Chajatta (찾았다) (Kris – Song Jina)

tumblr_mmo7j3LFzc1r6vuqxo1_1280

The person who embraced all the painful wounds on my closed heart

I want to love you more and more, for eternity

Found you my love, The person I’ve been searching for

I want to share a heated embrace with you

Stay still and close your eyes

So I can kiss you on the lips

I love you, its you who I love

Found you! The person I’ll keep by my side

Stay still and close your eyes

So I can kiss you on the lips

I love you, its you who I love

Found you! The person I’ll keep by my side

Thank you… For coming to my side….

***

“Ah, chajjata !”

Kris menolehkan kepalanya saat ia mendengar suara teriakan yeoja kecil yang berada tidak jauh darinya. Ia pun mengerutkan kedua alisnya saat gadis kecil itu bergerak mendekat ke arahnya, dengan senyuman besar pada wajah gadis itu.

Kris pun memperhatikan dimana arah mata gadis itu tertuju, dan ia pun langsung tersadar. Mata gadis itu tertuju pada anjing kecil yang sedari tadi digenggam olehnya. Ia pun secara otomatis menyodorkan anjing kecil tersebut kepada gadis kecil tersebut, yang membalasnya dengan senyuman lebih besar pada wajahnya.

Dan Kris pun tidak mengalihkan pandangannya pada apapun sejak ia melihat senyuman gadis itu. Tanpa sadar pun, ia pun memasang senyuman pada wajahnya, hanya karena gadis kecil didepannya yang tersenyum kepadanya. Sebuah senyum memang bersifat menular, bukan ?

Setelah menerima anjing kecil yang diberinya, gadis itu pun menaikkan wajahnya, dan memandangnya dengan intens. Gadis itu pun memandangnya persis pada manik matanya.

“Kamsahamnida. Atas anjing kecil ini.” Katanya sambil memandangnya.

Kris pun tergeming membalas pandangan gadis itu.

Mata milik gadis itu, seakan-akan masuk ke dalam dirinya, dan dirinya sendiri pun terkejut saat ia bisa merasakan kehadiran gadis itu didalam dirinya, hanya melalui mata mereka yang terus saling memandang.

Mata milik gadis itu seakan-akan masuk ke dalam pikirannya, mengendalikan seluruh tubuhya, dan menembus dalam hatinya. Dan saat itu pun ia tersadar. Gadis itu akan menjadi prioritas utamanya pada masa yang akan datang. Ia yakin akan hal itu.

Kris pun berdeham kecil. Ia memandang gadis itu sama dalamnya, dan ia pun memperhatikan pantulan dirinya yang sangat kecil pada mata gadis itu sebelum menyadarkan dirinya lagi.

“Ne. Cheonmaneyo.”

Gadis itu pun masih tersenyum kepadanya. Ia pun membalas senyuman gadis itu dengan senyuman yang jauh lebih besar.

Gadis itu pun membungkukkan badannya sedikit kepadanya, dan terlihat membalikkan tubuhnya.

 Saat gadis itu akan pergi menjauh darinya, ia menahan lengan kecil miliknya yang berhasil membuat gadis itu menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya, memandangnya dengan bingung.

 Kris pun tersenyum gugup.

 “Kau melupakan kalungnya.” Katanya singkat. Ia pun menyodorkan kalung berwarna biru yang dimaksudnya kepada gadis itu.

 Gadis itu pun menerima kalung itu dan digenggamnya erat.

 “Bolehkah aku mengetahui namamu ? Agar kali lainnya aku bisa bermain denganmu, jika ibuku mengijinkanku.” Ucapnya yang berhasil membuat gadis itu memandangnya ragu.

 “Jika aku memberimu tahu namaku, semuanya tidak akan menjadi menarik, bukan ?” jawab gadis itu. Ia pun tertawa kecil.

 Kris hanya menampilkan senyumnya menjawab tawaan gadis itu.

 Dan setelah itu pun, gadis itu pun pergi dari hadapannya.

***

Dan setelah dua minggu dari hari itu pun, Kris tidak pernah menemui gadis itu lagi.

***

Seoul, South Korea

11.09 AM

 

BRUK !

Seorang laki-laki bertubuh tinggi pun menutup pintu apartment dibelakangnya menggunakan tendangan dari kakinya. Ia pun melihat ke arah lorong kanan dan kirinya. Memperhatikan jika ada orang yang tengah memperhatikannya saat ini.

Laki-laki itu pun mendesahkan nafasnya lega saat mendapatkan lorong apartement yang kosong. Biasanya, satu ataupun dua orang akan protes mengenai kebiasaan buruknya menutup pintu menggunakan kaki. Dan menurut mereka, hal itu sangat berisik hingga mengganggu pagi hari mereka.

Walaupun ia telah menerima lebih dari puluhan protes, menurutnya kebiasaan buruknya memang tidak bisa diubah lagi. Hal itu memang sudah menjadi kebiasaannya. Akan membutuhkan waktu yang lama sekali untuk menghilangkan kebiasaannya yang satu itu. Jadi menurutnya, tetangga-tetangganya yang lain harus mulai menerimanya apa adanya, dan tidak hanya mengeluarkan ocehan dari mulut mereka.

Laki-laki itu pun melangkahkan kakinya ke arah lorong kanannya. Ia pun memasangkan kacamata hitam Salvatore Ferragamo miliknya sambil berjalan. Ia pun bersiul santai. Ia yakin orang lain tidak akan keberatan dengan siulannya, karena memang mereka sudah mulai terbiasa.

Ia pun terus melangkahkan kakinya kedepan, sampai pada akhirnya ia berbelok kekanan dan berhenti didepan dua buah lift. Ia pun memencet tombol turun pada lift tersebut, dan menunggu.

Laki-laki itu masih bersiul, sampai akhirnya ia merasa bosan dan mengeluarkan ponselnya. Ia pun membuka pesan-pesan yang masuk dan membiarkan pesan-pesan tersebut tidak terbalas jawabannya.

Setelah itu, laki-laki itu pun mematikan ponselnya dan diletakkannya benda canggih itu lagi kedalam saku celana jeansnya. Ia pun menundukkan wajahnya, dan memandang sepatunya sambil menyentakkan kakinya kecil berkali-kali sambil menunggu.

Saat suara dentuman lift terdengar olehnya, ia pun mendongakkan wajahnya melihat ke arah anak panah yang menunjukkan arah kebawah. Ia pun melangkahkan kakinya maju, bersiap-siap untuk masuk saat pintu –pintu tersebut terbuka.

Pintu besi tersebut pun pelan-pelan terbuka dan saat laki-laki itu hendak ingin masuk, ia pun memperhatikan seorang perempuan keluar dari lift itu, sibuk dengan mengutak-atik ponselnya. Ia pun menurunkan kacamata hitamnya dari hidungnya untuk bisa memandang perempuan itu dengan lebih jelas.

Laki-laki itu pun mengerutkan alisnya bingung saat ia melihat wajah dari perempuan itu. Sama sepertinya, perempuan itu mengenakan kacamata pula, tetapi ia memakai kacamata baca melainkan kacamata hitam. Laki-laki itu pun melihat mata milik perempuan itu yang terus tertuju pada lantai dibawahnya, dan ia pun sedikit tersadar.

Bukankah perempuan itu orang yang selama ini dicarinya ?

Bukankah perempuan itu yang menjadi penyebab dari kedinginan hatinya sekarang ?

Laki-laki itu pun memasangkan kacamata hitamnya seperti sebelumnya dan membalikkan tubuhnya. Ia pun menahan pintu lift yang mulai menutup itu dan masuk kedalamnya saat pintu tersebut sudah benar-benar terbuka.

Laki-laki itu pun mendesahkan nafasnya dan menekan tombol bernomor satu, yang berhasil membuat tombol tersebut menyala lampunya.

Ia pun memandang kedepannya yang menampilkan lorong yang kosong dengan belokan ke kanan dan ke kiri sampai akhirnya pintu lift itu benar-benar tertutup.

***

“Aku yakin itu dirinya, hyung.” Kata Kris sambil menempelkan ponselnya pada telinganya. Ia pun terus berjalan ke kedepan, melewati orang-orang yang tengah menyeberang jalanan juga.

“Dan aku yakin kau salah melihat wajahnya saja, Kris.”

Laki-laki yang bernama Kris itu pun berlari kecil saat menyadari hitungan waktu untuk orang menyeberang pun habis. Ia pun mengedarkan pandangannya kekanan dan kirinya, lalu melangkahkan kakinya ke kanannya.

“Ani, hyung. Kali ini beneran dirinya.”

“Ya, aku tahu. Kau sudah mengatakan kalimat itu sebanyak sebelas kali bulan ini.”

Kris pun mendesahkan nafasnya kecil. Kalimat yang didengarnya barusan hanya menipiskan keinginannya untuk benar-benar bertemu dengan wanita yang selama ini dicarinya.

“Baiklah, baiklah. Mungkin aku hanya salah melihatnya.” Katanya cepat.

“Ne, aku yakin kau–“

“Hyung, aku akan menghubungimu lagi nanti.”

Kris pun dengan segera memutuskan hubungannya dan berlari kecil kea rah seorang wanita yang tengah berjalan tidak jauh di depannya. Ia pun mengucapkan kata maaf beberapa kali saat ia tidak sengaja menyenggol orang lain.

Dengan sedikit kesusahan, Kris berusaha untuk mendekati seorang wanita tersebut. Dan saat wanita itu pun masuk kedalam sebuah café yang sangat dikenalinya, ia pun ikut masuk.

Kris pun mendekati meja dimana wanita itu tengah mendudukkan dirinya dengan pikiran yang bercampur aduk. Ia pun berpura-pura berdiri didepan menu yang menunjukkan makanan dan minuman yang disajikan tempat itu sebelum benar-benar mendekati meja itu.

Kris pun berusaha setengah mati untuk bersikap tenang didepan wanita itu.

Saat laki-laki itu sudah benar-benar berada didekat meja wanita itu, ia pun tersenyum kepadanya. Wanita itu tidak lama kemudian menolehkan kepalanya kepada Kris dan tersenyum kecil saat menyadari wajah tampan laki-laki itu yang berada tidak jauh darinya.

“Bolehkah aku duduk disini ?” Tanya Kris sambil menunjukkan jari telunjuknya pada kursi kosong didepan wanita itu.

Masih dengan pikiran kosongnya, wanita itu pun mengangguk kecil yang berhasil membuat Kris tersenyum lega dan mengambil tempat duduk didepan wanita itu.

Kris pun masih menyinggungkan senyum pada wajahnya kepada wanita didepannya. Mau tidak mau, wanita itu pun membalas senyuman yang lebih besar kepada laki-laki didepannya itu.

Wanita itu sendiri pun tengah berusaha untuk mengembalikan kesadarannya setelah memandangi wajah Kris untuk beberapa saat.

“Apakah kau masih mengingatku ?”

Kris pun bertanya kepada wanita didepannya yang berhasil membuat wanita tersebut mengerutkan kedua alisnya dengan bingung.

Wanita itu pun memandang Kris sejenak, sebelum tertawa kecil. Kris yang melihatnya tertawa pun mengerutkan keningnya.

“Maafkan aku,” kata wanita itu kepada Kris, sambil mencoba untuk menghentikan tawanya.

“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya ? Maafkan aku jika aku melupakannya, ingatanku memang buruk.” Lanjut wanita itu.

Kris pun tersentak kecil.

“Lalu.. apakah kita belum pernah bertemu sebelumnya ?” Tanya Kris dengan pandangan matanya yang penuh penasaran.

“Sepengetahuanku, kita belum pernah bertemu.”

Kris yang mendengar kalimat yang diucapkan wanita itu pun terkekeh kecil.

“Kalau begitu, maafkan aku.” Kata Kris

“Memaafkanmu untuk ? Kau tidak bersalah apa-apa.”

“Maafkan aku karena aku telah mengiramu sebagai wanita lain.” Jawab Kris singkat sebelum mendirikan tubuhnya dari kursi yang tengah didudukinya.

Wanita itu pun dengan cepat menahan lengan Kris sebelum laki-laki itu melangkahkan kakinya pergi.

“Tunggu sebentar, Bolehkah aku meminta nomor ponselmu ? Mungkin kita akan bertemu lagi kali lainnya ?” wanita itu pun menyelesaikan kalimatnya dengan cepat sambil memandang wajah Kris yang tidak ingin memandangnya.

“Kurasa tidak.”

Kris pun tersenyum kecil, sangat kecil, hingga ia terlihat seolah-olah sedang meremehkan wanita itu. Ia pun menyentakkan sedikit lengannya hingga terlepas dari genggaman wanita itu dan melangkahkan kakinya pergi.

***

Shit, aku salah mengenali wanita itu lagi, hyung.”

“Lagi ? Kurasa kau perlu memeriksa matamu itu, Kris.”

Kris pun terkekeh kecil saat mendengar jawaban dari sahabatnya itu. Saat ia merasakan telinganya yang mulai memanas, ia pun menggeserkan ponselnya pada telinga yang satu ke satunya lagi.

“Neodo, Choi Siwon.” Jawabnya singkat. Kris pun melangkahkan kakinya lebih cepat sedikit.

Aish, sudah berapa kali kukatakan untuk memanggilku dengan ‘hyung’, huh ? Aku lebih tua daripadamu, kau tahu itu ?” protes laki-laki yang bernama Siwon itu dari seberang sana.

“Jadi kau mengakui fakta bahwa aku lebih muda dan tampan darimu ?” Tanya Kris dengan nada bercandanya yang dapat didengar oleh Siwon dari seberang sana.

Aku tidak mengatakan apa-apa mengenai ketampananmu dan ketampananku. Memang kau lebih muda dariku, tetapi tidak berarti kau lebih tampan dariku.” Jawab Siwon yang dilanjutkan dengan tawanya yang biasanya dapat meluluhkan hati seorang wanita.

Kris pun menggelengkan kepalanya pelan sambil mendesahkan nafasnya.

“Kau benar-benar sangat percaya diri, hyung.”

“Aku tahu. Dan dengan kelebihan itu pun aku bisa meluluhkan hati seorang wanita.”

Kris pun menolehkan arah wajahnya pada sebelah kirinya saat ia melihat sebuah tulisan besar bertuliskan ‘café’. Dengan singkat, Kris pun melangkahkan kakinya masuk kedalam café yang bisa disebutkan cukup kecil itu.

“Dan dengan kelebihan itu juga pun kau disebut dengan ‘The Most Popular Bachelor Of The Year’ yang mengubahmu menjadi seorang playboy.”

“Hei ! Itu tidak benar.”

Kris pun mendudukkan tubuhnya pada kursi kosong kecil yang terletak di tengah-tengah area café tersebut.

“Oh, ayolah. Kau tahu bahwa kenyataan itu sangat benar.” Protes Kris pada Siwon.

Terdengar oleh Kris, Siwon tengah mendesahkan nafasnya dengan sedikit keras.

Baiklah, aku mengakuinya. Tapi setidaknya aku tidak single dan mempunyai kekasih yang cantik. Sedangkan kau ? Selama aku mengenalmu bertahun-tahun ini, aku tidak pernah melihatmu bergandengan tangan dengan seorang yeoja. Dan setidaknya wanita-wanita lebih menginginkanku daripadamu.” Jawab Siwon yang setelah itu pun tertawa sangat kencang sehingga Kris dengan reflex menjauhkan ponselnya dari telinganya.

“Kau tahu aku hanya menginginkan satu wanita, hyung.”

“I know, I know. And she’s the only one.”

“Well, begitulah menurutku.” Jawab Kris singkat. Ia pun melirik kearah menu yang tidak lama sebelumnya seorang pelayan laki-laki menyerahkannya padanya.

“Dan dengan alasan apa kau tidak memberiku tahu aku nama wanita itu ?”

Kris yang mendengar pertanyaan Siwon tersebut pun tersentak kecil sebelum tertawa.

“Karena aku takut kau akan menggodanya dan mengambilnya dariku, hyung.”

Kris pun tertawa setelah ia mengucapkan kalimatnya, yang berhasil membuat Siwon disebelah sana mendengus kesal.

Aku tidak akan mengambil wanita yang kau sukai begitu saja, Kris. Sebagai teman yang baik, aku tidak akan pernah melakukan hal itu kepadamu.” Jawab Siwon.

“Baiklah, baiklah. Aku mempercayaimu, hyung.”

“Well, kecuali jika wanita itu mempunyai wajah yang cantik dan tubuh yang begitu menggoda, mungkin akan kupertimbangkan kesempatanku.”

Kris pun memutarkan bola matanya saat ia mendengar Siwon tertawa untuk entah keberapa kalinya. Ia pun memanggil seorang pelayan dan memesankan beberapa makanan sebelum mendesahkan nafasnya dan berbicara lagi kepada Siwon.

“Kau dimana, hyung ?” Tanya Kris setelah pelayan yang tadi dipanggilnya beranjak pergi dari mejanya.

“Seperti biasa, di kantor dengan kertas-kertas yang bertumpukkan didepan mataku. Bagaimana denganmu ? Sedang duduk di salah satu kursi di tengah-tengah café, berbicara denganku, dan setelah memesan beberapa menu makanan kau bertanya dimana aku sekarang ?”

Kris dan Siwon pun tertawa.

“Jika kau sudah tau, mengapa kau bertanya lagi kepadaku ?”

Kris pun menganggukkan kepalanya dan membisikkan kata ‘terima kasih’ saat seorang pelayang menaruh secangkir kopi didepannya.

“Kurasa sudah terlalu lama aku berteman denganmu.”

“Kurasa begitu.” Kris pun tertawa lagi untuk kesekian kalinya hari itu.

***

Seoul, South Korea

03.28 PM

 

“Hei, tunggu sebentar !” teriak Kris kecil saat ia melihat seorang wanita sedang berjalan tidak jauh didepannya saat ia keluar dari apartmentnya. Ia pun berlari kecil saat menyadari wanita itu tidak membalas teriakannya tersebut.

Kris pun mempercepat langkah kakinya saat wanita itu terlihat masuk kedalam lift. Dengan cepat, ia pun menaham pintu besi lift itu. Secara otomatis, pintu pun terbuka lagi dan Kris pun masuk kedalamnya.

“Hei,” Kris pun berkata singkat kepada wanita disampingnya. Ia pun menekan tombol dengan angka satu.

“Apakah kau masih mengingatku ?” tanyanya.

Kris pun memasang senyuman pada wajahnya saat wanita itu menolehkan wajahnya padanya. Wanita itu pun menggelengkan kepalanya pelan.

Salah lagi.

“Ah, apa itu berarti kau tidak mengenalku ?” Tanya Kris dengan wajah pura-pura bodohnya, sambil terkekeh kecil, meremehkan dirinya sendiri.

Wanita itu pun tersenyum kecil, lalu membungkukkan badannya sedikit.

“Maaf.”

Kris pun membungkukkan badannya kepada wanita itu.

“Gwaenchanha. Maafkan aku.”

“Gwaenchanha.”

***

“Hyung, tebak apa yang telah terjadi.”

“Wae ? Kau salah wanita lagi ?”

Kris pun tertawa kencang hingga orang-orang yang berjalan melewatinya memandangnya dengan bingung.

“Betul sekali, dan kau tahu ? Aku bertemu wanita itu didalam lift apartment-ku dan bayangkan saja, setelah aku bertanya kepadanya, kita diam dan canggung begitu saja sampai lantai satu. Dan kau tahu persis lift apartmentku sangat kuno, ‘kan ? Jadi pada saat itu waktu seperti diperlambat, dan aku sangat malu.”

Terdengar olehnya Siwon tertawa kencang diseberang sana. Ia pun tertawa lagi karena mendengar Siwon tertawa.

“Sebaiknya kau biarkanlah saja gadis masa lalumu itu dan mulai berkencan dengan wanita yang sesungguhnya. Aku rasa semua ini adalah pertanda agar kau menghentikan semua ini, Kris.”

“Aku tahu, aku tahu, hyung. Tapi setidaknya aku bertemunya sekali saja. Tidakkah kau akan lakukan itu jika kau sebagai diriku ?”

“Well, sebetulnya aku tidak akan lakukan itu, tapi, yea, I would do that.”

Kris pun mendesahkan nafasnya kencang. Ia pun terus melangkahkan kakinya kedepan.

Siwon pun berdeham kecil.

“Baiklah, dan hei, kapan kau akan mempertemukanku dengan kekasihmu ? Aku sudah menantikan kesempatanku untuk bertemunya sejak dulu, dan kau masih saja seperti ini.”

“Shirheo. Kau akan terpikat oleh kecantikkan kekasihku dan berusaha mengambilnya dariku, dan aku tidak ingin itu terjadi kepadaku.”

“Aish, hyung aku tidak akan melakukan itu kepadamu.”

“Oh, ya ? You don’t guarantee it.”

“Oh yang benar saja. Aku tidak akan melakukan itu kepadamu. Kau bagaikan kakakku sendiri, aku janji.”

“Janji ?”

“Janji.”

***

Seoul, South Korea

11.11 AM

“Kris, aku memiliki berita baik untukmu.”

“Oh, ya ?”

“Ya, berita bahwa aku akan memperkenalkan dirimu dengan wanitaku. Kau bisa bertemuku nanti ? Di café seperti biasanya ?”

“Baiklah, jam tiga seperti biasanya ?”

“Ne, baiklah, sampai bertemu denganmu nanti.”

Kris pun memutuskan hubungannya dengan Siwon dan memasukkan ponselnya pada saku celananya.

Ia pun berjalan terus kedepan dan menyeberang jalanan. Kris pun berlari kecil saat mengetahui lampu berwarna merah mulai berkedip-kedip.

Ia pun berjalan masuk kedalam sebuah café baru yang berada tidak jauh darinya dan mendudukkan dirinya di kursi tengah yang kosong.

Setelah Kris memesan beberapa pesanan, ia pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan tertawa kecil setelahnya.

Selalu, di café yang tengah ia berada sekarang, selalu ada wanita yang selama ini dicarinya. Tetapi hasil yang selalu ia dapat adalah tidak.

Tetapi Kris tidak peduli jika harga dirinya jatuh begitu mudahnya. Asalkan ia mendapatkan wanitanya, kama ia tidak peduli lagi terhadap apa-apa.

“Bolehkan aku duduk disini ?” Tanya Kris saat ia telah berdiri dekat wanita itu.

“Tentu saja.” Jawab wanita itu setelah menoleh kepada Kris. Wanita itu pun tersenyum kepadanya.

Kris pun mengambil duduk didepan wanita itu.

“Apakah.. kau mengenaliku ?” Tanya Kris hati-hati sambil memandang wanita itu pada matanya langsung.

Wanita itu pun menundukkan kepalanya dan tertawa kecil sambil tersipu-sipu.

“Maaf.”

Dan seketika, Kris pun tersenyum, meremehkan dirinya sendirinya lagi.

“Jangan, aku yang berminta maaf. Sebaiknya aku pergi sekarang, aku telah menganggumu.” Kata Kris singkat sambil memberdirikan tubuhnya dari tempat duduknya.

Wanita itu pun memandangnya dengan bingung, dan dengan begitu saja, Kris pun meninggalkan tempat wanita itu.

Kris pun berjalan kea rah mejanya sendiri, menaruh beberapa jumlah uang pada mejanya saat seorang pelayan memberi makanan pesanannya, lalu berjalan keluar dari café itu.

***

Kris pun melirik jam tangan Frank Muller keluaran terbaru pada tangan kirinya dan mendengus kecil. Ia pun memasukkan kedua tangannya pada saku celananya.

Sekarang masih jam dua, dan berarti masih satu jam lagi yang aku punyai sebelum bertemu dengan Siwon hyung.

Kris pun menengokkan kepalanya ke kiri dan ke kanan bergantian, lalu melangkahkan kakinya ke arah kiri. Tidak lama kemudian, ia pun berjalan masuk ke dalam café yang akan ia temui Siwon jam tiga nanti.

Seperti biasa, ia mengambil tempat duduk di tengah, seperti biasanya, dan langsung memesan tiga tempat duduk sekaligus.

Kris pun mendudukkan dirinya saat seorang waitress menunjukkan letak mejanya dan memberikkannya buku menu kepadanya. Seperti biasa, ia akan mengedarkan pandangannya pada seluruh café itu sebelum benar-benar memesan makanan. Dan, yeah, seperti biasanya, pasti ada wanita itu.

Kris pun memesan pesanan yang ia inginkan, lalu memberdirikan dirinya, mendekati kursi seorang wanita yang tengah terduduk sendiri.

“Chogiyo,” panggil Kris.

Wanita itu pun menolehkan wajahnya kepada Kris saat ia mendengar suara laki-laki itu didekatnya.

“Apakah boleh aku duduk disini ?”

Wanita itu pun mengangguk sedikit menjawab pertanyaan Kris. Laki-laki itu pun memasang senyuman pada wajahnya sambil mengambil tempat duduk pas diseberang wanita itu.

“Bolehkah aku bertanya sesuatu ?” Tanya Kris.

Wanita itu pun menganggukkan kepalanya kecil, sambil tersenyum kecil.

Kris pun berdeham kecil.

“Apakah kau mungkin masih mengenaliku ?” tanyanya dengan sedikit gelisah. Kris takut wanita ini wanita yang salah lagi. Entah mengapa ia merasakan perasaan ini. Karena memang biasanya ia tidak pernah seperti ini pada wanita manapun.

Wanita itu pun terlihat ragu sedikit. Ia pun berdeham sedikit keras.

“Mungkinkah.. kau.. Kris ?” Tanya wanita didepannya itu sambil menatap Kris ragu.

Dan sejenak pun, Kris pun tersenyum lebar, sambil tertawa kecil tidak percaya.

“Kau benar-benar masih mengingatku ? Demi Tuhan, entah mengapa ini membuatku sangat senang !” kata Kris dengan nada yang masih tidak percaya. Wanita didepannya pun tertawa senang.

Melihat wanita itu tertawa senang didepannya, Kris pun tersentak kecil yang berhasil ia sembunyikan di balik senyumannya.

Demi Tuhan, ini adalah saat dimananya dunia berhenti bergerak. Kris telah melihat senyuman itu lagi selama lebih dari sepuluh tahun.

“Kau benar-benar terlihat baik sekarang. Tidak beda dengan dirimu yang dulu.” Kata Kris.

Wanita itu pun tertawa.

“Kau juga. Kau terihat sangat baik, bahkan. Dan kau banyak berubah, aku bisa akui.”

Kris pun mengangguk setuju, masih dengan senyuman pada wajahnya.

“Dan ingatanmu masih bagus, karena setelah beberapa tahun ini kau masih mengingat wajahku.” Kata Kris dengan senyumannya yang bertambah besar.

Wanita itu pun tertawa membalasnya.

“Kau juga masih mengingatku, bagaimana itu bisa terjadi ? Sepengetahuanku, ingatanmu begitu buruk dahulu.” Ejek wanita itu.

Kris pun tertawa saat mendengar kalimat wanita itu. Ia pun memandang wanita didepannya dengan tatapan kagum.

“Aku sangat senang sekali bisa bertemu lagi denganmu.” Ucap Kris dengan senyuman yang tidak pernah hilang dari wajahnya.

Wanita itu pun tersenyum membalasnya.

***

“Demi Tuhan, kau masih mengingat kejadian itu ?!” ucap Kris sedikit keras yang berhasil membuat beberapa tatapan orang yang merasa terganggu padanya.

Wanita itu pun tertawa tertahan-tahan.

“Tentu saja ! Mana mungkin aku melupakan saat-saat kau jatuh pada tanah basah bagaikan lumpur itu, Kris ?! Terutama saat lumpur itu mengenai wajahmu ?!”

Kris pun tertawa lebih kencang saat mendengar kalimat wanita itu.

“Aku sangat merindukanmu, Song Jina.” Kata Kris yang membuat wanita didepannya tersentak kecil.

Wanita didepannya pun menatapnya dengan bingung, tapi tentu saja Kris tidak menyadarinya dengan tatapan pada wajahnya.

“Terutama saat pertama kali kita bertemu. Kau kehilangan anjing kecilmu, kau ingat ? Dan aku hanya sendirian duduk di taman saat kau datang kepadaku. Tatapanmu saat itu seperti anak kecil yang menagih permennya untuk dikembalikkan, kau tahu ? Dan bolehkah aku bersikap jujur ? Untuk sekali ini saja ?” Kris pun berhenti sejenak untuk menatap wajah wanita itu.

Ia pun melanjutkan.

“Saat itu, aku merasa bahwa aku bertemu pertama kalinya kepada seorang malaikat kecil. Entah mengapa, saat itu jantungku berdetak tidak teratur dan hatiku merasa bahagia sekali saat aku menatap matamu untuk pertama kalinya. Kau ingat saat kau pergi tiba-tiba ? Meninggalkanku seperti begitu saja ?” Kris pun berdeham kecil.

“Sejak saat itu aku menyadari bahwa aku menyayangimu, lebih dari apapun. Dan sejak saat itu pun, aku mencari tahu tentang dirimu kepada semua orang. Aku menanyakan mereka satu persatu seperti aku sedang melakukan penyelidikan kepadamu. Aku aneh, bukan ?” Kris pun tersenyum.

“Kurasa.. aku sangat merindukanmu, Song Jina. Lebih dari apapun saat ini.”

Kris pun memasang senyuman yang lebih besar pada wajahnya sambil memandang wanita didepannya pada mata coklat miliknya.

Kris pun menyerngit bingung saat tiba-tiba wanita didepannya tertawa terbahak-bahak.

“Oh demi Tuhan, Kris !”

Kris pun masih menatapnya dengan bingung. Wanita itu pun menggelengkan kepalanya pelan.

“Aku bukan wanita yang kau cari.” Kata wanita itu dengan tatapan seriusnya. Kris pun semakin menautkan kedua alisnya.

“Oh, apakah Jina tidak memberimu tahu ? Aku saudara kembarnya ! Kami identik, jadi mungkin kau tertukar antara aku dan Jina. Namaku Song Jira.” Lanjutnya.

“Aku.. aku tidak pernh mengetahui kalian kembar identik.” Ucap Kris masih dengan tatapan bingungnya menatap Jira.

“Atau mungkin kau ingin berbicara langsung dengannya ?”

“Ah, ani. Gwaenchanha, kau tidak perlu menyuruhnya datang kesini sekarang.”

“Gwaenchanha, Kris ! Lagipula, katanya ia akan sampai sini beberapa menit lagi.”

Kris pun melirik kea rah jam tangan pada tangan kirinya. Waktu saat ini berada pada angka tiga lewat beberapa menit.

Dimana kau, Siwon ?

“Oh itu dia !” ucap Jira sedikit kecil yang berhasil membuat Kris menolehkan kepalanya ke pintu masuk depan café itu.

Yang berhasil Kris dapati adalah seorang Siwon dengan pesonanya masuk kedalam café itu masih dengan kacamata hitamnya yang bertengger pada hidung tingginya. Sesaat setelah itu, Siwon pun tersenyum kepadanya dan menyapa Kris dengan sebuah goyangan tangan diudara.

Siwon pun berjalan masuk kedalam café tersebut, dan teman baiknya itu terlihat menggandengkan tangannya pada seseorang wanita.

Saat Siwon berjalan mendekat lagi, Kris pun bangkit berdiri dari tempat duduknya.

“Jina-ya !” teriak Jira kecil kepada seorang wanita yang tengah digenggam tangannya oleh seorang Choi Siwon.

Jina ? Song Jina ?

THE END

6 thoughts on “Chajatta (찾았다) (Kris – Song Jina)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s