aku sangat ingin melihatmu memasangkannya pada jemari wanita yang kau cintai.”

Selasa, 25 Desember 2012

 

Natal. Hari ini adalah hari natal.

 

Salju putih sudah menutupi jendela rumah sakit saat aku bangun tadi pagi.

 

Ya, aku di rumah sakit.

 

2 hari yang lalu, aku menyerah dan membiarkan eomma membawaku ke rumah sakit.

 

Aku tidak bertemu Jaemi lagi setelah kencan kita di Everland.

 

Dan mungkin tidak akan pernah lagi.

 

Aku belum mengucapkan selamat tinggal pada Jaemi.

 

Aku hanya pergi meninggalkannya begitu saja.

 

Namja macam apa aku ini?

 

Aku tidak ingin Jaemi tahu akan penyakit yang kuderita. Tetapi pada saat yang bersamaan, aku ingin Jaemi tahu.

 

Agar dia dapat berada di sini bersamaku, agar dia dapat memelukku, agar dia dapat menghapus air mataku dan menghilangkan rasa sakitku.

 

Aku ingin dia ada di sini dan memberitahuku, “It’s gonna be alright”, meskipun aku tahu, it will never be alright.

 

6 hari lagi.

***

Kibum memandang cincin di tangannya.

Tak terasa, setetes air mata jatuh dari mata Kibum.

Ia sangat ingin melihat Jaemi memakainya.

Waktunya tinggal sebentar lagi.

Ia memandang infus, respirator, semua alat yang terhubung pada tubuhnya.

Ia takut.

Sangat takut.

Tanpa alat-alat itu, ia pasti sudah mati sekarang.

Apakah kematian menyeramkan? Apakah kematian menyakitkan?

Atau apakah kematian membawamu ke tempat yang lebih menyenangkan?

Dadanya sesak, penyakitnya setiap hari kian bertambah parah.

Air mata Kibum mulai mengalir deras, ia mengangkat telapak tangannya dan menutup mulutnya untuk meredam suara tangisannya.

Ia tidak ingin membangunkan eommanya yang sekarang tengah tertidur di bangku di sebelah ranjang Kibum.

Ia mengambil journalnya dan membaca ulang isinya.

Kenangannya bersama Jaemi terpampang di halaman-halaman buku itu.

3 Desember, ia mengajak Jaemi ke pantai.

9 Desember, ia menyatakan perasaannya pada Jaemi.

11 Desember, ia mengajak Jaemi makan malam di restoran kesukaannya.

14 Desember, ia berkenalan dengan teman-teman Jaemi.

16 Desember, ia mengajak Jaemi menonton bioskop.

17 Desember, ia membelikan Jaemi boneka beruang yang sangat diinginkannya.

20 Desember, ia mengajak Jaemi ke Everland.

23 Desember, ia meninggalkan Jaemi.

Tangisannya bertambah parah. Dengan tangan gemetar, ia mengambil bolpennya dan mulai menulis.

Minggu, 30 Desember 2012

 

Aku takut.

 

Ya, seberani apapun juga, jika kau berhadapan dengan kematian, kau tentu akan takut.

 

Buku ini cukup tipis ternyata. Aku dapat menghabiskannya hanya dalam satu bulan menulis.

 

Aku harap kau tidak sedang menangis saat kau membaca ini, Jaemi-ya.

 

Aku benci melihat kau menangis.

 

Tersenyumlah. Kau jauh lebih cantik saat kau tersenyum.

 

Well, tidak tersenyum saja kau sudah cantik.

 

Aku rasa ini perpisahan.

 

Jaemi-ya, saranghae. Jeongmal.

 

Just one, my only one.

 

1 hari lagi..

I pray for this love to be true
I can’t part with you
I’d miss you… my baby you
I offer you my everything
In a sky that’s all yours, I’ll put a rainbow
And we’ll cross it together

END.

On second thought, I’m not gonna leave it like that. I’m not that evil, you know. Here’s a little epilogue.

Seoul, 2014

 

Jaemi duduk di ayunan itu dan menatap langit.

Ia ingat hari itu. Oh, betapa ingatan itu terlihat sangat jelas di benaknya.

Hari itu sangat cerah, seakan mengejeknya.

Hari itu ia mengetahui bahwa ia kehilangan seseorang yang dicintainya.

Hari itu ia kehilangan semangat hidupnya.

Hari itu ia kehilangan kebahagiaannya.

Hari itu ia kehilangan segalanya.

Jaemi menatap buku berbalut kulit hitam di pangkuannya. Hanya ini yang ia tinggalkan untuknya.

Dua tahun berlalu dan Jaemi masih tidak dapat melupakan semua tentangnya.

Dua tahun berlalu dan ia baru membuka buku itu untuk pertama kalinya.

Jaemi menghela napasnya. Namja itu namja yang paling dibencinya, tetapi juga namja yang paling dicintainya.

Jaemi membuka halaman-halaman itu dan membaca semua isinya.

Sesampainya di tanggal 30, air mata Jaemi sudah tak dapat dibendung lagi.

Ia melihat tulisan Kibum,

Aku harap kau tidak sedang menangis saat kau membaca ini, Jaemi-ya.

 

Aku benci melihat kau menangis.

 

Tersenyumlah. Kau jauh lebih cantik saat kau tersenyum.

 

Jaemi menghapus air matanya dan berusaha tersenyum, apapun yang membuat Kibum bahagia.

Ia membuka halaman terakhir dan melihat sebuah cincin perak tipis diselotip di halaman itu, dibawah tulisan tangan Kibum.

Mata Jaemi sudah berkaca-kaca lagi dan ia membaca tulisan itu,

Jaemi-ya,

 

Maafkan aku karena tidak dapat memberimu cincin ini secara langsung.

 

Aku harap kau tidak membenciku karena meninggalkanmu.

 

Aku tahu aku sangat terlambat, dan ini tidak mungkin terjadi.

 

Dan aku menyesal aku tidak mengatakannya saat aku masih bersamamu.

 

Tetapi aku akan tetap mengatakannya.

 

Narang gyeolhonhae jullaeyo?

 

 

THIS IS REALLY THE END.

A/N: 15 halaman. LIMA BELAS, KAWAN-KAWAN. Gue terharu, ini FF terpanjang yang pernah gue buat. Well, this is the last week and I was determined to make this FF the best one, but noooo I have to get a super galau song. Dan kalian semua tau gue ga bisa bikin FF galau. Bahkan Living Like a Dream yang lagunya galau banget aja bisa gue belokin jadi ga galau. Yep, I’m pretty sure you all remember that first one.. Or My Prince, yang endingnya maksa banget. Semoga FF ini tidak mengecewakan, apalagi karena gue telat banget ngepostnya. Thanks for reading!!! And for now, annyeong!!! ^^

– Kim Jaerin

7 thoughts on “ONE (Kim Kibum – Go Jaemi)

  1. WOY MAU NANGIS BAGUS BANGET T^T
    AKHIRNYA CELINE BUAT GALAUUUUU
    DAN BAGUS BANGET JADINYAAAAA T^T
    gue udah DEG pas tulisan end yang pertama
    ‘i’m not that evil you know. here’s an epilohue’
    THANK YOUUUU CELINE-A JINJJA DAEBAKIDAAAAA

  2. OMG CELINE AT LAST U BUAT YANG PANJANG YAAMPUN INI GALAU BANGET THIS IS NOT FAIL AT ALL OMG MAU NANGIS. CEL INI BAGUS BANGET GUE SUKA BANGET OKE…. TRAGIS SEKALI…

  3. hoaaa aku bukan orang yang pinter komen ff. aku juga selalu bingung mau ngomong apa, tapi aku ga mau jadi -sider-

    ff ini manis sekaligus bikin terharu… aku suka.
    ceritanya simple dan bikin betah bacanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s